Destiny King

Destiny King
Bunga Es Kristal


__ADS_3

Pangeran membalikkan pandangannya, dia merencenakan sesuatu dibalik kepalanya, mereka mulai melangkahkan kakinya memasuki gua, setelah beberapa saat, dibagian luar menyisakan tiga orang, Zero dan kedua gadis, mereka masih diam diluar, menunggu sesuatu, "ayo masuk" Zero mulai melangkah masuk kedalam dengan kucing dipundaknya, diikuti dengan Sayu dan Livia, begitu masuk, Zero mendapati beberapa orang menunggunya dipintu masuk gua, "ingat, jangan menyakiti dia" orang itu menunjuk Sayu, pakaian mereka persis seperti pakaian prajurit kerajaan, "dia berani meremehkanmu, apa yang harus diperbuat" Zero mengelus kucingnya, kucing mengangguk, menanggapi perkataan Zero, kemudian turun ketanah, "hanya seekor kucing jalanan berani maju, apa kau menyerahkan kucingmu agar kau bisa lari?, sayangnya itu tidak mungkin!" Orang orang itu meremehkan Zero dan kucingnya, kucing berjalan pelan kedepan hingga jarak antara kucing dan para prajurit kerajaan tersisa lima meter, "bunuh mereka, ingat yang tadi kukatakan" mereka semua mulai menyerang maju, tapi tiba tiba tubuh mereka terjatuh dalam sekejap, kemudian tanpa peringatan apapun langsung membeku, kucing mulai kembali ke Zero, dia membungkuk dan mengelus kucingnya, "kerja bagus, kawanku" Zero tersenyum, Sayu dan Livia sangat terkejut, siapa yang menyangka kucing yang dimiliki Zero mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, Livia lebih terkejut dari Sayu, dia tadinya berpikir itu bukan kucing biasa, dan memiliki beberapa kemampuan, tapi tidak menyangka bahwa kucingnya dapat membunuh prajurit tingkat Iron dalam sekejap, "meoongg" kucing mengangguk, dan melompat kembali kebadan Zero, kemudian Zero memeluknya, "ayo masuk" sambil tersenyum, Zero langsung memimpin masuk kedalam.

__ADS_1


Setelah kedalam, mereka berjalan beriringan, "siapa nama kucingmu?" Sayu bertanya, membuat suasana hening tiba tiba bersuara, sejak tadi mereka hanya saling diam, Sayu mencoba membuat suasana menjadi hangat, dia bahkan mencoba resiko dengan peluang terbunuh karena berbicara dengan Zero, yang dipanggil membalikkan badan, Sayu merinding melihat Zero membalikkan badannya, walaupun Zero terlihat tampan namun sangat menakutkan ketika membunuh musuhnya, tidak kenal ampun dan sangat ganas, pikir sayu, tapi walaupun begitu dia tetap baik kepada mereka berdua, entah apa alasannya, "apa kamu punya saran?" Zero mengelus elus kucingnya, "Saran..?" Sayu bingung, "ya, saran nama?", Keduanya berpikir, sementara Livia hanya melihat mereka berdua, Livia terlihat lemah tak berdaya dan mudah diserang jika dilihat, namun sebenarnya berbeda, Sayu berpikir sangat keras, berusaha agar tidak mengecawakan, "dia jantan....atau betina...?" Sayu bertanya dengan ragu, "jantan" Zero menjawab singkat, "bagaimana dengan...Art?" Sayu berharap Zero tidak kecewa dengan nama yang diusulkan, "Art?" Zero melirik kucing di pelukannya, kucing itu bergerak pelan menggoyangkan ekornya, 'spertinya dia senang' pikir Zero, "nama yang bagus, terima kasih" Zero tersenyum, dia berterima kasih dari lubuk hatinya, Sayu tercengang, tidak menyangka orang sepertinya dapat mengucapkan terima kasih yang dalam, Livia hanya mengamati mereka, menunggu keduanya jalan lebih dalam ke gua, suasana disekitar sedikit hangat saat itu, es disekitar tidak terasa dingin, malah sebaliknya terasa hangat.

__ADS_1


Art mengeluarkan sebuah bunga dari lubang es yang digalinya, dia menggigitnya kemudian melepaskannya, menunjukkan bunga itu kepada Sayu dan Livia, "ini, ini adalah...bunga es kristal" Livia tercengang, bahkan di istananya hanya memiliki empat dan dijaga dengan sangat ketat, bahkan Livia tidak boleh menyentuhnya secara sembarangan, bunga itu berbentuk sangat transparan, jika tidak teliti, seseorang tidak akan dapat menemukannya, hampir tembus pandang,"bunga es kristal?" Sayu bingung dengan perkataan Livia, "itu bunga yang sangat berharga dan sangat penting hingga dapat menyebabkan peperangan antar kerajaan" Livia menjelaskan, "bagaimana kamu tahu?" Sayu bingung, tapi itu mungkin saja karena tempat ini adalah dunia yang berbeda, "aku sering membaca sejarah" Livia berharap Sayu tidak curiga, wajah Livia tetap datar, Art duduk menunggu kedua gadis itu, kemudian dia menuju ke Livia dan mengeluskan kepalanya ke kaki Livia, menunjukkan bahwa ingin Livia memiliknya, "bukankah itu milik tuanmu?" Livia menunjuk Zero yang bersandar dipohon raksasa, Art menggelengkan kepalanya, Livia paham dengan maksudnya, kemudian dia menyentuh kepala Art dan mengusapnya dengan pelan, Sayu tidak paham dengan itu, tapi dia ikut bahagia.

__ADS_1


__ADS_2