Destiny King

Destiny King
Si Pedang Api


__ADS_3

Grab bergidik ngeri, tangannya gemetaran,matanya tak berani


menatap Zero, Grab menyadari bahwa dirinya tak berkutik melawan Zero, bahkan


leluhur keluarganya mungkin tak bisa menang melawannya, “jadi, kenapa kau


mengganggu waktu makanku?” Zero menatap Grab yang meringkuk ketakukan di


depannya, bagaikan raja yang menatap semut, mendengar suara yang didepannya


Grab buru buru menjawab “ya tuan, saya diperintah seseorang, mengenai seseorang


itu, saya tidak bisa mengatakannya”, “tidak berguna” Zero mengepalkan


tangannya, seketika itu kepala salah satu bawahannya pecah, “sebutkan saja, kau


tidak mau seperti itu kan”, Zero mengancam Grab, tapi Zero berpikir mungkin


seseorang itu berhubungan dengan musuh Erald, “orang itu, dia…dia Ra..” tepat


ketika Grab hampir mengatakannya, jantungnnya hancur, seseorang menanamkan


sesuatu di tubuhnya, agar rahasia itu tidak ditemukan, Zero sudah menduganya,


‘orang itu waspada’ Zero melihat sekitarnya, hanya ada dirinya dan pegawai


restoran itu.


Setelah Grab mati, Zero membunuh para pengawal Grab, dan


hanya menyisakan satu pengawal saja, [bos, mungkin saja dia ada di kota ini]


“ya aku sudah tahu” Zero kemudian menyuruh pengawal itu pergi, tidak ada akhir


yang baik bagi pengawal itu, Zero berjalan kearah kasir, “berapa totalnya?,


“300 koin tembaga, biaya kompensasi 50 koin tembaga, dan juga biaya kerahasiaan


100 koin tembaga” pelayan restoran itu berkata sambil tersenyum, sudah terbiasa


dengan keadaan seperti ini, yang kuat akan hidup dan yang lemah akan mati, Zero


mengeluarkan 500 koin dari kantongnya, kemudian melangkah keluar dari restoran


itu.


Begitu keluar, keramaian memadati seluruh area perkotaan,


orang orang dari berbagai daerah berbondong bonding menuju ke pusat kota,


“Zero” Erald berjalan ke Zero “apakah sudah selesai?” Erald bertanya mengenai


keadaan Zero, “ya aku sudah selesai”, Erald merasa lega, setelah membunuh


bajingan yang mengejarnya, Erald segera menghampiri Zero, khawatir tidak bisa


menghadapinya, “Zero, apa kau mau ke arena?, disana ada tontonan bagus”, Erald


dan Zero kemudian berjalan ke area pusat kota, dimana Arena hidup dan mati


diadakan disana.


Sesampainya di Arena, Zero dan Erald duduk di salah satu


sudut arena, “saudara saudara sekalian, arena ini akan dimulai sebentar lagi,


selagi menunggu sang penantang datang, mari kita sambut “Erwin si pedang api”


yang memiliki kemenangan 14 kali berturut turut hingga sekarang“ sorak sorai


memenuhi arena disana, berbagai ras duduk disana, antusias menyambut orang itu,


Erwin melangkah keluar dari tempat duduk penonton dengan santai, rambut

__ADS_1


merahnya menyala nyala, pedang besar dipunggungnya memiliki aura yang


mengesankan, wajahnya penuh bekas luka, meski begitu para penonton bersorak


untuknya. “apakah dia begitu hebat?” Zero bertanya kepada Erald dengan heran,


dipandangan Zero, Erwin tak lain hanya mencapai rank F, 4 tingkat dibawah Zero,


“dia biasa saja, pedangnya lumayan, tapi dengan teknik nafas api yang


dimilikinya, Erwin sanggup mengalahkan 2 orang peringkat Aluminum, satu tingkat


yang sama dengannya”, setelah mendengar perkataannya, Zero mengangguk, jauh di


lubuk hatinya Zero sangat senang, tujuan dia kali ini disini adalah untuk


mencuri teknik hebat yang digunakan para petarung di arena.


Erwin telah tiba di tengah arena, dia mengangkat tangannya


ke udara, semua orang terdiam, “semua orang, bertaruhlah untukku, dengan


begitu, aku akan mendapatkan uang untuk kalian, ini akan menjadi kemenanganku


yang kelima belas”, begitu ucapannya selesai, orang orang bersorak sekali lagi


untuknnya. “apakah dia bodoh, meremehkan lawan merupakan tindakan fatal dalam


pertarungan” Zero bergumam sendiri, “omong omong siapa lawannya?” Zero bertanya


kepada Erald yang berada disampingnya “katanya lawan kali ini tidak biasa, aku


hanya mendengar dari orang orang, si pedang api mungkin akan kalah”, Zero


terheran dengan pernyataan Erald, ‘yah mungkin saja lawannya kali lebih unggul’.


Secara, elf lebih unggul daripada manusia dalam jenis penggabungan teknik


sihir, Afinitas sihir elf berkali kali lebih besar daripada manusia biasa.


sedikit, penantang kali ini telah tiba, mari kita sambut sang penantang”,


setelah juri berkata, penonton bersorak sekali lagi, menyambut sang penantang,


orang orang yang menonton suka dengan adegan pertempuran darah, tidak peduli


siapa melawan siapa, asalkan ada pertunjukan bagus, mereka akan menghabiskan


uang mereka hanya untuk pertempuran yang tidak jelas siapa pemenangnya.


“bunuh dia” “kalahkan dia, aku bertaruh banyak untukmu” patahkan


kakinya”. Penonton bersorak untuk kesekian kalinya, arena dipenuhi dengan suara


suara penonton yang bergema, orang berjubah memasuki arena tanding, seluruh


tubuhnya dipenuhi dengan aura misterius, ditambah menggunakan jubbah hitam yang


membungkus seluruh tubuhnya menambah kesan misterius yang dalam, “system, lihat


pertandingan kali ini, mungkin ada teknik bagus yang bisa dicuri” [bos, orang


itu cantik lho, tidakkah kau menyukai wanita cantik], “hah?” Zero memandangi


system yang transparan didepannya, tatapan membunuh menuju system, membuat


system bergidik ngeri. [apa?, apa kau tidak menyukai wanita cantik?], “tentu


saja aku menyukainya, hanya saja, kebanyakan wanita di dunia ini mengandalkan


tubuh mempesonanya untuk merayu orang orang kuat. Jika ada wanita seperti itu


yang menggodaku secara langsung didepanku, aku akan langsung membunuhnya” Zero

__ADS_1


terdiam sementara, memikirkan beberapa novel yang pernah dibacanya di dunia


lamanya, wanita didunia seperti ini biasanya angkuh dan arogan, dia tidak


menyukai orang orang yang seperti itu.


“yo, orang yang akan mati, jika kau bisa menahan tiga


seranganku, aku akan membiarkanmu hidup” Erwin si pedang api berkata dengan


sangat arogan, seperti bendera kemengan terlihat dengan jelas ketika sang


penantang memasuki arena lapangan, namun orang berjubah itu tetap diam, tidak


menanggapi perkataannya, melihat dirinya diabaikan, Erwin merasa harga dirinya


diremehkan, dia terus terusan mengoceh kepada orang berjubah itu, namun orang


berjubah itu tetap tidak menanggapinya, menganggapnya seperti angin lalu. “baiklah,


karena kedua peserta telah berada di panggung, mari kita mulai” sang juri


keluar dari arena, mempersembahkan keduanya untuk bertarung. “Erald, kau


bertaruh untuk siapa?” “Entahlah, aku tidak suka perjudian, mungkin aku akan


bertaruh untuk si pedang api, bagaimanapun kemampuan orang itu sudah jelas,


sedangkan lawan didepannya tidak diketahui” Erald menjelaskan kepada Zero, dia


hanya mengangguk mendengar penjelasan Erald.


Begitu sang juri turun dari arena, pertempuran dimulai. Orang


berjubah itu mengacungkan tangannya untuk memprovokasi lawannya “kau lemah”,


Erwin tidak terima dengan provokasi lawannya, langsung menyerang, gerakannya


cukup cepat untuk seseorang yang berada di rank F, dia menuju lawan, tangannya


terkonsentrasi dengan aura, api menyala di kedua tangannya, begitu kepalan api


itu akan mengenai lawan, orang itu menghilang, bagaikan angin yang samar, tiba


tiba muncul dibelakang Erwin, “kalau kau bisa menahan satu seranganku, aku akan


menyerah” orang berjubah itu berkata kepada Erwin dengan nada meremehkan, dia


tidak tahan dirinya dipermalukan didepan banyak  orang, kali ini Erwin kehilangan kesabarannya,


menarik pedang yang ada dipunggungnya, setelah menarik pedang itu, aura di


arena pertempuran berubah, dipenuhi dengan hawa panas, “kau arogan, terakhir


kali aku menggunakan pedangnya, lawanku berubah menjadi daging panggang”, orang


berjubah itu tetap tenang, suara penonton menggema setelah melihat Erwin mulai


serius, sejauh ini, Erwin sangat jarang bertarung serius, dia tahu kali ini


lawannya kuat, harus serius menghadapinya.


Pedang api itu membuat suasana menjadi lebih intens, “lemah”


sekali lagi orang berjubah itu membuat lawannya naik darah, Erwin kehilangan


ketenangannya, mulai membuat gerakan mematikan, pedang itu mengeluarkan api, bergerak


dengan cepat, walaupun ukurannya kelihatan besar, itu bisa bergerak dengan


cukup cepat, “Blaze” begitu kata itu diucapkan, seluruh tubuhnya dipenuhi


dengan api, angin puyuh  berskala kecil

__ADS_1


muncul di atas arena, bersamaan dengan api, angina puyuh yang semula putih


menjadi merah dalam sekejap, penggabungan antar elemen membuat penonton takjub.


__ADS_2