Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
TAMAN


__ADS_3

Siang ini setelah Aisyah diperiksa, Aisyah langsung disibukkan dengan banyaknya tugas kampus yang dikirim langsung oleh dosen pembimbing untuknya. Ya, setelah berbagai bujukan dan banyaknya cara yang dilakukan Aisyah akhirnya Arshad memberikan izin. Karena Arshad sudah tidak tahan dengan Aisyah yang selalu mendiaminya selama beberapa hari ini. Namun dengan syarat, tugas-tugas itu tidak mengganggu waktu istirahat Aisyah.


Kamarin malam ummi dan Khadijah juga sempat datang dan menginap di rumah sakit untuk menemani Aisyah. Paginya juga tidak pulang karena Arshad ada rapat penting di kantor, jadi mereka masih setia menemani Aisyah hingga siang ini. Setelah Arshad datang, Arshad meminta keduanya pulang untuk istirahat dulu di rumah. Dan akhirnya keduanya pun pulang.


Arshad kini duduk di tepi ranjang sembari mengaduk bubur untuk Aisyah. Sekarang waktunya Aisyah untuk makan siang, namun Aisyah malah tetap sibuk dengan laptopnya. Arshad menggeleng-geleng pelan, Aisyah tidak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama gila kerja.


"Laptopnya lebih ganteng dari pada aku, ya? aku duduk di sini dari tadi aja gak dianggap loh. Katanya kalau dibolehin, gak akan diamin lagi. Ini apa?"sindir Arshad.


"Emangnya kamu ganteng, ya?"tanya Aisyah dengan tersenyum jail.


"Enggak, gak ganteng tapi cantik. Puas kamu?"ucap Arshad jengkel. Orang lagi serius, Aisyah malah membuatnya jengkel.


Aisyah kembali tersenyum lalu mengusap pipi Arshad. Tentu saja membuat Arshad senyum-senyum manja karena diperlakukan seperti itu.


"Nah, makan dulu! Aaaa."seru Arshad menyuruh Aisyah membuka mulut dan dengan senang hati Aisyah melahap bubur yang disuapi Arshad.


"Oh iya mas, ini tolong pindahin buku sama laptopnya bentar dulu dong, mas..."pinta Aisyah dan dengan cepat Arshad memindahkan semuanya ke meja yang berada dekat sofa, lalu setelahnya dia kembali duduk sambil menyuapi Aisyah.


"Gimana tadi meeting -nya? lancar?"tanya Aisyah.


"Alhamdulillah lancar. Capek juga tadi karena banyak kerjaan. Untung bisa cepat siap dan langsung ke sini nemuin kamu. Gak marah kan aku agak lama di kantornya tadi?"


"Lebay kamu, mas. Masa gitu aja aku marah. Biasanya juga kamu kerja sampai malam aku gak masalah kok, masa sekarang pulangnya cepat banget gini aku marah. Aku juga ngerti kalau kamu banyak kerjaan di kantor. Apalagi akhir-akhir ini aku lihat kamu sibuk banget. Pasti capek, ya..."


"Capek sih, tapi udah gak lagi habis lihat kamu. Sekarang kayaknya kamu buka layanan penghilang rasa capek, ya? soalnya habis lihat kamu tuh langsung hilang gitu capeknya."


Aisyah tersenyum geli lalu mendorong bahu Arshad dengan pelan. Entah belajar dari mana suaminya ini menggombal ala zaman out itu?


"Ini yang terakhir."sekali suapan lagi dan akhirnya bubur tersebut habis tak bersisa.


"Kamu sakit tapi makannya lahap, ya. Sampai habis loh ini..."


"Mungkin karena yang suapin ganteng kali. Jadi lahap kan aku makannya."gombal Aisyah.


Seketika Arshad tersenyum dan menepuk bahu Aisyah pelan,"ah, jadi malu."ucapnya.


Aisyah bergidik ngeri melihat sikap alay Arshad,"ish, belajar alay dari mana, mas?"


"Dari abi. Biasanya abi begitu. Hehe..."


"Abi begitu?"Arshad mengangguk.


"Oh iya, ummi tadi cerita loh sama aku."ucap Arshad.


"Cerita apa?"tanya Aisyah.


"Kata ummi, ummi gak pernah cerita sama kamu tentang makanan kesukaan aku. Padahal waktu itu kamu bilang tau dari ummi."


"Yang penting kamu suka, kan?"


"Jadi asal nebak?"


Aisyah menggeleng,"insting kali, ya..."


"Karena terlalu pengertian makanya bisa tau tanpa dikasih tau kali, ya."


"Bisa jadi..."


"Kamu mau jalan-jalan keluar sebentar, gak? Duduk di taman depan rumah sakit. Mau?"ajak Arshad dengan lembut sembari mengusap hijab Aisyah.


Dengan semangat Aisyah langsung mengangguk. Dia memang selama ini sangat ingin keluar mencari udara segar, namun selalu ragu takut tidak diizinkan Arshad mengingat protektif nya suaminya ini.


"Ini minum dulu!"


__________________


Dan kini mereka sudah duduk di kursi taman dengan tenang. Aisyah yang bersandar di bahu Arshad dan Arshad yang senantiasa menggenggam tangan Aisyah sambil mengusap lembut jamari Aisyah yang tampak sangat kecil jika dibandingkan dengan tangannya.


"Mas, kita ke pantai, yuk! Aku pengen... banget ke pantai."pinta Aisyah yang sedikit mendongak untuk melihat wajah Arshad.


"Boleh. Tapi aku coba tanya Rizky dulu, ya..."

__ADS_1


Aisyah mengangguk. Aisyah melihat penjual es krim yang berhenti di depan rumah sakit. Seketika matanya berbinar.


"Mas? kamu mau bikin aku senang, gak?"tanya Aisyah.


"Gak perlu ditanya, kamu pasti tau jawabannya."jawab Arshad.


"Pengen es krim, mas..."rengek Aisyah.


"Kalau itu gak boleh, kamu sakit."tolak Arshad.


Aisyah berdecak sebal,"tapi gak demam..."


"Gak boleh, syah..."


"Katanya mau bikin aku senang."


"Aku mau bikin kamu senang, tapi bukan itu. Pokoknya gak boleh."


"Please...."bujuk Aisyah dengan puppy eyes nya.


"Nggak."


"Mas..."


Arshad menghela nafas pasrah.


"Satu aja tapi. Rasa apa? Coklat?"


Aisyah mengangguk senang. Setelah itu Arshad pun pergi membeli es krim. Terlihat Arshad sedang berbincang dengan penjual es krimnya. Aisyah tersenyum menatap Arshad dari tempat dia duduk hingga matanya melihat seorang anak kecil tampak berlari menuju Arshad. Aisyah yakin anak itu pasti juga ingin membeli es krim.


BRUK


Aisyah terkejut karena anak tersebut terjatuh setelah menubruk kaki Arshad.


"Aduh!... hiks hiks..."isak anak itu.


"Astaghfirullah. Nak, kamu gak apa-apa?"Arshad membantu anak tersebut berdiri. Membantu anak tersebut membersihkan celananya yang kotor.


"Enggak ada, om..."


"Tapi kok nangis?"


"Emang aku nangis? Nggak, kok."kilahnya.


"Masa..."


"Kata mama anak cowok harus kuat, gak boleh nangis. Kalau nangis, berarti lemah. Kalau lemah, nanti gak bisa jagain bunda."jelasnya sambil mengusap air matanya.


"Wahh pintarnya..."seru Arshad dengan kekehan kecil andalannya.


Arshad melihat pakaian yang dikenakan anak tersebut. Pakaian rumah sakit. Apakah anak kecil ini salah satu pasien rumah sakit ini?


"Nama kamu siapa?"


"Arkan, om. Bagus kan nama aku? Kalau, om?"


"Nama om Arshad. Kamu sakit, ya?"


"Cuma sakit kepala sedikit aja kok. Besok juga sembuh. Kalau besok gak sembuh, berarti besoknya lagi sembuh."


Arshad tersenyum. Mungkinkah sakit yang di derita Arkan hampir sama bahayanya dengan yang Aisyah derita? Kasihan sekali jika anak sekecil ini harus menderita seperti ini.


"Kamu tadi mau ngapain?"tanya Arshad.


"Beli es krim buat bunda. Kasihan bunda jagain aku. Jadi aku mau kasih bunda es krim."


"Biar om bantuin, ya. Mau rasa apa?"


"Vanila, om..."


Aisyah walau tak bisa mendengar percakapan dua orang pria berbeda generasi itu, dia tetap tersenyum hangat. Bisa dia lihat bagaimana lembutnya Arshad pada anak tersebut.

__ADS_1


"Anak itu menderita tumor otak."suara seseorang itu yang tiba-tiba itu membuat Aisyah teralihkan untuk melihat si pemilik suara. Ternyata seorang pria berjas putih. Mungkin salah satu dokter di rumah sakit ini. Pikir Aisyah.


Pria itu berbalik menatap Aisyah. Tertegun melihat Aisyah. Entahlah, entah apa yang merasuki pikirannya sehingga matanya tak bisa beralih dari Aisyah. Ini yang kedua kalinya seperti ini. Dia ingat saat beberapa hari yang lalu dia sempat bertabrakan dengan Aisyah.


Aisyah menatap iba Arkan karena diumurnya yang masih kecil, dia harus menderita dan tak bisa bermain seperti anak-anak sebayanya.


"Kasihan sekali dia. Seharusnya dia bisa bermain dengan teman-temannya, sekarang malah harus disibukkan dengan banyaknya pengobatan. Kalau boleh tau, sejak kapan dia menderita penyakit itu?"


"Menurut informasi yang saya dapat, sudah sekitar 4 bulan dia dirawat. Memang sangat disayangkan jika anak sekecil dia harus menderita seperti ini, tapi walaupun begitu saya lihat dia anak yang kuat, ceria dan pantang menyerah. Saya yakin bahwa dia pasti bisa sembuh."


"Aamiin. Dokter ini, dokter baru, ya?"tanya Aisyah.


"Iya, saya baru di rumah sakit ini. Sebenarnya saya hanya dokter kunjungan."


"Kunjungan? Memangnya sebelumnya dokter bekerja di mana?"


"Saya dokter disalah satu rumah sakit di Singapura. Saya mendengar ada pasien penting di rumah sakit ini yang menderita tumor ganas. Jadi saya di minta untuk datang karena kebetulan dokter yang menangani pasien itu adalah teman saya. Oh iya, nama saya Arya. Beberapa hari yang lalu kita pernah tidak sengaja bertabrakan di koridor. Kamu ingat?"


"Ohhh itu dokter? ya ampun bisa kebetulan sekali, ya. Nama saya Aisyah Shaqilla Az-Zahra. Panggil saja Aisyah, dok."balas Aisyah.


"Aisyah. Akan saya ingat nama itu. Kamu... pasien di sini juga?


"Iya, dok."


"Kal_"


"Permisi dokter, bisa bicara sebentar?"ucap salah satu suster menghentikan Arya yang hendak lanjut bicara.


Arya melirik Aisyah sebentar sebelum mengiyakan suster tersebut.


"Saya permisi dulu, Aisyah."ucapnya.


"Iya, dokter Arya."


Aisyah pun menghela nafas panjang dan kembali menatap ke tempat Arshad tadi berdiri. Seketika keningnya berkerut. Aisyah tak melihat Arshad di sana. Aisyah pun celingak-celinguk mencari keberadaan Arshad.


Tiba-tiba sesuatu yang dingin menempel di pipinya membuat Aisyah terlonjak kaget.


Aisyah berbalik untuk melihat si pelaku yang sudah tertawa karena hasil kejahilannya. Siapa lagi kalau bukan Arshad yang sejak tadi ia cari,"mas..."tegur Aisyah sambil mengelus dada.


Arshad yang awalnya di belakang bangku, langsung duduk di samping Aisyah tanpa rasa bersalah.


"Kamu sih, keasikan bicara sama dokter tadi."


"Kamu juga kenapa gak langsung samperin aku aja? kenapa pake kaget-kagetin segala? kamu mau aku serangan jantung? komplikasi dong aku."ucap Aisyah kesal.


"Udah gak usah marah lagi! ini, di ademin dulu pakai es krim."Arshad menyodorkan satu cup es krim pada Aisyah.


"Makasih, mas..."


"Sama-sama istri..."


Setelah itu Arshad kembali menyandarkan kepala Aisyah di bahunya sambil sesekali mencomot es krim yang disodorkan Aisyah tepat di bibirnya.


"Kamu ngomongin apa sama dokter tadi?"


"Ohhh aku ngomongin soal anak kecil yang tadi jatuh nabrak kamu. Ternyata dia tumor loh, mas. Kasihan banget, kan?"


"Kelihatan sih kalau dia memang sakit keras. Nama dia Arkan. Bagus ya namanya..."


"Iya, bagus."


"Aku mau dong punya anak. Kita bikin anak... kita bikin banyak-banyak. Mau kan punya anak banyak? Kita buat dua tim sepak bola, bonus sama pemain cadangannya. Seru tuh, rame."


"Boleh... boleh banget dong..."ucap Aisyah tersenyum manis.


Tentu saja membuat Arshad antusias,"serius boleh?"


"Iya. TAPI KAMU YANG HAMIL, MAU?!"


Seketika bibir Arshad maju lima senti karena cemberut.

__ADS_1


__ADS_2