
Aisyah kini sedang berdiri di pinggir jalan sambil celingak-celinguk mencari taksi yang lewat. Namun aktifitasnya terhenti kala sebuah mobil berhenti di depannya. Aisyah mengernyitkan dahinya heran. Mobil yang di depannya ini bukanlah mobil Arshad ataupun Anam. Lalu siapa?
Tak lama Aisyah dibingungkan dengan hal itu, seorang pria yang turun dari mobil membuat Aisyah tersenyum.
"Kak Rizky ternyata? Aku pikir siapa?"gumam Aisyah.
Rizky mendekat dengan senyum manisnya,"assalamu'alaikum, Aisyah."
"Wa'alaikumussalam. Kak Rizky ngapain di sini?"
Rizky menyodorkan sebuah amplop pada Aisyah membuat Aisyah jadi termenung sejenak,"ketinggalan waktu itu."ucap Rizky.
Aisyah tersenyum mengambil amplop tersebut,"kenapa gak dibuang aja?"
Rizky hanya menggidikkan bahunya.
"Kamu mau kemana? Udah selesai kuliahnya?"tanya Rizky mengalihkan pembicaraan.
"Udah selesai. Ini aku mau pulang, lagi nunggu taksi."
"Aku antar aja, ya? Mau?"
"Nggak ngerepotin, kak?"tanya Aisyah ragu.
Rizky mengangguk,"ngerepotin sih. Tapi gak apa-apa kalau itu kamu."gombal Rizky membuat Aisyah menggeleng maklum dengan kelakuan Rizky ini. Mantan kakak tingkatnya itu memang terkenal playboy. Jadi sudah biasa jika dirinya mendengar gombalan-gombalan aneh yang dilontarkan Rizky.
"Hari ini udah berapa cewek yang kakak gombalin?"
Rizky mengetuk-ngetuk dagunya seakan berpikir,"10 deh kayaknya. Sebelas termasuk kamu."canda Rizky. Membuat keduanya terkekeh.
"Ingat! Udah bersuami ini."balas Aisyah.
"Sayangnya sih itu. Zaman sekarang gak enak banget jadi pebinor. Iya kalau ceweknya suka, kalau enggak? Makan hati sendiri aku."kekeh Rizky lagi.
"Jadi, penawarannya masih berlaku?"tanya Aisyah.
"Penawaran apa dulu nih? Direbut dari suaminya?"
Aisyah berdecak,"ck, tebengannya lah."
"Ohhh kirain. Yuk lah cus!"Rizky membukakan pintu mobil untuk Aisyah dan tanpa menunggu lama, Aisyah pun masuk dan berterima kasih.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat itu yang tanpa disadari bahwa ada Arshad yang melihat semuanya di kejauhan dari dalam mobilnya. Arshad mencengkram stir dengan kuat untuk menahan emosi yang sudah hampir meluap.
Padahal awalnya dia ingin menjemput Aisyah ke kampus dan pulang bersama. Tapi yang dia lihat Aisyah malah dijemput Rizky. Sebenarnya apa hubungan mereka? Memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi membuat Arshad benar-benar takut.
__________________
Saat Aisyah sampai di rumah, Aisyah melihat Anam yang duduk di ruang tengah sambil menikmati acara di tv.
"Assalamu'alaikum."ucap Aisyah.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
"Udah selesai fitting bajunya, kak?"tanya Aisyah menghampiri Anam.
"Udah dari tadi. Terus singgah dulu lama di rumah ummi, baru deh ke sini. Ini baru nyampe."jawab Anam.
"Kak Khadijah mana?"
"Di dapur, lagi bikin minum."jawab Anam dengan mata fokus ke acara yang sedang dia tonton.
"Berarti dari tadi, kak Anam sama kak Khadijah berdua dong di rumah?"tanya Aisyah penuh selidik.
Anam mendengus,"tadinya mau pulang karena kan gak enak masa belum nikah tapi berduaan. Terus, asisten rumah tangga kamu datang dan suruh aku masuk. Jadi aman, tenang aja!"jelas Anam.
"Ohhh bi Nah udah pulang? Syukur deh kalau gitu."
"Emang kemaren kemana?"
"Ke tempat anaknya, katanya anaknya lagi sakit."
Anam ber-oh ria,"pantesan kemaren gak lihat."
"Kalau gitu aku ke atas dulu."
Anam mengangguk menatap Aisyah yang kini sudah berjalan ke lantai atas. Tak lama setelah itu Arshad juga masuk ke rumah dengan wajah kelewat datar.
"Assalamu'alaikum."ucapnya.
Arshad ikut duduk di sofa samping Anam dan menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam,"aman, bang."
"Kenapa lo? Kerjaan numpuk?"
Arshad membuka matanya dan beralih menatap Anam,"Lumayanlah. Lo kapan mulai kerja, bang? Perusahaan yang di urus abi itu punya lo, kan?"
"Bukan perusahaan gua. Itu punya Ayah."sela Anam.
"Ya sama aja, bang. Sekarang kan udah jadi punya lo. Terus kapan nih mau nerusin perusahaan ayah?"
"Setelah nikah mungkin. Kalau sekarang masih butuh bantuan abi dulu untuk ngurusin perusahaan itu."
"Iya sih, lo juga kan lagi sibuk ngurusin ini itu untuk pernikahan lo."
"Eh, pas banget Arshad juga udah pulang. Ini kakak buatin teh buat kamu dan mas Anam."ucap Khadijah yang datang dari dapur sambil membawa nampan yang terdapat 4 gelas teh di sana.
"Aisyah masih belum pulang?"tanya Khadijah pada Anam.
"Udah, tapi katanya mau ke kamar dulu."jawab Anam.
"Nyariin aku, ya?"tanya Aisyah yang sudah berjalan menuju mereka dan duduk di samping Khadijah.
"Pas banget kamu udah datang. Kakak mau minta usulan kamu."ucap Khadijah.
__ADS_1
"Usulan apa kak?"
Khadijah mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan berbagai contoh undangan.
"Ini, menurut kamu bagusan yang mana? Kakak bingung."
"Kalau menurut aku sih...."Aisyah dan Khadijah pun sibuk dengan rancangan undangan. Anam hanya tersenyum melihat itu dan kembali menonton. Sedangkan Arshad terus saja menatap Aisyah dengan datar. Banyak hal yang sangat ingin dia tanyakan dan selesaikan dengan Aisyah. Tapi lagi-lagi harus dia urungkan karena alasan yang masih sama. Tidak mau merusak mood Aisyah yang terlihat baik saat ini.
"Ini bagus nih. Simple tapi elegan."ucap Aisyah dan diangguki Khadijah.
"Menurut kakak gimana?"Aisyah menyodorkan layar ponsel Khadijah pada Anam agar bisa Anam lihat.
Anam tersenyum dan mengangguk,"bagus, kakak suka."
"Bagus kan, mas?"tanya Aisyah pula pada Arshad. Arsyad hanya melihat sekilas lalu mengangguk.
"Tuh, ini aja kak. Gimana?"Aisyah pun kembali beralih pada Khadijah.
"Okee setuju."
Setelah disepakati, mereka pun sibuk dengan ponsel masing-masing. Arshad menghela nafas lalu menatap ketiga orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka itu.
Arshad pun berdehem,"ekhem, apa pendapat kalian tentang kesetiaan?"tanya Arshad. Entah apa yang dipikirkan Arshad hingga tiba-tiba pertanyaan itu terlontar.
Anam beralih menatap Arshad lalu berpikir sejenak, "Kesetiaan itu bukti nyata cinta seseorang. Mau selancar apa pun suatu hubungan, gak akan sempurna kalau gak dibarengi dengan kesetiaan."jawab Anam yang tertarik dengan pertanyaan Arshad.
Khadijah tersenyum karena ikut tertarik dengan pembicaraan itu.
"Kesetiaan dalam suatu hubungan itu seperti ujian. Bukan seberapa lama kamu bersamanya yang menjadi ukuran kesetiaan itu. Tapi seberapa mampu kamu menjaga hati saat kamu bahkan gak bisa selalu ada di sisinya. Dan ujian kesetiaan yang sebenarnya adalah ketika memburuknya suatu hubungan. Ini tentang bisa atau nggaknya kamu bertahan."jawab Khadijah pula sehingga membuat Anam tersenyum. Tentu saja Anam mengerti maksud Khadijah. Seperti mereka dulu yang terpisah jarak, waktu dan tempat. Hingga sampai pada saat ini. Menjaga hati itu tak sulit, bertahan tanpa kepastian itu yang sulit. Itulah yang dirasakan Khadijah selama ini. Bertahan.
"Kayak kita, ya?''tanya Anam menggoda Khadijah dan hanya dibalas senyuman oleh Khadijah.
Aisyah memutar bola matanya jengah melihat suaminya serta kedua calon suami istri itu. Kenapa mereka harus membahas hal seperti ini?
"Kalau kamu gimana? Menurut kamu setia itu apa?"tanya Khadijah beralih pada Aisyah.
"Setia itu hal paling penting dalam cinta. Dia itu limited."jawab Aisyah.
"Maksudnya?"tanya Anam.
"Ya terbatas. Cuma cukup buat satu orang aja. Gak untuk dibagi. Kalau dibagi, bukan setia lagi namanya. Setia itu harga mahal."jawab Aisyah.
"Kalau lo, Ar? Lo yang nanya, sekarang gua pengen dengar pendapat lo."tanya Anam.
Arshad menatap Aisyah yang kini terlihat penasaran dengan pendapat Arshad.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Aisyah, Arshad menjawab,"Kesetiaan itu cuma orang hebat yang punya. Dan orang hebat itu bukan dia yang memiliki banyak cinta, tapi dia yang bisa menolak kehadiran cinta lain demi mempertahankan satu cinta."
Arshad berharap Aisyah memahami maksudnya. Kata-katanya barusan adalah sindiran, atau lebih tepatnya adalah teguran dari Arshad untuk Aisyah. Dia berharap bahwa pemikirannya selama ini, yang terus mempertanyakan kebenaran dari kesetiaan Aisyah adalah salah. Salah, jika dia berpikir bahwa Aisyah berselingkuh. Berharap memang tak ada sesuatu antara Aisyah dan Rizky. Semoga Aisyah benar-benar akan menolak kehadiran orang lain demi mempertahankan hubungannya dengan Arshad. Menolak kehadiran cinta lain demi mempertahankan satu cinta.
Namun bagi Aisyah yang mendengar perkataan Arshad sendiri, malah terdiam dan berpikir keras untuk mencari maksud dari perkataan Arshad itu. Dia malah berpikir mengenai Laras sekarang.
__ADS_1
'Menolak kehadiran cinta lain demi mempertahankan satu cinta? Apakah maksud mas Arshad adalah dia ingin mempertahankan cintanya dengan mbak Laras? Apakah itu maksudnya?' batin Aisyah.