Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Berbeda


__ADS_3

Arshad pulang kerja sekitar jam 9 malam. Dia masuk ke kamar. Karena peristiwa tadi sore di restoran membuat Arshad tidak fokus bekerja sama sekali. Namun dia tak bisa pulang lebih cepat karena ada pekerjaan yang tak dapat ditunda. Namun saat dirinya masuk, Arshad heran melihat Aisyah yang sudah tertidur. Dia melihat jam dan masih pukul 9, tapi Aisyah sudah tertidur. Tidak seperti biasanya.


Arshad mendekat dan menyentuh dahi Aisyah karena khawatir Aisyah sedang sakit, tapi Aisyah tak demam. Atau mungkin karena dia kelelahan? Arshad pun mengelus kepala Aisyah yang masih tertutup hijab. Sejak menikah Arshad belum pernah melihat Aisyah tanpa hijab. Mungkin Aisyah belum siap.


"Kamu kelelahan banget, ya? Lain kali jaga kesehatan kamu, jangan buat aku khawatir!"Arshad mengecup puncak kepala Aisyah dengan lembut lalu beranjak untuk mengganti baju ke kamar mandi. Sedetik setelah Arshad masuk ke kamar mandi, Aisyah membuka matanya dan menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan datar. Setelah itu dia kembali menutup mata.


.


.


.


Subuhnya, saat Arshad terbangun, dia sudah tak melihat Aisyah lagi. Kemana Aisyah yang biasanya membangunkan dirinya untuk shalat? Arshad pun bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Setelah Arshad selesai shalat subuh pun Aisyah tetap tak terlihat. Kemana Aisyah pergi?


Dia pun keluar dari kamar dan turun ke bawah, ternyata Aisyah malah tertidur dengan Al-Qur'an di pangkuannya. Arshad pun tersenyum dan duduk di samping Aisyah sembari mengusap pipi istrinya.


"Aku rindu dengar suara kamu. Dari subuh kemaren hingga subuh sekarang gak pernah kedengaran."Arshad menghela nafas lalu menutup Al-Qur'an Aisyah dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu Arshad mengangkat Aisyah dan membaringkannya di kamar.


Arshad terus menatap wajah Aisyah yang masih terlelap dengan seksama hingga akhirnya dia pun ikut tertidur. Saat jam menunjukan pukul 6 pagi, Aisyah terbangun dan terkejut melihat Arshad yang tertidur begitu dekat dengannya. Aisyah pun menatap ke sekeliling.


"Kamar? Kok bisa aku ada di_"Aisyah terdiam dan menatap Arshad. Dia menyadari bahwa mungkin Arshad yang mengangkatnya dan membawanya ke kamar.


Aisyah menghela nafasnya lalu bangun dari tempat tidur. Aisyah mulai siap-siap. Saat jam menunjukan pukul 7 pagi, Aisyah sudah selesai dan langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada Arshad yang masih terlelap.


"Bi Nah, saya berangkat kuliah dulu."ucap Aisyah dan dingin.


"Eh, kok pagi-pagi sekali? Sarapan untuk mas Arshad nya gimana,mbak? Apa bibi aja yang buat?"tanya bi Nah.


"Terserah. Assalamu'alaikum."ucap Aisyah lalu pergi begitu saja dan meninggalkan tanda tanya besar bagi bi Nah. Ada yang aneh dari Aisyah, tapi dia tak tahu apa itu. Mungkin saja Aisyah dan Arshad sedang bertengkar lagi.


Saat jam pukul 8, Arshad turun ke bawah dan duduk di ruang makan.


"Aisyah kemana ya, bi?"tanya Arshad sembari melirik sana sini.


"Sudah pergi,mas."


"Lagi?"


Bi Nah mengangguk,"Sarapannya kali ini saya yang buat gak apa-apa kan, mas?"


"Kenapa bukan Aisyah?"

__ADS_1


"Mbak Aisyah terlihat buru-buru tadi, mungkin ada urusan mendadak."


Arshad hanya mengangguk paham walau alasan itu sedikit tak sesuai menurut Arshad. Memang ada yang aneh dengan Aisyah. Biasanya mau sesibuk apapun dia, dia pasti akan tetap menyempatkan diri untuk memperhatikan Arshad walau sekecil apapun perhatian itu. Jika dipikir-pikir, apakah Arshad membuat kesalahan?


.


.


.


Kebingungan Arshad terbawa hingga saat dirinya sedang meeting. Arshad hanya melamun walau matanya menatap ke depan, tepatnya ke arah orang yang sedang melakukan presentasi, tapi pikirannya tetap tak sejalan.


"Pak, jadi bagaimana?"tanya salah seorang pada Arshad, sedangkan Arshad hanya diam melamun.


Semua orang yang berada di sana saling pandang. Tak jauh beda dengan Rio yang geleng-geleng kepala karena heran melihat temannya itu.


"Tiap hari galau mulu. Aisyah tuh udah nunggu di depan."bisik Rio membuat Arshad langsung berdiri antusias.


"Di depan mana?"tanya Arshad.


"Itu yang di depan dari tadi manggil lo."ucap Rio membuat Arshad tersadar bahwa dirinya sudah dikerjai.


Dengan helaan nafas kasar Arshad mengambil ponselnya di atas meja,"Saya sedang tidak enak badan, jadi kurang fokus. Bisa meeting- nya dijadwalkan ulang pak Rio?"


"Kalau begitu saya minta maaf, permisi."ucap Arshad lalu pergi ke ruangannya yang diikuti Rio dari belakang.


Sesampainya di ruangan Arshad, Rio pun tak kuasa untuk menahan rasa penasarannya.


"Lo kenapa lagi, sih? katanya Aisyah udah pulang, terus sekarang kenapa lagi? berantem?"tanya Rio dan Arshad hanya bisa menggidikkan bahu tanda tidak tahu. Karena memang dirinya tidak tahu.


"Terus?"


"Aisyah kayak lagi menghindar dari gua. Dia gak kayak biasanya. Perhatiannya ke gua udah gak ada."


Rio menatap Arshad dengan geli,"Sejak kapan lo jadi alay gini? gak perhatian sedikit aja lo sampai linglung gini. Lo sehat, bro?"


"Bukan gitu, yo. Tapi sikap Aisyah akhir-akhir ini benar-benar gak seperti biasanya. Gua yang selalu ada sama dia, lo orang asing gak akan ngerti. Dia sekarang, beda."


"Mungkin dia lagi sibuk banget kali. Atau mungkin dia pengen tamatin kuliah cuma tiga tahun supaya setelah itu dia bisa fokus sama lo. Bisa jadi,kan?"


"Apa iya?"

__ADS_1


"Positif thinking aja! Aisyah gak mungkin kayak gitu kalau gak ada alasan."


Arshad terdiam. Yang dikatakan Rio ada benarnya. Aisyah memang selalu tak terduga.


"Ulang tahun lo kapan, Ar?"


"8 Agustus. Kenapa emang?"


"Seminggu lagi dong berarti."


Arshad mengangguk,"Iya. Emang kenapa,sih?"


Rio menjentikkan jarinya,"Gua tau kenapa Aisyah sikapnya berubah sama lo."


"Kenapa?"


"Aisyah mau kasih kejutan. Kayak orang-orang gitu, sok cuek sok jutek padahal mau ngasih kejutan."


"Masa sih? gak yakin gua."ucap Arshad sambil tersenyum malu.


"Gak yakin, tapi lo senyum."sindir Rio.


"Tapi gua masih ragu."


"Ragu kenapa lagi, sih? tenang aja udah! paling bentar lagi istri lo_"


Drrt drrt!


Arshad dan Rio langsung menatap ke arah ponsel Arshad yang bergetar. Mata Arshad membulat. Aisyah menghubunginya.


"Belum sampai gue ngomong, Aisyah udah nelepon duluan."ujar Rio.


"Lo keluar sana! gua butuh privasi." usir Arshad.


"Dasar bucin!" Rio pun memilih keluar dari sana dari pada menjadi obat nyamuk. Lihatlah Arshad sekarang! tadi terlihat seperti orang hendak mati besok, sekarang terlihat seperti orang yang akan hidup lama. Untung hanya satu temannya yang seperti itu, kalau banyak dia bunuh semuanya, gerutu Rio dalam hati.


"Assalamualaikum, Aisyah."


"Wa'alaikumussalam,mas. Aku cuma mau bilang besok kak Anam sama Khadijah sekeluarga mau pulang ke Jakarta. Rencananya kak Khadijah sekeluarga mau nginap di rumah kita. Boleh, gak?"


"Boleh, kok. Terus ada lagi yang mau kamu sampaikan?"tanya Arshad penuh harap.

__ADS_1


"Gak ada. Aku tutup dulu ya, mas. Banyak tugas soalnya. Assalamu'alaikum."


"A_ Aisy_"belum sampai Arshad bicara, sambungan telepon sudah terputus. Apakah hanya itu saja yang ingin Aisyah katakan? tak ada hal lain lagi? Arshad meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Padahal dia sangat merindukan Aisyah sekarang, tapi dari kemarin dia baru ini bicara dengan Aisyah. Itu pun sebentar. Kalau memang Aisyah ingin membuat kejutan, kenapa harus seperti ini? Ini sangat menyiksa.


__ADS_2