Destiny King

Destiny King
Ditinggalkan Sendirian


__ADS_3

Langit mulai gelap, pepohonan mulai bersenandung ringan, angin malam mulai menyelimuti, waktu telah berlalu, didepan mereka, tampak seperti hutan kematian, pohon berwarna merah darah, tanah tandus dan kering, pintu masuknya dibuat dengan lilitan akar pohon hitam, langit diatasnya tampak berbeda, Zero mencengkeram Livia dengan erat, gadis itu tertidur ketika digendong Zero, kemudian mulai melangkah masuk, ketika masuk, Zero mendapati bahwa aura disini berbeda dengan yang diluar, didalam hutan terlarang, auranya penuh dengan kematian, tulang belulang terlihat berserakan dimana mana, tidak terlihat satupun dedaunan dihutan, Zero menyeringai tajam, kemudian menyebarkan auranya, menunjukkan kekuatannya, tidak menutup nutupi satupun, langit mulai bergetar, suara burung burung berkicau ketakutan, aura kematian beradu dengan aura superior milik Zero


"Ini sedikit menarik" ucap Zero, kemudian dia mulai menyusuri jalan dengan pelan, setelah beberapa waktu, Zero tidak menemukan satupun binatang buas, Zero menggerakkan kepalanya, melihat Livia masih tertidur, dengan pundak Zero sebagai bantalannya, Zero menyusuri jalan kembali, kali ini dia menggunakan cara ekstrem, Zero menginjakkan kakinya ke tanah dengan kuat, suara dentuman terdengar menggelegar, tanah hutan terlarang mulai retak ke depan, membelah semua yang ada dijalannya, membentuk sebuah jurang menganga yang akan menelan apapun yang terseret kedalamnya, retakan meluas hingga mencapai bermil mil jauhnya, teriakan monster terdengar dimana mana, menunjukkan keberadaan mereka, monster monster ketakutan, Zero dengan cepat melesat ke depan, melangkah ke jalan yang sudah dibuatnya, Zero tiba disebuah gua beberapa saat kemudian, dia berdiri diluar gua sambil menggendong Livia dipunggungnya


"Ada yang aneh dengan gua ini, sejak tadi aku merasakan sesuatu, ternyata sumbernya dari sini" ucap Zero, dia menggenggam kaki Livia dengan erat agar tidak terjatuh


"Terlalu merepotkan untuk masuk dan menyelidiki" ucap Zero lagi, kemudian dia mengeluarkan Art dari dimensi, menyuruhnya untuk membekukan gua tersebut, Art mengambil wujud harimaunya, kemudian dengan satu helaan nafas, gua tersebut membeku, termasuk semua yang ada didalamnya, harimau itu masuk kedalamnya, Art menggunakan tubuh besarnya untuk membuat gua tersebut berantakan, Zero menunggu diluar dengan tenang, Livia masih tertidur, Zero menggunakan beberapa teknik agar tidurnya tidak terganggu


"Kucing kecil, apa sudah selesai?" Teriak Zero, yang dipanggil tidak menjawab, Zero memanggilnya beberapa kali lagi, tapi Art tetap tidak menjawab, Zero kehilangan kesabarannya, dia mengutuk kucing itu dihatinya, Zero melangkah mendekat ke pintu gua, kemudian menggunakan kakinya untuk menendangnya, seketika suara keras terdengar, gua itu roboh seketika, menyisakan puing puing salju yang dibuat oleh Art,


"Kucing bodoh, dimana kau?" Teriak Zero, tapi tetap tidak terdengar apapun, Zero melangkah ke depan, mencari kucingnya diantara reruntuhan, setelah berjalan beberapa langkah, Zero melihat seekor harimau putih, kakinya terluka parah, tubuhnya yang penuh dengan bulu putih ternodai dengan merahnya darah, mulutnya diikat dengan tali emas, Zero menatapnya dengan teliti, 'tidak mungkin, kucing ini kekuatannya tidak rendah, hanya beberapa orang yang bisa menandinginya' pikir Zero, kemudian Zero maju ke tempat Art terluka, ketika dia hendak menyetuhnya, kucing itu berubah menjadi sesosok monster, tubuhnya panjang, kakinya berjumlah hampir seribu, kulitnya tampak seperti armor yang dibuat dengan sangat baik


"Sialan, monster rendahan berani mempermainkanku!" ucap Zero, mulutnya menyeringai dengan tajam, tatapannya penuh dengan niat membunuh, monster itu menyerang Zero, tapi dia menghindarinya dengan tenang, kemudian Zero berdiri diatas kepala monster, monster itu menggeram, Zero menginjak kepalanya dengan keras, monster itu langsung tersungkur, kepalanya menghantam tanah, isi kepalanya hancur, Zero langsung kembali ke tanah, menghindari kotoran monster.

__ADS_1


"Huuaaanmmm" Livia menguap, gadis itu terbangun dari tidurnya, rambutnya yang berantakan terlihat lucu, Zero menatap gadis itu, kemudian tersenyum.


"Ahh, ternyata yang mulia putri telah bangun, adakah yang bisa saya bantu" ucap Zero, nadanya sedikit usil, Livia masih setengah sadar, tidak memperhatikan Zero. Art muncul dari kejauhan sambil menggoyangkan ekornya, Zero menatapnya dengan cermat, kali ini dia tidak akan tertipu lagi, tapi tidak ada keanehan apapun, Livia menggosok matanya, lalu mengumpulkan kesadarannya, Zero menunggu harimau putih sampai kearahnya.


"Setelah selesai, masuk kembali" ucap Zero, setelah sampai, harimau itu tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung pergi menghilang, masuk ke dalam dimensi, sekarang Livia telah sepenuhnya sadar.


"Kita berada di mana?" Tanya Livia, wajahnya masih mengantuk


"Turunkan aku, aku ingin mencoba berjalan sendiri, mungkin lukaku sudah agak membaik" ucap Livia.


"Baiklah, Yang Mulia Putri" ucap Zero, kemudian menurunkan Livia secara perlahan, kaki mulusnya menapak tanah, tubuhnya mencoba mengambil keseimbangan, Livia melepas semua pegangannya, Zero kemudian menjauh, setelah beberapa saat, akhirnya Livia bisa berdiri dengan tegak.


"Ayo maju, nona" ucap Zero, senyumannya sedikit mencurigakan, Livia mengangguk, kemudian berjalan pelan, langkahnya masih bimbang, tidak bisa berdiri dengan tegak, tapi Zero mengabaikannya, setelah hampir satu jam berjalan, langit sudah sepenuhnya gelap, tidak ada penerangan apapun disana, dari jauh terlihat jurang sangat dalam yang dibuat Zero, angin malam mulai menyapa, pohon pohon bergoyang bagaikan penari di kegelapan, langkah Livia sangat lambat, Zero sudah agak jauh didepan, tangannya menyentuh pohon disampingnya, menyalurkan sedikit auranya dipohon, kemudian bersandar disalah satu pohon disana menunggu Livia. beberapa saat kemudian, Livia sampai di lokasi, Zero menunggu disana.

__ADS_1


'kenapa dia berhenti?' pikir Livia, dia berjalan menghampiri Zero, akan tetapi saat Livia berjalan beberapa langkah, akar pohon tumbuh secara pesat, menghalangi langkah Livia, akibatnya gadis itu terjatuh ke tanah, tangannya menopang tubuhnya untuk bangkit, pakaiannya kotor oleh debu, Zero yang melihatnya langsung menghampirinya.


"Oh tidak, nona cantik terjatuh, bagaimana bisa aku mengabaikannya" ucap Zero, raut wajahnya menahan tawa, nadanya membuat siapapun yang mendengarnya akan kesal, Livia menatap Zero, memandanginya dengan marah, kemudian Livia dengan cepat mengumpulkan beberapa kekuatan yang tersisa untuk menghajar Zero. Livia mengeluarkan pedangnya, kemudian dengan marah membuat beberapa tebasan, Zero tidak menghindarinya, dia hanya berdiri tegak di tempat, menunggu serangan gadis itu menghampirinya, tebasan Livia menghancurkan tanah ditempat Zero, pohon pohon tumbang, suara monster menjerit keras terdengar sekali lagi, bagaimanapun Livia tetaplah seseorang dengan peringkat Gold, satu tingkat dibawah Zero, tapi jurang antara satu tingkat bagaikan langit dan bumi, pada saat hampir mengenai Zero, tebasan itu menghilang, seolah ditelan oleh sesuatu, Livia melancarkan beberapa serangan lagi, hasilnya tetap sama, Zero tersenyum licik, Livia yang melihatnya tambah kesal dan marah, senjatanya dilemparkan kearah Zero, lalu pedang itu tertelan lagi, menghilang entah kemana.


"Yang mulia tercantik mengamuk, siapa yang membuatnya marah, aku akan menebasnya dalam sekejap" ucap Zero dengan teriakannya, perkataannya membuat Livia tambah marah, tapi bagaimanapun dia tidak bisa menang melawannya.


"Ya, seseorang membuatku sangat marah" ucap Livia, dia mengikuti permainan Zero


"Siapa itu, yang mulia?, saya akan membuatnya mati mengenaskan" ucap Zero dengan tersenyum licik


"Dia mempunyai wajah jelek, rambutnya acak acakan, mulutnya bisu, tampangnya mengerikan, haisshh" ucap Livia dengan nada mengejek, Zero mengangguk tak lama setelahnya.


"Baik, yang mulia. saya akan mencarinya sekarang, saya tidak akan kembali sebelum menemukannya, walaupun orang itu kabur ke ujung dunia, aku tetap akan mencarinya" ucap Zero, kemudian membungkukkan badannya, setelah itu menghilang tanpa jejak di udara.

__ADS_1


__ADS_2