
"cukup, jangan membunuhnya" ucap Kaisar Langit, dia segera menghapus penghalang yang menutupi pertempuran, menampilkan Zero yang menghunuskan kapak ke leher Helga.
Zero yang mendengar itu menurutinya, dia melepaskan kapak dari leher, tapi Zero tidak melepaskannya begitu saja, saat dia menariknya Zero sengaja memberi sedikit goresan di lehernya yang membuat darah mengucur keluar dari sana, semuanya melihat dengan tatapan tidak percaya, Zero tidak melepaskannya begitu saja.
Kapak milik Helga menghilang begitu saja dari tangan Zero, kapak itu berpindah ke dimensi kegelapan miliknya. Helga tidak mengatakan apapun, dia menutupi lehernya yang mengeluarkan darah dengan tangannya sembari bernafas dengan berat, jelas saja jika Zero tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Kau cukup beruntung kali ini. Lain kali aku tidak akan melepaskanmu." Kata Zero, suaranya terngiang ngiang di benak Helga.
Peringatan itu terdengar oleh semua orang yang membuatnya merinding, tatapan yang diberikan Zero tidak berbohong, Zero kembali duduk di samping Livia, kemudian menatap Helga yang masih berada di tengah, Kaisar pura pura batuk untuk memberi kode kepada dua Sage Agung.
Ace dan Victor bergegas menuju Helga, mereka membawa Helga keluar dari ruang takhta tanpa mengucapkan sepatah kata, takut jika omongannya akan menyinggung.
'bocah ini terlalu berani, dia tidak takut dengan siapapun. Kekuatannya juga tidak bisa diprediksi.' pikir Kaisar Langit.
"Ekhhemm. Apa kalian tahu mengapa aku mengundang kalian berdua kemari?" tanya Kaisar, dia membenarkan posisi duduknya di singgasana.
"Ohh mungkinkah karena patungmu kuhancurkan kepalanya." Ucap Zero dengan lantang, Livia sudah menduga itu dan memegang keningnya yang berdenyut, kemanapun Zero pergi dia selalu menimbulkan masalah yang tak ada habisnya.
'mari lihat bagaimana reaksimu.' ucap Zero dalam benaknya.
Tidak seperti yang diduga, Kaisar Langit tidak bereaksi apa apa, dia hanya mengangguk sejenak kemudian bertanya. "Kenapa kau menghancurkannya?"
"Kau tahu, saat aku berkeliling di Istana, aku melihat satu ruangan yang dipenuhi patung emas, kupikir itu terlihat keren sehingga aku penasaran apa yang ada di dalamnya selain itu, tapi setelah melihat begitu banyak akhirnya aku menemukan patung berwujud dirimu dan entah kenapa itu membuatku kesal dan berakhir menghancurkannya." Zero dengan percaya diri mengatakan semua itu. Kaisar mengangguk pasrah dengan semua yang didengarnya.
"Terdengar seperti lelucon, apakah itu nyata?" Livia berbisik mendekati Zero.
__ADS_1
"Memang terjadi, aku benar benar kesal ketika menatap wajah itu." Ungkap Zero.
Kaisar menggelangkan kepalanya, dia tidak tahu harus bagaimana, Zero berada di luar kendalinya yang berarti tidak sanggup mengatasinya. 'bocah itu mengerikan, aku harus cepat cepat mengusirnya pergi dari sini, jika tidak masalah yang akan dia sebabkan di masa depan akan membuat Kekaisaran kerepotan.' batin Kaisar.
"Baiklah karena sudah terjadi, bagaimana kau akan mengganti rugi ini?" tanya Kaisar.
"Bukankah Kekaisaran sangat kaya, kenapa tidak membuatnya kembali. Seharusnya itu menjadi urusan yang mudah." Celetuk Zero.
Kaisar sungguh tidak percaya dengan pendengarannya, Zero tidak bertanggung jawab, melemparkan semua masalah yang ada pada Kekaisaran, Kaisar menghela nafas berat, dia tersenyum dan berkata. "Karena sudah begitu, kau bisa pergi."
Livia menyadari ayahnya bersikap sangat aneh, tidak biasanya dia menjadi lunak begitu saja, biasanya dia akan menguliti orang tersebut hidup hidup jika bertindak seperti Zero, apalagi sampai merusak properti Kekaisaran.
"Ayo pergi." Desak Livia yang segera meraih tangan Zero dan menggandengnya untuk keluar dari Istana.
Zero menurut begitu saja, wajahnya menyeringai mengingat kejadian barusan, Kaisar pasti tidak akan membiarkannya pergi, itu pasti. Saat Livia dan Zero hampir keluar ruangan, ada sebuah penghalang yang menutupi ruangan, mencegahnya untuk pergi.
"Lihat, ayahmu sedang gila." Zero membisiki Livia seraya menunjuk kepada Kaisar yang berdiri di singgasana.
"Terserah, kau urus saja sendiri." Livia mendecak lidah, melepas tangan Zero dan segera pergi keluar penghalang dengan wajah cemberut.
Penghalang itu tidak ditujukan untuk Livia yang membuat Livia bisa keluar dengan mudah tanpa adanya apapun, Zero tidak tahu kenapa Livia tiba tiba saja marah sendiri. Zero memalingkan pandangannya ke arah Kaisar Langit yang sedang menatapnya dengan ganas, Zero tertawa pelan dan tersenyum seolah tidak terjadi apapun.
"Apa ada sesuatu untuk dikatakan, Yang Mulia Aakesh yang terhormat?" Tanpa rasa bersalah Zero mengatakannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Zero, Kaisar langsung melesat menuju Zero. Kaisar melancarkan pukulan ganas yang dibungkus dengan auranya, Zero tidak diam begitu saja, dia menghindari serangan Kaisar dengan mudah, pukulan itu mengenai udara, gelombang hempasannya menyebabkan tembok Istana runtuh.
__ADS_1
Kaisar menyerang kembali tanpa membiarkan Zero untuk bernafas, Zero menghindarinya kembali dengan mudah, tembok Istana runtuh kembali, kali ini mebuat lubang besar yang menganga.
"Cukup, kau menindas anak kecil, apa kau tidak tahu malu?" Saat Kaisar hendak menyerang kembali suara itu terdengar dari luar penghalang, saat Zero dan Kaisar meliriknya ternyata itu adalah Permaisuri.
Permaisuri masuk ke dalam penghalang diikuti dengan Livia dibelakangnya, Permaisuri berdiri di tengah tengah Zero dan Livia, menatap tembok tembok yang runtuh akibat pertarungan.
Zero yang melihat Permaisuri berkata seperti membelanya, lantas berkata dan mengadu pada Permaisuri. "Tolong aku Yang Mulia Permaisuri, Pak Tua itu tiba tiba mengurung dan menindasku disini tanpa bisa melawan, dia hampir membunuhku yang tidak berdaya ini."
Tubuh Zero bersembunyi di balik punggung Permaisuri, perkataannya sama sekali tidak menghormati Kaisar Langit, Livia yang disampingnya memelototi Zero.
"Apa apaan ini, kau bocah brengsek, Mulutmu mengerikan. Istriku jangan dengarkan bocah nakal itu, dia yang sengaja menyinggungku." Kata Kaisar mencoba menyakinkan istrinya.
"Tidak Yang Mulia, orang itu berbohong. Memang aku yang menghancurkan patung emasnya, tapi aku sudah mengakui bersalah dan bersedia menggantin rugi. Tapi orang itu bersikeras mencoba membunuhku." Zero mengelaknya sambil menjulurkan lidahnya.
Permaisuri geleng geleng kepala melihat mereka berdua, dia tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Livia berbisik kepada Permaisuri dan Permaisuri mengangguk pelan, entah apa yang dibicarakan mereka. Zero dan Kaisar masih berdebat tentang siapa yang salah.
"DIAMLAH! aku akan menghukum kalian berdua. Nak, segera kembali ke tempatmu." ucap Permaisuri dengan lantang. Zero dan Kaisar Langit diam setelah Permaisuri membentaknya, Zero mengangguk pelan.
"Dan kau sebagai Kaisar disini, apa kau tidak tahu malu ketika berdebat dengan anak kecil. Dan sebagai Kaisar harusnya kau menengahi masalah ini dan memutuskan kebaikan Kekaisaran, bukannya malah mencoba menyakiti seseorang." Permaisuri memarahi Kaisar Langit, sang Kaisar hanya diam menunduk, tampaknya ini adalah kejadian dimana sang suami takut kepada istrinya.
"Tapi aku sudah menc.." Kaisar hendak mengucapkan sesuatu. Tapi permaisuri menahannya dan berkata. "Diam, kau tidur di luar malam ini."
"Kalau begitu saya pamit Yang Mulia. Permisi." Zero berpamitan kepada Permaisuri.
Permaisuri tersenyum kemudian mengangguk, Zero segera pergi yang diikuti dengan Livia dibelakangnya.
__ADS_1
Sebelum pergi, Zero memastikan Permaisuri tidak melihatnya dan mengejek Kaisar, Kaisar yang melihat itu merasa jengkel, akan tetapi dia tidak bisa melakukan apapun.