
Aisyah benar-benar tak habis pikir dengan sikap Arshad yang kini berubah jadi lebih baik. Entah kenapa ia merasa melewatkan sesuatu yang penting. Apakah Arshad sudah mulai membuka hatinya? Pertanyaan itu tak henti-hentinya berputar di kepalanya, bahkan senyumnya pun terus terurai di bibirnya.
"Hayo loh! Sedang memikirkan apa?"tanya Alika yang terdengar menggoda Aisyah.
"Seminggu tidak kuliah, sepertinya ada yang sedang kasmaran,nih. Kemana saja seminggu ini? Bulan madu?"Kesha ikut menggoda Aisyah.
Aisyah menggelengkan kepalanya,"Apa-apaan sih? Siapa juga yang bulan madu?"
"Ngaku, deh!"paksa Alika.
"Tidak Alika sayang!"ucap Aisyah.
Alika dan Kesha tertawa.
"Hari ini kita tidak ada kelas."ucap Kesha mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa?"tanya Aisyah.
"Ada pertandingan basket alumni, syah."jawab Alika.
"Sepertinya cuma anak fakultas ekonomi saja."tambah Kesha.
Aisyah mengangguk mengerti,"Tapi hubungannya dengan kita apa?"
"Nonton lah!"seru mereka.
.
.
.
Seluruh mahasiswa fakultas ekonomi sudah memadati Tribune. Banyak senior bahkan junior di sana dan juga bukan dari fakultas ekonomi saja.
"Tadi kamu bilang anak fakultas ekonomi saja, tapi ini juga ada dari fakultas lain."ucap Aisyah.
"Mungkin biar adil siapa yang mau nonton, boleh aja."jawab Kesha.
Aisyah teringat dengan perkataan Arshad tadi, kalau tidak salah Arsyad bilang akan ada reuni di kampus. Apakah Arshad adalah tamatan kampusnya?
"Dengar-dengar Kak Arshad juga ada."
"Serius?"
"Iya..."
"Pasti makin ganteng."
Aisyah langsung menatap seniornya yang berada di depannya membicarakan tentang Arshad. Apakah Arshad yang dimaksud adalah Arshad suaminya?
Sorakan nyaring terdengar saat rombongan alumni memasuki lapangan. Aisyah mencari-cari untuk memastikan apakah benar ada Arshad.
Dan benar saja,"Mas Arshad?"
Teman-teman Aisyah sontak menatap Aisyah, "Mas Arshad?"tanya mereka.
Aisyah menunjuk ke arah Arshad yang sedang mendribble bola dengan dagunya. Mereka melihat ke arah Arshad.
"Wah, keren!"ucap Kesha.
"Jadi suami kamu tamatan kampus ini juga? Kamu tau,syah?"tanya Alika.
"Tidak, tadi sempat bilang ada reunian tapi tidak bilang di mana."
"Biar kejutan mungkin."goda Kesha.
"So sweet ya, mas Arshad."tambah Alika.
Aisyah hanya tersenyum mendengar ucapan teman-temannya.
"Ternyata benar-benar ada kak Arshad. Lihat! Tambah ganteng."
__ADS_1
"Sudah punya pacar belum,ya?"
"Dengar-dengar, tamat kuliah dia pacaran dengan kak Laras dari jurusan design."
"Oh ya? Memang cocok sih. Tapi, kenapa kak Laras tidak terlihat?"
"Tidak tau."
"Apa mungkin mereka sudah putus?"
"Entahlah."
Telinga Aisyah rasanya panas mendengar perkataan para seniornya tentang Arshad dan Laras. Namun yang bisa dia lakukan hanyalah diam dan menatap Arshad yang juga sedang menatapnya dengan senyumannya yang lembut.
"Sabar,syah!"ucap Kesha.
"Sebenarnya mas Arshad memang lebih cocok bersama mbak Laras dari pada aku."ujar Aisyah.
"Tidak boleh bilang begitu! Kamu jauh lebih cocok dari pada mbak Laras."ucap Kesha lagi.
"Kamu sama mas Arshad sudah baik-baik saja,kan?"tanya Alika, Aisyah mengangguk.
"Itu yang terpenting. Tidak perlu dengarkan yang lain."ucap Alika.
Aisyah menghela nafas,"Tapi aku tidak bisa di sini. Aku pergi dulu."
"Kamu yakin?"tanya Kesha, Aisyah mengangguk.
"Ya sudah."
Saat Aisyah baru berdiri dari tempat duduknya, ponselnya berdering. Aisyah mengerutkan keningnya saat melihat nama 'suami' di layar ponselnya.
Aisyah menatap ke arah Arshad yang menatapnya dengan tangan memegang ponsel yang tertempel di telinganya.
"Halo."ucap Aisyah tanpa melepaskan tatapannya dari Arshad.
"Kamu mau kemana?"tanya Arshad.
"Aku tanding."
"Aku tau."
"Tidak mau nonton?"
"Di sini panas."
"Panas kenapa?"
"Ya panas aja..."
"Kamu tidak mau lihat aku tanding?"
"Mau, tapi di sini tidak nyaman."
"Tidak nyaman kenapa?"
"Berisik."
Arshad menahan senyumnya,"Berisik kenapa? Karena ngomongin aku?"
"Jangan mulai lagi, deh!"
"Makanya, duduk deh! Lihat aku main. Aku jago basket loh. Please!"
Aisyah menghela nafas dan mengangguk lalu mematikan sambungan telepon sebelum akhirnya kembali duduk.
"Tadi mas Arshad?"tanya Alika, kepo.
"Iya."
"Mas Arshad bilang apa?"tanya Kesha.
__ADS_1
"Dia suruh aku nonton."
Alika dan Kesha saling pandang dan tersenyum membuat Aisyah heran.
"Kenapa?"mereka menggeleng.
Peluit berbunyi dan pertandingan pun dimulai. Para pemain sudah berlari mengatur posisi dan tak tik. Mereka bermain dengan penuh kekompakan. Arshad menggiring bola lalu melemparnya ke arah ring. Dan... masuk.
Sorakan gembira terdengar di mana-mana. Arshad berlari di lapangan dan ber-tos ria dengan teman-temannya.
"Masih keren aja."puji Galih, temannya.
"Harus tetap keren. Ada istri gua soalnya."ucap Arshad.
"Serius,lo?!"
Arshad hanya membalasnya dengan senyuman dan kembali fokus bermain.
Setelah beberapa saat, kini tim Arshad memimpin poin hingga babak pertama berakhir. Seluruh pemain beristirahat sejenak. Tapi Arshad masih saja menatap Aisyah dari tempatnya duduk yang terlihat sibuk bicara dengan sahabatnya.
"Juna, babak kedua lo gantiin gua,ya!"pinta Arshad.
Juna mengangguk menyanggupi. Arshad mengusap keringatnya dengan handuk kecil dengan mata masih menatap Aisyah yang kini juga ikut menatapnya. Satu ide terlintas di kepalanya. Dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya, Arshad berdiri dan berjalan mengitari lapangan. Dia berjalan ke arah Tribune. Arshad dapat melihat raut wajah keheranan Aisyah. Senyumnya pun semakin terurai.
Sedangkan orang-orang yang lain, khususnya para cewek merasa sangat senang dapat melihat Arshad dari dekat. Sorakan kembali terdengar saat Arshad sudah semakin dekat dengan Tribune. Berbeda dengan Aisyah yang kini sudah membeku di tempat dengan harapan Arshad tidak menuju ke arahnya.
Aisyah menggeleng pelan pada Arshad sebagai bentuk kode,"jangan, please!"bisik Aisyah, namun Arshad pura-pura tak mengerti.
"Syah, itu mas Arshad tidak berniat samperin kamu,kan?"tanya Kesha.
"Kalau boleh berharap, semoga saja tidak."ucap Aisyah.
Semuanya jadi hening saat Arshad tiba-tiba berjongkok di samping Aisyah yang sudah tak bisa menutupi keterkejutannya. Arshad tersenyum manis dengan tangan berpegangan pada sandaran kursi.
Raut wajah Aisyah yang seperti itu membuat Arshad sulit menahan tawanya.
Arshad terkekeh,"Hehe. Biasa aja, sayang!"mendengar itu membuat teman-teman Aisyah menahan senyum mereka.
"Kamu ngapain, sih?"bisik Aisyah dan mendapat senyum jail dari Arshad. Aisyah hapal dengan senyum itu.
"Iseng banget,sih."ucap Aisyah membatin.
"Nanti kita pulang bareng,yuk! Masih ada kelas?"ajak Arshad, Aisyah menggeleng.
Kening Arshad berkerut heran,"Kamu geleng untuk ajakan aku atau jawaban dari pertanyaan aku?"Aisyah pun mengangguk lalu kembali menggeleng sehingga membuatnya terlihat aneh.
Arshad terkekeh,"Pulang bareng?"Aisyah mengangguk.
"Masih ada kelas?"Aisyah menggeleng, lalu Arshad mengusap pipi Aisyah dengan lembut membuat semua cewek di sekitar mereka semakin terkejut dan berteriak histeris.
Arshad pun beralih menatap teman-teman Aisyah,"Kalian teman-teman Aisyah,kan?"
"Iya, mas."jawab mereka.
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik."
"Boleh ikut duduk?"
Seakan mengerti, mereka bergeser diikuti Aisyah dan Arshad pun duduk di samping Aisyah.
Arshad berbisik di telinga Aisyah,"kalau kamu, apa kabar sama jantungnya?"goda Arshad.
Aisyah berdehem,"Ehem, biasa aja."jawabnya datar. Berusaha menutupi kegugupannya akibat jantungnya yang masih saja berdetak dengan cepat.
"Bohong. Pasti kaya qolqolah kubro,deh."Aisyah sontak menatap Arshad dengan heran.
"Memantul-mantul dengan keras."sambung Arshad yang sulit menahan tawanya. Aisyah awalnya tercengang mendengar gombalan aneh Arshad, namun tak dapat ia pungkiri bahwa dia kini juga sulit menahan tawa.
Arshad menatap lurus ke depan masih berusaha menahan tawa. Sama halnya dengan Aisyah. Lalu mereka sama-sama saling lirik dengan senyum tertahan. Arshad dan Aisyah pun tak tahan dan sama-sama terkekeh.
__ADS_1