
Pagi itu, Livia terdiam sejenak, mengulangi momen tersebut dipikirannya, dia menyentuh mahkota bunga pemberian Zero, Livia melepasnya, dia mencubit tangannya, memastikan antara kenyataan atau mimpi, Livia merasakan sakit ditanganmya, menyatakan yang barusan terjadi memanglah kenyataan, Livia melihat mahkota lagi, dia ingin membuangnya, begitu ingin terbuang, Livia melihatnya sekali lagi, karangan bunga mawar terlihat sangat cantik, baunya begitu harum, perlakuan manis dan pahit dari Zero membuatnya bimbang, Livia memutuskan untuk menyimpannya.
"Hufft, ayo semangat Livia, kamu pasti bisa" ucap Livia kepada dirinya sendiri, berusaha melupakan kejadian yang baru terjadi, tetapi ingatan itu tidak bisa dilepaskannya, akhirnya Livia menyerah, melangkah masuk kedalam gua, menemui Tifa yang menunggu didalamnya.
Disisi lain, Zero mengejar mereka bertiga secara cepat, gerakannya sunyi, tidak menampilkan suara dan angin, tidak ada jejak sedikitpun. Suara senjata berdentang terdengar dari jauh, Zero langsung menuju kesana, setibanya Zero, dia melihat orang yang dibawa Tifa sedang bertarung dengan seekor burung elang raksasa, paruh hitamnya terlihat gagah, sayapnya melebar mengenai pohon pohon disana, menyebabkan beberapa pohon disana tumbang, Zero berdiri disalah satu batang pohon, memandangi mereka dari jauh.
"Jika diteruskan, mereka akan mati" ucap Zero, dia bersandar dengan kakinya tertekuk di pohon, Zero menghembuskan nafasnya, 'aku pikir, mereka diburu oleh seseorang' pikir Zero, setelah beberapa helaan nafas, dua diantara mereka tumbang, menyisakan satu orang yang bersiaga menahan musuh, Zero akhirnya memutuskan untuk ikut campur, kekuatan burung elang tersebut setidaknya dua tingkat dibawah Zero, burung raksasa terus menyerang dengan cakar dan paruhnya, sayapnya mengeluarkan api dengan ganas, membakar semua yang ada dalam jangkauannya, mereka kewalahan, sudah tidak sanggup bertarung, Zero masuk dalam pertempuran, disambut dengan api yang keluar dari mulut buruk raksasa.
"Enyahlah" ucap Zero, niat penuh membunuh tertuju pada burung raksasa, sementara tiga orang tidak bisa merasakannya, api burung menghilang tanpa jejak, Zero belum membunuh banyak orang, tapi niat membunuhnya merupakan sesuatu yang hanya bisa dicapai oleh sosok iblis kejam. Burung elang gemetar melihat Zero, yakin tidak bisa mengalahkan lawan didepannya, tiga orang itu penuh kebingungan.
__ADS_1
'burung elang raksasa dengan paruh hitam adalah ras yang langka, kekuatannya ditakuti, bahkan selevel komandan kerajaan tidak bisa begitu saja berurusan dengannya jika tidak ingin mati, bagaimana bisa orang itu dengan mudah membuatnya ketakutan' pikir mereka, mereka mengamati situasinya setengah tidak percaya, Zero menarik niat membunuhnya, membiarkan burung elang raksasa merasakan nafas segar sejenak, Zero menginjakkan kakinya ketanah, kekuatannya terpusat pada satu titik dikakinya, burung elang raksasa panik, sayap dikibaskan secara tidak beraturan, menyebabkan goyah di titik lain, Zero menarik semua pembatasnya, kemudian melangkah di atas angin, menuju elang raksasa, saat tepat didepan kepalanya, Zero menendangnya tepat dibagian otaknya, isinya hancur berceceran dimana mana, darah yang bercampur dengan api menetes dan membakar hutan, ketiga orang itu sangat terkejut, sangat kuat, mungkin begitulah pikir mereka.
"Nice Move" ucap Zero dengan senyuman di wajahnya, kakinya mendarat dengan halus saat tiba di permukaan, darah dari binatang elang raksasa menguap tanpa sisa ketika Zero hendak tiba, ketiga orang itu langsung menundukkan kepalanya, berterima kasih kepada Zero. Zero hendak pergi, saat itu juga salah satu dari mereka bertanya.
"Kalau boleh tahu, siapa nama anda, tuan?" Tanya seorang pemuda dengan rambut pirang panjang, posturnya hampir seperti pria pada umumnya.
"Omong omong, jaga sikapmu" ucap Zero dengan santainya, tapi kata kata yang diucapkan Zero membekas di benak mereka, mereka kebingungan, memikirkan apa yang dikatakan Zero barusan, Zero telah pergi, melangkah diatas angin, mengarungi lautan pohon yang tak terbatas, sejauh mata memandang, disekelilingnya hanya terdapat pohon yang sama, tidak ada dedaunan sama sekali. Setelah beberapa menit, Zero berhenti.
"Aku ingin tahu batas kekuatanku saat ini" Zero berhenti diatas udara, melayang diantara pohon pohon, Zero melirik tangannya, memikirkan kekuatan dari ribuan teknik yang dibuat dan sudah digabungkannya, dia menyeringai, hatinya tidak bisa menahan kegembiraan, Zero mengangkat kedua tangannya ke langit, disinari oleh cahaya, tangannya bersinar diantara ribuan pohon.
__ADS_1
"Dark Star, datanglah!" Ucap Zero dengan lantang, suaranya menggema, menggetarkan langit, awan awan yang menutupi hutan terlarang menghilang, digantikan dengan pemandangan mengerikan didepan mata, retakan dilangit muncul, sebuah kegelapan menguasai tempat didalamnya, monster monster di hutan terlarang berbondong bondong lari menjauh, perasaan takut muncul didalam diri mereka, kegelapan itu tidak kecil, melainkan menutupi seluruh langit didunia, orang orang dari seluruh dunia merasa cemas, takut dan perasaan lainnya, Zero menatap kelangit tanpa ragu, bola hitam yang sangat besar, lebih besar dari apapun yang pernah dilihatnya, bahkan didalam kegelapan sekalipun, bola hitam itu lebih pekat dari apapun, kekuatannya berada diatas puncak dunia ini, Zero tersenyum puas, kartu as nya sudah terlihat oleh semua orang, tapi orang orang tidak tahu siapa pemilik kartunya, Zero memutar tangannya dilangit, seperti menyegel sesuatu, kegelapan mulai meredup, retakan dilangit mulai meregenerasi, Zero menurunkan tangannya, kemudian menghela nafas dengan pelan.
"Gabungan antara kekuatan ruang dan atribut kegelapan sungguh tidak mengecewakan" Ucap Zero yang lantas tertawa dengan riang, kali ini kekuatannya hampir tersedot habis, konsumsi auranya sungguh sangat rakus, meskipun begitu Zero bisa memulihkannya dalam sekejap. Retakan dilangit masih tersisa, kegelapan masih mendominasi langit, cahaya matahari tidak bisa menembus kegelapan, dunia masih gelap gulita, bertanya tanya apa yang barusan terjadi, orang orang dari seluruh dunia menyaksikan datangnya bola hitam yang kemudian menghilang, rasa takut dalam diri mereka semakin dalam.
"Yah, sepertinya mereka terkejut, kurasa akan lebih mudah" Zero berbalik arah, meninggalkan bekas auranya disana, dunia masih memburuk, efek dari kekuatan Zero membuat semua orang panik, Zero melangkah pergi, aura hitam ditempat Zero melakukan aksinya sangat pekat, mengalahkan elemen lain disekitarnya, membuatnya semakin suram, bahkan hutan terlarang sendiri tampak lebih menakutkan sekarang, Zero berhenti disuatu pohon tak jauh dari sana, dia berbaring diatas pohon, memandangi langit yang gelap, itu tidak seperti malam biasanya, lebih terlihat seperti malam tanpa cahaya apapun, hanya ada kegelapan yang mengisinya.
Setelah beberapa saat, waktu sudah hampir sore, langit mulai membaik, keadaan sudah hampir pulih, hutan terlarang tidak jauh berbeda dengan situasi diluar, hanya saja kegelapan dihutan terlarang lebih pekat, Zero membuka matanya, dia perlahan bangun dari tidurnya, dia bangkit dari tidurnya yang diatas batang pohon, menatap lautan pohon yang berdiri dihadapannya.
Ditempat yang sangat jauh, seseorang memerhatikannya, entitas yang tak terbayangkan, kekuatan yang jauh melampaui imajinasi, dia mengamati Zero dibalik langit.
__ADS_1