Destiny King

Destiny King
Bergegas Mencari Keberadaan


__ADS_3

Kemarahannya menimbulkan panik satu Kekaisaran, sore berubah menjadi malam dalam sekejap, langit bergetar tak henti hentinya, aura kegelapan menyebar ke seluruh Kekaisaran dengan Zero sebagai pusatnya, angin angin berdesir kencang melewati Zero seolah takut padanya, telapak tangannya tergenggam sangat kuat.


Di Istana Kekaisaran, Kaisar Langit berubah murung dalam singgasana, Sang Permaisuri juga bisa mengetahui apa yang terjadi kali ini, jika Kekaisaran tidak menangani dengan baik, maka Kekaisaran mereka akan berubah menjadi petaka.


Kaisar menengok istrinya dan berkata. "Sesuatu telah terjadi, insiden besar. Auranya mirip dengan bocah itu."


"Pergilah, aku yang akan mengurus semuanya." Permaisuri tersenyum dengan hangat sambil menatap suaminya, suaranya tampak menenangkan tapi jauh didalamnya terdapat rasa yang tidak bisa diungkapkan.


Zero masih diam menatap ke bawah dan bertanya tanya apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa begitu marah hanya karena kehilangan seseorang? Bukankah sebelumnya dia tidak pernah seperti ini? Kira kira seperti itulah yang ada dalam benaknya.


Meratapi kesedihannya, Zero mendongak ke arah langit, perasaannya campur aduk, dia tidak pernah merasa seperti ini. Marah, sedih, kesal, benci bercampur menjadi satu. Auranya masih meluap luap menutupi semuanya.


Setelah beberapa saat Zero terus menatap langit dengan gusar, pandangannya kosong saat menatapnya, kemarahannya tidak hilang, Zero merasa tidak bisa terus seperti ini, dia harus tenang dalam situasi ini.


"Tenanglah... Tenang...." Zero menghela nafas berat, mencoba menghirup udara dan mengeluarkannya, tapi kemarahannya tidak kunjung mereda, baiknya dia merasa sedikit tenang, hanya sedikit.


"Nak, apa yang terjadi?" Kaisar berteriak di langit dan segera turun, Kaisar juga merasakan beban berat saat turun mendekati Zero, auranya sangat menindasnya.


Zero melirik Kaisar dari jauh, perasaannya sedikit membaik, dia adalah ayahnya Livia jadi sudah pasti dia akan membantunya. Zero berjalan melangkah mendekati Kaisar.


"Tunggu sebentar, jangan mendekat.. tarik kembali auramu." Kata Kaisar.


Zero tidak sadar jika dia mengeluarkan auranya sebanyak dan semengerikan itu, bahkan Kaisar juga terkejut jika jumlah auranya sangat mustahil dimiliki seseorang di tingkatnya. Zero menarik kembali auranya, langit menjadi kembali semula, sinar cahaya menerangi Kekaisaran sekali lagi setelah kegelapan membentang di seluruh Kekaisaran.


Kaisar Langit Aakesh merasa lega setelah menghirup udara segar, Zero berjalan mendekatinya dan memberitahu semua detail kejadian barusan, sangat sulit untuk menerima kenyataan itu bagi Kaisar Langit sendiri. Zero juga bilang bahwa dia akan bertanggung jawab dan segera mencarinya.

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar, aku akan kembali ke Istana." Ucap Kaisar Langit yang kemudian terbang kembali ke Istana.


Setelah Kaisar menghilang dari pandangannya, Zero mengamati keadaan sekitar, tembok tembok di sekitar kediaman retak, tanah terbelah dimana mana di sekitar kediaman, pohon yang ada di sekitar menjadi miring, dia tidak tahu jika hanya dengan auranya saja dapat menyebabkan kejadian seperti ini. Zero benar benar menyesalinya, lagipula kediaman ini bukan miliknya.


Zero menatap langit kembali dan berkata dengan lirih. "Livia...tunggu aku kembali, jika satu helai saja rambutmu terlepas dari tempatnya, aku akan memusnahkan semua yang menyakitimu."


"System keluarlah." Perintah Zero.


[Bos ada apa?] System tiba tiba muncul di depan Zero dengan bentuk hologram kasat mata setelah sekian lama menghilang.


"Apa yang akan terjadi jika aku meningkatkan kekuatanku menjadi lebih tinggi?" Tanya Zero, dia sedikitpun tidak melirik system di depannya dan terus menatap langit seolah yang ingin dia lihat berada disana, suaranya menjadi besar dan kasar.


[Jangan lakukan itu bos, aku sudah melihat semuanya. Jika ingin menyelamatkan Livia, jangan lakukan itu. Tubuhmu tidak akan kuat menahannya, rasa sakit yang luar biasa akan menghampiri tubuhmu setiap detik, belum lagi dunia ini tidak akan menerimanya dan konsekuensinya mengerikan, juga orang yang lebih kuat darimu akan memburumu setiap saat] system menjelaskan dengan panjang lebar.


"Itu tidak masalah, aku akan menanggungnya." Zero berkata pelan.


"Jangan khawatir, perkataan seorang lelaki adalah sebuah harga diri." Zero terus memandang langit tanpa memedulikan system.


Menatap bangku kosong di halaman, Zero duduk disana dan menunggu hingga Kaisar datang, tidak lama setelahnya seseorang datang dengan topi jerami dikepalanya, pakaiannya tampak biasa, auranya mencengangkan, Zero tidak ragu lagi jika itu adalah Kaisar Langit Aakesh Lykaios, Sang Kaisar memutuskan untuk ikut dalam pertempuran.


"Pak Tua, kau berpikir cerdas." Zero tersenyum menatap orang tua itu, dalam senyumannya tersimpan perasaan acak yang bisa meledak kapan saja.


"Kita akan mencari keberadaan putriku, bukan mendapatkan perhatian. Musuh akan mendapatkan informasi kapan saja jika aku tidak menyamar." Kata Kaisar.


"Ayo berangkat.." ucap Zero, keduanya akan bekerja sama untuk melewati rintangan dan menemukan keberadaan Livia.

__ADS_1


Dua tingkat puncak dunia ini bekerja sama untuk sesuatu, keberadaan musuh tidak dapat diprediksi dan kekuatannya juga tidak diketahui. Zero mengambil jubah hitamnya dan memakainya, mereka pergi dari kediaman dan melangkah menjauh dari Ibukota.



Disisi lain, Livia terbangun dan membuka matanya perlahan lahan, suasana sekitarnya sangat suram, penerangan hanya terbatas pada api yang dicantolkan di dinding dinding tiang, lantai dibawahnya sangat kotor, darah berceceran dimana mana, dinding sekitar dipenuhi dengan lumut.


Livia sekarang dipenjara dengan rantai besi yang mengikat kakinya, ada tempat tidur kecil disampingnya, lapisan besi yang menutupi ruangannya berlapiskan mantra mantra aneh, aura hitam yang memberikan perasaan takut juga melapisi pagar besi itu. Livia tidak tahu dia berada dimana, yang jelas jika dirinya tertangkap oleh seseorang saat sedang bersama Zero.


Menatap rantai yang mengikatnya, Livia melihat jika rantai itu terhubung dengan tembok disekitarnya, kekuatannya terkunci, dia tidak bisa mengeluarkan satupun kekuatannya, ada banyak sel sel seperti itu di depannya, ruangannya terletak di ujung penjara itu.


"Apa ada orang disana?" Livia berteriak, suaranya berdengung menggema di lorong lorong, tidak ada satupun yang menjawabnya.


"Apa ada orang disana?" Livia berteriak sekali lagi, tapi hasilnya masih tetap sama, tidak ada satu suarapun yang menjawabnya, hanya terdengar deritan rantai besi yang mengikatnya.


Livia membalikkan badannya, mengamati sekitarnya berusaha mencari celah yang ada disini, gadis itu merasa putus asa, tidak ada celah yang terlihat dimanapun, tampak jika sel penjaranya dibuat dengan sangat detail dan ketat, keamanannya terjamin.


Livia beranjak dari tempat dan berusaha meraih tempat tidur kecil di sampingnya, Livia duduk disana, pandangannya terarah pada kakinya yang dirantai, di situasi seperti ini dia tampak tenang.


"Haloo, ada orang?" Livia tak berhenti menyerah disitu saja, dia berteriak kembali.


"Hei gadis yang disana, menyerahlah. Jangan membuang tenagamu, lebih baik kau simpan tenagamu untuk hal lain. Tidak ada satupun dari kami disini yang memiliki akhir baik." Suara kakek tua menggema di balik salah satu sel yang ada di depannya, walaupun Livia tidak dapat melihat orang itu, dari menebak suaranya dia seperti kakek tua yang sudah lama disini. Livia akhirnya memiliki secercah harapan, tapi setelah mendengar perkataan orang itu, dia mengurungkannya.


"Apa maksudmu?" Livia bertanya kepada orang itu.


"Apa kau berasal dari salah satu keluarga besar?" Kakek itu bertanya.

__ADS_1


"Ya, apa yang anda maksud?" Livia bertanya dengan sopan.


"Mereka yang dikurung di bekas sel-mu, semuanya akan dibawa oleh orang misterius setelah tiga puluh hari berada di sel." Kakek tua itu menjelaskan.


__ADS_2