Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Salah Paham


__ADS_3

Aisyah sudah selesai beres-beres rumah bersiap-siap untuk menemui Anam, kakaknya. Untung saja hari ini adalah hari libur, jadi mereka bisa menghabiskan waktu bersama dan berencana mengunjungi rumah ummi.


CKLEK!


Aisyah sontak melihat ke arah kamar mandi. Terlihat Arsyad keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Aisyah tersenyum. Menurutnya Arshad berkali-kali lipat lebih tampan dengan penampilan santainya.


Arshad yang merasa diperhatikan langsung menatap Aisyah dengan heran.


"Lihat, betapa sempurnanya suami aku."ujar Aisyah santai membuat mata Arshad membulat dan jantung yang berdetak kencang.


Arshad yang di buat canggung langsung tertawa.


"Dasar."ujarnya lalu duduk di kasur memainkan ponselnya.


"Mas, sarapan udah aku siapin. Tapi siang ini aku gak bisa masakin kamu karena ada urusan. Gak apa-apa kan kalau bibi yang masakin kamu makan siang nanti?"ucap Aisyah membuat Arshad langsung menatapnya.


"Kamu mau kemana?"selidik Arshad.


"Aku_"


Arshad baru teringat bahwa Aisyah ada janji dengan seseorang hari ini.


"Ohhh mau ketemu dia? Ya udah sana pergi! Lagian dari awal aku juga udah bilang kalau kamu gak perlu masakin aku makanan apapun."ucap Arshad dengan datar dan kembali memainkan ponselnya. Seakan-akan tak peduli.


Aisyah menghela nafas lalu mengambil tasnya yang berada di samping Arshad.


"Kalau gitu aku pamit dulu."


"Hmm."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Aisyah pun keluar dari kamar meninggalkan Arshad yang sebenarnya terdiam menatap pintu kamar yang sudah tertutup. Arshad menghela nafasnya beberapa kali dengan pikiran terus menimang sembari meremas ponselnya. Setelah bergelut dengan perasaannya, akhirnya Arshad memutuskan untuk mengikuti Aisyah dan mengambil kunci mobilnya di atas nakas.


Sedangkan Aisyah kini tengah berjalan menuju pintu rumah dengan perasaan senang. Namun...


CKLEK!!!


Aisyah terkejut melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang masih sopan namun tanpa hijab. Detak jantungnya berdetak dengan cepat. Aisyah hanya bisa tertegun menatap wanita itu dengan perasaan khawatir yang mulai menguasai dirinya. Bagaimana tidak khawatir, wanita yang berada dihadapannya itu adalah Laras. Kekasih Arshad.


"Arshad nya ada?"tanya wanita itu dengan ragu.


"Laras?"


Kekhawatiran Aisyah semakin menjadi saat mendengar suara Arshad dari arah belakangnya. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia marah dan mengusir Laras? Tapi Aisyah yakin itu hanya akan membuat Arshad semakin membencinya. Lalu apakah dia bisa membiarkan mereka bersama?


Aisyah pun berbalik dan menatap Arshad dengan sendu. Begitu pun Arshad yang juga menatap Aisyah tepat di manik matanya. Tatapan Aisyah yang seperti itu terasa familiar baginya. Ia merasa pernah melihat tatapan itu. Tapi dimana?


"Arshad."tegur Laras sontak membuat Arshad kembali menatapnya. Arshad pun berjalan menghampiri Laras dan melewati Aisyah begitu saja tanpa melirik sedikitpun.


Aisyah menunduk dan tersenyum sedih sembari menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di hatinya.


Aisyah pun menatap ponselnya. Arshad yang juga mendengar itu, sontak melihat Aisyah yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Sayang, kamu gak mau nanya apa gitu?"tanya Laras.


"Hah? Tanya apa ya?"Arshad terdengar gelagapan dan sedikit aneh sehingga membuat Laras mengerutkan keningnya.


Arshad yang tersadar dari keanehannya langsung mengerti.


"Oh iya, aku mau tanya kamu kok bisa ada di sini?"


"Aku kangen."


JLEB!

__ADS_1


Dua kata yang sangat menyakitkan bagi Aisyah. Namun dari pada lebih sakit lagi, lebih baik Aisyah pergi dari sana. Dengan langkah pasti Aisyah pergi dari sana dan berusaha terlihat baik-baik saja.


Arshad terus memperhatikan Aisyah hingga Aisyah keluar dari gerbang rumah. Tanpa sadar Arshad maju selangkah saat melihat taksi online yang di pesan Aisyah membawa pergi Aisyah meninggalkan rumah.


"Kamu kenapa? Kok kayak kebingungan gitu? Kamu..."tanya Laras.


"Kita jalan, yuk!"ajak Arshad tiba-tiba namun dapat membuat Laras tersenyum dan mengangguk setuju.


"Tapi pakai mobil siapa?"


"Kamu aja."jawab Arshad lalu ia bergegas menuju mobil milik Laras.


Sepanjang jalan Arshad terus membuntuti taksi online yang membawa Aisyah. Hingga akhirnya berhenti di sebuah parkiran super market. Di parkiran, terlihat seorang pria yang bersandar di mobil seperti sedang menunggu seseorang. Pria itu tersenyum kala melihat Aisyah yang berjalan ke arahnya. Dengan perlahan pria itu juga berjalan ke arah Aisyah dan langsung memeluk erat Aisyah.


"Kak Anam! Acha kangen..."rengek Aisyah membuat pria itu yang ternyata adalah Anam terkekeh. Anam mencium puncak kepala Aisyah, sedangkan Aisyah semakin mengencangkan pelukannya. Bertemu dengan Anam bisa membuatnya melupakan sejenak masalahnya. Kini perasaannya sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Lain halnya dengan Arshad yang berada tak jauh dari mereka. Interaksi Keduanya membuat Arshad merasa sangat tidak senang, bahkan tanpa sadar ia sudah meremas setir mobil. Sedangkan Laras kini sadar dengan situasi yang terjadi. Ia sudah salah sangka. Ia kira Arshad yang sangat antusias pergi dengannya tadi itu karena Arshad memang sangat merindukannya, tapi ternyata itu hanya karena ia ingin membuntuti Aisyah.


Jika sudah begini, apa lagi yang busa ia harapkan? Haruskah ia bertahan atau melepaskan? Apakah semuanya memang sudah seharusnya berakhir? Di saat Laras masih sibuk bergelut dengan pikirannya, Arshad malah keluar dari mobil dengan rahang mengeras.


"Arshad, kamu mau kemana? Arshad!"teriak Laras namun tak di dengarkan sama sekali oleh Arshad. Yang Arshad tau saat ini hanyalah, ia harus memberi pelajaran pada pria yang sedang bersama dengan Aisyah.


Arshad semakin mempercepat langkahnya hingga sampai ke hadapan mereka. Ia memisahkan kakak beradik itu dengan kasar dan tanpa aba-aba langsung memukul keras Anam membuat Anam kaget begitu pun dengan Aisyah.


Aisyah berteriak sembari menutup mulutnya tak menyangka.


"Mas Arshad?"tegur Aisyah.


Anam menatap heran pada Arshad. Ia tak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Kenapa tiba-tiba adik ipar sekaligus sahabatnya ketika kecil itu tiba-tiba memukulnya. Apakah ada kesalahpahaman?


"Dia ini_"


"Iya, ini mas Arshad."jawab Aisyah memotong ucapan Anam seakan mengerti maksud kebingungan Anam. Justru yang saat ini tak ia mengerti adalah Arshad.

__ADS_1


"Betul, saya Arshad, suaminya. Kenapa? Gak terima?"ucap Arshad dingin namun mampu membuat Aisyah tertegun. Selama mereka menikah, baru kali ini ia mendengar pengakuan Arshad. Tapi walau ada perasaan senang di hatinya, tetap saja ia tak bisa memahami situasi saat ini. Kenapa Arshad tiba-tiba memukul kakaknya? apa salah kakaknya?


__ADS_2