
Berada di atas awan, mereka berdua melewati berbagai tempat dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya setelah satu jam berlalu Zero dan Livia akhirnya melihat sebuah tanah lapang, ada ratusan ribu pasukan yang berjalan disana, bersiaga untuk pertempuran, mereka membawa bendera dengan lambang Kerajaan Api, Zirah pasukannya juga disertai dengan lambang Kerajaan Api diseluruh bagiannya.
Musuh juga tidak kalah sangar, pasukan Kekaisaran bahkan lebih hebat, Zirah mereka terbuat dari emas murni, pasukan terdepan membawa perisai dan tombak yang terhunus ke depan, mereka sedang bersiap untuk pertempuran yang akan terjadi, aura dari tubuh mereka tidak lemah, setidaknya yang paling lemah berada di Rank E, tidak heran mereka adalah pasukan terkuat si benua ini, jumlah mereka hanya dua ratus ribu, setengah lebih sedikit daripada pasukan Kerajaan Api.
"Mau ikut berperang?" tanya Zero, dia tergoda untuk membantai musuh, seringai terlihat diwajahnya.
"Tidak, pasukan Kekaisaran tidak akan kalah begitu saja." tegas Livia, matanya dipenuhi dengan keyakinan.
"Baiklah, lagipula mudah untuk membantai mereka semua." Zero terus melanjutkan perjalanan, melewati pasukan Kekaisaran begitu saja.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di perbatasan, benteng pertahanan dibentuk sangat tinggi, ada lapisan pelindung yang menghalangi untuk terbang disana, walaupun tidak berguna bagi Zero karena kekuatannya berada di puncak yang bisa dicapai di dunia ini.
Zero mendarat dengan mulus di depan benteng, dia mendatangi pasukan yang berjaga disana.
"Berhenti!" Kata salah satu pasukan, penjaga yang lain melihatnya, mereka kemudian langsung bersiaga, begitu waspada terhadap orang yang tidak dikenal. Livia menunjukkan wajahnya dari balik punggung Zero.
"Bawa aku ke Komando Pasukan." ujar Livia.
"Siapa kalian?" Teriak pasukan itu, membuat penjaga benteng lainnya mempersiapkan posisi pertahanan.
"Sampaikan saja ke Komando Pasukan, Putri Sang Kaisar disini." imbuh Zero, menbuat para pasukan penjaga benteng terkejut.
Penjaga benteng yang berbicara dengan mereka berdua bergegas masuk setelah mendengar kata kata Zero, akan berbahaya jika mereka semua dieksekusi hanya karena menyinggung Keluarga Kekaisaran.
Setelah beberapa saat, seseorang berjalan keluar dari Benteng, tubuhnya dipenuhi dengan Zirah emas berkualitas tinggi, auranya bahkan berada di Rank -D, dua tingkat dibawah Zero. Pedang berwarna emas terbungkus pinggangnya, siap untuk mengeluarkannya kapan saja. Begitu dia melihat Livia, komandan pasukan itu terkesiap melihat wajah Tuan Putrinya.
"Letnan Jenderal Fang memberi hormat pada Yang Mulia Putri." Komandan Pasukan menyambutnya, dia segera bersujud setelah melihat Putri Kaisar. Para pasukan penjaga yang lain segera bergegas datang dan mengikutinya.
__ADS_1
"Bangunlah, bagaimana situasinya sekarang?" tanya Livia.
"Itu tidak sopan jika bertanya seperti ini. Itu akan mempengaruhi citra burukmu di pasukan militer." ucap Zero, menyarankan Livia untuk segera turun dari punggungnya.
Livia mengangguk menanggapi saran dari Zero. Livia turun dari punggungnya, kemudian berdiri di samping Zero.
"Yang Mulia, situasi sekarang tidak akan bertahan lama, garis perbatasan di daerah pertahanan ini tidak akan sanggup bertahan terus menerus, pasukan musuh selalu berdatangan tanpa henti, tidak hanya disini, bahkan di perbatasan timur dan selatan juga mengalami hal yang sama. Tapi yang mulia memerintahkan untuk terus menahannya, kemungkinan beliau punya rencana." Letnan Jenderal Fang menjelaskan.
"Ini tidak bagus, aku akan pergi sekarang. Terima kasih." Livia berjalan ke benteng diikuti dengan Zero. Para pasukan penjaga memberi jalan untuk mereka.
"Livia, kamu terlihat luar biasa saat berbicara dengan komandan pasukan itu." Zero memujinya. Livia tercengang mendengarnya, jarang jarang Zero memujinya dengan benar, tidak seperti biasanya. Livia tidak bisa menahan dirinya untuk salah tingkah, melompat ke punggung Zero kembali untuk digendong.
"Lebih baik bertingkah seperti ini, kamu lebih luar biasa lagi jika terus feminim seperti ini." Zero tertawa pelan, Livia mengeratkan lengannya, bersiap untuk berangkat kembali.
Para pasukan penjaga melihat Zero dan Livia dengan heran, Putri Kaisar mereka yang dikabarkan hilang telah kembali dengan membawa seorang pria setelah kabur dari pernikahannya dan terlihat mesra dengan pria tersebut, Kaisar mungkin akan terperangah melihatnya.
Zero mempersiapkan kuda kuda, auranya mengumpul disekitar, tanah bergetar pelan, Zero melesat ke langit kembali, meninggalkan bekas tanah berlubang, para pasukan dibuat takjub melihatnya, mereka belum pernah melihat teknik yang begitu cepat dalam hidup mereka.
"Tentu saja bukan, aku bisa berpindah tempat ratusan ribu mil dalam sekejap mata, tapi syaratnya aku harus terlebih dahulu mengunjungi tempat itu." Jelas Zero, mereka masih berada di ketinggian ribuan meter dari tanah.
"Kenapa kamu memberitahuku? Bukankah seharusnya berbohong" Livia heran dengannya, mereka tidak begitu dekat, seharusnya Zero tidak memberitahunya apalagi mengenai tentangnya yang berpindah dunia.
"Karena kamu bertanya dan aku mempercayaimu." ungkap Zero.
"Tidakkah kamu takut bahwa aku akan berkhianat dan menyebarkan rahasiamu?" Livia terus menanyakan.
"Livia, aku menyukaimu." papar Zero, perkataannya membuat wajah Livia merah padam, Livia tersipu malu kemudian membenamkan wajahnya dibalik punggung Zero.
__ADS_1
"Apa kamu serius?" tanya Livia, dia terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya pada dunia dan terus tenggelam.
"Tentu saja, untuk apa aku melakukan segalanya hanya untukmu, bahkan sampai datang kesini untukmu." Ungkapnya. Tapi Livia sedikit tidak percaya. Meskipun begitu dia mengharapkannya jauh didalam hatinya.
'bahkan jika itu salah, aku mungkin akan mencintaimu' batin Livia, bibirnya membentuk senyum hangat yang disembunyikan dibalik punggung Zero.
Melihat Livia tersipu, Zero menggenggam Livia lebih erat, dia menaikkan kecepatan saat melayang diudara.
~~
Dihadapan mereka adalah sebuah Kota yang sangat besar, berlokasi di tengah tengah daerah Kekaisaran Langit. Orang orang beterbangan kesana kemari, banyak orang yang kekuatannya diatas rata rata pada warga kota lainnya. Ini adalah Ibukota Kekaisaran Langit, Ibukota Faiyum.
"Kemana selanjutnya?" tanya Zero, membuat Livia terbangun dari lamunannya, sejak tadi Livia terus kepikiran dengan ungkapan Zero yang membuatnya malu sepanjang jalan.
"Langsung saja ke Istana." Sahut Livia.
Zero mendarat dikerumunan ditengah Kota, bangunan bangunan yang tampak mewah mengelilinginya, Zero membaur dengan kerumunan, menyembunyikan auranya agar tidak terdeteksi. Livia segera turun, berdiri dibelakangnya.
"Ayo pergi, sudah lama aku tidak kembali." Livia berlarian disepanjang jalan, melupakan lamunan barusan. tidak ada yang mengenalnya karena sang Putri sendiri tidak pernah keluar dari Istana.
Zero buru buru mengejarnya, meraih tangannya agar tidak kehilangan jejak.
"Jangan berlarian atau kita akan terpisah." Zero menggandengnya kembali di tengah kerumunan, Livia mengangguk singkat, kemudian memimpin jalan untuk ke Istana.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai ke Istana, sebuah bangunan yang sangat megah dan berkelas berdiri dihadapan mereka, tiang tiang berdiri tegak, sebuah taman yang sangat besar berada di balik gerbang Istana Kekaisaran. Ada sepasang penjaga yang kekuatannya tidak lebih lemah dari Letnan Fang.
Livia menunjukkan sebuah anting yang dikenakannya dihadapan kedua penjaga, lantas mereka membiarkan Livia masuk begitu saja. Livia menarik Zero untuk masuk mengikutinya, berjalan diantara taman yang sangat luas.
__ADS_1
"Apa itu tadi?" Zero penasaran dengan anting Livia, dia tidak pernah melihatnya karena selalu tertutupi rambutnya.
"Oh ini? Ini adalah lambang keluaraga Kekaisaran, setiap generasi memilikinya, saat ini hanya ada dua orang yang memilikinya, aku dan ibuku." Jelas Livia, dia mengangkat sebagian rambutnya, memperlihatkan sepasang anting yang sangat cantik, anting itu sepertinya hanya aksesoris biasa yang tidak memiliki efek apapun, hanya saja bahannya sangat langka.