
Livia terbengong, gadis itu melihat sekeliling, mencari petunjuk keberadaan Zero, tapi setelah beberapa saat, Livia tak menemukan satupun jejak, gadis itu menginjak tanah dengan kasar, berjalan menuju tempat Zero menghilang, kakinya kotor oleh debu di tanah, Livia tidak memakai alas kaki, ada beberapa luka memar dipergelangan kakinya akibat ulah Zero. setelah sampai, Livia masih mencari tau keberadaannya.
"Apa dia benar benar pergi?" ucap Livia, tubuhnya kedinginan, malam masih sangat panjang, memikirkan orang itu pergi setelah menjahilinya, membuat darahnya mendidih, Livia mengamati sekelilingnya sekali lagi, tetap tidak menemukan apapun, kemudian dia duduk bersandar di salah satu pohon disana, tubuhnya terasa sakit, kekuatan dan tenaganya hampir habis, pikirannya menerawang jauh ke Istana kekaisaran, membayangkan apa yang terjadi disana, Livia menoleh kebawah, melihat bajunya yang kotor karena ulah Zero, dia tersenyum pahit, tiba tiba sebuah raungan keras terdengar di kejauhan, langit menjadi hitam, pusaran angin berkumpul di satu titik, petir menyambar dimana mana, Livia terkejut, dia bergegas bangun, berlari sejauh mungkin dari tempat raungan itu terdengar, ketika berlari Livia terjatuh, kemudian bangun lagi, berlari lagi dan terjatuh lagi, dia kemudian menyadari tidak sanggup lagi untuk berlari, auman terdengar sekali lagi, suara ledakan terdengar sangat keras memekakan telinga, Livia menghela nafas pelan, situasinya memburuk, tapi dia tidak bisa berharap kepada siapapun saat ini.
"Tidak ada lelaki yang dapat dipercaya di dunia ini" ucap Livia, gadis itu mengutuk Zero dalam hatinya, suara ledakan terdengar lagi, kali ini suaranya lebih hebat, pohon pohon berguncang, Livia tidak tahu apa yang terjadi disana, tapi sepertinya itu hal yang buruk, Livia meluruskan kakinya, pergelangan kakinya terlihat merah, ada sedikit darah disana, gadis itu menatap langit dan tertawa pelan.
Disisi lain, Zero tidak menghilang, dia menyembunyikan keberadaannya, Zero duduk disalah satu batang pohon, mengamati Livia dari tadi, ketika Zero mendengar ledakan itu, dia tidak peduli, Zero terus mengikuti Livia dibalik bayangan, dengan kekuatannya saat ini, dia bisa dengan mudah mengatasi bahaya apapun.
"Ohh, akhirnya dia menyerah juga" ucap Zero, jubah hitamnya dipakai kembali, guna mensempurnakan persembunyian, kakinya bergelantungan dipohon, kemudian bergerak lagi, kali ini Zero berpindah diatas pohon yang disandari Livia, bergerak lincah diatas angin, Zero mengambil sesuatu dari system, kemudian menjatuhkannya, jatuh tepat diatas kepala Livia.
"Aww, apa itu?" ucap Livia sambil memengangi kepalanya, Gadis itu menengok ke atas, tapi tidak ada apapun disana, hanya sebuah pohon yang sudah gersang, Livia melihat buah anggur dipakaiannya, ternyata ada buah yang jatuh, Livia kembali melihat keatas, tetap tidak menemukan apapun, bahkan tidak ada dedaunan.
"Ada yang aneh dengan ini" ucap Livia, dia mengambil satu anggur, kemudian melemparkannya, tidak terjadi apapun, Livia mengambil satu lagi dan melemparkannya kembali, tapi tetap tidak terjadi sesuatu, Zero yang melihatnya tertawa kecil, perasaan Livia menjadi cemas 'tidak ada siapapun disini, darimana datangnya anggur ini?' pikir Livia, kemudian dia mencoba berdiri, kakinya yang sakit dipaksa untuk menopang tubuh kecilnya, tangannya bersandar pada pohon sebelum akhirnya bisa berdiri, Livia bergerak pelan, rasa nyaman ketika duduk membuatnya sakit saat berjalan, langkahnya pelan tapi tergesa gesa, Zero tetap mengamatinya tanpa berkata sesuatu, kemudian Zero melihat anggur yang tergeletak 'putri cantik itu tetap berhati hati' pikir Zero. Suara raungan terdengar kembali, Zero menatap tempat suram itu dari kejauhan, petir masih menyambar, pusaran angin masih tetap kokoh disana, suara ledakan terdengar beruntun, Zero melihat ada monster yang berusaha meningkatkan kekuatannya disana, Zero tidak peduli, jika monster itu mengganggunya maka dia akan menyiksanya tanpa ampun, Zero menoleh kembali. Livia masih melangkah dengan kaki yang agak pincang.
"Tolong menjauhlah, aku tidak mengganggumu" ucap Livia dengan sangat pelan, dalam hatinya dia berpikir siapapun itu, tidak peduli apapun, dia tidak ada hubungannya. Livia mengangkat kakinya dengan berat, dia sudah tidak punya tenaga untuk bisa berjalan, tapi Livia memaksakannya, sampai akhirnya Livia jatuh tersungkur, Zero masih menetap diatas pohon, kemudian memutuskan untuk muncul, Zero tidak tega melihatnya seterpuruk ini.
"Nona Livia, bukankah sudah kubilang, aku yang akan mencarinya, kenapa anda memaksakan untuk tetap mencarinya?" ucap Zero, dia memegangi lengan Livia, kemudian membantunya duduk, Livia terdiam menatap sepasang mata itu.
"Kau brengsek" ucap Livia, kemudian dia menepis tangan Zero dengan tenaga yang tersisa, Zero terkejut dengan itu 'seharusnya belum saatnya aku membantu, dia masih punya sedikit tenaga untuk menepis tanganku, sheesshh' pikir Zero, kemudian tertawa kecil, raut wajah Livia cemberut, dia benar benar tidak terpikir apa yang ada di otak Zero, saat ini tubuhnya sangat kotor, pakaiannya yang semula putih sekarang penuh dengan noda kecoklatan, Zero kemudian dengan paksa menggendong Livia, dengan satu tangan dipunggung dan satunya lagi di kaki Livia, gadis itu masih marah, wajah cantiknya membuat siapapun terpesona dalam jarak sedekat itu, rambut putihnya yang panjang mengambang diatas tanah. Zero melangkah pelan dengan Livia dipelukannya, Livia hanya bisa pasrah dengan Zero.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Livia, dia masih sangat kesal, siapa juga yang tidak marah dengan itu.
"Kenapa ya?, Kira-kira kenapa?" ucap Zero, dia bertanya kembali, semakin membuat bingung Livia. Zero melesat dengan cepat, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, sudah hampir tengah malam, Zero tiba tiba berhenti, Livia terkejut dengan itu, kemudian Zero melepas jubah hitamnya, memakaikannya ketubuh Livia, gadis itu tidak menolak dan hanya diam, Zero melangkah kembali, kali ini kecepatannya meningkat dengan drastis.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Livia
"Karena kamu sangat cantik, dan aku mencintaimu" ucap Zero dengan tersenyum melihat Livia, ucapannya membuat gadis itu tertegun sejenak, tapi Livia masih mengingat perbuatan Zero, dia tidak akan melupakan itu sampai dia bisa membalasnya.
"Tidak percaya?" tanya Zero, dia mengalihkan pandangannya kedepan, fokus untuk mempercepat langkahnya.
"Siapa juga yang percaya pada omong kosongmu" jawab Livia, nadanya sedikit kasar, Zero kemudian tertawa kecil kemudian diam. Disepanjang jalan, mereka hanya berbicara satu atau dua kata, sampai akhirnya Zero tiba tiba berhenti.
"Kenapa? Tidak suka?" Jawab Zero, dia menatap Livia dengan senyuman jahat diwajahnya, Livia merasa jijik dengannya, kemudian terdiam. Didepannya ada sebuah gua kecil, dikelilingi oleh pohon pohon tandus, dibelakang gua terdapat tebing yang sangat tinggi, Zero melangkah menuju gua itu, didalamnya hanya biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa, Zero menendang dinding batu didepan, kemudian membentuk sebuah tempat duduk, perlahan Zero menurunkan Livia, membuatnya duduk bersandarkan dinding, Zero mengeluarkan dua pedang minatour, kemudian menancapkannya ditanah, pedang itu mengeluarkan aura yang berbahaya, tetapi dapat mengusir bahaya dari tempat ini.
"Kenapa kamu tidak menggunakan penghalang saja?" Tanya Livia
"Karena itu menyusahkan, kalau menaruh ini tidak mengeluarkan sedikitpun kekuatan, kenapa tidak?" Jawab Zero dengan tenang, tatapannya sangat dalam, Livia tidak bertanya lagi, kemudian Zero mengeluarkan selimut tebal dari ruang dimensinya, Livia terkejut dengan itu
"Darimana kamu mendapatkan ini?" Tanya Livia dengan penasaran
__ADS_1
"Karena aku mempersiapkannya, aku tidak mau seorang nona cantik tidur diatas batu yang kasar" jawab Zero, senyumnya sedikit aneh, Livia merasa curiga
"Dan juga, dimana kamu menyimpan barang barangmu, aku tidak pernah melihatmu memakai cincin ruang atau apapun itu" tanya Livia lagi, dia semakin penasaran dengan karakter Zero
"Itu... Rahasia" jawab Zero
"Menyebalkan" ucap Livia dengan pelan, walaupun pelan, dimalam yang sangat sunyi, suara sekecil apapun akan terdengar.
"Nona, kalau kamu mau menikah denganku, aku akan memberitahunya" jawab Zero dengan tersenyum, tatapannya menjengkelkan bagi Livia.
"Tidak akan" ucap Livia sambil mengalihkan pandangannya, Zero mendekati Livia, gadis itu sedikit takut, kemudian Zero menaruh selimut itu diatas kepala Livia, kemudian tertawa kecil, Livia sedikit bingung.
"Kenapa? Apa kamu mengharapkan sesuatu yang berbeda" ucap Zero, menepuk selimut diatas kepala Livia.
"Tidak akan pernah" ucap Livia, gadis itu mengambil selimutnya, setelah itu memakai selimutnya, dan berbaring diatas tempat duduk batu yang dibuat Zero.
"Livia..." ucap Zero, Livia tidak menjawabnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, Zero tertawa kecil, kemudian Zero membuka selimutnya, melihat bahwa Livia tertidur dengan cepat, Zero tersenyum, lalu dengan pelan mengusap rambutnya, Zero kemudian membuat pahanya menjadi bantal bagi Livia, gadis itu tidak merespon, kemungkinan dia sudah tertidur.
"Semoga mimpi buruk" ucap Zero dengan pelan, kemudian terkikih ringan.
__ADS_1