
Persiapan telah selesai dan para tamu pengajian juga sudah datang. Setelah makan,pengajian pun dimulai dengan khidmat. Arshad tak sengaja melihat Aisyah yang terlihat linglung sembari memijat kepalanya.
"Dia kenapa?"bisik Arshad.
Mendengar Arshad berbisik,Abi langsung menegurnya dengan cara mencubit pinggang Arshad. Arshad pun kembali fokus pada pengajian walau masih sesekali melirik ke arah Aisyah.
Aisyah merasa sangat pusing. Entah kenapa kepalanya terasa ingin pecah. Ia terus memijit dahi dan pelipisnya untuk mengurangi rasa sakitnya, namun rasanya percuma saja.
Arshad masih terus menatap Aisyah hingga ia kaget saat Aisyah hampir terjatuh dan membuatnya setengah berdiri. Semua orang langsung tertuju kepadanya dengan heran.
Dengan rasa tak enak hati Arshad pun memilih duduk kembali sembari minta maaf. Sedangkan Aisyah, mungkin karena sudah tak sanggup lagi dia memilih untuk pergi ke belakang.
"Abi, Arshad ke belakang dulu."ucap Arshad dan diangguki abi.
Aisyah yang sudah berada di belakang pun langsung masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya dia saat melihat darah menetes keluar dari hidungnya.
"Astaghfirullah."ucapnya dan langsung mencuci wajah dan hidungnya. Apa dia begitu lelah sampai mimisan begitu?
Aisyah menatap dirinya di cermin. Dia mengangguk dan berusaha tersenyum, benar, dia pasti hanya kelelahan.
Aisyah menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar mandi.
"Kamu baik-baik aja?"tanya Arshad yang terlihat sedikit cemas tepat saat Aisyah keluar dari kamar mandi.
Aisyah tersenyum,"cuma pusing dikit aja kok. Mungkin karena capek. Mas ngapain di sini?"
Arshad menatap ke sekeliling dan melihat gelas di atas meja.
"Mau ambil minum."
Aisyah mengangguk paham dan mengambilkan minum untuk Arshad. Arshad pun minum sembari sesekali melirik Aisyah.
"Kamu pucat. Kita ke rumah sakit,ya."Arshad sudah tak tahan lagi dengan kegengsianya. Melihat Aisyah pucat begitu benar-benar membuatnya khawatir. Benar, saat ini dia benar-benar khawatir.
"Gak perlu, istirahat aja udah cukup kok. Sama kayak kamu semalam yang meriang, sekarang udah baikan karena istirahat kan? Bentar lagi aku juga akan baikan kok. Gak usah khawatir."Aisyah tersenyum di akhir kalimatnya berniat menyindir Arshad.
"Khawatir? Siapa? Aku? Ya enggaklah."Arshad langsung pergi ke depan meninggalkan Aisyah yang memegangi kepalanya karena pusing. Syukurlah, Arshad sudah pergi, kalau tidak mungkin Arshad akan lebih khawatir lagi melihat keadaannya sekarang.
__ADS_1
•••••
"Ya udah, kalau gitu kami pulang dulu ya ummi,bi."pamit Arshad setelah acara pengajian selesai.
"Kenapa gak nginap aja sih malam ini?"tanya ummi.
"Ada berkas yang harus aku kerjain ummi. Lain kali aja ya."tolak Arshad dengan lembut.
"Aisyah juga ada tugas kampus yang harus dikerjakan,ummi. Maaf,ya?"tambah Aisyah.
"Alasan aja nih."sela ummi.
"Ummi, ngertiin Aisyah dan Arshad dong! Mereka sekarang udah punya kehidupan sendiri. Gak bisa lagi terus-terusan ada sama kita. Mereka juga udah bilang akan nginap lain kali,kan?"ucap abi berusaha menasehati ummi.
Ummi pun menghela nafas pasrah,"Ya udah deh, tapi janji ya lain kali harus nginap di sini."
"Insyaallah..."ucap mereka.
"Ya udah, Arshad pulang dulu!"pamit Arshad sekali lagi.
"Hati-hati ya!"
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aisyah dan Arshad pun langsung pulang ke rumah dengan tenang dan hening. Kepala Aisyah masih terasa sakit namun dia berusaha menahan suaranya dengan cara menggigit bibir bawahnya.
Drrt drrt!
Aisyah menatap ponselnya yang ternyata dari kakaknya.
"Halo assalamualaikum, kak."ucap Aisyah.
"Wa'alaikumussalam. Kamu kapan sih punya niat buat nemuin kakak? Kemaren gak jadi, sekarang? sekarang alasannya apa lagi?"
"Ish, jangan marah-marah dong! Hari ini ada acara pengajian di rumah ummi. Emangnya kakak gak tau?"
__ADS_1
"Belum ketemu ummi. Tau alamatnya aja enggak. Kalau gitu aku kakak minta nomor ummi dong."
"Iya nanti aku kirimin. Terus kapan dong kita ketemu?"
"Besok aja lah sekalian kita ketemu di rumah ummi, gimana?"
"Ya udah ok kalau gitu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Jadi ummi juga kenal sama dia?"tanya Arshad setelah Aisyah menutup telponnya.
Aisyah mengangguk,"Kenal banget malah."
Arshad mengangguk paham dan kembali berusaha fokus pada jalan. Tanpa sadar,ia sudah meremas kemudi.
•••••
Aisyah duduk di meja belajarnya yang juga berada dalam ruang kerja Arshad. Perasaan merasa aneh. Sejak sampai di rumah tadi Arshad sangat aneh bahkan bicara pun tidak.
Aisyah melirik Arshad yang sedang fokus pada laptopnya. Dengan menopang dagu,ia tak berhenti memperhatikan Arshad. Jika saja dia bisa membaca apa yang di pikirkan Arshad,ia tidak akan sesulit ini berpikir. Tapi ia tau itu tidaklah mungkin,jadi bisakah ia walau hanya sekedar membaca raut wajah Arshad saja?
Aisyah menghela nafasnya pelan dengan perlahan menjatuhkan kepalanya ke meja sembari menutup mata. Sedangkan Arshad yang dari tadi terlihat sibuk, sebenarnya ia tau bahwa dari tadi Aisyah menatapnya. Bahkan sebenarnya dirinya tidaklah fokus pada laptopnya.
Arshad menarik kursinya mendekat ke meja Aisyah. Dia menatap wajah Aisyah yang kini sudah tertidur lelap. Begitu tenang. Terkadang ia berpikir tentang apa yang sebenarnya ia inginkan? Saat awal menikah dengan Aisyah, dia sangat membenci Aisyah karena Aisyah hanyalah orang asing baginya. Lambat laun ia merasa sangat dekat dengan Aisyah bahkan tidak terasa seperti orang asing.
"Kenapa orang asing bisa terasa begitu dekat?"gumamnya.
Arshad ikut tidur sambil menatap wajah Aisyah dari dekat.
"Mungkin aku yang masih ragu memilih. Sampai di saat semuanya sudah pasti,aku pastikan kamu gak akan ngerasain yang namanya sakit. Walaupun akhirnya kita akan berpisah, aku pastikan kamu gak akan merasa terluka."gumam Arshad sembari menutup matanya. Tanpa ia sadari setetes air mata jatuh dari sela mata Aisyah.
'Kamu seharusnya gak perlu ragu mas. Aku ini istri kamu. Aku Acha kamu.' ucap Aisyah lirih dalam hati.
Aisyah membuka matanya dan beralih menatap Arshad yang sudah tenang tertidur. Aisyah pun pergi mengambil selimut dan melampirkan nya di tubuh Arshad lalu kembali duduk dan tidur sambil menatap wajah Arshad. Ia tersenyum seraya menghela nafas pelan.
"Selamat malam,Kak Ar. Malaikatnya Acha."
__ADS_1