Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Gak Bucin, Gak Cinta Namanya


__ADS_3

Hari pun berganti hari dan minggu berganti minggu. Kini Aisyah dan Arshad sudah duduk manis di pesawat tentunya kita tahu ke mana tujuan mereka. Ya, Singapura. Negara yang selalu disebut-sebut dan dikenal sebagai kota Singa itu adalah tempat yang akan dituju oleh sepasang suami istri itu.


Bisa dilihat Aisyah yang terlihat sangat gugup. Operasinya sudah dijadwalkan. Perjalanan ini seperti menjadi perjalanan antara hidup dan mati baginya. Ketakutan itu kembali lagi. Kecil. Sangat kecil keberhasilan dari operasi ini. Dan sangat besar kemungkinan kematiannya.


Aisyah menutup matanya sambil menarik nafas beberapa kali. Lalu dia menatap Arshad di sampingnya yang sedang termenung ditemani pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya. Aisyah tahu bahwa apa yang dipikirkan Arshad tidaklah jauh berbeda dari apa yang dia pikirkan. Aisyah tersenyum saat Arshad menutup matanya dan merapalkan do'a-do'a dengan bisikan yang suaranya bahkan hampir tidak terdengar.


Tangan Aisyah bergerak menggenggam tangan Arshad. Arshad tersentak menatap tangannya yang digenggam lalu beralih menatap Aisyah,"kenapa? Kamu butuh sesuatu?"tanya Arshad.


Aisyah tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan,"kamu kenapa, mas?"tanya Aisyah dengan lembut sambil tangannya sesekali mengusap jemari Arshad.


"Aku gak harus jawab itu, kan? Aku yakin kamu tau jawabannya."ucap Arshad lalu mencium tangan Aisyah hingga setetes air mata jatuh mengenai punggung tangan Aisyah.


"Seharusnya kita gak pernah bertemu, mas. Seharusnya kita gak pernah menikah. Seharusnya kita gak dijodohkan dan seharusnya aku gak pernah dilahirkan ke dunia ini. Jadi semua ini gak akan terjadi dan gak akan mengganggu kamu."ucap Aisyah.


Arshad diam. Dia melepaskan genggaman tangan Aisyah lalu menutup matanya. Dia tidak ingin menanggapi apa yang Aisyah katakan. Omong kosong yang Aisyah katakan membuat Arshad kesal. Bagaimana bisa kehadiran Aisyah bisa menjadi gangguan baginya? dulu. Iya, dulu memang benar terasa seperti itu dan sekarang berbeda. Kata-kata Aisyah terdengar seperti mengungkit luka dan masalah lama. Rasa bersalah itu kembali menyeruak di hati kamu yang menambah kegalauan dirinya.


"Kamu berbicara seperti itu, tidakkah kamu merasa seperti sedang menyalahkan Allah, Aisyah?"tanya Arshad dengan matanya yang masih terpejam. Mata Aisyah membulat. Bukan, bukan begitu yang Aisyah maksud. Mana mungkin Aisyah menyalahkan Allah dalam hal ini.


Aisyah tertunduk lalu memikirkan kembali ucapannya tadi. Benar, dia tadi berbicara seakan-akan menyalahkan Allah. Aisyah beristighfar berkali-kali lalu kembali menatap Arshad yang ternyata sudaj kembali menatapnya.


"Aku bersyukur bertemu kamu, Aisyah. Aku bersyukur karena menikah dengan kamu. Aku bersyukur karena wanita yang dijodohkan denganku adalah kamu. Dan aku lebih bersyukur karena Allah menghadirkan wanita sehebat kamu yang menjadi pendamping aku. Setelah semua rasa syukur itu aku merasakan kebahagiaan yang sangat besar bahkan tidak bisa aku jelaskan lagi bagaimana bahagia itu. Sekarang, Allah memberi kita cobaan dan kita malah mengeluh, lalu kemana perginya rasa syukur itu? Seringkali manusia lupa dengan rasa syukur. Seringkali rasa syukur itu hanya timbul kala mendapatkan nikmat hasil dari harapan-harapannya. Namun saat mereka diberi cobaan, seringkali pula mereka menyalahkan semua itu kepada Allah. Mereka lupa bahwa saat cobaan itu datang, saat itu pula lah rasa syukur kita selama ini dipertanyakan. Tulus atau tidak rasa syukur kita selama ini? Ini seperti gambaran 29 hari kita sehat dan sehari kita sakit, kita malah mengeluh. Lalu kemana alhamdulillah itu kita simpan? jangan pernah mengatakan hal yang akan menyinggung Allah, Aisyah. Syukur terdengar mudah ditelinga, namun besar maknanya. Aku yakin kamu paham apa yang aku katakan."

__ADS_1


"Aku tau aku melakukan banyak sekali kesalahan terhadap kamu sebelumnya. Jadi, tolong jangan mengakatakan hal seperti kamu adalah pengganggu dihidup aku, Aisyah! Jangan pernah berfikir bahwa kamu adalah masalah atau apa pun sejenis itu! Karena itu akan membuat aku seperti orang bodoh mengingat betapa buruknya kelakuan aku sebelumnya. Banyak hal yang terjadi diantara kita. Setelah ini, jika Allah berkehendak atas kesembuhan kamu, tolong kita sama-sama memperkuat keyakinan kita. Jangan biarkan kecewa, kebohongan bahkan kesalahpahaman menguasai kita lagi."


"Jika suatu hari nanti ada masa di mana aku terlihat melakukan kesalahan atau kamu melakukan kesalahan, jangan biarkan omosi mengalahkan keyakinan kita. Aku tau kamu gak akan pernah mengkhianati aku, tapi aku ingin kamu percaya bahwa aku gak akan melakukan kesalahan yang sama lagi Aisyah. Aku gak akan mengkhianati kamu. Kebodohan karena melakukan kesalahan itu hanya sekali, jika terulang maka itu tidak waras namanya."


Penjelasan panjang lebar dari Arshad membuat Aisyah takjub bahkan beberapa orang yang berada dekat dengan mereka juga tersenyum karena mendengar penuturan Arshad. Suara Arshad memang hanya terdengar seperti gumaman kecil mengingat dari tempat mereka berada saat ini. Namun suara kecil itu masih dapat didengar oleh beberapa orang disekelilingnya.


"Maaf, mas. Aku salah..."ucap Aisyah lirih.


Arshad membawa Aisyah kepelukannya dan sesekali mencium puncak kepala Aisyah. Lalu tiba-tiba Arshad terkekeh membuat Aisyah bingung.


"Kenapa, mas?"tanya Aisyah.


"Gak nyangka aja aku bisa ngomong sepanjang itu. Keren gak tadi?"tanya Arshad narsis.


"Cium dulu, dong. Jarang-jarang loh aku ngomong panjang lebar kaya tadi. Harus dikasih apresiasi."


Aisyah menengadah menatap wajah Arshad,"memangnya mau dicium?"


"Maulah!"jawab Arshad cepat membuat Aisyah terkejut dan mengerjap-ngerjapkan matanya dengan polos. Lucu, tapi tetap saja pertanyaan Aisyah tadi membuat Arshad sebal. Siapa coba yang gak mau dicium istri sendiri?


"Mau dicium di mana?"tanya Aisyah polos. Ok, Arshad malu sekarang. Bisa-bisanya Aisyah bertanya seperti itu. Orang kalau cium ya cium aja, gak usah ditanya.

__ADS_1


"Ya... Ya terserah kamu. Ngapain ditanya, sih?"ucap Arshad berusaha bersikap biasa menahan malu.


"Ya gak apa-apa dong aku tanya."


"Malu, yang..."rengek Arshad lalu menyembunyikan wajahnya di bahu Aisyah. Dia tidak tahan jika terus digoda begini.


Aisyah pun tersenyum nyaris tertawa lalu melepaskan diri dari pelukan Arshad. Aisyah membawa tangan Arshad mendekat lalu mencium punggung tangan Arshad agak lama membuat Arshad menahan kesal. Oke, sekarang dia salah. Seharusnya tadi Arshad jawab saja pertanyaan Aisyah untuk dicium di mana. Padahal jarang-jarang nih Aisyah seperti ini.


"Kok mukanya gitu?"tanya Aisyah sok polos,"gak senang?"


Arshad memaksakan senyum,"senang kok. Yuk tidur! jangan terlalu capek..."ucap Arshad kemudian menutup matanya untuk tidur dan melupakan kekesalannya.


CUP


Satu ciuman mendarat di pipi Arshad membuat Arshad menegang dengan mata yang masih tertutup. Sebuah senyum tertahan pun terbit di bibirnya.


"Puas, gak?"tanya Aisyah.


Arshad langsung memeluk Aisyah karena senang plus malu juga. Dia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Aisyah yang tertutup hijab untuk mencari kenyamanan di sana.


"Puas banget."gumam Arshad.

__ADS_1


"Bucin banget sih..."ledek Aisyah.


"Kalau gak bucin, gak cinta namanya."balas Arshad.


__ADS_2