Destiny King

Destiny King
Sage Agung Terabaikan


__ADS_3

Didalam ruang dimensi kegelapan Zero sekarang terdapat dua makhluk hidup, Harimau putih dan manusia barusan, mungkin Art akan bersenang senang kali ini dengan teman barunya. Udara di kediaman Zero terasa segar, tidak ada yang mengganggu setelahnya untuk beberapa saat, seolah tidak ada yang terjadi mereka mengabaikan perihal orang tersebut.


"Livia, aku punya kabar baik." ucap Zero dengan bersemangat. Livia mengangguk.


"Aku akan mengikuti Arena Kematian sebagai individu pihak netral." jelas Zero.


"Itu buruk, kamu akan mengacaukan seluruh Arena sendirian." keluh Livia.


"Maka dari itu aku akan berkeliling di seluruh Benua ini, saat turnamen dimulai aku akan disana. Mungkin saja kamu bisa berkesempatan untuk bertarung denganku." tambah Zero, dia mengungkapkan rencananya beberapa hari kedepan.


Tapi Livia bukannya senang dan bahagia, dia merasa akan kehilangan sesuatu saat Zero berkata akan pergi. Di luar Livia terlihat bahagia, tapi jauh dalam hatinya dia berharap Zero tidak akan pergi, untuk mengatakan sesuatu seperti itu dia hanya akan menderita rasa malu, lebih buruknya lagi jika Zero menjauhinya dan membencinya.


"Ya, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Livia tersenyum.


Setelah beberapa saat mereka mengobrol ringan, Livia berusaha menghilangkan kegelisahan di hatinya, setelah semuanya itu percuma. Tapi di sisi lain Zero menyadari Livia agak aneh kali ini, dia hanya bicara beberapa kata menanggapinya setelah itu akan diam, Zero bukan jenius dalam hal hubungan seperti ini, bahkan sebelumnya dia jarang dekat dengan siapapun.


Pintu gerbang berbunyi kembali, kali ini ada seseorang datang kembali lagi, Zero sudah menebaknya, pintu gerbang kediaman berbunyi sekali lagi, teedengar ketukan berulang kali, Livia menyuruhnya masuk ke dalam.


Dua orang perempuan berpakaian seperti pelayan datang memasuki kediaman, belum selang beberapa lama setelah antek Sage Agung datang, dua orang datang lagi, berarti Kaisar memang menyuruh datang ke Istana.


"Yang Mulia Tuan Putri, saya membawa perintah dari Kaisar untuk semua orang di kediaman ini untuk datang ke Istana segera." Salah satu pelayan berkata.


Livia dan Zero saling berpandangan sesaat, Livia tidak tahu apa yang terjadi dengan Istana Kekaisaran, tidak biasanya Kaisar menyuruh semua orang untuk datang, Zero mengangguk mengerti karena dia adalah akar dari masalah yang terjadi di Istana, respon Istana Kekaisaran sangat lambat, harusnya mereka langsung tahu setelah sesuatu terjadi pada Istana.

__ADS_1


"Baiklah, kami akan pergi sebentar lagi." kata Zero, kemudian menyuruh para pelayan untuk kembali ke Istana Kekaisaran.


'kurasa aku akan pergi langsung kali ini.' pikir Zero mengingat perilakunya di ruang patung mungkin tidak dapat dimaafkan, itu termasuk pelecehan terhadap Kekaisaran dan akan dihukum berat.


"Ayo pergi, Yang Mulia." goda Zero. Livia tersenyum hambar, dia masih mengingat perkataan Zero yang akan pergi besok.


~~


"Siapa ini? Mengakulah!!! Siapa yang melakukannya??!!" Salah satu Sage Agung berteriak lantang, suaranya memekakan ruang takhta Kekaisaran.


Patung Kaisar Langit saat ini diletakkan di tengah tengah ruangan takhta, semua orang diam membisu, tidak ada yang berani bersuara sedikitpun, mereka menahan nafas mereka, semua orang menatap patung Kaisar Langit yang kepalanya menghilang, mereka saling bertatapan satu sama lain, berusaha mencari pelaku yang sebenarnya.


Kaisar Langit duduk di ruang takhta, disampingnya berdiri tiga Sage Agung yang tadi salah satunya berbicara, semua orang termasuk pelayan dan prajurit semuanya berdiri di hadapan Kaisar, mereka tidak berani menghadapi wajah Kaisar, di dalam hati mereka merasa bersalah karena tidak mampu menjaga salah satu harta Kekaisaran.


'hanya bocah itu yang berani melakukannya terang terangan dalam Istana.' Pikir Kaisar.


"Aku masuk." Tanpa rasa bersalah Zero tiba di ruang takhta Istana dengan senyum lebar di wajahnya, semua orang meliriknya melihat dengan tajam, Sage Agung dan Kaisar termasuk salah satunya. Livia masuk setelahnya dan menutup kembali pintu ruang takhta.


"Apa? Apa ada sesuatu di wajahku hingga kalian semua menatapku?" ucap Zero dengan lantang, suaranya memenuhi ruangan takhta, semua orang tambah menatapnya dengan sengit.


"Ekhemm, kalian berdua duduklah." kata Kaisar.


Kaisar Langit menunjuk dua kursi di pinggir ruangan, Zero dan Livia segera duduk disana, di batin orang orang mereka tidak terima ini, jika itu Livia mereka masih menerimanya, tapi Zero yang tidak diketahui asal usulnya dan datang begitu saja sangat tidak mungkin untuk mereka terima.

__ADS_1


Tiga Sage Agung, Ace dan Victor adalah dua Sage Agung yang menemani Livia saat itu, sementara yang satunya lagi adalah Helga, yang satu ini kekuatannya sedikit lebih kuat dari dua yang lainnya, penampilannya terlihat seperti berusia empat puluh tahun, tapi usia aslinya lebih dari ratusan tahun, rambutnya hitam bergelombang, hidungnya mancung kedepan, giginya tampak sangat rapi, dan Helga adalah ayah dari orang yang beberapa saat lalu mampir ke kediaman dan dipukuli Zero.


"Beraninya kau duduk di saat yang lain seperti ini!" Helga berteriak. Sontak yang lain kembali menatap Zero.


Mereka tidak berani menatap Livia karena dia sendiri putri Kaisar, yang akhirnya semuanya melimpahkannya pada Zero. Zero tidak sebodoh itu, dia benar benar geram saat orang lain meremehkan dan memerintah dirinya.


"Diamlah!" ucap Zero dengan dingin, bersamaan dengan itu Zero mengeluarkan semua auranya yang membuat beberapa orang panik dan tercekik tidak bisa bernafas dengan benar.


Rasa penindasan Zero lebih kuat berkali lipat dari Helga, para Sage Agung juga merasakan tekanan yang dahsyat dihapadan Zero. Kaisar mengerutkan keningnya, dia juga merasakan penindasan walaupun kekuatannya berada di tingkat yang sama.


'apa yang terjadi dengannya belakangan ini, bahkan saat konferensi para Raja, penindasan auranya tidak seperti ini, dia seperti orang yang berbeda.' batin Kaisar Langit.


Sage Agung Helga merasa panik saat itu juga, dia tidak menyangka seorang pemuda yang baru berusia belum genap dua puluh tahun sanggup mengeluarkan tekanan seperti ini. 'jika dibiarkan seperti ini, aku takut akan kehilangan wajah di Kekaisaran, dia monster aku harus segera mencari kesempatan untuk membunuhnya' pikir Helga.


Zero duduk menyilangkan kakinya, berlagak arogan di depan semua orang, tidak ada yang berani menentangnya setelah dia mengeluarkan kekuatannya, mereka bahkan tidak berani sedikitpun untuk meliriknya.


"Yang Mulia, dia bersikap lancang di Istana Kekaisaran, saya harap anda segera menghukumnya." seru Helga, dua Sage Agung yang lain keheranan, Ace dan Victor menyaksikan sendiri akhir dari pertarungan Zero dan Kaisar Langit, jadi bagaimana mungkin Kaisar akan menghukum lawan yang bisa mengimbanginya.


"Zero, apakah itu kamu yang melakukan ini?" Livia berbisik seraya menunjuk ke arah patung Kaisar di tengah ruangan.


"Ya, kupikir patung emas itu sedikit terlihat buruk, jadi aku membenarkan sedikit agar terlihat sedikit lebih baik dan begitulah hasilnya. Tampak sempurna." Zero berbisik balik, Livia tertawa lirih setelah mendengar ucapan Zero barusan.


"Yang Mulia, anda jangan diam saja, orang itu berani bertindak lancang di depan anda." Helga berseru kembali, Kaisar sejak tadi diam mengamati semuanya.

__ADS_1


"Sialan, aku paling benci diperlakukan seperti ini. Jika kau punya kemampuan, kemarilah. Biarkan aku merasakannya!" Tegas Zero. Semua orang memandanginya.


Kaisar tersenyum menyeringai di atas singgasana, Helga sudah mencapai titik kesabarannya karena Kaisar tidak merespon apapun dan mengabaikan dirinya, Helga sudah kehilangan wajahnya kali ini.


__ADS_2