Destiny King

Destiny King
Kekalahan Mutlak


__ADS_3

Kaisar dan Zero tersenyum satu sama lain, disaat yang sama yang lainnya merasa gugup, Helga sudah tidak dapat menahan amarahnya, dia mengeluarkan auranya, mencoba mengintimidasi Zero walaupun tahu Zero lebih kuat darinya, atmosfer disana berkali kali lipat berubah menjadi lebih mencekam, Livia tampak duduk santai menikmatinya.


"Berhati hatilah, jangan meremehkan lawan." ucap Livia memperingati Zero.


Zero mengangguk, tatapannya terarah pada Helga yang sudah mencapai puncak emosi, Kaisar berdoa dalam hatinya agar mereka tidak menghancurkan Istananya, kalau tidak biaya perbaikannya sangat mahal.


"BOCAH BRENGSEK, kau tidak tahu arti dari tingginya langit.!!" Teriak Helga.


"Pfftt, justru kau yang tidak tahu seberapa tingginya langit, kau mengetahui lawanmu jauh lebih kuat, akan tetapi kau memaksakan untuk menantangnya. BERITAHU AKU, ITU BODOH ATAU JENIUS!!" balas Zero, dia terus menerus menambah kayu bakar di dalam api.


"Para penjaga dan pelayan, kalian keluarlah. Situasi disini tidak baik." Titah Yang Mulia Kaisar.


"Baik, Yang Mulia. Terima kasih." Mereka serentak mengucapkannya, kemudian berbondong bondong keluar dari ruang singgasana.


Setelah perintah diberikan, suasana ruang takhta hanya diisi tujuh orang. Kaisar, Zero, Livia, Helga, Ace dan Victor. Dan satu lagi, patung Kaisar yang kepalanya menghilang. Mereka terdiam menatap Zero dan Helga yang hendak bertarung.


"Untuk berjaga jaga aku sudah nenyiapkan penghalang disini agar kalian tidak menghancurkan Istana milikku." kata Kaisar, dia telah menyelesaikan mantra penghalangnya.


Setelah mendengar Kaisar membuat penghalang, Helga tambah keringat dingin, pasalnya dia tidak akan bisa kabur jika seperti ini, tempatnya terlalu kecil untuk ukuran pertarungan tingkat tinggi.


Tanpa aba aba apapun, saat dalam keheningan, Zero menghilang dalam bayangan sekejap mata, Helga menyadari itu dan tidak akan bisa menangkis serangan yang akan muncul, keahliannya dalam menyerang dadakan cukup hebat. Helga menghela nafas pelan, dia mencoba memfokuskan semua indera kedalam lingkungan sekitar.


'disini tidak, diatas juga tidak ada, dibawah juga, kemana dia?' batin Helga yang mencoba merasakan keberadaan Zero, dia menutup matanya kemudian.


Bertepatan dengan Helga yang menutup matanya untuk merasakan keberadaan Zero hingga lebih jelas, Zero yang menghilang muncul secara tiba tiba di depannya tanpa meninggalkan sedikitpun jejak auranya, Helga tidak menyadari jika Zero sudah muncul di depannya.


"Sage Tua, Bodoh, Idiot, ##&$." Zero melontarkan kata kata kasar saat itu juga.

__ADS_1


Sage agung Helga membuka matanya dan mendapati Zero, telinganya panas saat mendengar makian Zero, ditambah Zero mempermainkannya, dirinya tidak bisa memaafkan tindakan Zero.


Helga hendak melancarkan pukulan keras dengan aura mematikan di wajah Zero, akan tetapi saat pukulan itu ingin mengenainya, tangan Zero menghalangi pukulan Helga. Pukulan yang dilapisi aura tersebut membuat tanah di bawahnya bergetar.


Zero menepis tangan Helga yang terkepal dan membuangnya. Hembusan angin yang berasal dari benturan kedua lengan terasa hingga ujung penghalang, Zero diam di tempat setelahnya.


"Akan kuberikan sepuluh kesempatan untuk menyerang. Aku hanya akan berdiri disini, jika aku menggeser satu inci kakiku, aku akan mengaku kalah." Zero menyeringai, meremehkan musuh hingga pandangannya jatuh rendah.


Helga mengerti itu, dia merasa sedikit lega, 'jika pertarungan terus berlanjut, aku akan kalah secara menyedihkan, untungnya dia bodoh karena meremehkan lawan.' pikir Helga.


"Ace, Victor. Menurutmu apakah mungkin untuk Helga memenangkannya?" tanya Livia kepada dua Sage Agung.


"Yang Mulia Putri, mungkin saja tuan muda Zero akan kalah, dia terlalu memandang rendah pada musuh." ucap Victor menjawab pertanyaan yang diajukan Putri Kaisar.


"Belum tentu, menurutku pasangan anda akan menang, keyakinan di wajahnya terpampang jelas yang menunjukkan bahwa dia pasti akan menang." Sela Ace.


Kapak melayang di udara menuju Zero dengan lengan Helga yang menjadi tuannya, Zero tidak bereaksi sedikitpun terhadap serangannya, dia lebih tertarik dengan kapak milik Helga.


Saat kapal hampir mengenai Zero, lagi lagi ada yang menghalangi, pelindung penghalang tidak kasat mata tingkat atas terbentuk di sekitar tubuh Zero yang mustahil untuk hancur dengan mudah, dan juga ada tiga lapisan yang menghalangi. Benturan kapak dan penghalang membuat suara dengungan yang keras, percikan api berkobar di antaranya


'mustahil, mustahil dapat membuat tiga lapisan pelindung seperti itu dalam waktu singkat' Helga mengucurkan keringat di dahinya.


"Satu serangan, tersisa sembilan lagi." kata Zero, dia tersenyum dengan tenang dibalik pelindungnya.


Helga menarik kembali pikirannya yang menyebut Zero bodoh, kini Helga segera berpikir secara serius, pelindung yang dibentuk Zero mustahil untuk dihancurkan hanya dengan sepuluh serangannya, bahkan seratus. Butuh ribuan serangan di tingkat yang sama untuk menghancurkan satu pelindungnya, belum lagi Zero memiliki tiga.


Helga mencoba menyerang kembali, kali ini kapaknya mengeluarkan aura kematian yang lebih pekat, yang bahkan dapat membuat dua Sage Agung lainnya sedikit sesak nafas. Sekali lagi Helga mengayunkan kapaknya, tapi sekali lagi pelindung Zero tetap tidak bergeming sedikitpun, Zero menyeringai dari dalam penghalang pelindungnya.

__ADS_1


"Kenapa banyak sekali kartu yang disimpan." Kaisar mengeluh, dia menjaga suaranya agar tidak terdengar.


Helga mendecakkan lidahnya, dua serangan sia sia yang tidak berefek apapun, kesempatannya tersisa delapan lagi. Sementara itu Zero masih santai di dalam pelindung miliknya.


Setelah lima belas menit tanpa kejadian apapun, Helga masih berdiri tegak disana, pikirannya berkecamuk, Zero mulai merasa bosan dengannya karena menunggu lama.


"Cepatlah, serang saja dengan seluruh kekuatanmu." Zero mengeluh, suaranya terdengar sampai keluar penghalang dan membuat kekehan kecil disana.


"Aku menyerah." Helga meletakkan kapaknya di lantai Istana, kemudian mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.


"Kenapa kau menyerah? Apa alasanmu?" Tanya Zero.


Mendengar Helga menyerah, Zero yang dibuat menunggu lama menjadi kesal, setelah penantian dia hanya diberi kata menyerah, lagipula Helga sendiri yang pertama kali memprovokasi.


"Aku menyerah karena aku tau tidak bisa menang, itu saja." ucap Helga, dia membuang wajahnya saat bertatapan dengan Zero.


Mendengarnya, Zero tidak bisa menahan diri, menghilang di udara dan muncul dalam sekejap di depan Helga. Helga terkejut ketika mengetahui Zero yang tiba tiba berdiri di depannya. Zero melepaskan auranya, nafas Helga tercekik sangat kuat, Zero mengambil kapak di tanah, mengacungkan ke arah leher Helga.


"Menurutmu apa yang akan terjadi denganmu jika ini melewati lehermu?" Tanya Zero.


"Tentu saja aku akan mati." Jawab Helga.


"Lalu, kenapa kau tidak bertanya lebih dulu apa yang akan terjadi ketika berurusan denganku? apa kau menganggapku sebagai anak kecil yang tidak tahu apapun, apa yang akan kau lakukan ketika kau memprovokasi diriku saat tahu akibatnya adalah mati? apa kau menganggapku terlalu naif? Dunia dipenuhi dengan orang orang kejam sejak kita lahir, termasuk kau dan aku." Ucap Zero. Kata katanya menusuk sangat dalam.


Helga menelan ludah, satu butir keringatnya jatuh mengenai bilah kapak, air keringat menguap seketika saat menyentuh kapak yang dipegang Zero, sebelumnya dia berpikir untuk menyerah kemudian menyerangnya setelah lengah, tapi Helga tidak menyangka Zero tidak lengah sedikitpun, sebaliknya Zero langsung menuju dirinya dan hendak membunuhnya.


Di antara kehidupan dan kematian ini, Helga sudah berkali kali menghadapinya, tapi hanya kali ini dia berhadapan dengan ketakutan dan seseorang yang mutlak dapat membunuhnya saat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2