
Langit malam membuat suasana semakin suram, suara binatang yang meraung menggema, tanah semakin dingin, mereka berjalan melintasi pedalaman hutan terlarang, berbicara sekali kali agar suasana tampak tetap hidup, Livia mengenakan jubah yang diberikan Zero, dia menutupi tubuhnya, mereka berjalan beriringan dengan Tifa sebagai pemimpinnya, Zero berada dibelakang, didepannya adalah Livia.
"Ini lama sekali." Gerutu Zero, tidak nyaman dengan suasananya.
"Livia, mari kita percepat." Zero membisikkan kepada Livia, gadis itu hendak menjawab, tapi Zero tidak mengizinkannya, dia langsung menggendong Livia dengan kecepatan tinggi, melesat diantara pepohonan yang kusam, Tifa dan teman temannya terkejut.
"Tunggu, tuan. Kemana kamu akan membawa tuan putri." Teriak Tifa, bawahannya hanya terbengong menatap mereka. "Tenang saja, aku membuat beberapa penanda di jalan agar kalian tidak tersesat." balas Zero dengan santai, dia bergerak sambil menempelkan sesuatu pada pohon yang disentuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?, Bagaimana jika mereka ditemukan oleh monster yang sangat kuat." ucap Livia. gadis itu memeluk Zero dengan erat, Livia takut Zero menjatuhkannya ditengah jalan, seperti yang sebelum sebelumnya, Zero memang agak brengsek.
"Tidak, mereka tidak akan menemui monster sampai pagi tiba, aku menaruh jejak kekuatanku disepanjang pohon yang aku tandai. Livia, kalau kamu memelukku seperti itu, aku tidak akan bisa bernapas." ucap Zero, tapi Livia tidak memedulikan kata kata Zero. Liva terus saja menggeleng. Zero menatap Livia yang tertunduk dalam pelukannya, rambut putihnya yang harum dan indah tergerai terbawa angin, Zero tersenyum dalam, kemudian melompat ke salah satu pohon disana. Zero mengamati lingkungan disekitarnya.
__ADS_1
"Livia, apa aku pernah mencelakaimu?" Zero menatap Livia, sementara gadis itu keheranan, situasi saat ini sangat membuat gugup, ditambah Zero menatapnya sangat lama.
"Pernah beberapa kali, salah satunya saat berhenti dan membuatku jatuh dengan akar pohon yang tiba tiba merambat dibawah kakiku." jawab Livia. "Yah, lupakan itu." Zero memalingkan pandangannya, tidak jadi melanjutkan perkataannya. Livia mengikuti pandangan Zero, melihat ke langit diatasnya yang tampak sangat gelap, tidak ada satupun bintang yang terlihat, Livia takjub dengan itu, rasa sepi dan kosong yang terpampang dihadapannya membuat siapapun yang melihatnya menjadi takjub, walaupun terlihat gelap.
"Apa kamu melihatnya, dilangit tidak ada apapun." ucap Zero, dia terus melihat kelangit untuk waktu yang lama, Livia hanya diam mengikutinya.
"Dunia bukan tempat yang aman, jika kamu terus saja mempercayai seseorang yang kamu temui, kamu hanya akan berakhir." Zero mengambil posisi duduk diatas pohon, Livia masih tidak sadar jika masih dalam pelukannya.
"Livia, apa kamu kedinginan?" bisik Zero, seketika Livia tersadar dan buru buru melepaskan diri dari Zero. "Menyingkir dariku." Livia menjaga jarak dari Zero untuk tidak terlalu dekat dengannya, mereka duduk diatas batang pohon.
"Apa kamu tidak suka?" Zero bertanya, pandangannya mengarah ke Livia. "tidak." Livia menjawab singkat. "Livia, mendekatlah. aku bahkan sudah pernah melihatmu t*lanjang, seperti dadamu yang agak kecil dan kulit putih mulusmu yang.." Livia menamparnya, Zero berhenti seketika. Dunia terasa melambat, Zero bahkan tidak menyadari ketika Livia akan menamparnya. suara tangan Livia ketika bersentuhan dengan pipi Zero terdengar keras dihutan terlarang yang sunyi. bibirnya gemetar, tangannya juga gemetar, matanya berkaca kaca seolah akan siap menangis kapan saja.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?" Livia masih menatap Zero, tatapannya seperti berharap jika itu tidak nyata. "Ya, semua itu benar. saat itu aku berbohong jika Sayu yang."
"Apa semua itu benar?" Livia berteriak terisak, menghentikan perkataan Zero lagi, air matanya jatuh perlahan membasahi pipinya. "Tentu saja." Zero masih berkata penuh percaya diri, berpikir bahwa Livia hanya berpura-pura. "Kau bajingan" saat itu juga, Livia langsung turun menginjak tanah, berlari tanpa arah kedalam kegelapan, meninggalkan Zero yang hanya diam menatapnya penuh kebingungan.
"Kenapa ini?, apa dia tidak sedang bersandiwara?" Zero penuh kebingungan, dia benar benar tidak mengerti dimana masalahnya. [Bos, kau benar benar bodoh, gadis itu memang menangis, bagi seorang wanita, tubuhnya adalah kesuciannya, jika itu dilihat dan dipegang oleh seseorang, tentu saja mereka akan menangis dan marah] system berbisik dikepalanya, tiba tiba terbangun dan menasihati Zero. "apakah memeluk dan memegang berbeda?" tanya Zero. [Tentu saja berbeda, bos. sebelumnya dia tidak marah, karena kau tidak melewati batas, walaupun kau menciumnya, tapi begitu tahu kau pernah melihat bagian sensitifnya, dia akan marah] system berkata seperti kebenaran, kata katanya hanya seperti angin lewat ditelinga Zero, "kau diamlah, aku merasa kesal sekarang." ucap Zero, memandangi system dengan tajam.
Zero turun dari pohon, memandangi tempat Livia berlari dan kemudian mengejarnya, dalam benak system, Zero tidak tahu berterima kasih, Zero berlari melewati pohon pohon dalam kegelapan, tapi belum mendapati punggung Livia, dalam hatinya Zero merasa sedikit bersalah, "Liviaaa." Zero berteriak dalam kesunyian malam, dia terus berlari kesana kemari mencari jejak Livia, sudah lebih dari tengah malam, Zero belum menemukannya, "sialan, berurusan dengan seorang gadis lebih susah daripada berurusan dengan seribu pasukan." Zero menggerutu dalam pencariannya, dia terus berlarian mencari Livia, saat Zero hampir menyerah, dia melihat seseorang. Gadis itu menundukkan kepalanya, tertutup diantara kakinya, seseorang tidak dapat melihat wajahnya, tapi Zero mengenali rambut putihnya yang tergerai basah, Livia bersandar disebuah pohon, tidak ada siapapun disana selain dirinya. Zero menghela nafas lega, perlahan berjalan mendekati Livia.
Setelah dekat, Zero bisa mendengar isakannya, jubahnya terlihat kotor, Zero duduk bersandar dipohon membelakangi Livia. "Livia, biarkan aku menjelaskannya." ucap Zero, tapi gadis itu tidak menjawabnya, masih menangis sesenggukan, "saat itu pakaianmu kotor, seluruh tubuhmu dipenuhi darah." Zero berhenti sebentar, menunggu jawaban Livia, tapi gadis itu tetap tidak berbicara apapun, Zero melanjutkannya. "Sayu lemah, dia tidak bisa mengobati cederamu, akhirnya akupun turun tangan, mau tak mau aku harus membersihkan tubuhmu, tapi tenang saja, aku bahkan tidak menyentuhmu sedikitpun, aku bisa bersumpah." Zero menjelaskan, sambil menatap ranting ranting pohon diatasnya, dia menunggu jawaban Livia, setelah beberapa saat, Livia tetap tidak berbicara, suara isakannya masih terdengar, tapi sepertinya sedikit lebih baik. Zero menghembuskan nafas dengan pelan, dia melirik Livia dibelakangnya, gadis itu tetap disana dengan posisi seperti sebelumnya.
"Livia, apa kamu tahu?. Aku bukan seseorang dari dunia ini, dulunya aku hanyalah seorang pria penyendiri tanpa kekuatan apapun, duniaku dulu mengandalkan teknologi untuk bertahan hidup, tidak ada yang namanya kekuatan supernatural, tidak ada orang yang bisa terbang dilangit, kekuatan seperti itu hanya berada di film film, kamu mungkin tidak tahu apa itu film, tapi yang pasti itu adalah sesuatu yang hebat.kamu mungkin akan terkejut. Aku tidak punya orang tua yang mengasuhku, aku tidak punya siapapun, kegiatanku sehari hari hanyalah bermain main, kadang kadang berkelahi dengan seseorang tanpa alasan yang jelas. tapi aku bekerja keras, hidup dijalanan tanpa arah seperti orang gila, pernah ada beberapa orang yang mengajakku untuk hidup bersamanya, mengasuhku seperti anaknya, tapi mereka semua mati tanpa sebab yang jelas, seperti dikutuk, orang orang mengira aku adalah pembawa sial, mereka mulai mengusirku. akhirnya aku berkeliaran kemanapun tanpa tujuan, memakan makanan bekas orang, bahkan mengambil dari tempat sampah. sampai aku berusia lima belas tahun, aku memutuskan untuk bekerja, aku mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, dan akhirnya aku bisa membuat diriku sendiri terkenal, aku bekerja membuat semua orang senang dengan penampilanku bermain." Zero berhenti mengucap, dia menyadari suasananya sangat hening, bahkan tak ada suara apapun, suara Livia yang menangis sesenggukan sudah tidak ada. Zero memalingkan pandangannya, berbalik untuk melihat Livia, gadis itu tetap disana seperti sebelumnya, tapi sudah tidak ada suara yang keluar, sepertinya sudah tenang.
__ADS_1
"Livia." ucap Zero lirih, suaranya terdengar sangat pelan, Zero berdiri menghampiri Livia, menjulurkan tangannya, Zero menyentuh tangan Livia, rasanya dingin. Livia tidak merespon apapun.