
Zero masih tidak peduli dengan keadaan disekitar, dengan santainya mangamati sekitar, Sayu dan Livia ragu ragu, 'bagaimana jika dia hanya manusia?' Livia takut sesuatu akan terjadi, melihat Zero masih duduk dengan santai, tidak menganggap serius kelompok orang orang itu, bawahan pemimpin langsung menyerang Zero, berlari dengan pisau digenggamannya dengan kecepatan penuh, Livia membuang pikiran, 'tidak peduli apakah dia kuat ataupun lemah, jika dia lemah dan mati disini, aku akan merasa bersalah karena tidak bisa melindungi' Livia menghalang orang itu, dia berdiri didepan Zero, "wanita sialan, jangan menghalangi jalan.." sebelum orang itu menyelesaikannya kepalanya terputus, Livia terkejut melihatnya, dia tidak melakukan apapun tapi orang itu mati tanpa ada yang tahu apa yang terjadi, sekilas Livia melihat jejak aura yang sangat tipis diudara, 'tapi orang itu tidak melakukan apapun, bagaimana mungkin? Apakah ada orang yang bisa membunuh hanya dengan tatapan?!' Livia untuk sesaat ragu, pemimpin kelompok sangat marah, dia memerintahkan bawahannya menyerang Livia, "bunuh wanita itu, jangan sisakan mayatnya" pemimpin kelompok memerintahkan para bawahannya, Livia langsung menyiapkan diri untuk bertarung, Sayu berdiri disamping Livia, menunggu mereka bergerak, setelah kalimat pemimpin diucapkan, bawahannya langsung menyerang mereka bertiga, Sayu dan Livia kualahan menahannya, Zero masih tetap duduk tenang dan tersenyum, 'semut tetaplah semut' Zero menyeringai, senyumnya sangat dalam, dia tetap tidam bergerak dari tempatnya, lengan Sayu terluka akibat sayatan pedang musuh, Livia kelelahan, "menyerahlah" pemimpin kelompok musuh berdiri dibarisan paling belakang, dia secara terus-menerus memprovokasi Livia dan Sayu, Zero tidak peduli dengan ucapannya, Livia dan Sayu terus menahan mereka, "kau cepatlah pergi" Livia menyuruh Zero pergi, tidak mau melibatkannya, Livia dikala mengucapkannya masih menahan dentingan pedang musuh, 'benar benar ada orang seperti itu didunia ini', yang Zero tahu, sangat jarang ada orang yang peduli dengan sekitarnya ketika mereka dalam keadaan hidup dan mati, walaupun dalam kasus Livia bukan begitu, setidaknya dia punya hati nurani.
Pemimpin kelompok tidak tahan bawahannya sangat lama mengatasi kedua gadis itu "cepatlah", para bawahannya langsung menyerang membabi buta, "gunakan formasi pembunuh" para bawahan langsung berjajar melingkar, empat orang berdiri ditengah, membentuk sebuah lingkaran, sebuah cahaya merah secara samar muncul dibawah tanah, kekuatan musuh bertambah kuat secara drastis, empat orang sebagai pisat formasi sangat fokus, Livia dan Sayu sudah kuwalahan, apalagi ditambah dengan kekuatan yang secara tiba tiba menjadi kuat, Zero terkejut "sudah waktunya" Zero tersenyum kembali, monster seperti cacing dengan tubuh dipenuhi lahar panas keluar dari dalam tanah, tubuhnya terbuat dari batu, kekuatannya setara dengan tingkat Iron, dua tingkat besar dibawah Zero, sebenarnya makhluk itu bukan apa apa dihadapan Zero, akan tetapi bagi kelompok musuh itu bagaikan bencana berjalan, Livia dan Sayu terkejut dengan kemunculan monster, empat orang dipusat formasi langsung ditelan mentah, makhluk itu muncul karena terpicu oleh formasi pembunuh, jika tidak menggunakannya, monster cacing diperkirakan akan muncul sedikit lebih lama jika musuh tidak menggunakan formasi pembunuh.
__ADS_1
Pemimpin musuh gelagapan, tubuhnya seketika lemas tak berdaya, lututnya menempel ketanah, pasrah dengan keadaan, monster cacing melihat mangsa didepannya, mangsa adalah pemimpin musuh, monster cacing membuka mulutnya, menelan pemimpin musuh dengan sangat cepat, bawahannya langsung lari kesegala arah, kejadian itu berlangsung sangat cepat, "bukankah itu 'makhluk yang tak pernah bisa puas, Ular Neraka" Livia reflek mengucapkannya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ular Neraka hanya bisa ditemukan dikedalaman tanah, mustahil bagi monster seperti Ular Neraka pergi kepermukaan, Ular Neraka biasanya tidak menunjukkan diri, mereka hanya pergi kepermukaan untuk menangkap beberapa monster level rendah yang sangat banyak untuk dijadikan makanan, terakhir kali monster Ular Neraka keluar menyebabkan insiden dalam sejarah tercatat dua ratus tahun lalu, membuat wilayah empat kerajaan besar diseluruh dunia berantakan, untuk memuaskan hasrat Ular Neraka, korban pada kejadian tercatat mencapai lebih dari lima ratus ribu, membuat Ular Neraka dijuluki 'makhluk yang tak bisa puas', setelah insiden itu, orang orang sangat berhati hati terhadap makhluk tersebut.
Zero mengambil kedua pedang disisinya, menatap sekumpulan sampah yang kabur dari Ular Neraka, "black hole", langit tertekuk kedalam bulatan, membentuk sebuah lubang ditengahnya, orang orang yang kabur terseret kedalam lubang, tubuh mereka lenyap ditelan langit, Livia dan Sayu memandangi lubang hitam, ketakutan terukir didalam hatinya, ketika langit kembali semula, menyisakan Ular Neraka dan tiga orang, Livia melihat Zero berdiri dengan kedua pedang ditangannya, rasa kekaguman muncul dalam dirinya terhadap pria didepannya, walaupun Livia belum mengetahui apakah Zero baik ataupun jahat, tapi dengan melihat kekuatannya secara langsung menimbulkan jejak rasa kekaguman, Ular Neraka membuka mulutnya, mengeluarkan taringnya, mengaum dengan suara yang sangat keras, Sayu masih takut dengan apa yang barusan terjadi, tidak percaya dengan penglihatannya, bagaimana mungkin manusia bisa mempunyai kekuatan sebesar itu, begitulah pikirnya.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara denganmu nanti" Livia menemani Sayu duduk diatas bongkahan tanah, Zero puas dengan perkataan Livia, 'tidak kusangka wanita ini sangat dingin, berpura pura itu tidak baik' Zero pergi ketempat Ular Neraka yang mati, kemudian memeriksanya hampir satu jam penuh, lalu menyimpan Ular Neraka kedimensi kegelapan.
Zero berdiri diam disana mengamati Livia dan Sayu yang duduk, melangkah untuk duduk bersama disana, Zero melihat Sayu yang tertidur dipundak Livia, "dia cantik, tapi tidak cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri" Zero duduk didepan mereka, "ya, kau benar, dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri" Livia menghela nafas, 'jika Sayu disini sendirian, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, untung saja dia disini bersamaku', Livia melirik Zero yang menengadahkan kepalanya kelangit, Zero menyadarinya kemudian tersenyum kepada Livia, "apa kau terpesona kepadaku?" Zero menggodanya, tatapannya sangat hangat saat menatap Livia, "apa yang kau inginkan?" Livia yang sadar dengan tatapannya mengalihkan matanya, dia tahu jika dirinya semuanya bisa dilihat olehnya, dia tidak perlu menyembunyikan apapun didepannya, juga Sayu masih terlelap.
__ADS_1