Destiny King

Destiny King
Tugas Seorang Ayah


__ADS_3

Bola hitam terus menerus turua perlahan dari langit, bahkan jika bola itu masih jauh, tekanan yang diberikan sangatlah dahsyat, kekuatan Zero terkuras hahis untuk mengeluarkan teknik terkuatnya, tubuhnya sekarang dalam kondisi paling lemah, Zero bisa saja membuat dirinya pulih dalam sekejap, tapi Kaisar pasti tidak akan membiarkannya, dan juga pemulihan kekuatan dalam sekejap dapat menarik perhatian.


"Bocah, katakan apa maumu?" Kaisar merasa dirinya terpojok dan tidak punya pilihan lain.


"Tidak ada, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan." jawab Zero.


"Pak Tua, kemarilah. Kita nikmati suasana terakhir dengan baik." Zero berbaring di tanah, pandangannya menyapu langit, dia menatap bola hitam kegelapan.


Kaisar menuruti kata Zero, menghela nafas dengan pelan, segera duduk di sampingnya, bagaimanapun juga bola hitam itu tidak dapat di hentikan. "Apa bola hitam beberapa hari yang lalu adalah milikmu?" Kaisar bertanya.


"Itu pertama kali aku mencoba teknik itu, tidak disangka kekuatannya sangat mengerikan." Jelas Zero.


"Siapa sebenarnya dirimu?" Kaisar terheran heran, bocah berusia delapan belas tahun dapat memiliki kekuatan puncak, sudah pasti asal usulnya tidak biasa.


"Hmm, aku hanya orang biasa yang kebetulan mendapatkan berkah." Ungkap Zero. Kaisar terkejut dengan itu, pertarungan sebelumnya membuktikan bahwa Zero bukan hanya orang biasa, bahkan keterampilan tempurnya dapat mengimbangi dirinya yang sudah berada di medan pertempuran selama ratusan tahun.


Mereka terdiam sejenak, meratapi nasib masing masing, bola hitam kegelapan terus turun dari langit, puluhan mil sebelum menyentuh tanah, Zero terus menatap bola kegelapan itu, tatapannya seperti menunggu sesuatu, di hatinya perasaan cemas bergejolak.


"Pak Tua, kenapa kau bersikap kasar kepada putrimu sendiri?" Zero memecah keheningan, Kaisar Langit menghela nafas mendegar itu.


"Seorang ayah akan selalu memberikan pilihan yang terbaik kepada putra putrinya, tidak terkecuali aku. Aku adalah seorang Kaisar Kekaisaran Langit, tapi aku juga seorang ayah di sisi lain. Menjodohkan Livia dengan Pangeran Kerajaan Api sebelumnya adalah pilihan terburuk yang pernah kubuat, saat itu aku tidak punya pilihan lain, berharap putriku akan menerimanya." Kaisar menghela nafas dengan berat, Zero yang mendengar itu mengangguk pelan, seolah mengerti apa yang dikatakan.


""Demi mencegah pemberontakan, aku melakukan perjodohan, tapi siapa sangka putriku akan kabur setelahnya, dia tidak pernah melihat dunia luar, bakatnya dalam bidang apapun lebih tinggi dariku, oleh karena itu aku selalu tegas terhadapnya, agar dia bisa melampauiku suatu saat. Aku terus mencarinya selama ini, berharap mendapat kabar darinya walau sekecil apapun. Aku berpikir mungkin dia telah menghilang dan tak akan kembali." Kaisar tampak sedih ketika menjelaskannya.

__ADS_1


"Pak Tua, kenapa kau menyerangku tiba tiba?." Tanya Zero, dia masih ingin meminta penjelasan dari mulutnya. Kaisar menatap Zero, dia menghela nafas lagi, sepertinya tak ada yang bisa dilakukan selain menghela nafas.


"Mulutmu kotor, tidak punya rasa hormat, tidak punya sopan santun. perilakumu buruk bahkan dihadapan seorang Kaisar. Kau kembali bersama putriku, bahkan terlihat dekat, siapa yang tahu apa saja yang telah kau lakukan pada putriku." ucap Kaisar.


Zero tertawa pelan, dia tidak bisa tertawa sekeras mungkin karena cederanya menghalangi. "Tapi, ketika melihatmu dan juga kedekatanmu dengan putriku, aku memutuskan untuk menguji kekuatan dirimu, aku saat itu tidak terpikir cara apapun untuk menguji kekuatan milikmu dan kau membuka kesempatan itu."


"Pak Tua, apa yang kau bicarakan?" Zero melongo, dia sebelumnya berpikir bahwa Kaisar Langit ini orang yang pemarah, tapi tak menduga bahwa Zero telah jatuh dalam rencananya.


"Nak, jangan berpura pura, apa kau benar benar tidak punya cara untuk menghentikan itu? Kita sudah berbicara dengan baik." Desak Kaisar, bola hitam kegelapan sekarang berada pada jarak ratusan meter, beberapa detik sebelum akhirnya benar benar meruntuhkan semuanya.


'sialan, dia tahu atau tidak tahu?' batin Zero, kali ini rencananya berhasil dengan mempertaruhkan hidupnya, Kaisar ternyata orang yang mudah diajak bicara, semuanya memiliki rencananya sendiri.


"Tidak ada cara lain." Zero menatap bola hitam yang menutupi seluruh area sekitarnya, lingkungan disekitarnya gelap gulita, seperti malam tanpa penerangan apapun.


"Jangan bercanda denganku, kau bisa menarik sebelumnya, bahkan yang ukurannya lebih besar, kenapa sekarang tidak bisa?" Kaisar terus mendesaknya.


"Aku bersumpah atas namaku Aakesh Lykaios sebagai Kaisar Langit tidak akan membunuhmu, jika aku melakukannya aku akan mati mengenaskan." Kaisar berdiri dan mengangkat tangannya, menunjukkan sumpah di depan Zero.


"Diterima." Zero menjetikkan tangannya, bola hitam itu menghilang dalam sekejap mata, menyisakan awan gelap di langit.


"Bocah, aku bersumpah tidak akan membunuhmu, buka berarti tidak akan menyiksamu. Kau terlalu muda untuk berurusan denganku." Kaisar menyeringai, menggenggam kembali tombak emasnya.


Zero menatap tidak percaya, dia lengah untuk sesaat dan termakan omongannya sendiri, dia sudah mempertaruhkan semuanya dalam serangan tadi, terbaring di tebing gunung, pakaiannya penuh darah, dan nyawanya berada dalam genggaman Kaisar.

__ADS_1


"Pak Tua, kau bajingan licik." Zero mencela tindakan Kaisar.


"Aku bercanda, mana mungkin aku membunuhmu, putriku akan membenciku jika kau terbunuh." Kaisar tertawa terbahak bahak, tombak dan zirah emas Kaisar menghilang di udara, digantikan dengan penampilan seperti sebelumnya.


"Ohh, kupikir kau benar benar akan melakukannya." Zero tertawa lirih, dia menjentikkan jarinya kembali, langit berangsur pulih, awan hitam menghilang dari pandangan, sinar cahaya mulai menerangi sekitar.


Kaisar membelalak, dia tidak menduga Zero ternyata menutupi bola itu dengan ilusi semata, kekuatannya sungguh mengagumkan, kelicikannya lebih hebat darinya. Kaisar mengulurkan tangannya ke Zero, Zero menerimanya begitu saja, mereka berdua berdiri bersisihan, keduanya tampak berantakan.


Dari kejauhan terlihat beberapa orang sedang terbang menuju ke arah Zero dan Kaisar. Livia berada di barisan terdepan, di belakangnya dua orang mengikuti, dua orang itu semuanya laki laki berpenampilan empat puluh tahun, usianya tidak jelas, mungkin sama dengan Kaisar atau bahkan lebih tua, kekuatannya setara dengan Rank E, satu tingkat di bawah Zero dan Kaisar.


Livia tampak panik terlihat dari raut wajahnya, bahkan gerakannya tampak terburu buru, mereka terus mendekat ke arah Zero dan Kaisar berada. Zero dan Kaisar saling bertatapan, kemudian mereka tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawakan.


Setelah mereka tiba, Livia menghampiri Zero, mengabaikan ayahnya yang berada di sampingnya. Kaisar sudah menduganya, kedua orang yang dibawa Livia berbicara dengan Kaisar, tampaknya mereka menanyakan apa yang terjadi sebelumnya. Mereka menatap area sekitar denhan tercengang, seluruh hutan menjadi rusak, juga masih ada pohon yang terbakar akibat pengaruh api biru Zero.


"Apa yang terjadi? Apa kamu baik baik saja?" Livia bertanya kepada Zero, perasaan khawatir tampak jelas dari wajahnya, matanya berkaca kaca. gadis itu mengabaikan yang lain, tampak tidak peduli dengan yang lainnya.


"Tidak apa apa, tidak ada yang terjadi. Hanya sebuah pertarungan kecil." Jelas Zero.


"Ayo pulang." Livia menggenggam tangan Zero.


Zero mengangguk pelan, pendarahannya sudah berhenti, tapi darah di sekujur tubuhnya masih ada, hanya tersisa beberapa tulang yang retak di bagian punggung. Zero melirik Kaisar dan mengedipkan matanya, kemudian berjalan mengikuti langkah Livia.


Kaisar melihat Zero yang mengedipkan matanya, kemudian mengangguk menanggapinya, setelah beberapa saat melihat kepergian putrinya, Kaisar kembali berbicara pada dua orang itu.

__ADS_1


"Yang Mulia, siapa sebenarnya orang itu?" Salah satu dari mereka bertanya.


"Hmmm, kalian tanyakan saja pada putriku." Kaisar menjawab dengan tenang, tatapannya tetap tertuju pada tempat dimana putrinya pergi.


__ADS_2