
Udara semakin dingin, langit tak kunjung cerah, lapisan es semakin tebal, mayat mayat menumpuk diluar lapisan penghalang, didalamnya Zero berusaha mengobati Livia, dia mengambil pakaian putih dan lap dari system, Zero mengangkat tangannya diatas Livia yang terbaring, dia menetralkan penyamaran Livia, wajah Livia terlihat sangat pucat dalam keadaan pingsan, rambutnya yang putih ternodaj oleh darah, Zero merasa sedikit kasihan dengannya, darah mengucur mengalir dari keningnya, membasahi kulitnya yang seputih salju, Zero mengusap darahnya dengan lap, kemudian langsung menghentikan pendarahan dengan teknik penyembuh yang dikuasainya, luka luka Livia mulai tertutup secara perlahan, Zero merasa agak lega, tapi ini masih belum selesai, beberapa tulang di tubuh Livia patah, auranya kacau, tidak mengalir dengan baik.
"Ugghh, lebih baik segera menyelesaikannya, aku lapar" keluh Zero, sebelumnya dia belum pernah mengobati siapapun, tapi dia memiliki pengalaman dengan dirinya sendiri, Zero sering berkelahi dengan seseorang dan berakhir dengan luka.
Zero mulai serius, dia menggunakan semua teknik penyembuh dan pengetahuannya untuk mengobati Livia, hasilnya berjalan dengan baik, tulang tulangnya mulai memulihkan kembali, auranya menjadi lebih stabil dari sebelumnya, denyut nadinya menjadi normal, setelah beberapa saat, akhirnya telah selesai, Zero mengelap keringatnya dengan bajunya, dia melihat Livia dengan cermat, 'jika dilihat dengan baik, dia benar benar sangat cantik, mungkin saja gadis ini adalah yang paling cantik diantara yang pernah kutemui' pikir Zero sambil tersenyum, tapi dia belum menyelesaikan urusannya, Pakaian Livia hampir seluruhnya terbasahi darah, Zero berpikir sekejap, kemudian tanpa ragu menanggalkannya, dia menggunakan elemen air untuk memandikannya, air yang digunakan Zero adalah air hangat, tidak mungkin menggunakan air dingin dilingkungan ini, setelah bersih Zero langsung membungkusnya dengan pakaian yang diambil dari toko system, Zero bahkan tidak menyentuh Livia sama sekali saat membersihkannya, walaupun begitu tetap saja Zero adalah orang normal.
Tiga hari telah berlalu, Livia terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa berdenyut, dia menyentuh keningnya, terdapat lap yang dibasahi dengan air hangat, dia melihat sekeliling, Livia menyadari tidak ada siapapun disekelilingnya, dia mencoba untuk duduk, tapi rasa sakit yang terlalu kuat menahannya, Livia tidak menyerah, dia melawan rasa sakitnya, akhirnya dia berhasil, tangan Livia menyentuh lantai es, tapi dia menyadari bahwa lantai itu tidak dingin, akan tetapi merasa hangat, Livia belum bisa menggunakan kekuatannya, tapi dia merasakan jika ada suatu penghalang yang terpasang disekitarnya, tiba tiba dia ingin bangun berdiri, Livia memaksakan dirinya, tapi rasa sakit yang kuat menyerangnya kembali, akhirnya Livia menyerah untuk berdiri, rasa sakit yang diterimanya berkali kali lipat lebih kuat daripada ketika dia mencoba untuk duduk.
Seseorang datang membawa ikan raksasa dipunggungnya, wajahnya terlihat sangat segar, pakaian hitamnya memancarkan aura yang tidak biasa, rambutnya terurai dengan lembut, setiap kali melangkah, pijakannya terdengar dengan indah, Livia bangun dari lamunannya, dia menatap lelaki itu dengan tatapan terpesona, setelah beberapa saat Livia tersadar, lelaki itu adalah Zero, pikirannya yang masih kacau menyebabkannya melamun agak lama, Zero menatap Livia yang duduk bersandar dinding es dari kejauhan, kemudian Zero masuk ke dalam lapisan penghalang, lapisan oenghalang itu menutupi setengah dari ruangan es, mayat mayat sudah dibersihkannya, darah yang tadinya membanjiri lantai es kini menghilang, Zero meletakkan ikan raksasa, panjangnya mencapai dua meter, tanpa berkata apapun, Zero langsung duduk dan mengeluarkan kayu.
"Bisakah kamu mengatakan sesuatu?" Ucap Livia, dia menatap Zero dengan kesal
"Hmm, kamu pingsan selama tiga hari, lingkungan disini tidak seperti sebelumnya, langit sekarang masih cerah, bisa dikatakan masih pagi, tidak ada matahari, tidak ada bulan, tapi ada siang dan malam" jawab Zero dengan santai, dia tersenyum dan kembali fokus menguliti ikan
"Dimana Sayu?" Tanya Livia
__ADS_1
"Sayu dan semua orang yang masuk sebelumnya dipaksa keluar dari sini, kecuali kita, karena aku menggunakan sebagian kekuatanku untuk menbentuk penghalang ini" jawab Zero, dia tetap lanjut menguliti ikannya, bahkan tidak menoleh sedikitpun, tangannya yang sangat lincah dengan pisau memotong daging ikan menjadi beberapa bagian, Livia menjadi semakin kesal
"Jangan khawatir, Sayu harusnya baik baik saja, yang perlu kamu khawatirkan sekarang harusnya adalah dirimu sendiri, dan juga..." Tambah Zero, tapi dia tiba-tiba berhenti mengucapkan sesuatu, membuat Livia menjadi penasaran
"Dan juga?.." tanya Livia, matanya memerhatikan Zero dengan teliti
"Tunggu sebentar, akan kujelaskan situasinya sebentar lagi " jawab Zero, dia membuat daging daging ikan menjadi beberapa tusuk sate, setelah selesai, Zero menyalakan tumpukan kayu dengan api, lalu Zero membakar beberapa tusuk ikan.
"Akan kujelaskan semua yang kuketahui, sekarang kita berada di gua es yang sebelumnya, terdapat beberapa tempat yang memiliki cuaca dan iklim tersendiri, dan juga karena beberapa alasan tempat ini bukan portal rahasia lagi, karena portal tempat ini sudah bisa dilihat sewaktu waktu jika seseorang beruntung menemukannya, dan juga semua tempat yang ada disini sebenarnya berada diperut hewan raksasa, aku mengambil sesuatu di jantungnya, akibatnya tempat ini menunjukkan wujudnya, dan kini hewan itu telah mati, singkatnya tempat ini bisa dengan mudah ditemukan ketika seseorang bisa mengetahui titik lokasi, dan juga terdapat kekuatan ruang dan waktu ditempat ini, sehingga tempat yang sangat besar ini bisa terdapat didalam tubuh hewan raksasa itu, mengenai kekuatan waktu, aku akan menjelaskannya padamu nanti, aku sudah berkeliling ditempat ini hampir dua hari penuh, konsep jebakan sebelumnya sudah tidak aktif karena hewan ini telah mati" ucap Zero, dia menjelaskan dengan tenang, Livia hanya menatapnya dengan bingung, dia sudah tidak kesal dengan Zero, setelah menunggu dengan diam selama beberapa saat, akhirnya daging mengeluarkan aroma yang sangat harum, Livia merasa sangat lapar, dia tidak punya tenaga untuk bergerak mengambil ikannya
"Ini untukmu, makan sendiri" ucap Zero, dia memberikan dua tusuk ikan kepada Livia, Livia menatap Zero dengan bengong, Zero menyodorkan dua tusuk ikannya
"akan kuambil" jawab Livia, nadanya sangat rendah, sehingga Zero hampir tidak mendengarnya, wajahnya sangat lesu, Livia mengambil dua tusuk daging ikan itu
"Pffftt, ahahahah" Zero tertawa terbahak bahak, Livia memandangnya dengan aneh
__ADS_1
"Sini, akan kubantu, tuan putri" ucap Zero dengan tersenyum, kemudian dia mengambil kembali ikan yang berada digenggaman Livia, Livia hanya pasrah melepaskannya
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Livia, kepalanya tertunduk lesu, Zero yang melihatnya hanya tersenyum
"Karena kamu cantik, sejak awal, penampilanmu tidak bisa menipu penglihatanku" jawab Zero
"Hmmm" Livia merespon singkat, dia tidak mengangkat kepalanya, sangat kesal dengan tingkah Zero
"Yahh, kamu memang cantik, dan juga memang sejak awal aku sudah melihatnya, tetapi ragu, digua es ini hanya ada aku dan kamu, walaupun aku seseorang yang menyukai ketenangan, tapi aku tidak menyukai ketenangan distuasi seperti ini, mengakibatkan pikiran menjadi buruk, untuk itu aku mencoba untuk mencairkan suasana yang berat ini" jawab Zero, penjelasannya menjadi masuk akal, Livia menerima penjelasan Zero, kemudian Zero mulai memotong ikan menjadi bagian yang lebih kecil, kemudian duduk disamping Livia, dengan sisi yang berhadapan
"Buka mulutmu" ucap Zero dengan lembut, tangan Livia terkulai lemas di lantai es, kakinya yang putih terjulur lurus kedepan, Zero menyodorkan tangannya yang mencubit daging ikan yang terpotong kecil, Livia membuka mulutnya, menerima suapan ikan yang beraroma wangi itu, kemudian mengunyahnya
"Pelan pelan, atau kamu akan tersedak hingga mati" ucap Zero, mendengarnya Livia mengangkat wajahnya, menatap Zero dengan marah, ekspresinya membuat Zero tertawa sekali lagi, Livia kelihatan sangat lucu, dengan wajah cantik, rambut putih yang tergerai lurus, sedang mengunyah makanan dengan ekspresi jengkel, itu membuat Zero hampir terpana
"Tenanglah, tuan putri, aku hanya bercanda" ucap Zero setelah tawanya mereda
__ADS_1