
Setelah mengucapkan sumpah yang entah akan dilakukan atau tidak, zero bangkit berdiri, melihat pakaian kaos hitam dan celana pendek putih yang ia kenakan masih lumayan bersih walaupun telah tidur di hutan semalam, zero memandangi pohon pohon yang menjulang tinggi di sekitarnya, lalu mulai melangkah pelan-pelan ke arah timur, berharap dapat menemukan pemukiman untuk tinggal, setelah berjalan sekitar kurang lebih 5 jam, zero tidak melihat satupun makhluk hidup, sedangkan matahari telah berada di atas kepala, zero mulai kelaparan karena dari malam dia hanya makan roti dan minum teh untuk mengganjal perutnya
"huh apa apan ini, aku telah berada disini cukup lama dan tidak ada satupun makanan yang bisa kuambil" dia mulai merasa marah karena lapar, dan tidak ada makanan, tiba tiba ada suara datang dari kepalanya
[Bos, maaf baru bangun] zero tersentak kaget "siapa kau, apa maumu, aku tidak punya uang disini" [anu, bos, ini aku system AI yang kau kembangkan] "ouh oke" zero melanjutkan berjalan beberapa langkah dan berhenti "huh sebentar, siapa kau???" [ini aku bos, system] system itu hanya bisa didengar dan dilihat oleh zero "ahhh sialan, beruntung sekali aku, kalau kau disini, kau pasti membawanya juga kan..?" zero berbicara dengan system [yes my lord, aku membawanya]
Dari udara kosong, tiba tiba muncul hologram transparant yang hanya bisa dilihat oleh pemiliknya, "system, apa kau bisa lacak ini berada di mana, dan sudah berapa lama aku disini?" [tenang saja bos, kita hanya berada di dunia lain, dan untuk berapa lama kau disini, kau mungkin sudah tertidur selama 3 hari 3 malam] "oi oi oi yang benar saja kau, pantas saja aku kelaparan" zero tak mengira bahwa dirinya sudah berada di dalam hutan selama 4 hari 3 malam, walaupun tak mengetahui yang terjadi, zero tetap bersyukur karena tidak ada yang terjadi dengan dirinya selama waktu itu
__ADS_1
"System, kemana arah lokasi pemukiman yang paling dekat?" zero bertanya sambil berjalan santai [umm mungkin ke arah barat] "oi sialan, apa kau benar benar system yang bisa berguna, aku bertanya kepastian dan kau hanya menjawab mungkin..!?" "ah sudahlah" zero mengikuti jalan yang diarahkan system, setelah berjalan 3 jam penuh, rasa lapar zero mulai tak terkendali, dia berhenti sejenak ddan mulai menyemangati dirinya agar bisa menahannya
[bos, aku merasakan kebaradaan seseorang dari arah barat, sepertinya ada dua orang] zero langsung berlari tanpa basa basi, setibanya di sana, melihatĀ seorang lelaki tua dan seorang anak kecil laki laki sekitar 8 tahunan sedang mengambil ranting pohon, lelaki tua itu kaget melihat zero berlarian ke arahnya dengan tergesa gesa, "hai nak, hati hati pelan pelan" zero kemudian bertanya kepada kakek tua itu, "halo kek, aku ingin bertanya, dimana ini?" kemudian kakek tua itu menjawab "ah beruntung sekali kamu bertemu denganku, kamu pasti tersesat, ikutlah denganku dulu setelah aku selesai mengumpulkan ranting disini" lalu zero duduk di bawah salah satu pohon yang ada disana, anak kecil itu hanya memandangi sekilas, lalu tanpa berkata ia lanjut mengumpulkan ranting yang ada disana
Setelah matahari hampir terbenam, "ayo pulang" kakek itu memimpin jalan untuk kembali kerumahnya, setelah berjalan tidak lama kemudian sampai kerumah kakek itu, kakek dan anak kecil tadi meletakkan keranjang yang dipenuhi ranting di teras rumahnya, rumah itu tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, dengan dinding kayu yang rapat, dan beralaskan kayu yang di potong dengan baik, kakek itu membuka pintu rumahnya "ayo nak, masuk dulu, tidak usah sungkan anggap saja seperti rumah sendiri". Zero kemudian melangkah masuk, kemudian disusul kakek tua dan anak kecil itu, kakek itu mengambil kayu dan menyalakan api dengan tangannya, zero terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya, tetapi dia tidak bertanya apa apa
kakek itu berjalan pelan ke arah meja makan, zero dengan sopan tiba tiba benrtanya "oh ya kakek, siapa namamu?" kakek tua itu berkata " Arthur Grace" zero berpikir si kakek tua sialan ini pasti dulunya orang hebat yang mengasingkan diri, " salam kenal, aku Zero Vacancies", kemudian mereka bertiga menyantap makanan yang ada
__ADS_1
setelah makan malam selesai, zero bertanya "tuan Arthur, apakah anda berkenan mengajariku beberapa teknik sihir?" arthur berkata "aku bisa saja mengajarimu, akan tetapi kau harus tahu bakatmu dulu" "lalu bagaimana cara agar aku tahu bakatku sendiri" "Pergilah ke kota, biasanya disana ada banyak sekte yang mempunyai batu penguji bakat", "baiklah, terima kasih tuan Arthur", "sama sama, omong omong tuan zero tidur di kamar bagian utara, disana sudah dipersiapkan kamar untuk anda, karena biasanya setiap beberapa bulan sekali, pasti ada orang yang tersesat jadi aku selalu membawanya agar bisa beristirahat", "terima kasih tuan Arthur, tidak usah repot repot, besok aku akan pergi ke kota", "kalau begitu selamat malam, besok aku akan mengantarmu ke perbatasan hutan"
Zero kemudian berdiri "kalau begitu terima kasih tuan" lalu melangkah ke kamar yang telah disediakan oleh pemilik rumah, setelah sampai dikamar, zero berbaring di tempat tidur "oi system sialan, apa kau bisa menyimpan makanan dan menggunakan cheat engine untuk menggandakannya?" [bos tenang saja, untuk hal sekecil itu tentu aku bisa melakukannya] "baiklah aku bisa tidur tenang malam ini, dan tidak perlu khawatir tentang makanan lagi, kita tunggu setelah besok sampai ke kota untuk menguji bakatku" [siap bos, apa kau berpikir untuk menaikkan bakatmu apabila bakatmu dalam sihir buruk?] "hahahaha kau tahu saja apa yang akan kulakukan, tunggu saja sampai aku mempunyai teknik api, aku akan menaikkan levelnya dengan cheat sampai level tertinggi, bahkan sampai melampaui level tertinggi, ahahahaha" zero tertawa berbahaya dalam keheningan malam yang sunyi seakan dia adalah raja iblis yang tak tertandingi, system merinding karena perkataan zero, [bos, bukankah kita belum menguji apakah cheat engine dapat digunakan disini] "ah biarlah, kita pikirkan saja nanti ketika tidak bisa digunakan" setelah itu zero berbicara dengan system sampai tidur
Keesokan harinya, setelah sarapan Arthur dan zero berangkat ke perbatasan, si anak kecil tidak ikut, setelah sampai di perbatasan arthur menghadiahkan beberapa makanan untuk dimakan ketika di dalam kota dan uang 300 koin tembaga, setelah berpamitan dengan arthur dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah memberinya makanan, tempat tidur, dan beberapa koin uang, dia pergi menuju kota, jalan jalan di sekitar jalanan menuju kota dipenuhi dengan sawah dan pemandangan menyejukkan mata yang tak akan ditemukan di kota kota besar yang penuh dengan gedung gedung tinggi, setelah berjalan cukup jauh, dari kejauhan zero melihat kota dengan tembok yang menjulang tinggi, badannya bergetar karena tidak sabar menguji kekuatan yang akan didaptkannya
"HAHAHA DUNIA SIALAN, AKU DATANG UNTUK MENAKLUKKANMU"
__ADS_1