Destiny King

Destiny King
Rapuh


__ADS_3

Setelah melahap makanan, Livia duduk di sudut ruangan, mengamati Zero yang sibuk mengelap pedangnya, kayu bakar tidak padam walau setelah sekian lama, Livia menundukkan wajahnya, melihat pakaian yang putih bersih, dia tiba tiba teringat sesuatu


"Zero, dimana pakaianku sebelumnya?" Tanya Livia sambil menatap Zero


"Sudah aku buang" jawab Zero, tatapan matanya masih terarah pada senjatanya


"Lalu, siapa yang mengganti pakaianku?" Tanya Livia lagi, Zero berhenti mengelap pedangnya sebentar, kemudian kembali mengelapnya lagi


"Sayu yang menggantikannya, tenang saja, aku tidak melihat apapun" ucap Zero, dia teringat kembali kejadian tiga hari yang lalu, namun raut wajahnya tetap biasa, seolah tidak terjadi apapun, Livia merasa curiga dengan Zero, dia terus menatapnya


"Kenapa?, Kamu tidak senang aku tidak melihatmu?" Ucap Zero, mulutnya menampilkan senyum lebar, tangannya tetap tidak berhenti mengelap pedangnya, Livia menatap Zero dengan tajam, pipinya memerah, dia sangat kesal dengan orang dihadapannya, tapi Livia tidak bisa berbuat apapun, Zero kembali sibuk dengan aktifitasnya, sementara Livia hanya diam duduk di sudut ruangan, setelah beberapa saat Livia bertanya kembali


"Bagaimana dengan waktu didunia ini?" Tanya Livia


"Hmmm, tiga hari disini setara dengan dua tahun didunia luar, jadi kamu tertidur selama dua tahun penuh" jawab Zero dengan tenang, Livia terkejut dengan perkataan Zero, hatinya penuh gelisah, pikirannya mulai bekerja penuh, mencoba memprediksi apa yang terjadi selama di dunia luar


"Jangan terburu buru, setelah ini aku akan membawamu keluar, tapi tunggu hingga dirimu pulih" ucap Zero, tatapannya tetap terfokus pada pedangnya, dia meniupnya dengan pelan, membersihkan debu es yang ada pada pedangnya

__ADS_1


"Aku tak bisa menunggu, keluargaku membutuhkanku disana" ucap Livia, perkataannya sangat tenang, tapi memancarkan aura kecemasan yang luar biasa, Zero mengalihkan pandangannya ke Livia, wajah Livia tertunduk memandangi lantai gua es


'haishh, merepotkan' pikir Zero, dia mengangkat pedangnya ke langit-langit gua es, cahaya bilahnya menyilaukan mata Zero, dia kemudian mengangguk


"Apa kamu mau keluar dengan kondisi seperti itu?" Tanya Zero, orang yang ditanyakan tidak menjawab, tetap menundukkan wajahnya, Zero kemudian memikirkan sesuatu


"Baiklah, ayo keluar, aku belum lama ini melatih sesuatu dan belum menggunakan kekuatannya secara penuh" ucap Zero dengan tenang, dia menyimpan pedangnya ke dimensj miliknya, Livia mengangkat wajahnya, matanya memerah, pikirannya masih kacau


"Art, ayo pergi" ucap Zero, kemudian seekor kucing putih keluar dari dimensi hitam, Livia memandangnya dengan kosong, dia masih mencoba berdamai dengan pikirannya, kemudian kucing putih kecil itu bertransformasi menjadi harimau putih, tubuhnya menyesuaikan dengan harimau pada umumnya, hanya sedikit lebih besar, Art menggoyangkan ekornya dengan semangat, karena dia tidak pernah keluar dari tempat ini, harimau putih menghampiri Livia yang duduk di sudut ruangan, Zero mengikutinya


"Kita keluar, ngomong ngomong Art, apa kau sudah memakan mutiara itu" tanya Zero, dia penasaran dengan kekuatan harimau miliknya yang tidak berubah, Art mentransmisikan suaranya langsung kedalam kepala Zero, ternyata harimau miliknya belum memakan mutiara langit, kemarin Zero mengetahui fakta bahwa ternyata mutiara langit berfungsi sebagai jantung dari hewan portal ini, ketika Zero mengambilnya, hewan itu akan mati beberapa tahun setelahnya, Zero duduk dibelakang Livia, dia membatasi dirinya untuk tidak menyetuhnya, kemudian mereka keluar dari gua es itu, Livia tetap terdiam untuk sementara waktu, Zero tidak mengambil pusing, setelah tiba di pusat inti, terdapat 7 musim yang berbeda, Yang dilewati Zero adalah lingkungan es dengan musim dingin, sementara yang lain berbeda beda, salah satunya adalah zona laut yang dilewati Livia dan Sayu sebelumnya, bahkan disini terdapat musim gugur yang udara dinginnya lebih kuat dari zona yang ditinggali Zero sebelumnya


"Bersiap keluar, akan ada sedikit guncangan disini" ucap Zero, kemudian Zero turun dari harimau putih, melangkah kedepan sampai satu kaki kurang dari pusat 7 musim, Zero menyentuh udara didepannya, tiba tiba sebuah cahaya muncul diudara yang disentuh Zero, membentuk sebuah dua pintu kecil, Zero segera kembali ke punggung Art, harimau putih itu kemudian meraung dengan sangat keras, membuat penghuni dialam musim lainnya terkejut dan terbangun, Art melangkah menuju pintu, ketika melewati pintu, mereka langsung berpindah tempat, mereka di teleportasikan keluar, muncul di tempat yang sama saat masuk gerbang portal, langit masih bersinar terang, tapi bedanya kali ini tempat muncul portal sudah menjadi hutan yang rimbun, tidak terasa bahwa sudah empat tahun berlalu disini, rumput tumbuh dimana mana, hutan disini dipenuhi aura yang sangat kuat, Zero turun dari Art dan menyentuh tanah dibawahnya dengan tangannya, Zero maju beberapa langkah ke depan


"Apa kamu bisa berdiri?" Tanya Zero, tatapan matanya mengarah pada Livia, hatinya kagum dengan pandangan didepannya, seorang gadis cantik dengan balutan pakaian putih berdiri didepannya, menaiki seekor harimau putih besar, benar benar seperti seorang putri dari legenda


"Mungkin bisa" jawab Livia

__ADS_1


"Dimana pusat kota kerajaan ini?" Tanya Zero


"Kearah timur, setelah melewati hutan yang panjang, kita akan sampai" jawab Livia


"Dan juga termasuk hutan terlarang yang akan kita lewati" tambah Livia, ekspresinya tajam, dia serius untuk melewati hutan itu


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan normal?" Tanya Zero lagi


"Sekitar tiga puluh enam hari jika berjalan kaki bagi orang normal" jawab Livia


"Art, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk sampai?" Zero bertanya kepada harimau putihnya, 'mungkin tiga hari jika tidak ada halangan, jika ada sesuatu yang menghalangi, bisa sampai empat hari' Art menjawab dengan transmisi suara, Zero kemudian mengangguk


"Livia, naik kepunggungku" Zero melangkah mendekati mereka, kemudian berdiri membelakangi, Livia terkejut dengan itu, tapi dia tidak menolaknya, tidak ada waktu untuk masalah sepele, Livia menggerakkan tubuhnya menuju punggung Zero, dia menahan rasa sakit yang dialaminya sebelumnya, Zero mencengkeram kaki Livia, menahan agar tidak jatuh, kaki Livia terasa dingin, wajahnya juga memucat, padahal sebelumnya sudah kembali normal, Art kembali ke bentuk kecilnya, kemudian menghilang diudara


"Apakah sakit?" Tanya Zero, Livia yang dibelakang punggungnya hanya menggeleng pelan, Livia sebenarnya menahan rasa sakit itu, didalam hatinya dia harus bergegas mencari informasi beberapa tahun ini


"Jangan dipaksakan, jika merasa sakit, lebih baik kita mencari penginapan terdekat" ucap Zero dengan tenang, Livia sekali lagi hanya menggeleng pelan, kemudian menenggelamkan wajahnya kepunggungnya, rambut putihnya bergerak halus terkena hembusan angin, Zero terkejut dengan itu, dia tidak pernah mengira jika Livia akan seperti itu, 'memang saja, wanita didunia manapun tetaplah rapuh' pikir Zero, kemudian dia tersenyum menatap langit

__ADS_1


__ADS_2