Destiny King

Destiny King
Kejutan Baru


__ADS_3

Zero melangkah keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah membasahi lantai, aroma anggur memenuhi ruangan ketika Zero tiba, rupanya di meja makan telah tersedia beberapa anggur, Livia duduk disana, menatap Zero dari atas sampai bawah.


“bajingan tak tahu malu” celetuk Livia. Zero mengendus aroma anggur disekeliling, kemudian menatap balik Livia.


Zero melangkah maju, mengambil pakaian yang ditinggalkannya. “oh ya, mau jalan jalan?” ajak Zero, sebelum Livia menjawab, Zero kembali lagi ke kamar mandi, mengganti semua pakaiannya.


Setelah keluar, penampilan Zero tetap sama, hanya wajahnya yang terlihat lebih segar dari sebelumnya, Livia memandangnya tanpa berkedip, jujur saja sebenarnya Zero terlihat tampan hanya saja perilakunya berkebalikan.


“hmm, ayo pergi” ucap Zero, dia melangkah keluar pintu, Livia tidak mengikutinya, masih duduk di tempatnya


“aku tidak bilang akan pergi” kata Livia, menolak untuk mengikuti.


“siapa yang bilang kamu punya keputusan disini?” Zero merampas tangan Livia, menggandengnya pergi keluar, tidak memberinya kesempatan.


Sesaat setelah turun kebawah, semua orang memandanginya, penampilan luar biasa dari keduanya membuat atmosfir naik turun, kecantikan Livia menyihir semua orang dari kalangan manapun, membuat semua orang berdecak kagum.


“kemana tuan muda akan pergi?” penjaga penginapan bertanya kepada Zero.


“hanya pergi sebentar untuk berjalan jalan." jawab Zero.


Mereka berdua keluar dari penginapan, jalanan tampak sangat ramai, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, tapi tak jarang orang orang menatap Zero dan Livia, gadis tersebut terlalu banyak menarik perhatian orang orang.


Zero melihat sebuah toko pakaian di seberang jalan, pandangannya tertuju pada gaun berwarna merah muda yang dipajang, tertarik untuk melihat Livia memakainya.


"Livia, lihat itu, kamu mungkin cocok memakainya." Zero pergi ke toko pakaian, tangan mereka tidak pernah lepas sejak keluar dari penginapan.


Livia memandangi tangannya yang digenggam, perasaan hangat terukir di hatinya, tidak tahu apakah itu baik atau buruk. Zero bertanya tanya ke penjaga toko. Penjaga toko tersebut merupakan wanita tua.


"Berapa harga gaun ini?" Zero menunjuk gaun berwarna merah muda itu.


"Yang ini seharga seratus dua puluh koin emas. Dibuat dari wilayah selatan di Kerajaan Air dengan bahan terbaik, pembuatnya merupakan tokoh terkenal, gaun ini sudah dilapisi dengan pelindung terbaik, tidak akan mudah rusak." Penjaga toko menjelaskan.

__ADS_1


"Aku ambil." Zero membelinya tanpa menawar harga, walaupun seharga satu juta koin emas, dia tetap bisa membelinya dengan mudah.


"Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar." ujar penjaga toko.


"Tidak tidak. Langsung dipakai saja." lugas Zero.


"Ahh, baik tuan." Penjaga toko mengambil gaun yang terpasang.


"Livia, ikuti dia." Zero menyuruh Livia mengikuti penjaga toko, sebuah senyuman terlihat di wajahnya, Livia mengangguk kemudian mengikuti penjaga toko.


Sembari menunggu Livia. Zero melihat lihat semua pakaian yang ada, tidak banyak pengunjung yang ada di toko ini, semua pakaiannya terlihat berkelas, sepertinya untuk kalangan menengah ke atas.


Penjaga toko telah selesai, Livia mengikuti dibelakang. Gaun merah muda dibumbui dengan kecantikan terbaik memanjakan matanya, rambut putihnya tampak selaras dengan gaun, Zero terpukau dengan penampilan baru Livia, dia tampak terkejut walaupun sudah berkali kali melihatnya. Livia tampak malu malu ketika berhadapan dengannya.


"Tuan, ini sudah selesai." Kata peniaga toko. Zero masih terpukau dengan penampilan Livia kali ini.


"Oh ya, terima kasih." Zero memberikan uangnya kepada penjaga toko, kemudian menghampiri Livia.


Livia mengangguk, mengeluarkan mahkota bunga dari cincin ruangnya, Zero tak menduga jika Livia masih menyimpannya sampai sekarang, Zero memakaikan mahkota bunga kepada Livia.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Livia penasaran, dia tidak suka jika dipermainkan lagi olehnya.


"Karena aku menyukainya." jawab Zero, senyuman masih terlihat di wajahnya, Zero mundur selangkah ke belakang, menempelkan jarinya di dagu.


"Ayo pergi, kita ke tempat selanjutnya." Spontan Zero langsung menangkap tangan Livia, menggandengnya kembali, berlari keluar dari toko. Livia mengangkat bibirnya, dia diam diam tersenyum.


Suasana malam hari dipadu dengan aroma makanan khas yang berkeliaran dimanapun membuat jalanan terasa semakin ramai. Waktu terasa berjalan lambat, daun daun berguguran menimpa tanah, dunia seakan berpihak padanya.


Zero berkeliaran kemanapun dia mau, membeli apapun yang diinginkan, semuanya terlihay ramah, setidaknya dipermukaan terlihat seperti itu. Mereka terus berlarian sepanjang jalan.


"Tuan muda, lihat gadis itu, bukankah itu cocok untukmu" seseorang berbicara dengan sosok yang dipanggil tuan muda itu, mereka melihat Zero dan Livia dari tempat tinggi.

__ADS_1


"Ya, pergi. Ambil itu." Kata tuan muda tersebut.


Setelahnya, dua orang bawahannya pergi ke tempat Zero yang sedang duduk bersantai, Livia terlihat sedang menikmati permen yang ada. Zero melihat mereka mau mencari masalah, seringai terlihat di raut wajah Zero, seperti menantikan mangsa yang sudah lama ditunggu.


"Nona, jika kau mau menemani tuanku malam ini, tuanku akan memberikan apapun yang kau inginkan." orang itu berkata dengan sinis, menatap tubuh Livia dengan senyum jahat.


"Nak, kau berani melakukan sesuatu seperti itu pada milikku. Siapa tuanmu?" tanya Zero, menarik Livia ke sampingnya untuk mendekat.


"Tuanku adalah tuan muda Carol Wayne dari keluarga kelas satu di kerajaan ini, keluarga Wayne. Beliau merupakan yang terkuat kedua setelah nona muda." Bawahan itu menjelaskan dengan bangga, dadanya membumbung tinggi, tampak sangat mengagumi sosok Carol Wayne tersebut.


"Ini menarik, pas sekali aku punya masalah dengan keluarganya." ujar Zero.


"Masalah apa?" Livia penasaran, dia membiarkan Zero merangkulnya.


"Hanya masalah sepele, seorang gadis di keluarganya pernah menyinggungku sekali." jelas Zero. "Dimana tuanmu?" Tubuh Zero mengeluarkan aura tingkat tinggi, mengarahkan kepada dua orang suruhan Carol Wayne. bawahan itu tidak bisa menahannya, dia segera berlutut di tanah, tidak bisa mengangkat tubuhnya, dua orang itu gemetar ketakutan, menyadari sosok didepannya bukan seseorang yang bisa diprovokasi.


"Aku akan bertanya sekali lagi, dimana tuanmu?" tanya Zero, wajahnya berubah menjadi beringas, dia mengangkat kepala salah satu bawahan dengan tangannya, intimidasi dan kearoganan terlihat jelas dimatanya, dua orang itu tampak kesakitan, jiwanya ditekan sedemikian mungkin.


Penduduk setempat semuanya melihat, tapi tidak berani ikut campur, maklum saja mereka hanya orang biasa, bawahan 'tuan' menunjuk keatas, disalah satu pagoda lantai atas, sebenarnya Zero sudah tahu, dia bertindak seperti itu agar terlihat keren.


Livia dari tadi menyaksikan aksi Zero, berdasarkan pengalamannya, tidak mungkin seseorang sepertinya akan bertindak demi orang lain tanpa imbalan, dia pasti melakukannya untuk dirinya sendiri, tapi Livia mengingat perkataan Zero sebelumnya, walaupun dia tidak melakukannya untuknya, setidaknya perkataannya membuat hatinya nyaman.


Zero mengangguk puas, melihat kearah yang ditunjuk bawahan Carol. "Anjing baik."


Zero mencengkeram leher dua orang, melemparnya sembarangan, seumur hidup mereka tidak akan bisa berbicara dengan benar.


"Sayangku, ingin menyaksikan kejutan?" kata Zero, mengejutkan Livia yang dalam lamunannya.


Livia memelototi Zero dari dekat, nafasnya dapat dirasakan dari jarak sedekat itu. "Siapa sayangmu?"


Zero menatapnya lebih dekat hingga hidung keduanya bersentuhan, suara sekecil apapun bisa didengar darinya.

__ADS_1


"Aku menyerah. Orang orang disini melihat ke arah kita, sepertinya aksi kali ini cukup baik." Zero bangkit berdiri, diikuti dengan Livia.


__ADS_2