Destiny King

Destiny King
Kebersamaan


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, Livia, Tifa dan teman temannya menunggu didalam gua, mereka membuat gua itu menjadi lebih hidup, tidak seperti sebelumnya, Tifa sudah menjelaskan seluruh situasinya kepada Livia, pemberontakan dimulai dua tahun lalu, tiga kerajaan, kerajaan yang ditinggali Zero dari awal hingga sekarang terlibat dalam pemberontakan itu, kerajaan Apj, dan yang lainnya disebut kerajaan Air dan kerajaan Bumi, tiga kerajaan memberontak untuk melengserkan kekaisaran saat ini, sementara kerajaan kegelapan yang rata rata dihuni oleh iblis tidak ikut campur, ratusan ribu pasukan dari tiga kerajaan berperang melawan kekaisaran, perbedaan kekuatan tetap dimenangkan oleh kekaisaran Langit, akan tetapi jumlah yang dikirim oleh ketiga kerajaan semakin banyak, perang terjadi dimana mana, penjagaan disuatu kota diperketat, Ibukota tidak bisa dimasuki secara sembarangan, pasukan mereka ada dimana mana, pertumpahan darah dikota tidak bisa dihindari, bahan makanan menjadi semakin menipis, bahkan lebih dari seribu orang meninggal setiap harinya akibat kelaparan, keluarga Livia masih berada diistana kekaisaran dengan aman, tapi kemungkinan tidak akan bertahan lama, tidak lama sebelum ini, beberapa bulan yang lalu, raja dari kerajaan Apj menerobos tingkat ke Adamantium, meningkatkan beberapa persen kemenangan melawan kekaisaran.


"Jadi bagaimana kamu bisa masuk kedalam kerajaan ini, bahkan menjadi petinggi pasukan?". Tanya Livia, wajahnya semakin membaik, dia tidak lagi khawatir untuk masalah kekaisaran saat ini.


"Aku diutus oleh yang mulia kaisar untuk memata matai kerajaan yang lainnya, beliau khawatir soal kerajaan yang akan menyerang mendadak". Kata Tifa dengan hati-hati, teman temannya saat ini dibawah komando Tifa, mereka bertiga direkrut oleh Tifa sendiri secara diam diam, Tifa membayarnya dengan harga yang sepadan. Yang berambut pirang bernama frank, satu lelaki lainnya memiliki rambut hitam bernama Karl, sementara yang satu satunya gadis yang tersisa bernama Julie.


"Mohon maaf yang mulia, izinkan hamba untuk bertanya" tanya Karl. "Silahkan, tidak perlu begitu formal, kita tidak sedang diKekaisaran". Livia mempersilahkan.


"Kalau begitu, izinkan aku, yang mulia. Bagaimana anda bisa selamat hingga saat ini, dua tahun yang lalu, diseluruh tiga kerajaan, mereka berlomba lomba untuk mencarj anda, raja di tiga kerajaan menawarkan bagi siapapun yang mendapatkan anda, akan mendapat hadiah setengah harta dari salah satu kerajaan, orang orang mulai mencari anda, tapi setelah beberapa bulan pencarian itu tidak menghasilkan apapun, orang orang akhirnya menyerah, tapi ada beberapa orang yang tetap mencari anda hingga saat ini" Karl menjelaskan kejadian tahun itu.


"Yah kejadian itu tidak terelakkan, aku kabur dari rumah, seluruh istana mencariku saat itu, tapi tidak ada yang berhasil, kabarnya mulai menyebar, jadi mereka menggunakan itu untuk mencariku ya, hmmm. Mengenai pertanyaanmu, aku hanya beruntung". Jawab Livia, dia menatap keempat orang itu dengan seksama.


"Sungguh keberuntungan yang bagus" Zero muncul tiba tiba dengan suara khasnya. mereka terkejut mendapati Zero yang muncul entah dari mana dan tiba tiba berada dibelakang Livia, menepuk pundaknya dengan pelan.

__ADS_1


"Darimana saja kamu?" Livia berbicara dengan pelan, "dan juga, apakah langit gelap beberapa harj kemarin itu perbuatanmu?" Livia menambahkan.


"Aku dari suatu tempat yang terpencil, aku terperangkap disana, setiap malam aku menangis merindukanmu, hiks, dan juga aku tidak melakukan apapun" ucap Zero, tatapannya memelas, memohon kepedulian dari mereka. "Bercanda." Tambah Zero, kemudian tertawa. Mereka semua memandangnya, dalam hati, mereka berpikir jika Zero agak gila.


"Berhenti menggodaku." Tegas Livia, wajahnya cemberut.


"Tidak ada, aku hanya melakukan apa yang aku inginkan." Jelas Zero, tapi tidak ada dari mereka yang mempercayainya, bagaimana mungkin seorang pria dengan aura yang mendominasi dan tak tertahankan tidak melakukan apapun yang mencurigakan, bahkan menggoda putri kaisar sendiri jelas merupakan hal yang dilarang.


"Kenapa?, Kalian tidak percaya?" Tanya Zero, dia menatap orang orang baru itu, senyumnya diangkat selebar mungkin, Livia yang berada didepan Zero tidak melihat apapun. "Aku percaya." Serentak mereka berempat, mereka semua kemudian berbincang satu sama lain hingga sore hari, tapi ketika Zero menegaskan sesuatu, mereka semua harus menurutinya, jadi itu tidak bisa disebut perbincangan. Mereka berempat datang kesini untuk mengambil inti jantung dari elang raksasa paruh hitam, yang bisa digunakan untuk salah satu resep obat, mereka dikejar oleh pasukan Kerajaan Api karena sudah diketahu merupakani pengkhianat, perintah itu sendiri diserukan oleh Raja Kerajaan Api, akibatnya mereka tidak bisa lagi kembali ke Kerajaan Api, mereka akan kembali ke Kekaisaran malam ini juga, dan memberitahukan bahwa Putri Livia masih hidup, itu akan sedikit menghilangkan stres Kaisar.


"Siapa yang peduli dengan itu, terserahmu" ucap Zero. Tifa dan temannya berdiri, bersiap untuk pergi.


"Apa kita akan pergi sekarang?" tanya Livia. "Iya" Tifa mengangguk. Livia merapikan barangnya, juga bersiap untuk pergi, Zero hanya melihat dengan diam, tidak berkata apapun. setelah membereskan semua barang mereka, mereka mulai melangkah keluar dari gua, menuju halaman tempat hutan terlarang, ketika malam, monster dihutan terlarang lebih agresif, tapi berkat Zero tidak menutupi auranya, monster monster tidak akan mendekat.

__ADS_1


"Ayo pergi." Livia tampak senang, dia menjejakkan kakinya diluar gua, sudah lama Livia tidak pulang, mereka semua sudah keluar kecuali Zero, Livia membalikkan badannya.


"Ada apa?" Tanya Livia penasaran. "Aku tidak ikut." Zero bersandar di dinding pintu gua, menatap mereka dengan seksama. Livia mendekati Zero.


"Kenapa?" Tanya Livia. "Yah jika kamu memaksanya, kalau begitu aku ikut" Zero berbisik. yang lainnya hanya memandangi mereka dengan tatapan bingung.


"Aku bahkan belum memaksamu." Jelas Livia, dia dibuat kesal oleh Zero lagi.


"Oh ya, dimana mahkota pemberianku?" Zero berbisik kembali di telinga Livia, gadis itu malu sekarang, mengingat kembali kejadian hari itu.


"Diamlah" teriak Livia, pipinya memerah bagaikan tomat, dia meremas wajahnya sendiri, berharap Zero tidak melihatnya.


"Jangan dibuang, mungkin saja itu adalah hadiah terakhir yang bisa kuberikan." ucap Zero, dia mengelus rambut Livia, mengacak acak rambut putih cantiknya, kemudian Zero melangkah menuju kelompok Tifa, meninggalkan Livia yang masih diam disana. Dia memikirkan kata kata yang diucapkan Zero barusan. 'apa dia akan pergi?'. pikir Livia, dia menengadahkan pandangannya, kemudian menatap Zero.

__ADS_1


"Ayo, Ratuku." Zero menatap Livia yang melamun dalam pikirannya sendiri, gadis itu menatap mereka semua, kakinya tanpa sadar berjalan kearahnya.


Mereka bersama sama melangkah, dipimpin oleh Tifa, berjalan untuk keluar darj hutan terlarang, langit sudah tidak segelap sebelumnya dibagian luar hutan, tapi didalam hutan terlarang kegelapan masih tersisa. Mereka menyusuri hutan terlarang satu demi satu, karena hutan terlarang sangat luas, tidak mungkin menemukan jalan keluar dalam waktu singkat.


__ADS_2