
Grab bergidik ngeri, tangannya gemetaran,matanya tak berani
menatap Zero, Grab menyadari bahwa dirinya tak berkutik melawan Zero, bahkan
leluhur keluarganya mungkin tak bisa menang melawannya, “jadi, kenapa kau
mengganggu waktu makanku?” Zero menatap Grab yang meringkuk ketakukan di
depannya, bagaikan raja yang menatap semut, mendengar suara yang didepannya
Grab buru buru menjawab “ya tuan, saya diperintah seseorang, mengenai seseorang
itu, saya tidak bisa mengatakannya”, “tidak berguna” Zero mengepalkan
tangannya, seketika itu kepala salah satu bawahannya pecah, “sebutkan saja, kau
tidak mau seperti itu kan”, Zero mengancam Grab, tapi Zero berpikir mungkin
seseorang itu berhubungan dengan musuh Erald, “orang itu, dia…dia Ra..” tepat
ketika Grab hampir mengatakannya, jantungnnya hancur, seseorang menanamkan
sesuatu di tubuhnya, agar rahasia itu tidak ditemukan, Zero sudah menduganya,
‘orang itu waspada’ Zero melihat sekitarnya, hanya ada dirinya dan pegawai
restoran itu.
Setelah Grab mati, Zero membunuh para pengawal Grab, dan
hanya menyisakan satu pengawal saja, [bos, mungkin saja dia ada di kota ini]
“ya aku sudah tahu” Zero kemudian menyuruh pengawal itu pergi, tidak ada akhir
yang baik bagi pengawal itu, Zero berjalan kearah kasir, “berapa totalnya?,
“300 koin tembaga, biaya kompensasi 50 koin tembaga, dan juga biaya kerahasiaan
100 koin tembaga” pelayan restoran itu berkata sambil tersenyum, sudah terbiasa
dengan keadaan seperti ini, yang kuat akan hidup dan yang lemah akan mati, Zero
mengeluarkan 500 koin dari kantongnya, kemudian melangkah keluar dari restoran
itu.
Begitu keluar, keramaian memadati seluruh area perkotaan,
orang orang dari berbagai daerah berbondong bonding menuju ke pusat kota,
“Zero” Erald berjalan ke Zero “apakah sudah selesai?” Erald bertanya mengenai
keadaan Zero, “ya aku sudah selesai”, Erald merasa lega, setelah membunuh
bajingan yang mengejarnya, Erald segera menghampiri Zero, khawatir tidak bisa
menghadapinya, “Zero, apa kau mau ke arena?, disana ada tontonan bagus”, Erald
dan Zero kemudian berjalan ke area pusat kota, dimana Arena hidup dan mati
diadakan disana.
Sesampainya di Arena, Zero dan Erald duduk di salah satu
sudut arena, “saudara saudara sekalian, arena ini akan dimulai sebentar lagi,
selagi menunggu sang penantang datang, mari kita sambut “Erwin si pedang api”
yang memiliki kemenangan 14 kali berturut turut hingga sekarang“ sorak sorai
memenuhi arena disana, berbagai ras duduk disana, antusias menyambut orang itu,
Erwin melangkah keluar dari tempat duduk penonton dengan santai, rambut
__ADS_1
merahnya menyala nyala, pedang besar dipunggungnya memiliki aura yang
mengesankan, wajahnya penuh bekas luka, meski begitu para penonton bersorak
untuknya. “apakah dia begitu hebat?” Zero bertanya kepada Erald dengan heran,
dipandangan Zero, Erwin tak lain hanya mencapai rank F, 4 tingkat dibawah Zero,
“dia biasa saja, pedangnya lumayan, tapi dengan teknik nafas api yang
dimilikinya, Erwin sanggup mengalahkan 2 orang peringkat Aluminum, satu tingkat
yang sama dengannya”, setelah mendengar perkataannya, Zero mengangguk, jauh di
lubuk hatinya Zero sangat senang, tujuan dia kali ini disini adalah untuk
mencuri teknik hebat yang digunakan para petarung di arena.
Erwin telah tiba di tengah arena, dia mengangkat tangannya
ke udara, semua orang terdiam, “semua orang, bertaruhlah untukku, dengan
begitu, aku akan mendapatkan uang untuk kalian, ini akan menjadi kemenanganku
yang kelima belas”, begitu ucapannya selesai, orang orang bersorak sekali lagi
untuknnya. “apakah dia bodoh, meremehkan lawan merupakan tindakan fatal dalam
pertarungan” Zero bergumam sendiri, “omong omong siapa lawannya?” Zero bertanya
kepada Erald yang berada disampingnya “katanya lawan kali ini tidak biasa, aku
hanya mendengar dari orang orang, si pedang api mungkin akan kalah”, Zero
terheran dengan pernyataan Erald, ‘yah mungkin saja lawannya kali lebih unggul’.
Secara, elf lebih unggul daripada manusia dalam jenis penggabungan teknik
sihir, Afinitas sihir elf berkali kali lebih besar daripada manusia biasa.
sedikit, penantang kali ini telah tiba, mari kita sambut sang penantang”,
setelah juri berkata, penonton bersorak sekali lagi, menyambut sang penantang,
orang orang yang menonton suka dengan adegan pertempuran darah, tidak peduli
siapa melawan siapa, asalkan ada pertunjukan bagus, mereka akan menghabiskan
uang mereka hanya untuk pertempuran yang tidak jelas siapa pemenangnya.
“bunuh dia” “kalahkan dia, aku bertaruh banyak untukmu” patahkan
kakinya”. Penonton bersorak untuk kesekian kalinya, arena dipenuhi dengan suara
suara penonton yang bergema, orang berjubah memasuki arena tanding, seluruh
tubuhnya dipenuhi dengan aura misterius, ditambah menggunakan jubbah hitam yang
membungkus seluruh tubuhnya menambah kesan misterius yang dalam, “system, lihat
pertandingan kali ini, mungkin ada teknik bagus yang bisa dicuri” [bos, orang
itu cantik lho, tidakkah kau menyukai wanita cantik], “hah?” Zero memandangi
system yang transparan didepannya, tatapan membunuh menuju system, membuat
system bergidik ngeri. [apa?, apa kau tidak menyukai wanita cantik?], “tentu
saja aku menyukainya, hanya saja, kebanyakan wanita di dunia ini mengandalkan
tubuh mempesonanya untuk merayu orang orang kuat. Jika ada wanita seperti itu
yang menggodaku secara langsung didepanku, aku akan langsung membunuhnya” Zero
__ADS_1
terdiam sementara, memikirkan beberapa novel yang pernah dibacanya di dunia
lamanya, wanita didunia seperti ini biasanya angkuh dan arogan, dia tidak
menyukai orang orang yang seperti itu.
“yo, orang yang akan mati, jika kau bisa menahan tiga
seranganku, aku akan membiarkanmu hidup” Erwin si pedang api berkata dengan
sangat arogan, seperti bendera kemengan terlihat dengan jelas ketika sang
penantang memasuki arena lapangan, namun orang berjubah itu tetap diam, tidak
menanggapi perkataannya, melihat dirinya diabaikan, Erwin merasa harga dirinya
diremehkan, dia terus terusan mengoceh kepada orang berjubah itu, namun orang
berjubah itu tetap tidak menanggapinya, menganggapnya seperti angin lalu. “baiklah,
karena kedua peserta telah berada di panggung, mari kita mulai” sang juri
keluar dari arena, mempersembahkan keduanya untuk bertarung. “Erald, kau
bertaruh untuk siapa?” “Entahlah, aku tidak suka perjudian, mungkin aku akan
bertaruh untuk si pedang api, bagaimanapun kemampuan orang itu sudah jelas,
sedangkan lawan didepannya tidak diketahui” Erald menjelaskan kepada Zero, dia
hanya mengangguk mendengar penjelasan Erald.
Begitu sang juri turun dari arena, pertempuran dimulai. Orang
berjubah itu mengacungkan tangannya untuk memprovokasi lawannya “kau lemah”,
Erwin tidak terima dengan provokasi lawannya, langsung menyerang, gerakannya
cukup cepat untuk seseorang yang berada di rank F, dia menuju lawan, tangannya
terkonsentrasi dengan aura, api menyala di kedua tangannya, begitu kepalan api
itu akan mengenai lawan, orang itu menghilang, bagaikan angin yang samar, tiba
tiba muncul dibelakang Erwin, “kalau kau bisa menahan satu seranganku, aku akan
menyerah” orang berjubah itu berkata kepada Erwin dengan nada meremehkan, dia
tidak tahan dirinya dipermalukan didepan banyak orang, kali ini Erwin kehilangan kesabarannya,
menarik pedang yang ada dipunggungnya, setelah menarik pedang itu, aura di
arena pertempuran berubah, dipenuhi dengan hawa panas, “kau arogan, terakhir
kali aku menggunakan pedangnya, lawanku berubah menjadi daging panggang”, orang
berjubah itu tetap tenang, suara penonton menggema setelah melihat Erwin mulai
serius, sejauh ini, Erwin sangat jarang bertarung serius, dia tahu kali ini
lawannya kuat, harus serius menghadapinya.
Pedang api itu membuat suasana menjadi lebih intens, “lemah”
sekali lagi orang berjubah itu membuat lawannya naik darah, Erwin kehilangan
ketenangannya, mulai membuat gerakan mematikan, pedang itu mengeluarkan api, bergerak
dengan cepat, walaupun ukurannya kelihatan besar, itu bisa bergerak dengan
cukup cepat, “Blaze” begitu kata itu diucapkan, seluruh tubuhnya dipenuhi
dengan api, angin puyuh berskala kecil
__ADS_1
muncul di atas arena, bersamaan dengan api, angina puyuh yang semula putih
menjadi merah dalam sekejap, penggabungan antar elemen membuat penonton takjub.