
Malam masih panjang, diantara ribuan pohon hutan terlarang, Zero menyentuh tangannya, rasanya dingin, Livia tidak bereaksi apapun. "Livia." ucap Zero dengan lembut.
"Kenapa kamu berhenti?" Livia menggerutu pelan, suaranya hampir tidak terdengar, tapi pendengaran Zero sangat tajam. Zero menghela nafas, kemudian duduk disamping Livia, menatapnya dengan dalam. Livia tetap menundukkan wajahnya, tidak melihat Zero sedikitpun.
"Hmm, kalau begitu, kamu harus mendengarnya dengan baik." nadanya sangat rendah, bisa dipastikan jika Zero melunak, berbeda dengan sebelumnya, mungkin saja jika seorang gadis ingin berurusan dengannya, dia harus menangis terlebih dahulu. Zero mengangkat tangannya, menyentuh rambut Livia yang berantakan, Zero mulai merapikannya, tangannya bergerak pelan merapikannya, aroma wangi tercium Zero, 'gadis ini, walaupun tidak mandi, dia masih tetap beraroma wangi' pikir Zero. rambut Livia menjadi tertata rapi setelah itu, Livia tidak melawan, dia membiarkan Zero melakukannya.
"Apa kamu penasaran?" tanya Zero, dia berhenti menata rambut Livia, Zero memandangi gadis disebelahnya, Livia mengangguk singkat.
"Aku akan menceritakannya." Zero berdeham pelan. "Aku menjalani rutinitas seperti biasanya, mengumpulkan uang, bermain dan sebagainya. Tiga tahun aku menjalani kehidupan seperti biasa, tidak ada yang istimewa atau apapun itu. hingga suatu malam, aku tidur seperti biasanya, tidak ada yang aneh, tapj ketika aku membuka mataku. sekitarku telah berubah, dihutan sendirian tanpa ada siapapun. Aku menyadari jika kekuatan ditubuhku bertentangan dengan dunia, aku dikirim tanpa mengetahui apapun tentang dunia ini, entah apa alasannya aku berada disini." jelas Zero, dia menghembuskan nafas dengan kasar.
"apa kamu benar-benar bukan dari dunia ini?" tanya Livia, suaranya kali ini terasa lebih baik. Zero melirik Livia, gadis itu masih mengurung diri dengan kakinya. "Itu benar." jawab Zero, kemudian tersenyum hangat.
Livia mengangkat wajahnya yang masih tampak lesu, matanya masih memerah akibat menangis, air matanya telah hilang, menyisakan jejak yang tertinggal, Livia menatap Zero. "Apa kamu sudah memaafkanku?" Tanya Zero. Livia masih diam menatapnya, bibirnya melengkung kebawah, sepertinya dia belum memaafkannya.
__ADS_1
"Diam berarti iya." Zero memutuskan, tidak menunggu jawaban Livia, kemudian tertawa pelan, Livia yang melihatnya mssih terpaku diam, tidak berbicara, membuat situasinya kembali canggung. "Apa yang kamu inginkan?" Zero bertanya kembali. Livia menatap lurus, mengalihkan pandangannya dari Zero. Livia meluruskan kakinya, lututnya pegal karena tertekuk beberapa waktu, gadis itu menegakkan tubuhnya, perlahan menyandarkan tubuhnya ke Zero.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Zero, berusaha bersikap baik. Zero membiarkan dirinya menjadi sandaran bagi Livia, gadis itu tetap diam. Zero tidak tahan lagi dengan Livia yang tidak berbicara satu katapun. "Apa kamu bisu, Nona?" Zero mencubit hidung Livia ringan.
"aku tidak bisu, kenapa kamu memutuskan untuk membantuku?" Kali ini giliran Livia yang bertanya. "Bukankah waktu itu aku sudah mengatakannya." jawaban Zero santai.
"Bohong." Singkat tapi padat, Livia berhasil membongkarnya, ucapannya bagaikan duri dihatinya, gadis itu tetap memasang wajah datar. Zero tidak tahu harus berkata apa, tangannya bergerak kearah Livia, menyentuh pipinya dengan lembut. "Ini sangat kenyal, ini dirawat dengan baik." Zero masih menyentuh pipinya, Livia tidak menahannya, dia membiarkan Zero melakukannya.
Dalam sunyinya malam, mereka berdua tampak seperti pasangan yang serasi, tidak ada yang mengganggunya, bahkan serangga tidak berani mendekati mereka. Zero melepaskan tangannya dari wajah Livia, tapi gadis itu menangkap tangan Zero, kali ini rasanya hangat. "Kenapa berhenti?" Livia bertanya sambil menggenggam tangan Zero.
Zero menyentuh kening Livia, seperti memastikan sesuatu. "Apa kamu sakit?" tanya Zero, di membalikkan telapak tangan. "Tidak." jawab Livia singkat.
"Apa kamu tidak khawatir dengan mereka berempat?" tanya Zero. Livia menggeleng, gadis itu menutup matanya, kembali bersandar dipundak Zero. 'Berapa kalipun aku dibuat kesal olehnya, aku tetap tidak bisa membencinya' ucap Livia dalam hatinya, gadis itu tersenyum. Zero mengangkat tangannya, menatap langit dari sela sela jarinya.
__ADS_1
><
><
Keesokan harinya. "Bisakah sedikit lebih cepat!" Livia berteriak, dia melirik kebelakang dimana Zero berada. Zero memberikan jari tengahnya, "gadis sialan." Zero menyeringai, Livia tertawa sepanjang jalan. Perut Zero terasa sangat sakit. malam itu, ketika Zero lengah, Livia memberikan pukulan yang cukup kuat diperut Zero, akibatnya Zero kesakitan, ketika Zero ingin membalasnya, gadis itu berkata. "Itu untuk kesekian kalinya kamu mengusili.", Dan setelah itu, Livia kembali bersandar padanya, Zero bingung setengah mati. dia mengurungkan niatnya untuk membalas Livia karena tidak tega.
Livia melaju sangat cepat, Zero tertinggal agak jauh dibelakang, sebenarnya Zero bisa langsung menyembuhkannya, tapi tidak dilakukan. Mereka melintasi pepohonan dengan kecepatan tinggi. Livia berhenti mendadak, mengejutkan Zero yang dibelakangnya, mata Livia membelalak, dia melihat jurang dihadapannya, Livia berdiri dipinggir tebing, menunggu Zero datang. Dibawahnya terdapat hutan yang berbeda, jika dihutan terlarang tampak seperti tidak ada kehidupan, hutan dibawahnya tampak sangat hidup, dedaunan tersebar terlihat dimana mana, sejauh mata memandang terdapat warna hijau dari pohon pohon.
Zero melihat Livia berhenti, dia langsung menyembuhkan dirinya tanpa sepengetahuan, Zero tiba tiba menghilang dari tempatnya dan muncul disamping Livia. Zero melirik Livia, gadis itu masih terpesona dengan pemandangan itu, Zero tersenyum lebar. "Selamat tinggal, Nonaku." Zero menendang pantat Livia, kakinya bergerak sangat cepat, akibatnya Livia terjatuh kedalam jurang, Zero melihatnya dari tepi jurang dengan tersenyum, Zero melambaikan tangannya.
Suara angin berhembusan melewati tubuhnya, Zero masih mengamati Livia, anehnya Livia tidak melakukan apapun, dia membiarkan dirinya terjatuh. "Kenapa dia tidak terbang? apa yang direncanakannya?" Zero berpikir keras, menebak apa yang akan terjadi jika dirinya menolong Livia.
Zero tersenyum lebar, dia duduk dipinggir jurang, mengawasi situasi yang akan terjadi. Livia menutup matanya, gadis itu mengerucutkan bibirnya, pantatnya terasa sedikit sakit ketika dipukul Zero. Satu detik sebelum jatuh ke tanah, angin mulai mengumpul disekitar Livia, memberikan pendaratan yang bagus, tapi setelah itu Livia langsung pura pura terjatuh, dia menabur darah palsu yang sangat banyak disekitarnya, gayanya seperti orang matj. berharap mangsanya jatuh kedalam perangkapnya.
__ADS_1
"Aku akan melihat yang kau rencanakan?" ucap Zero dengan lirih, dia menghilang dalam sekejap dari tempatnya, langsung berpindah di salah satu pohon yang ada didekat Livia. Zero duduk diatas pohon, kakinya menggantung diudara bagaikan ayunan, sedang melihat Livia terbaring dengan darah palsu disekitarnya. "Nona, anu mu terlihat" Zero dengan santai mengucapkannya sambil melihat Livia yang terbaring dengan gaya mati, pakaiannya memang berantakan, tapi Zero hanya membual.