Destiny King

Destiny King
Time Skip


__ADS_3

"dimana tempat ini sebenarnya?" Tanya Zero, dia memegang dadanya, rasa sakit di tubuhnya masih terasa.


"Jangan khawatir, ini tidak akan jauh. Tempat ini tidak jauh letaknya dari Istana." jelas Livia.


Mereka terus berjalan melintasi hutan, sampai cukup jauh dari tempat pertempuran, Zero barulah berhenti. Duduk di bawah naungan pohon yang rindang, Zero sudah beradaptasi dengan rasa sakitnya, kekuatannya terkuras sangat banyak, penggunan teknik terakhir memakan banyak auranya.


"Aku sudah tidak kuat lagi." Zero mengeluh, kakinya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat ini.


"Bertahanlah sebentar, aku akan mencari beberapa herbal." Livia terus mondar mandir di sekitar Zero, dia terus menggumamkan sesuatu.


"Jangan khawatir, kamu hanya perlu menemaniku disini." Zero menepuk tanah di sebelahnya, menyarankan Livia untuk duduk disana.


Livia hanya menengok sebentar, bibirnya gemetar, dia tidak bisa menahan perasaannya untuk tidak khawatir. Zero menggelengkan kepala dan tersenyum, seolah tidak khawatir akan terjadi apapun.


"Livia, duduk disini." Zero terusembujuknya.


Akhirnya Livia menurut, dia duduk tepat disampingnya, Livia terus memandangi luka di tubuh Zero, walaupun sudah tidak ada darah yang mengalir, tetap saja Zero mengeluarkan banyak darah, kondisinya mengkhawatirkan.


"Kenapa kamu melakukan ini?" Livia bergumam pelan, kepalanya tertunduk tapi itu saja sudah menjelaskan semuanya.


Zero mengusap rambut Livia, sedikit memainkan helai helai rambutnya, Livia tidak merespon apapun, Zero kemudian menyentuh dagu Livia, membuat Livia menatap langsung, Zero tertegun melihatnya, lagi lagi gadis itu menangis, air matanya mengalir ke pipinya, entah kenapa Livia cengeng, tapi karena itulah Zero menyukainya.


"Hei, seharusnya aku yang menangis, aku yang terluka sekarang. Selain itu aku mendapatkan keberuntungan kali ini, bisa bertarung melawan orang terkuat di Kekaisaran merupakan sebuah berkah tersembunyi dan mendapatkan pengalaman yang cukup menarik." Ujar Zero, dia dengan lembut mengusap air mata Livia.

__ADS_1


Sebuah pertarungan yang memiliki rencananya sendiri, di satu sisi Zero memprovokasi dan berhasil membuat pertarungan, juga rencana liciknya tidak kalah hebat dari Kaisar. Pertarungan itu membuat pandangan Zero lebih luas, diatas langit masih ada langit, tidak seharusnya dia semena mena walaupun kekuatannya berada di puncak.


"Apa kamu akan meninggalkanku setelah semua ini?" gumam Livia. Mata Livia tampak merah, wajahnya pucat pasi, gadis itu menatap Zero sejenak, perasaannya campur aduk, Zero tidak menduga Livia akan sehisteris itu


"Coba tebak." Zero meringis, dia kemudian bersandar di bahu Livia, gadis itu tidak menolaknya.


"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Livia, suaranya benar benar pelan, Zero tersenyum mendengarnya.


"Bukankah sudah kubilang, jangan khawatir. Lukanya akan sembuh jika kamu menemaniku. Ayo kembali ke Istana" jawab Zero.


Livia menganggukkan kepalanya, wangi harum semerbak tercium di hidung Zero, dia mengamati Livia, rambut dan tubuhnya memang sangat wangi, hampir saja Zero tidak tahan dengan itu. Zero mengeluarkan Art dari dimensi kegelapan, harimau putih bertubuh besar mendarat memenuhi hutan.


"Master, siapa yang bisa melukaimu?" Art tampak terkejut setelah melihat Zero terluka.


Livia membantunya naik ke punggung Art, diikuti dengan Livia yang duduk di depan Zero, mereka segera melaju ke Istana. Melewati berbagai lembah dan gunung akhirnya mereka tiba di Kota Faiyum, Ibukota Kekaisaran Langit. Livia menuntun jalan Art ke Istana.


"Master, apa ini Istananya?" Art bertanya memastikan, Zero mengangguk.


Setelah melewati jalan udara, mereka sampai di Istana, Art kembali ke bentuk kecil dan melalui portal dimensi kegelapan dia kembali lagi, Livia tidak langsung menuntun Zero ke Istana, sebaliknya Livia terus berjalan bergerak lurus, ada sebuah rumah di sisi barat Istana Kekaisaran.


Rumah yang dituju tampak sederhana, beralaskan tanah yang diperhalus dengan gerbang dan tembok yang menutupi seluruh area rumah menjadikan tempat itu tampak sederhana, Livia segera membawa Zero ke kamar di rumah tersebut dan meletakkannya di ranjang, Zero terbaring di sana.


Sejak tadi, Livia masih tidak berubah, dia membuka pakaian atas Zero, menunjukkan tubuhnya yang kokoh. Tetapi alangkah terkejutnya, Livia tidak melihat satupun luka di seluruh tubuhnya, bahkan bekas luka pun tidak ada sama sekali, Livia bolak balik mengeceknya, tapi tetap tidak ada.

__ADS_1


"In- inii..." Livia terkejut, dia menyuruh Zero duduk. Zero menuruti perkataannya.


"Bukankah sudah kubilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Zero tersenyum puas.


Livia tidak tahu harus berkata apa, bahkan tulang rusuk yang sebelumnya patah sembuh begitu saja, seolah semuanya tidak ada yang terjadi, Zero menarik Livia kedalam pelukannya, Livia tidak melawannya, sebaliknya Livia malah semakin membenamkan diri dalam pelukan Zero. Saat itu waktu terasa berjalan lambat, bau tubuh yang khas tercium Livia, gadis itu menangis sekali lagi, entah apa yang terjadi.


"Kenapa menangis lagi?" tanya Zero, dia dengan pelan mengusap kepalanya.


Livia menggelengkan kepala, wajahnya terpendam dalam pelukan, Zero tidak mengerti apa yang ada di pikirannya, dia hanya ingin suasana seperti bertahan lebih lama.


~~


Tiga bulan telah berlalu, rumor tentang seorang pemuda yang bertarung melawan Kaisar menyebar di seluruh dunia, pasalnya Kaisar sendiri yang mengumumkannya, namanya masih menjadi misteri, namun Kaisar Langit hanya menyebutkan ciri cirinya.


Dunia gempar saat itu, banyak orang menebak nebak sendiri, tak jarang juga orang yang selalu mengaitkan dengan hal hal tertentu, bahkan ada juga sekelompok orang yang mengagumi pemuda itu.


Dalam waktu tiga bulan Zero selalu tinggal sendirian tak pernah sekalipun keluar dari tempat itu, jika ada keperluan Zero biasa menitipkan ke Livia, hampir setiap hari Livia mengunjungi tempat Zero, hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari, tapi mereka tidak pernah melewati batas. alasan Zero sampai saat ini tidak pernah keluar adalah untuk menghindari kecurigaan orang orang terutama petinggi Kekaisaran.


Sesekali Kaisar Langit dalam waktu satu pekan akan mengunjungi tempat tinggalnya, Zero terus berpura pura sakit ketika Kaisar datang menjenguknya, Kaisar Langit dan Zero ketika bertemu mereka selalu membahas hal hal yang tidak masuk akal.


"Waktunya bagiku bersinar terang di dunia." Zero menyeringai, dia melihat dirinya sendiri dalam cermin, wajahnya sangat tampan hari ini.


Zero melangkah keluar ruangan, Livia tampak menunggunya disana, Livia mengenakan mahkota bunga dan gaun yang pernah dibelikan Zero untuknya, hari ini Zero akan pergi ke Istana Kekaisaran untuk kedua kalinya, berbeda dengan sebelumnya, sang permaisuri akan hadir kali ini.

__ADS_1


Tampaknya akan ada sebuah acara di Istana, kehadiran para petinggi Kerajaan dan Kekaisaran untuk membahas suatu hal, Zero tidak bisa melewatkan hal yang seseru itu, Zero meraih jari jari Livia dan menggenggamnya.


__ADS_2