Destiny King

Destiny King
Keseimbangan Dalam Pertempuran


__ADS_3

Zero menatap anting yang dikenakan Livia sejenak, hiasan didalamnya sangat rumit, seperti ukiran yang dibuat sedetail mungkin, Zero memasukkan sedikit auranya, tiba tiba anting itu mengeluarkan cahaya dan langsung redup kembali dalam sekejap, Zero penasaran dengan barang itu.


Suara tepuk tangan terdengar menggema di halaman Istana, seorang pria berjubah emas melangkah keluar dari pintu Istana, mahkota yang megah berada dikepalanya. Pria itu dilihat dariauranya tidak lebih lemah dari Zero, usianya sekitar empat puluh tahunan, dia menuju ke arah Zero dan Livia berada.


"Putriku, darimana saja selama ini?" Kaisar Langit bertanya, wajahnya sangat datar, seolah tidak merindukan putrinya yang hilang selama ini.


Livia terdiam melihat kedatangannya, raut mukanya sangat kecewa, Livia mengangguk kepada Kaisar, kemudian pergi masuk Istana, meninggalkan Kaisar bersama Zero.


"Pak Tua, perilakumu bahkan lebih buruk dariku." cela Zero. Zero membuang ludah tepat didepan Kaisar Langit, sama sekali tidak ada rasa sopan dalam tindakannya.


"Nak, siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?" Kaisar tetap tenang, dia menatap Zero tajam.


"Kau ingin ta..." Zero terhenti ketika berbicara, Kaisar menundukkan tubuhnya dan tangannya ingin meraih Zero, Kaisar hampir menangkapnya, untungnya Zero cekatan dalam menghadapi gerakannya.


Gerakan Kaisar sangat halus, bahkan angin berada di dalam kendali dirinya, Zero mundur beberapa langkah. "Pak tua, aku belum selesai bicara." Zero menyeringai, mengacungkan jari tengah kepada Kaisar.


Kaisar membuat gerakan lagi, kali ini dia menghilang dan langsung menuju di depan Zero, sebuah formasi berbentuk lingkaran besar muncul dibelakangnya, Kaisar mengeluarkan tombak emas dari udara kosong ketika hendak menyerang, Zero tidak menunggunya, dia juga mengeluarkan pedang pemberian Erald yang ditingkatkannya. Tombak dan pedang bertabrakan, percikan muncul diantara keduanya, suara dentuman terdengar menggelegar, menyebabkan ombak udara yang menyapu segalanya.


"Bocah, reflekmu cukup bagus." Kata Kaisar, memuji Zero dalam pertarungan pertukaran gerakan pemanasan.


Kaisar menghilang dalam pandangan Zero, pedangnya menyentuh udara kosong, seketika Zero memasang pelindung dan dalam posisi bertahan. Zero menyebarkan auranya dalam sekejap, tapi sama sekali tidak merasakan kehadiran Kaisar.


"Pak tua, sampai kapan kau akan bermain petak umpet." Gelisah Zero, baru kali ini dia bertemu dengan lawan yang sepadan.

__ADS_1


Udara terlalu tenang, suasananya hening, Kaisar telah memasang penghalang untuk mencegah orang orang mendengar dan melihat dari luar. Zero kali ini mengucurkan keringat di dahinya, biasanya dia tidak akan mengeluarkan satupun keringat dalam pertarungannya, kekuatan musuh berada di luar dugaannya.


Aura Kaisar terlalu samar, meski begitu Zero tak bisa menebak arahnya, bayangan melintas dibelakang Zero, membuatnya berbalik dalam sekejap, tapi tidak ada siapapun disana.


"Ini terlalu tidak menguntungkan. «Death Eater» keluarlah." Zero mengeluarkan sebuah teknik pemanggil, lubang hitam muncul disampingnya, sosok hitam dengan sabit muncul dari lubang hitam.


Kaisar muncul dibelakang Zero bersamaan tepat dengan keluarnya sosok pemakan kematian, tombak terhunus menuju kearahnya, Zero tak siap dengan kemunculan tiba tiba Kaisar. Suara dentingan tombak Kaisar dan pedang Zero terdengar kembali, ujung tombak Kaisar mengenai bilah pedang Zero. Zero yang tak siap dengan kemunculannya menyebabkan pedangnya goyah, Kaisar terus mendorong tombaknya.


"Menyerahlah, bocah bau." Kaisar terus memprovokasi Zero, kekuatan dorongannya terus meningkat.


Detik itu juga, pedang Zero akhirnya patah, menyebabkan dirinya terpental masuk kedalam formasi lingkaran yang dibuat Kaisar. Pemanggilan sosok Death Eater mengalami keterlambatan, ketika sosok itu keluar Zero sudah menghilang ke dalam formasi.


Disisi lain, Livia melihat keluar jendela dari kamarnya, halaman Istana tempat Zero dan Ayahnya berada sebelumnya tampak sepi, tapi Livia merasakan kejanggalan, ada bekas aura pertarungan disana. Livia teringat Zero masih berada di sana, perasaannya tidak enak, Livia langsung pergi ke bawah untuk mengecek halaman.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Livia khawatir, perasaan tidak enak di hatinya terbukti benar.


Livia terus berlarian dihalaman untuk berjaga jaga jika ada sesuatu yang salah, setelah berkali kali berputar di halaman Istana dan tidak menemukan apapun, Livia menyerah. memutuskan untuk menemui ibunya.


~~


Zero terkejut dia dipindahkan ke tempat yang berbeda, sebuah tanah kosong di tengah tengah hutan, disekitarnya terdapat pohon pohon berdiri tegak, ternyata formasi tersebut merupakan formasi pemindahan. Tubuhnya belum mengalami luka, hanya saja pedangnya telah rusak, Kaisar muncul dihadapannya dan tanpa memberi kesempatan Zero untuk bersiap, Kaisar menghunuskan tombaknya tepat dihadapannya.


Membuang pedang yang telah rusak, dua pedang tingkat suci muncul di kedua lengan Zero, bertepatan dengan tombak yang hampir mengenai dadanya, pedang itu menghalaunya, suara dentingan senjata kembali terdengar, api biru ganas menyapu sekitar setiap senjata bertemu.

__ADS_1


"Bocah, aku akui kekuatan dan auraku tidak sebanding denganmu, tapi pengalaman bertempurmu kalah jauh dariku." Setelah beberapa saat beradu senjata, Kaisar akhirnya bicara.


"Lalu apa, hidup lebih lama bukan berarti kau lebih baik dariku." Ejek Zero, tubuhnya basah oleh keringat, Kaisar membanting tombak ke tanah, menyebabkan retakan halus di sekitarnya.


Nyala api biru yang menyelimuti pedang Zero mengganas kembali, kali ini Zero yang akan menyerang terlebih dahulu, "«Lightning Rule, Number Two, Thunder Manifestation»".


Tubuh Zero diliputi dengan petir putih yang menyambar nyambar, petir itu secara berkala bergabung dengan api biru. Kaisar terkejut melihatnya, kembali menarik kembali tombaknya, tampaknya kali ini Kaisar Langit yang mewaspadai Zero, langit mulai menutupi cahaya yang masuk, membuat sekitarnya menjadi petang.


"Ini adalah..." Kaisar terperangah menatap langit yang menyelimuti, awan awan hitam berdatangan terus menerus, petir mulai menyambar di langit langit.


"Bocah, siapa kau sebenarnya?" tanya Kaisar Langit. Dia terus mewaspadai Zero.


"Aku ayahmu." cemooh Zero. Tampaknya sekarang pertarungan didominasi oleh Zero.


Saat petir menggelegar di langit, Zero menghilang dari tempatnya, meninggalkan bekas gosong di tanah pijakannya. Muncul kembali dalam sekejap di depan Kaisar, api biru ganas yang diselimuti petir dalam pedang Zero terbang melintas di wajah Kaisar.


Kaisar Langit menghindar dengan tepat waktu, jika tidak konsekuensinya tidak akan terbayangkan, pedang itu terlempar kebelakang, pohon pohon yang disana terbakar hangus sebelum mengenai senjatanya. Pedang tingkat suci yang digunakan seseorang tingkat Adamantium kekuatannya mengerikan.


Tidak berhenti di situ, Zero tidak membiarkan Kaisar Langit mengambil nafas, dia menyerang dengan satu senjatanya, Kaisar terus menghindari lintasan pedangnya.


"Cukup, kali ini aku akan memperlihatkanmu arti dari kekuatan yang sebenarnya." Seru Kaisar.


Kaisar Langit menangkis serangan Zero, membuat dentuman hebat berkali kali. Mereka akhirnya mundur beberapa langkah setelah serangan Zero barusan, tombak Kaisar menghilang, digantikan dengan Zirah emas yang membungkus tubuhnya tanpa meninggalkan celah.

__ADS_1


__ADS_2