
Pagi harinya Aisyah terlihat sedang menyiapkan keperluan Arshad. Sedangkan Arshad baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengaitkan kancing di lengan kemejanya. Arshad menatap Aisyah sekilas lalu beralih menatap dasinya yang sudah Aisyah siapkan di atas tempat tidur.
Arshad tersenyum sembari mengambil dasi tersebut lalu berjalan menghampiri Aisyah.
Arshad berdehem lalu mengulurkan dasi itu ke arah Aisyah,"ehem."
Aisyah menatap Arshad dengan heran,"aku tidak memakai dasi,mas. Lagi pula bajuku tidak mengharuskan aku memakainya." Ucapan Aisyah membuat Arshad melongo. Lagi pula, siapa yang bermaksud begitu?
"Siapa yang meminta kamu pakai dasi? aku ingin kamu memasangkan dasi untukku. Bukan memintamu memakainya, Aisyah."ucap Arshad.
"Aku hanya bercanda. Kenapa jadi serius begitu? Aku juga tahu kamu ingin dipakai kan dasi. Kenapa malah marah?!"sergah Aisyah tak terima.
Arshad semakin bingung,"siapa yang marah? Kamu mungkin yang marah."
"Kenapa malah aku?"
"Memang kamu."
"Sudahlah, sini! Katanya ingin dipakai kan dasi."Arshad menghembuskan nafas pasrah lalu maju selangkah ke hadapan Aisyah.
Aisyah mengambil alih dasi tersebut lalu mulai memasangkan dasi di kerah kemeja Arshad. Sedangkan Arshad sibuk memandang wajah Aisyah yang masih saja terlihat kesal. Lucu baginya melihat wajah Aisyah yang seperti itu.
"Kamu hari ini kuliah?"tanya Arshad, memecah keheningan di antara mereka.
"Tidak mungkin pergi kencan,kan? Aku sudah rapi seperti ini, menurut kamu ingin kemana lagi kalau bukan kuliah? Keluar bertemu dengan kakakku sendiri saja kena marah, apa lagi keluar untuk kencan."
"Kamu sebenarnya kenapa, hm? Pagi-pagi sudah sensi begini."
"Siapa yang sensi?"
"Kamu."
"Aku? Tidak..."
__ADS_1
"Iya..."
"Entah, aku ingin pergi kuliah dulu."Aisyah pergi meninggalkan Arshad dengan kesal sambil menyandang tasnya. Hal itu membuat Arshad tak habis pikir dengan kelakuan Aisyah hari ini yang benar-benar aneh.
Saat Arshad hendak masuk ke mobil, Arshad terhenti saat melihat Aisyah masih berada di luar gerbang dengan terus menatap ponselnya. Arshad pun ke mobil dan berhenti tepat di dekat Aisyah.
"Kenapa belum berangkat?"tanya Arshad.
"Tidak ada taksi."jawab Aisyah sekenanya.
Arshad tersenyum,"oh, ya sudah kalau begitu aku duluan. Assalamu'alaikum."
Arshad mulai melaju perlahan dengan meninggalkan Aisyah yang tengah melongo.
"Gak peka."gumam Aisyah.
Namun sedetik kemudian Arshad mengklakson sehingga Aisyah buru-buru menghampiri Arshad dengan semangat dan langsung masuk ke dalam mobil.
Arshad menatap Aisyah dengan heran,"kamu kenapa masuk?"
"Tadi ada kucing, jadi aku_"sekarang Aisyah mengerti. Arshad mengklakson tadi hanya karena ada kucing. Betapa malunya dirinya saat ini.
Dengan cepat Aisyah membuka pintu mobil dan berniat keluar, namun pergerakannya tertahan oleh cekalan Arshad di pergelangannya.
Aisyah berbalik untuk menatap Arshad dan melihat Arshad tersenyum lembut padanya.
"Aku hanya bercanda. Tutup lagi pintunya!"ucap Arshad.
Aisyah mengerucutkan bibirnya karena kesal, namun tetap menutup pintu mobil. Sedangkan Arshad mengubah cekalan tadi dengan menggenggam lembut tangan Aisyah. Aisyah menatap Arshad sebentar, lalu melempar pandangannya ke luar jendela dengan senyum tertahan. Tak jauh berbeda dengan Arshad yang juga berusaha keras menahan senyumnya. Bahkan karena itu dia sesekali berdehem.
Sesampainya di depan kampus, Arshad menerima telepon dari teman kampusnya dulu. Aisyah yang ingin pergi, terpaksa harus menunggu dulu.
"Siapa,mas?"tanya Aisyah, sesaat setelah Arshad selesai bicara di telepon.
__ADS_1
"Teman kampus dulu. Katanya ada reuni."
"Memangnya, dulu kamu tamatan kampus mana?"
Arshad terdiam sejenak,"ada-lah."
Aisyah hanya menghembuskan nafas jengah,"ya udah,terserah. Aku masuk kuliah dulu. Assalamu'alaikum."
Arshad tetap menahan tangan Aisyah sehingga Aisyah menatapnya.
"Masih marah?"tanya Arshad.
"Aku tidak marah,mas."
"Tapi tadi kamu terlihat marah."
"Maaf karena mungkin aku sudah kasar tadi."
Arshad tersenyum lalu Aisyah mencium punggung tangan Arshad dan Arshad mencium puncak kepala Aisyah dengan lembut. Hal itu tentu saja membuat Aisyah tertegun. Dirinya masih belum terbiasa dengan sikap Arshad yang berubah drastis ini.
"Belajar yang rajin,ya! Banggakan aku!"ucap Arshad.
Aisyah mengangguk kuat dengan senyum haru. Bahagia. Itu yang dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Perasaan yang benar-benar membuatnya belum terbiasa karena perasaan itu berasal dari Arshad. Semoga terus seperti ini dan pada akhirnya ia bisa terbiasa nantinya.
"Jangan ngambek terus! sana, masuk! betah banget lama-lama di sini sama aku."ucap Arshad.
"Kan kamu yang nahan."
"Siapa?"
"Kamu."
"Kapan? enggak..."
__ADS_1
"Jangan mulai lagi,deh! udah ah, aku kuliah dulu, assalamu'alaikum." Aisyah langsung keluar dari mobil dengan kesal. Dapat ia dengar tawa Arshad saat dirinya keluar. Apakah menjahilinya adalah hal yang menyenangkan dan menjadi hobi baru bagi Arshad?