
Bintang Tianyu, Sekte Pedang
Jie Yan menatap ke arah pria muda yang memasang wajah acuh tak acuh dan tatapan yang cukup tajam. Pemuda tersebut memiliki pedang yang cukup unik di pinggangnya, sangat terlihat bahwa dia adalah seseorang yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli pedang.
Pemuda tersebut tidak lain adalah Yun Che, murid yang mendaftar bersama dengannya atas rekomendasi Qing Tao.
Saat Yun Che hendak keluar dari bangunan tersebut, ia kebetulan berpapasan dengan Jie Yan. Ia cukup terkejut ketika melihat Jie Yan, walaupun satu tahun telah berlalu, ia tidak akan pernah melupakan pemuda yang memiliki rekor lebih tinggi darinya ketika melakukan tes.
“Tampaknya kau selamat.” ucap Yun Che saat berjalan perlahan ke arah Jie Yan.
Jie Yan cukup terkejut karena dari apa yang ia ketahui, Yun Che bukan seseorang yang suka memulai percakapan. Ia juga memperhatikan Yun Che dengan seksama sekilas. Ia harus mengakui bahwa Yun Che memang jenius tingkat tinggi.
Kultivasi Yun Che saat ini telah mencapai tingkat Jiwa Abadi, serta niat pedang yang bahkan lebih kuat dari miliknya. Hal ini membuat Jie Yan harus mengakui bahwa dalam hal berpedang, bakat Yun Che mungkin jauh diatasnya. Wajar jika ia berpikir seperti itu karena ia mengandalkan pedang peninggalan ibunya untuk meningkatkan niat pedang miliknya.
“Ya, tempat itu tidak akan bisa menahanku.” Balas Jie Yan acuh tak acuh.
Keduanya tampak seperti saingan, percakapan keduanya sangat singkat namun ada aura khusus yang tampak saling menekan ketika jarak keduanya semakin dekat.
“Aku yakin kau akan ikut kompetisi. Ketika waktunya tiba, berhati-hatilah karena Pedang Awan Abadi yang aku pegang tidak akan menunjukkan belas kasihan.” Yun Che yang melewati Jie Yan berkata dengan nada tenang, tetapi niat bertarung yang sangat dahsyat terpancar dari kata-kata tersebut.
“Sama untukmu, pedang yang aku pedang tidak akan menunjukkan belas kasihan.” Balas Jie Yan saat melewati Yun Che. Ia terus berjalan tanpa henti bahkan tidak menoleh. Ia juga ingin melawan seseorang yang menurutnya suatu hari nanti akan mencapai level tertinggi dalam jalan pedang. Evaluasinya dalam menilai seseorang hampir tidak pernah meleset.
Yun Che yang terus berjalan tidak berbicara lagi walaupun ia sedikit ragu saat ini karena Jie Yan bahkan tidak memperkenalkan nama pedangnya. Untuk para petarung ahli pedang, nama pedang mereka sangatlah penting karena itu menunjukkan jiwa pedang mereka dalam ilmu pedang.
__ADS_1
Jika Yun Che tau bahwa Jie Yan juga tidak tau nama pedangnya, ia hanya bisa terdiam karena tidak menyangka bahwa pedang yang tidak dikenal oleh Jie Yan akan mengenali Jie Yan sebagai tuannya.
“Jie Yan, orang itu terlihat semakin tajam!” ucap Xia Yue'er serius.
Jie Yan juga tau dengan intuisi Xia Yue'er yang sangat keterlaluan. Jika Roh Peri mungil itu berkata demikian, itu sudah pasti kenyataan. Karena, sangat jarang Xia Yue'er memberi evaluasi tinggi pada seseorang. Walaupun Xia Yue'er bukan pengguna pedang, tubuhnya memperingatinya secara langsung bahwa kemampuan pedang Yun Che diluar imajinasi.
“Aku tau.” ucap Jie Yan dan pergi ke lantai ketiga untuk berisitirahat di ruangan miliknya. Ia ingin bermeditasi selama beberapa hari sebelum kompetisi berlangsung. Ia juga ingin mempelajari konsep Ruang dan Waktu serta Konsep Kehancuran ke tingkat yang lebih tinggi.
Jie Yan saat ini telah mencapai konsep tingkat pertama pada semua konsep yang ia gunakan. Dalam catatan tentang kekuatan tertinggi di 33 Surga, para penguasa telah mencapai konsep tingkat ketiga.
Hanya ketika mencapai ranah tersebut mereka diakui sebagai ahli puncak di 33 Surga selain dari tingkat kultivasi tertinggi.
Meningkatkan pemahaman tentang konsep sangatlah sulit, apa lagi untuk Jie Yan yang mengolah konsep Ruang dan Waktu serta konsep Kehancuran. Konsep itu bisa dikatakan hanya akan diolah diantara satu banding ratusan juta manusia.
Bahkan jika seseorang ingin mempelajari dasar-dasar konsep tersebut, itu pun hampir mustahil karena persyaratan yang sangat tinggi serta pemahaman di atas kata pemahaman luar biasa.
Sesampainya di dalam ruangan, Jie Yan langsung bermeditasi tanpa memperhatikan Xia Yue'er yang tampak bosan lalu mencoba mengoceh setiap saat agar memiliki teman berbicara.
Waktu terus berlalu, tanpa sadar Jie Yan telah bermeditasi selama enam hari. Ia perlahan membuka matanya karena tau bahwa waktu untuk kompetisi telah tiba.
“Ayo pergi.” ucap Jie Yan saat menatap ke arah Xia Yue'er yang tertidur dengan pose memalukan seperti babi mati dengan air liur yang terus menetes.
Xia Yue'er langsung terbangun dan menyeka air liurnya dengan sembarangan lalu berkata dengan antusias. “Akhirnya kau selesai. Aku sangat bosan menunggu.”
__ADS_1
Jie Yan terdiam ketika melihat sikap Xia Yue'er. Teman kecil, sadarlah tentang identitasmu sebagai seorang Putri. Kau selalu menyebut dirimu sebagai Putri tetapi sikapmu sama seperti anak jalanan yang sangat liar.
Kata-kata seperti itu hanya tersangkut di tenggorokan Jie Yan. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu perlahan berjalan keluar dari ruangan tersebut lalu menuju ke arah zona latihan ketiga yang dikatakan oleh Tetua tempat pendaftaran.
Ketika keluar dari bangunan tersebut, Jie Yan melihat sangat banyak murid yang bergerak ke arah zona latihan ketiga. Ia tentu langsung pergi mengikuti karena tidak ingin terlambat. Ia tau dengan jelas bahwa jika terlambat sedikit saja, ia pasti akan di diskualifikasi.
Saat pergi ke zona latihan ketiga, Jie Yan memperhatikan bahwa banyak diantara mereka yang memiliki kultivasi tingkat Jiwa Abadi tahap akhir. Dan bahkan ada beberapa yang mencapai tingkat Jiwa Abadi tahap puncak saat ia mendekat ke zona latihan ketiga.
Sesampainya di zona latihan ketiga, Jie Yan melihat bahwa jumlah murid yang mengikuti kompetisi sangatlah banyak. Ia ingat bahwa token miliknya memiliki angka 444. Kali ini, jumlah semua murid yang ikut bahkan mencapai angka ribuan.
“Memang cukup menakutkan bahwa murid tingkat Jiwa Abadi saja mencapai angka ribuan! Sekte Pedang memang tidak bisa diremehkan.” Batin Jie Yan. Ini juga membuatnya sedikit bersemangat karena ia ingin melangkahi semua murid yang ada di sana. Hanya dengan itu ia akan memenuhi syarat untuk mencapai tingkat selanjutnya.
“Semuanya tenang!”
Ketika suara seseorang bercampur dengan tekanan cukup kuat menyebar ke segala arah, semua murid yang ada di sana berhenti berbicara. Semua tatapan mereka tertuju pada podium yang cukup tinggi.
Seorang pria yang terlihat muda berdiri di sana dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Wajahnya terlihat sangat serius saat ini. Dia adalah pemuda yang menggunakan pakaian sedikit mirip dengan para murid lingkaran dalam.
Pria tersebut adalah pria dengan rambut pendek berwarna putih seperti salju, dengan belas luka sayatan dari dahi sebelah kiri menjalar ke bawah dengan miring ke arah dagu kanan. Alisnya sangat tajam, dengan mata berwarna emas seperti elang.
“Hei, bukankah dia murid inti nomor satu dari delapan murid inti?” Seseorang di dekat Jie Yan berbisik dengan nada yang tidak mungkin di dengar oleh pemuda yang merupakan murid inti di atas podium.
“Ya, itu memang dia. Aku pernah mendengar bahwa murid inti nomor satu bernama Jian Xu, memiliki kekuatan setara dengan banyak Tetua!”
__ADS_1
Diskusi kecil tersebut di dengar oleh Jie Yan. Ia menatap murid inti yang bernama Jian Xu dengan mata sedikit menyipit.
“Inikah murid inti terkuat? Sangat kuat! Kekuatannya pasti setara dengan Qing Tao!” Batin Jie Yan dan dugaan sebelumnya ternyata benar bahwa para murid inti pastilah murid yang telah mencapai tingkat Niat Pedang Mata Pedang.