
Zero menyeringai dalam, memperhatikan musuh yang mulai menyerang, tangannya sudah gatal ingin menghajar, auranya menyebar memenuhi ruangan es, kelompok musuh bertebaran mengelilingi mereka bertiga, Livia dan Sayu tidak panik, mereka mencabut pedangnya, memandangi musuh dengan tatapan tajam, aura yang dipancarkan oleh Zero tidak dapat dirasakan siapapun kecuali mereka yang berada dilevel yang sama ataupun diatasnya, namun diantara orang orang ini, tidak ada yang memenuhi syarat untuk itu.
"Matilah, kalian beruntung bisa mati dihadapan pangeran ini!" Suara Alexa menggema diruangan, mengutuk mereka yang menjadi musuhnya
"Hei, apakah dia tidak pernah diajarkan sopan santun?" Tanya Zero ke Livia, dia menanyakan sikap musuhnya yang bodoh, menyatakan musuh akan mati tanpa mengetahui apapun terutama kekuatannya adalah tindakan paling bodoh
"Kenapa kau menanyakanku?" Livia menjawab dengan santai, wajahnya masih tampak datar
"Karena kau adalah..." Tiba tiba Zero berhenti mengucapkan kata katanya, niat membunuh terpancar dari Livia, wajahnya yang semula datar mengerutkan kening, tidak menyukai perkataan yang akan Zero ucapkan
"Ahh, baiklah" Zero meringis, tertawa lirih
"Apakah kalian mengabaikan kami?" Salah satu musuh bertanya, dia kesal dengan Zero yang dengan santainya bercanda ditengah situasi hidup dan mati, Zero melihat kepada orang yang berbicara, dalam sekejap kepala orang tersebut terpisah dari tubuhnya, orang orang yang berada disekitarnya kaget, tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya
"Bisakah kalian diam ketika ada orang yang berbicara" Zero berbicara dengan santai, tapi itu membuat orang orang yang mengelilinya menggigil ketakutan, semula mereka sangat percaya diri dengan kemampuan mereka mengalahkan tiga orang, akan tetapi sekarang mereka gelisah, ketakutan, sedih, dan berbagai perasaan lainnya, Sayu masih terkejut dengan kekuatan Zero, walaupun dia sudah pernah melihat kekuatannya secara langsung, dia masih terkejut, karena Zero membunuh tanpa bergerak seinci pun, matanya tidak bisa melihat apapun, hanya kepala yang tiba tiba terlepas dari tubuhnya, tapi Sayu merasa agak tenang, beruntung Zero tidak menjadi musuhnya
"sial, apakah itu perbuatannya", "bagaimana ini bisa terjadi", "tidak mungkin manusia bisa melakukan itu" suara orang yang mengelilingi mereka bertiga terdengar begitu pelan, mereka merasa syok dengan kejadian barusan, Alexa melihat dari jauh, dia tidak terpengaruh dengan kejadian barusan
"Itu hanya trik yang dimainkannya untuk menggertak, jangan takut, bunuh mereka" Alexa berteriak, mencoba membuat mereka percaya dengan perkataannya
"Dia benar benar bodoh, apakah semua pangeran didunia ini benar benar sepertinya?" Zero bergumam, dia melihat Alexa dengan tatapan prihatin, Alexa masih percaya diri, berpikir bahwa Zero hanya menakut nakuti mereka, tidak menempatkan kejadian barusan
__ADS_1
"Ya, pangeran benar, mana mungkin dia bisa melakukan itu", "ya, jangat takut", "benar, kita serang bersama" suara sekelompok orang bergema memenuhi ruangan, menganggap benar perkataan pangeran, mereka langsung menyerang dengan ganas, Livia dan Sayu mati matian menahan mereka, suara pedang berdentangan memekakan telinga, beberapa percikan terlihat diantara mereka, orang orang itu berada dilevel yang jauh dibawah Zero, jadi Zero dengan santai menghindar, kakinya bergerak dengan sangat lincah, tubuhnya sangat lentur, Zero mengabaikan Livia dan Sayu, karena jika terjadi sesuatu, Livia pasti akan menanganinya.
Suara orang orang terdengar keras, lantai es penuh dengan darah, senjata berserakan dimana mana, Alexa menatap mereka agak jauh dari lokasi, ketika dia sedang mengamati Sayu, air liurnya menetes dari mulutnya, tidak sabar mencicipinya,
"Cepat selesaikan" perintah Alexa, orang orang mulai bersemangat kembali, ketika Alexa sedang menatapi Sayu dengan penuh hawa nafsu, Zero sudah selesai dengan permainannya, dia melesat dengan sangat cepat, ditempatnya mayat bertumpuk menjadi satu, membentuk sebuah gunung kecil, darah terlihat segar dipedang yang dipakai Zero, lantai yang terbuat dari es dipenuhi dengan darah para musuh, Zero bagaikan iblis bencana, kemudian Zero mengamati situasi kedua rekannya, mereka masih sanggup bertarung walaupun hanya membunuh dua musuh,
"Art, bantu mereka, selesaikan dengan cepat" Ucap Zero, kucing putih itu langsung turun dari pundaknya, begitu mencapai lantai es, kucing itu membuka cakarnya, menghantam di lantai es, kabut es mulai muncul diseluruh ruangan, perlahan mengahalangi pandangan
"Apa ini?", Siapa yang melakukannya", "Seseorang, tolong aku" teriakan musuh terdengar keras, mereka meneriakkan keputusasaan, setelah teriakan mereda, ruangan itu sangat hening, kabut tebal masih berada di sana, tiba tiba suara seperti retakan terdengar keras, menghiasi suasana hening, setelahnya kabut perlahan mulai menghilang, Sayu dan Livia mulai terlihat, begitu juga dengan sekelompok yang mengepung mereka berdua, tapi keadaannya sangat berbeda, Sayu dan Livia terlihat sangat sehat, sebelumnya mereka sangat kelelahan, ternyata kabut tersebut dapat memulihkan keadaan fisik seseorang kedalam kondisi prima bagi yang dikehendaki pemiliknya, melihat kemusuh, itu tampak sangat menyedihkan, mereka dibungkus dengan es yang sangat tebal, yang tidak memungkinkan untuk bisa keluar melihat dari kekuatan mereka, benar benar tanpa celah sedikitpun
"Kerja bagus" ucap Zero sembari tersenyum, dia bangga melihat aksi kucingnya, terlihat sangat dramatis dan keren, Sayu dan Livia mengucapkan terima kasih, tapi Zero tidak memedulikannya, dia bergegas menuju Alexa, gerakannya begitu cepat, dalam satu kedipan dia tiba dihadapan Alexa, tubuh pangeran terbungkus dengan lapisan es yang sangat tebal, hanya menyisakan bagian kepalanya yang tidak terbungkus es, Zero mengamati dengan cermat, Alexa pingsan, Zero tidak menunggunya bangun, dia langsung mengeluarkan api kecil dari jari tangannya, api kecil itu kemudian dilemparkan kearah kepala pangeran, membuat rambutnya terbakar, Zero mengontrol dengan baik, api miliknya hanya membakar rambut dan tidak melukainya sama sekali,
"Apa yang kamu pikirkan?, kenapa tidak langsung membunuhnya?" Tanya Livia, dia sudah tidak sabar,
"Hmmm, tidak, aku tidak ingin langsung membunuhnya, aku ingin menginterogasinya terlebih dahulu, apa kamu punya ide?" jawab Zero, dia masih berpikir sambil mengamati bungkusan es dihadapannya
"Mungkin kamu bisa mencoba menamparnya sampai bangun" Livia berkata dengan datar, sedikit senyum mulai muncul diwajahnya, Livia senang akhirnya pangeran negeri ini terbunuh, apalagi dia melihatnya dengan mata kepala sendiri
"Umm, tidak " ucap Zero dengan tegas
"Hihihi" tiba tiba Sayu tertawa lirih, tapi itu tetap terdengar oleh Zero dan Livia, apalagi di ruangan yang sangat sunyi ini
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" Tanya Zero, dia bingung dengan tingkah Sayu yang tiba tiba tertawa,
"Tidak apa apa, hanya saja kalian terlihat cocok" jawab Sayu, kemudian diam,
"Apa yang menurutmu membuat kami cocok?" Tanya Zero dengan penasaran, dia berharap Sayu dapat memberikan jawaban memuaskan, Livia hanya diam, wajahnya kembali datar seperti semula,
"Mungkin karena ketika Livia berbicara denganmu dan denganku berbeda, begitu juga kamu, ketika kamu berbicara dengan Livia, kamu tampak lebih bahagia, berbeda dengan yang lainnya, dan juga ketika Livia berbicara denganmu, dia tampak seperti sebuah harapan" jawab Sayu
"Yah, itu benar dan juga salah, kamu benar ketika berkata bahwa Livia ketika berbicara denganku dan yang lain berbeda, dan kamu salah ketika berkata bahwa Livia mempunyai harapan denganku, dia hanya menginginkan sesuatu" ucap Zero, pernyataannya tidak bisa membuat Livia membantah, walaupun Livia tidak ingin berbicara
"menginginkan sesuatu?, apa itu?" Tanya Sayu dengan rasa penasaran
"Kau ingin tahu?, Kesini mendekatlah, akan kubisikkan sesuatu" ucap Zero, yang membuat Sayu merasa semakin penasaran,
Sayu perlahan berjalan mendekati Zero, kemudian mendekatkan telinganya
"kau ingin tahu kan?" Zero mendekatkan mulutnya ke telinga Sayu, agar bisa mendengar lebih jelas, Sayu membalas dengan mengangguk
"dia ingin menjadi istriku dan membuat bayi denganku" ucap Zero, dia menunggu reaksi dari Sayu yang terbengong, kemudian Sayu mengerutkan keningnya, perlahan menjauhi mereka berdua
'mereka sangat c*bul, aku tidak percaya Livia seterbuka ini, mengerikan' ucap Sayu dalam batinnya, Zero tersenyum mengamati keduanya
__ADS_1