Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Kaisar Manusia Generasi Pertama


__ADS_3

Daratan Utara


“Aku lega kau baik-baik saja.” Dai Mubai yang pucat berkata dengan nada pahit ketika menatap ke arah Jie Yan yang baru saja tiba.


Jie Yan tidak berbicara dan hanya menepuk bahu Dai Mubai. Hanya melihat kondisi Dai Mubai, ia tau betapa sengitnya perang yang dia ikuti. Saat ini Dai Mubai juga telah mencapai tingkat Alam Sage tahap kesembilan walaupun sedikit tergesa-gesa untuk menerobos.


Saat masuk ke basis tersebut, satu sosok mungil perlahan terbang ke arahnya dengan kepala menunduk. Biasanya ia akan mengeluh ini itu tetapi kali ini melihat semua pasukan telah hancur, ia tidak berani mengeluh lagi kepada Jie Yan.


“Kau sudah semakin kuat Yue'er.” ucap Jie Yan dengan senyum saat menaruhnya di telapak tangannya.


“Um, aku akan membantumu membereskan mereka semua! Dengan kekuatanku, aku tidak takut dengan jumlah mereka!” Xia Yue'er tampak bertekad karena ia tau bahwa Jie Yan akan pergi menghadapi musuh nantinya.


“Aku merasa lega bahwa Yue'er kecil akan membantuku.” Balas Jie Yan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ia menaruh Xia Yue'er di bahunya seperti biasa dan masuk ke sebuah bangunan sederhana yang sangat besar, tempat para kultivator dirawat.


“Suami.” Gu Yin yang telah bangun, langsung menerkam Jie Yan dan menangis sedikit karena merasa dengan adanya Jie Yan, semuanya pasti akan diselesaikan.


Jie Yan marah dalam hatinya ketika melihat kondisi Gu Yin. Tetapi ia mencoba menahannya dan mencoba menghibur istirnya itu. Ia semakin ingin menghabisi semua musuh. Bahkan setelah menghibur Gu Yin, ketika ia menatap ke arah semua orang yang dikenalnya, ia hampir tidak dapat menahan emosinya terutama ketika menatap ke arah Huan Caiyi, Xiao Chen dan Lin Ming.


“Nenek..” Jie Yan yang tiba di depan neneknya yang masih membelakanginya, mencoba berbicara.


“Jangan pergi ke sana Yan’er..” Hanya itu yang diucapkan oleh Lin Xi sambil meneteskan air matanya. Ia tau bahwa cucunya itu keras kepala dan ketika melihat kondisi mereka semua, ia tau bahwa cucunya pasti akan pergi seorang diri.


Semua yang ada di sana hanya diam menatap ke arah Jie Yan yang tampak tenang dipermukaan. Tetapi siapapun menyadari bahwa ada niat membunuh halus yang terlihat di seluruh tubuhnya yang membuat siapa saja kedinginan.


Jie Yan yang diam, menatap ke arah Huan Caiyi pertama lalu menatap ke arah Canglan. Ia telah memikirkan bagaimana mereka kalah seolah-olah dapat melihatnya secara langsung. Lalu tatapannya tertuju pada Gu Yuena dan Xiao Chen.


Hanya dari luka Xiao Chen, ia tau bahwa pertarungan panjang tanpa henti menggunakan qi dan konsep telah dialami oleh Xiao Chen. Ia menduga bahwa Xiao Chen melawan puluhan ribu musuh seorang diri.


Lalu tatapannya tertuju pada Lin Ming. Matanya berkaca-kaca karena sangat tau kondisi kakeknya menggunakan Mata Dewa miliknya. Jantungnya berdetak sangat cepat karena tau bahwa kakeknya baru saja lolos dari kematian.


Tatapan Jie Yan beralih ke kedua adik kesayangannya Xiao Yuu dan Lan Qinzhu. Ia semakin marah karena seseorang telah berani membuat keluarganya seperti itu.


Ketika qi Jie Yan hendak meledak, sebuah tangan memegang pundaknya yang membuatnya tenang.

__ADS_1


“Kita akan pergi bersama.” Sosok tersebut tidak lain adalah Xiao Ziya. Ia tidak peduli dengan semua mata yang menatap ke arahnya dengan sedikit bermusuhan karena seperti ingin membawa Jie Yan ke medan perang.


“Ya.” Jie Yan mengangguk lalu berbalik tanpa berpamitan. Ia merobek ruang lalu masuk ke dalam diikuti oleh Xiao Ziya.


Zhep!


Ketika Lubang Teleportasi lenyap, semua yang ada di sana membeku di tempat. Bahkan Gu Yin langsung berlutut menangis sama seperti Xiao Yuu dan Lan Qinzhu. Mereka tau bahwa mereka tidak bisa menghentikan Jie Yan sama sekali.


Untuk Lin Xi, ia bahkan tidak sempat melihat wajah cucunya karena tidak sanggup. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Ia dan semua yang ada di sana hanya bisa berdoa agar Jie Yan tidak dibunuh oleh musuh.


Di suatu tempat di Dataran Utara, Jie Yan muncul di tempat pertama kali ia menggunakan gerbang teleportasi ke Benua Saint. Di sebelah gerbang teleportasi tersebut, ada gerbang teleportasi kecil. Ia tau bahwa itu adalah yang harus ia gunakan.


Tanpa membuang waktu, Jie Yan mengambil Cermin Tembaga lalu mengulurkannya ke arah gerbang teleportasi. Gerbang teleportasi tersebut aktif dengan sendirinya saat menyerap sedikit aura dari Cermin Tembaga. Saat gerbang teleportasi aktif, ia langsung jalan ke arah dalam dengan Xia Yue'er di pundaknya dan Xiao Ziya disampingnya.


Zhep!


Ketika ketiganya melewati gerbang teleportasi, gerbang teleportasi tersebut langsung mati kembali seperti semula. Tidak ada yang bisa masuk kecuali menggunakan Cermin Tembaga.


Gunung Saint


Jie Yan, Xia Yue'er dan Xiao Ziya muncul di puncak Gunung Saint yang ditutupi oleh salju. Tepat di depannya terdapat sebuah kuil, dengan sebuah patung di depan gerbang.


Patung tersebut terbuat dari bahan seperti kristal tetapi tetap dapat memperlihatkan seperti apa rupa patung tersebut. Patung tersebut memiliki rambut panjang, mata tajam, fitur wajah tampan.


Untuk Xiao Ziya, Jantungnya berdetak sangat cepat karena sudah tau siapa itu. Sementara Jie Yan dan Xia Yue'er tidak tau siapa itu walaupun Jie Yan telah menebak-nebak dari perkataan Xiao Bai.


Dung!


Patung tersebut bersinar terang. Dan disaat itu juga, patung itu tampak hidup lalu menatap Jie Yan dengan sabar.


“Kau akhirnya tiba di sini. Kau pasti kecewa bukan?” Patung itu berbicara yang membuat Xia Yue'er bingung.


“Ayah...” Gumam Jie Yan yang membuat Xia Yue'er kaget setengah mati.

__ADS_1


“Dia.. dia..” Xia Yue'er tergagap sambil menunjuk ke arah patung karena ia seolah-olah pernah melihatnya.


“Tampaknya kau tidak terlalu kecewa. Kau harus paham bahwa kami melakukan ini semua karena kami tidak bisa bertanggung jawab lagi di daerah ini. Kami saat ini berada di tempat yang sangat jauh, karena suatu hal, kami harus melakukannya meninggalkanmu bersama beberapa adikmu karena aku percaya bahwa kalian mampu melakukannya.”


“Dan untukmu...” Patung tersebut menatap ke arah Xiao Ziya, “maaf karena telah mengabaikanmu selama ini. Aku bisa dianggap sebagai orang tuamu karena kau tercipta karena kesalahan yang aku buat.”


Jantung Xiao Ziya berdetak sangat cepat karena ia sudah mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari. Matanya berkaca-kaca lalu mengangguk dengan berat. Tidak ada yang tau betapa bahagianya ia saat ini karena ia hanya ingin diakui oleh seseorang yang disebut sebagai Kaisar Manusia Generasi Pertama.


Bahkan untuk Jie Yan dan Xia Yue'er terkejut dan tidak menyangka dengan identitas Xiao Ziya.


“Pasti banyak yang ingin kau tanyakan bukan? Sekali lagi, sebagai orang tuamu aku harus meminta maaf. Ini adalah ujian yang kau terima, ujian yang kami buat bersama dengan ibumu sebelum kami melepaskanmu sepenuhnya untuk mengambil jalanmu sendiri. Dan ujian itu adalah...” Patung Kaisar Manusia Generasi Pertama menunjuk ke arah kejauhan.


“Keluarga kita dianggap sebagai yang teratas di semesta ini. Tetapi, karena kekuatan kita, banyak musuh datang dari luar. Jika kau melewati ujian ini kau bisa berpartisipasi dan mengetahui segalanya. Jika tidak, ayah hanya bisa mengatakan bahwa kami harus mengirimmu bersama dengan semua yang kau sayangi ke tempat terpencil untuk tetap hidup sampai kami kembali.”


“Ayah telah meramalkan semua hal ini. Dan sesuai dengan permintaan ibumu, aku tidak bisa menahan masa depanmu. Dan kami semua telah sepakat agar kau diuji. Hanya kau yang bisa memimpin semua saudaramu untuk menyetabilkan Alam Abadi karena kami telah pergi ke tempat yang jauh.”


“Jangan kecewakan ibumu.” Setelah Patung Kaisar Manusia Generasi Pertama selesai berbicara, patung itu redup kembali bahkan sebelum Jie Yan bisa bertanya lebih jauh.


“Jie Yan.. dia ayahmu? Kenapa terlihat sangat egois?” Xia Yue'er yang hampir tidak bisa membaca suasana, berkata dengan cemberut.


“Yue’er...” Xiao Ziya berkata dengan nada sedikit dingin yang membuat Xia Yue'er bergidik. Walaupun ia tau bahwa Kaisar Manusia Generasi Pertama yang tidak lain adalah ayahnya sendiri tampak sangat egois, ia langsung paham ini demi masa depan Jie Yan dan pilihan apa yang akan diambilnya karena sangat terlihat bahwa ayah dan ibu Jie Yan memberinya pilihan.


Jie Yan tetap tenang tetapi tekadnya dapat dilihat dengan jelas. Ia bukan hanya melakukan ini demi misi ayah dan ibunya, tetapi keluarganya yang ada di Benua Saint. Ia langsung berbalik dan berjalan perlahan ke arah tebing dengan sebuah tiang batu seperti sebuah jalan melayang.


Ketika Jie Yan tiba di sana, ia dapat melihat semua musuh yang ada di bawah sana. Ia perlahan duduk dengan sebelah kaki berayun ke bawah dan sebelah seperti jongkok lalu menumpu tangan kanannya di situ. Ia pun perlahan menggunakan Cermin Tembaga lalu segel yang ada di sana tampak lenyap.


Wusssh!


Saat segel lepas, ratusan ribu musuh mengelilingi semua tempat. Mereka semua tampak berdiri di atas awan dan menatap dengan tidak percaya ke arah Jie Yan karena ternyata ada seseorang di dalam segel.


Jie Yan tetap tenang menatap semua musuh tersebut dengan Xia Yue'er berada di pundaknya melipat kedua tangan di depan dadanya. Sementara Xiao Ziya hanya menumpu satu lengannya di pinggangnya berdiri di samping Jie Yan. Ketiganya tampak tidak memiliki rasa takut melawan semua musuh tersebut yang jumlahnya melebihi 200.000.


Dan pertarungan akhir di Benua Saint akan segera dimulai, pertarungan antara Jie Yan, Xia Yue'er dan Xiao Ziya melawan 200.000 pasukan musuh.

__ADS_1


__ADS_2