Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Kembali Perhatian


__ADS_3

Setelah melaksanakan shalat Maghrib dan makan malam, Aisyah dan yang lainnya pun kini sedang berkumpul di ruang tengah dengan kesibukan masing-masing. Arshad yang sibuk dengan laptopnya, Anam yang sibuk menonton televisi, serta Aisyah dan Khadijah yang sibuk memilih-milih contoh dekorasi untuk pernikahan. Sedangkan kedua orang tua Khadijah memilih untuk istirahat di kamar. Katanya tak ingin mengganggu para anak muda.


"Tadi kakak sama mas Arshad jadi ke rumah ummi?"tanya Aisyah membuka suara pada Anam.


Anam menggeleng,"besok aja selesai fitting baju langsung pergi sama Khadijah, bunda dan ayah ke sana. Kamu besok ikut kakak sama Khadijah fitting baju, kan?"


"Kayaknya gak bisa deh kak. Rencananya tadi kan iya, tapi aku baru ingat kalau besok kan aku kuliah. Aku nyusul aja deh kalau sempat."jawab Aisyah dengan raut wajah yang terlihat menyesal. Sejujurnya dia sangat ingin ikut, tapi bagaimana pun juga dia harus kuliah dan harus kejar materi yang tertinggal karena sempat libur ke Solo waktu itu.


"Ya udah gak apa-apa. Kamu kuliah aja. Kan masih ada bunda yang temenin kakak."ucap Khadijah pengertian.


"Gini aja deh, nanti biar aku minta tolong ummi juga untuk ikut, deh. Gimana?"usul Arshad yang kini meletakkan laptopnya di meja.


Aisyah tersenyum sumringah,"ide bagus. Aku setuju."


Arshad tersenyum melihat senyum Aisyah padanya. Sejenak mereka seperti melupakan masalah di antara mereka. Masalah? Oh ayolah, Arshad tidak ingin ada masalah di antara dirinya dan Aisyah. Tapi jika mengingat sikap Aisyah belakangan ini membuatnya kembali berpikir bahwa pernikahannya ini seperti tak ada hari tanpa bertengkar. Tak ada hari di mana tak ada masalah di dalamnya. Bahkan dia masih belum membicarakan pertemuan Aisyah dengan Rizky waktu itu. Apakah dia harus bertanya pada Aisyah tentang itu? Bagimana jika mereka kembali bertengkar? Tidak-tidak. Arshad tak ingin menghancurkan mood Aisyah yang terlihat begitu bahagia dan antusias karena pernikahan kakaknya yang tak lama lagi.


Tanpa sadar Arshad menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Anam menoleh heran.


"Kenapa lo? Kerasukan?"tanya Anam.


"Gua_ gua lagi gak enak badan aja, bang. Gak tau nih kenapa?"bohong Arshad. Namun justru kebohongan itu malah membuat Aisyah yang berada di samping Arshad menoleh ke arah Arshad dengan khawatir.


"Gak enak badan?"tanya Aisyah dan hanya di balas anggukan kecil oleh Arshad.


Sedetik kemudian Aisyah mendekat dan menyentuh dahi Arshad. Tak peduli bahwa orang yang disentuhnya sekarang sudah terdiam membeku karena jarak wajah mereka yang dekat.


"Kamu sakit, mas? Kenapa gak bilang dari tadi, sih? Lihat tuh muka kamu udah merah gitu. Kamu belum lama ini baru sembuh loh."ucap Aisyah yang benar-benar khawatir. Sedangkan Arshad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih menatap Aisyah yang berada begitu dekat dengannya.


---Jantung, please jangan copot!---batin Arshad.


"Mas, kenapa diam? Muka kamu makin merah tuh."ujar Aisyah lagi. Anam dan Khadijah jadi saling pandang melihat itu. Ada rasa iri serta bahagia di hati mereka. Iri karena tak bisa seperti itu untuk sekarang dan bahagia karena melihat kedekatan serta hubungan Aisyah dan Arshad yang terlihat baik.


---Sabar, nam! Gak lama lagi. Jangankan dapat perhatian dari Khadijah, kalau bisa lo kantongi dia kemana-mana pas udah sah.---batin Anam.


"Parah banget nih kayaknya sakitnya. Tapi kok gak panas, ya?"Aisyah pun akhirnya menjauh dari Arshad dengan pandangan khawatir menatap Arshad.


"UHUK! UHUK!" didetik itu juga Arshad langsung membuang pandangannya ke arah lain sambil terbatuk-batuk dan memukul-mukul dadanya dengan harapan dapat menetralkan detak jantungnya kembali.


Arshad merutuki dirinya yang sangat kentara bahwa dia sedang gugup. Aisyah benar-benar berpengaruh besar pada kesehatan jantungnya.

__ADS_1


"Ak_ aku gak apa-apa. Gak usah khawatir!" ucap Arshad setelah jantungnya yang terasa sedikit lebih tenang dari yang tadi.


"Gak apa-apa gimana? kamu sampai batuk-batuk gitu. Ayo ke kamar biar aku temenin!"Aisyah berdiri dan menarik pelan tangan Arshad agar Arshad mengikutinya. Dengan pasrah, Arshad pun akhirnya berdiri menuruti sang istri.


"Kak, aku duluan, ya! Gak apa-apa, kan?"pamit Aisyah pada Anam dan Khadijah yang masih diam menatap keduanya.


"Iya, gak apa-apa. Arshad kayaknya emang lagi capek banget."ucap Khadijah.


Aisyah mengangguk lalu menarik Arshad ke kamar dengan lembut. Anam hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan tingkat kepekaan adiknya itu.


"Gitu tuh kalau punya adik gak peka. Suami gugup malah dibilang sakit. Kamu kalau jadi istri aku harus peka,ya!"Anam beralih menatap Khadijah yang terkekeh geli.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan dan jaga hati buat aku."gombal Anam dengan senyuman konyolnya.


"Iya, mas. Sana gih pulang!"


"Ih, kok ngusir?"


"Gak ngusir."


"Terus?"


"Ish, ya udah aku pulang. Assalamualaikum calon istri! Oh iya, pintunya jangan lupa di kunci!"


"Iyaa, wa'alaikumussalam..."


_____________________


Arshad masuk ke kamar mandi berniat mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Isya. Dia menatap dirinya di cermin sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang masih memerah sambil mondar mandir. Ada baiknya jika Aisyah tidak sadar bahwa tadi dirinya gugup. Jadi Aisyah tak akan meledek dirinya.


Arshad menghela nafas,"Aisyah... Aisyah. Ada-ada aja sih. Nih juga jantung kenapa berulah juga?"gumam Arshad sambil memukul dadanya.


TOK! TOK!


Arshad tersentak dan hampir mengumpat dalam hati karena terkejut. Apa lagi ini?


"Mas! Kamu kok lama banget di dalam?! Kamu gak pingsan,kan?!"


"Bentar lagi aku keluar!"

__ADS_1


---Untung istri. Bikin kaget orang aja.---batin Arshad menggerutu.


Sahutan Arshad dari dalam membuat Aisyah lebih tenang. Sesaat kemudian Aisyah melangkahkan kaki keluar kamar. Dia berniat mengambilkan obat untuk Arshad. Namun saat dia sampai di ruang tengah, dia melihat Khadijah hendak memasuki kamar dan tak melihat Anam di ruang tengah itu.


"Loh, kak? Kak Anam mana? Udah pulang?"tanya Aisyah.


"Udah, baru aja. Kamu mau kemana?"


"Mau ambil obat untuk mas Arshad."


Khadijah terdiam sejenak,"kalau saran kakak, gak usah kamu kasih obat, deh." Sudah jelas Arshad itu gugup, bukan benar-benar sakit. Ternyata benar bahwa tingkat kepekaan Aisyah itu sangat minim.


Aisyah mengernyit heran,"Loh, kok? Kan mas Arshad sakit, ya harus dikasih obat dong, kak."


"Dia cuma kecapean aja mungkin. Percaya, deh! Besok pagi pasti baikan."


"Ya udah deh kalau gitu aku buatin mas Arshad teh madu aja, deh."


"Nah, kalau itu baru gak apa-apa. Kakak shalat dulu,ya."


"Iya kak. Abis itu langsung istirahat!"


"Iyaa..."


Setelah beberapa saat berkutat di dapur, akhirnya Aisyah memasuki kamar dan melihat Arshad sedang shalat. Aisyah pun tersenyum lalu meletakkan teh madu buatannya di atas nakas samping tempat tidur Arshad lalu duduk di kasur sambil menunggu Arshad selesai.


Setelah Arshad selesai shalat, Arshad melipat sajadahnya dan menatap Aisyah.


"Kamu gak shalat?"


Aisyah menggeleng,"lagi dapet."


Arshad mengangguk paham lalu menatap ke arah teh yang ada di nakas,"buat aku?"tanya Arshad sambil menunjuk teh madu tersebut.


"Iya, habis diminum langsung istirahat, ya! kamu pasti capek banget."


Arshad mengangguk,"aku ganti baju dulu baru aku minum. Kamu juga harus istirahat sekarang! akhir-akhir ini tugas kampus pasti banyak, kan?"


Aisyah hanya mengangguk sambil tersenyum namun tetap mengamati Arshad yang mengambil baju ganti dari lemari dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Sungguh senang hati Arshad saat ini. Aisyah perhatian padanya tanpa ada niat menghindar seperti kemarin-kemarin. Apa dia harus sakit dulu baru Aisyah akan perhatian padanya? Sikap Aisyah yang begitu perhatian dan lembut adalah sisi dari Aisyah yang sangat disukai Arshad. Bukan seperti sisi dari Aisyah yang berusaha menghindarinya dan bahkan terlihat cuek padanya. Menurut Arshad, sangat menyebalkan jika Aisyah mengacuhkannya.


__ADS_2