
Angin berhembus pelan melewati celah celah, tidak ada penanda siang dan malam dilangit, di ruangan Zero, Art dan kedua gadis masih disana, Livia menyimpan bunga es dikantongnya, Art menganggukkan kepalanya, "terima kasih" ucap Livia ke Art, Zero masih diam duduk berbaring disana, Art kembali ke Zero, dia duduk dipangkuan Zero, "sudah selesai?" Art mengangguk, Zero berdiri, menaruh Art dipundaknya, "ayo pergi ke sebelah, lalu mengirim mereka ke neraka" Zero menyentuh kucingnya, Zero melirik Sayu dan Livia, "ayo berangkat, urusan disini sudah selesai" segera, Sayu dan Livia mengikuti Zero, mereka melihat punggung Zero, terdapat rasa kekaguman dan penuh cemas terhadapnya, kemudian mereka keluar dari ruangan es itu.
__ADS_1
Setelah sampai di luar, mereka bertemu kembali dengan tiga jalur yang berbeda, satu dari mereka mengarah ke luar, dibelakang Zero mengarah pada gua es sebelumnya, yang tersisa adalah ruangan yang belum dijelajahi oleh Zero, tidak terdapat keanehan apapun dibatas gua, hanya beberapa tanda yang dibuat pasukan kerajaan, tangan Zero menyentuh tanda di dinding gua, tanda itu langsung menghilang, kemudian Zero membuat sesuatu ditangannya, kemudian dia menaruh sesuatu di dinding, Sayu dan Livia tidak bisa melihat sesuatu yang ditaruh Zero di dinding, mereka menduga mungkin sesuatu penanda juga, "ayo masuk" Zero melangkah masuk ke jalan yang belum dijelajahnya, Sayu dan Livia mengikuti, Art duduk dipundak tuannya, mereka bertiga melangkahkan kakinya masuk kedalam, baru saja masuk Zero mendapati banyak mayat prajurit kerajaan dan juga binatang binatang monster disekitarnya, mayat mayat itu tergeletak disana tanpa ada yang mwnyingkirkannya ataupun merapikannya, "sungguh kejam" tubuh Sayu menggigil, mayat mayat yang terbaring disana membuatnya takut, Sayu terjatuh, darah berceceran dimana mana, "kau tidak akan bisa melihat dunia jika melihat seperti seperti ini saja sudah takut" Zero memperingatkan Sayu agar tidak takut, walaupun nadanya sangat arogan, akan tetapi sebenarnya Zero agak peduli dengan kedua gadis itu, lagipula dia punya rencana sendiri, "Death Eater" lubang diudara muncul didepan Zero, kemudian dari dalam lubang keluar sesuatu, itu adalah sosok hitam tinggi besar, tangannya merangkul sabit seolah itu kekasihnya, sosok hitam membungkuk kepada Zero, lalu pergi dari hadapannya, sosok hitam menghantam sabit ke tanah es, tanah es retak seketika, muncul aura gelap yang sangat pekat dari retakan, asap muncul dimana mana, setelah asap menghilang, semua mayat sebelumnya menghilang tanpa jejak, hanya tersisa darah darah, aura kegelapan disekitar sosok hitam perlahan memudar, setelah hilang sepenuhnya, sosok itu kembali menghadap Zero, kemudian membungkukkan badannya sekali lagi, setelah membungkuk, sosok hitam menghilang pelan diudara, menjadi sangat tipis, kejadian itu terjadi secara cepat, mereka tidak sempat bereaksi, semuanya tegang kecuali Zero, tindakannya sangat menakutkan, memerintah makhluk seperti itu sungguh luar biasa, Zero melangkah maju tanpa berkata kata, bergaya seperti profesional, 'sungguh menakjubkan, itu pasti yang mereka pikirkan', dalam perjalanannya, Zero tersenyum dalam diam, Sayu dan Livia mengikutinya, gua es yang tadinya terdapat banyak mayat kembali ke semula, retakan yang disebabkan sosok itu seolah tidak pernah ada.
__ADS_1
Orang orang dari Alexa sudah tersisa setengah, setengah dari mereka sudah tidak sanggup bertarung, jumlahnya hampir seratus orang, Zero mengambil satu buah pedang minatour dari dimensinya, menggenggamnya dengan erat, "hei orang gila yang disana, kesini, aku menginginkan nyawamu" tangan Zero mengacungkan jari tengahnya, memprovokasi langsung bos musuh, Alexa begitu langsung terpancing dalam permainan Zero "siapa kau?.." Alexa bingung dan marah, "itu tidak penting, bunuh mereka, sisakan gadis cantik dibelakangnya, siapa yang dapat membunuh pertama kali, akan mendapat penghargaan dan beberapa barang berharga dari kerajaan!!" Alexa mengumumkan, pengikutnya langsung terpengaruh, mereka seperti orang orang serakah yang menjilat demi sesuatu, lebih dari 30 orang menyerang secar bersamaan. Sayu mengeluarkan pedang, begitu juga Livia, mereka bersiap untuk pertarungan, "hahaha, gadis kecil, menyerahlah, aku tidak akan membunuhmu" Alexa memberikan sebuah kesempatan kepada Sayu, tapi gadis itu mengabaikannya, dia fokus untuk menyerang balik. Zero tersenyum tiba tiba, aura dalam pedangnya menyebar secara menyeluruh, memenuhi ruangan itu, rencananya sempurna, 'dapat' Zero menyeringai.
__ADS_1