Destiny King

Destiny King
Ilusi Semata


__ADS_3

Livia membuka matanya, begitu terbangun dari tidurnya, yang pertama kali dilihatnya adalah Zero, matanya terpejam, air liurnya menetes ke bawah, Livia tampak kebingungan, kepalanya terasa sangat nyaman, tenaganya sudah kembali, tubuhnya kembali bugar, Livia menatap Zero beberapa saat, tangannya tanpa sadar menyentuh pipinya.


"Kamu baik juga, ternyata" ucap Livia dengan pelan, dia tetap berbaring di paha Zero, tubuhnya tidak ingin bangun untuk sekarang, Livia ingin menikmati saat waktu yang singkat ini, dia memandangi wajah Zero, 'dia manis ketika tidur, dan mengerikan ketika bangun' pikir Livia tanpa sadar. Zero perlahan bangun dari tidurnya, ketika bangun, hal pertama yang dilihatnya adalah Livia yang sedang tersenyum menatapnya, Zero balas tersenyum


"Nona, jika kamu seperti itu, aku akan bersedia menyerahkan hidupku padamu" ucap Zero, dia mengusap mulutnya, menyeka air liur di bibirnya, 'terkutuklah aku, dia bangun dan mengucapkan kalimat yang mengerikan ketika baru terbangun dari tidurnya' pikir Livia, gadis itu duduk sejajar dengan Zero.


"Sepertinya ada beberapa orang diluar sana" Zero menjelaskan, tangannya menyentuh jubah hitam yang dipakai Livia dan merapikannya.


"Pakai itu, jika pria meilhatmu, aku akan mempunyai banyak saingan dan membunuh lebih banyak orang, kamu tidak mau itu terjadi, kan?" ucap Zero. Livia kemudian menyentuh penutup kepalanya, perasaan hangat muncul di hatinya, tapi dia benar benar tidak tahu apa Zero serius mengatakan itu atau bermain main, dalam hatinya Zero adalah sosok yang tidak dapat dipahami, Zero keluar dari gua, langkahnya pelan, tubuhnya disinari oleh cahaya matahari dari langit, Livia memerhatikan dan mengikutinya dibelakang Zero. Setelah keluar, mereka langsung menemukan empat orang sedang terbang disekitar gua, dua diantara mereka perempuan, pakaian mereka mewah tapi tampak lusuh, mereka sedang mencari cari sesuatu.


"Tuan dan nyonya yang terhormat, apa kalian mencari sesuatu?" Tanya Zero, keempatnya langsung melirik kearah Zero, tatapan mereka tampak canggung.


"Siapa kau?" Jawab salah satu wanita diantara mereka, tanpa ragu ragu dia langsung mengacungkan senjata kearah Zero, nadanya sangat arogan.


"Ahh, aku adalah seorang pengembara yang menetap disini sementara karena sesuatu" jelas Zero, nadanya sangat sopan, itu berbeda dari dia yang biasanya.


"Untuk apa kau disini?, Apa kau ingin mati!" Ucap wanita lagi, ketiga temannya hanya memandangi satu sama lain, seperti mendiskusikan sesuatu. Zero mengangkat satu tangannya, tiba tiba mereka berempat jatuh bersamaan, gravitasi diantara mereka meningkat berkali kali lipat.


"Nona, aku bertanya dan kau menjawab, kau sudah bertanya dan aku sudah menjawab, sekarang sudah giliranmu menjawab, tapi kenapa kau malah mengusirku?" ucap Zero, bibirnya menyeringai, tatapannya mengintimidasi, mereka duduk ditanah, tidak berank mengangkat wajah mereka.


"Akan kuhitung sampai tiga, jika tidak menjawab kau akan tahu akibatnya" ucap Zero, kali ini dia tidak main main, Zero siap membunuh mereka jika mereka menolak.

__ADS_1


'bagaimana bisa kami akan mati disini, benar benar nasib buruk' pikir wanita yang bicara dengan Zero, mereka berempat tergolong masih muda, kekuatannya berada di rank E+, itu lebih dari kuat untuk anak muda seusia mereka, belum lagi sepertinya mereka dari kelompok terkenal.


"Satuu... Dua......tiiiii..." Zero menghitung sambil mengangkat jari jarinya.


"Tunggu dulu... Jangan bunuh mereka" teriak Livia, tiba tiba dia berlari dari dalam gua dan menghadang tepat didepan Zero, wajahnya cemas, 'sepertinya dia kenalan Livia' pikir Zero, tapi dia tidak mundur, sebaliknya bibirnya menyungging tersenyum.


"Itu sudah terlambat, Nona" ucap Zero, tangannya berhenti menghitung, dan tergenggam, Livia berbalik arah, mendapati mereka semua hancur lebur, dagingnya tersebar ke segala arah, bahkan salah satu matanya menggelinding kearah Livia dan menyentuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Livia, air matanya mengalir, gadis itu menangis, kecewa, sedih, perasaannya berputar, Livia jatuh terduduk, lututnya menapaki tanah, Zero memandangnya dengan menyedihkan.


"Kau...kau benar benar yang terburuk dari yang terburuk... Hikss.." ucap Livia, ketika mengucapkannya, nadanya terbata bata, gadis itu menutupi matanya dengan tangan, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


"Ahahahaaa, kamu sangat manis, Nona" ucap Zero yang tiba tiba tertawa, Livia memandangnya dengan benci, penuh kebencian terhadap Zero, gadis itu berhenti menangis, bangkit berdiri, Livia menatap Zero, penuh dengan rasa ingin balas dendam, Livia mengeluarkan senjatanya, tanpa basa-basi langsung menyerang Zero dengan sepenuh kekuatannya, Zero diam ditempatnya, menunggu serangan Livia datang kepadanya.


"Tenanglah, Livia. Lihat, dia masih hidup, bukan?" ucap Zero, Livia dipeluknya dari belakang, tangannya mengusap kepala Livia, gadis itu terkejut, matanya tidak dapat dipercaya, mereka berempat masih hidup. Livia mengusap matanya, menyeka air mata yang tersisa.


"Lepaskan aku, brengsek!" ucap Livia, dia memaksakan diri untuk lepas dari pelukan Zero, setelah berhasil lepas, Livia berlari dan memeluk gadis tadi. Gadis itu terheran, sedari tadi gadis itu berpikir jika Livia menderita suatu gangguan.


"Tuan, siapa ini?" Tanya gadis itu, takut dengan Zero, tubuhnya gemetar, tadinya dia merasakan niat membunuh yang dahsyat datang dari Zero, tapi sekarang itu menghilang, 'mungkin gadis ini ada hubungannya' pikir dia, melirik Livia yang sedang memeluknya.


"Diaa...mmmm, calon istriku" jawab Zero, tangannya bersedekap, ekspresinya penuh percaya diri, Livia melirik Zero, melihatnya dengan sengit, sudah beberapa kali dia mempermainkan Livia.

__ADS_1


"Ini aku" ucap Livia, dia membuka kerudung hitamnya, menampilkan senyum manis nan cantik dari wajahnya, Livia melepaskan pelukannya.


"Tuan putri, apakah ini nyata?, Bukankah anda.." ucap gadis itu, mereka berempat terkejut, gadis yang dipelukan Livia bahkan tak mempercayai pandangan matanya.


"Tuan putri?, Apakah dia tuan putri yang kau ceritakan itu?" Ucap salah satu dari pria itu. gadis yang dikenal Livia hanya mengangguk.


"Salam untuk tuan putri, mohon maafkan kami yang bertindak lancang" ketiganya langsung bersujud, sepenuhnya menghormati Livia.


"Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri, namaku Tifa, pelayan dari keluarga kekaisaran, yang secara khusus melayani keturunan kaisar, keluarga kami secara turun temurun sudah melayani keluarga kekaisaran sejak zaman dahulu" ucap Tifa, dia menjelaskan. Livia mengangguk menanggapi.


'heh, jadi gadis itu pelayan khusus Livia' pikir Zero, pikirannya bekerja, mencoba mengamati situasi dan mengambil keuntungan.


"Tuan putri, apa dia calon anda?" Bisik Tifa, Livia yang mendengarnya terkejut, kemudian menjelaskan perilaku Zero selama berada disampingnya, terutama hal hal yang buruk. Zero bisa mendengarnya, akan tetapi dia tidak membantah, justru malah mengangguk puas, bangga dengan dirinya sendiri.


"Kalian bisa pergi terlebih dahulu, aku ingin berbincang dengan putri" ucap Tifa, ketiganya langsung pergi, sepertinya mereka mencari sesuatu, Zero tidak mempedulikan mereka. Livia dan Tifa mulai melangkah masuk kedalam gua, tapi Livia berhenti, kemudian menyuruh Tifa untuk menunggunya didalam.


"Apa yang kamu lakukan tadi?" Tanya Livia, dia masih terlalu kesal dengan Zero.


"Tidak ada, hanya menggunakan ilusi semata" jawab Zero, tangannya mengupil, mengabaikan Livia.


"Kauu....arghhh" Livia berteriak, mulai melangkah untuk masuk kedalam, Zero muncul didepannya seperti angin, Zero mendekati Livia, gadis itu tanpa sadar bergerak mundur.

__ADS_1


"Apa..apa yang kamu inginkan?" ucap Livia, dia hampir tersandung ketika mundur. Zero mengangkat rambut poni Livia, menampilkan kening yang putih bersih, Zero menciumnya, dari tangannya keluar mahkota rangkaian bunga mawar putih, menerapkannya diatas Livia, gadis itu tidak merespon, sangat terkejut dengan Zero yang tiba tiba saja menciumnya, Livia juga tidak tahu kenapa dia tidak bisa menolaknya.


"Selamat tinggal, Ratuku" ucap Zero, bibirnya terangkat penuh, membuat pesonanya semakin dalam, Zero mundur selangkah dan berbalik pergi, mengikuti mereka bertiga yang bersama Tifa.


__ADS_2