
Arshad dan Rio memasuki ruang rawat Aisyah. Sudah ada Laras di sana tertawa bersama Aisyah. Mereka heran kenapa Aisyah dan Laras tertawa? terlebih lagi, sejak kapan mereka dekat?
"Loh, bukannya lo bilang lo mau datang malam? kok udah di sini aja?"tanya Rio.
"Mau kapan kek gue ke sini gak ada urusannya juga kan sama lo? kan bagus kalau gue datang cepat."jawab Laras sedikit sewot.
Rio mendengus,"terserah lo deh. Gua nanya baik-baik juga. Judes amat sih lo!"
"Bodo!"balas Laras.
"Jadi mas Rio sama mbak Laras udah kenal dari SMP, ya?"tanya Aisyah mengingat perkataan Laras tadi tentang persahabatan antara Laras, Rio dan Arshad.
"Iya, Syah. Mereka udah kenal dari SMP. Sedangkan sama aku, dari kuliah."sambar Arshad.
"Aisyah tanya gua sama Laras. Kenapa lo yang jawab?"sembur Rio.
"Mau lo yang jawab kek atau gua, jawabannya juga sama aja, kan? lo kenapa sih, hah? sensi banget."ucap Arshad yang memilih duduk di sofa.
"Ya gua_"
"Teman-teman kamu udah pulang, syah?"Arshad tak mempedulikan Rio sama sekali dan malah mengalihkan pembicaraan pada Aisyah.
Rio menahan emosi dengan menggigit bibir bawahnya. Akhir-akhir ini sikap tengil Arshad muncul. Dia selalu merasa dizolimi. Akhirnya dia menyerah dan memilih berdiri di samping Laras yang masih duduk di dekat ranjang. Tak mau berdekatan dengan Arshad yang mungkin akan terus memancing emosinya.
"Udah, belum lama ini sih."jawab Aisyah.
"Besok-besok bilang sama teman kamu. Budayakan ketuk pintu dan salam sebelum masuk, jadi kan gak akan ada kejadian kayak tadi."ucap Arshad.
"Kejadian apa?"tanya Rio kepo.
"Tadi tuh kan gua_"
Aisyah melotot,"mas Rio udah sejak kapan datangnya?"tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya agar Arshad tidak ember. Entah apa yang dipikirkan suaminya itu sampai berniat menjelaskan kejadiannya.
"Ohhh, sebenarnya udah dari tadi."jawab Rio terlihat.
"Tadi pas aku datang, aku lihat Arshad ngipas-ngipas gitu. Emangnya kenapa sih sampai lo ngipas-ngipas begitu? perasaan di rumah sakit dingin lah. Lo kenapa sih, Ar?" fix, percuma Aisyah mengalihkan pembicaraan. Ternyata Rio kepo akut.
Sedangkan Laras melirik Aisyah yang pipinya sudah memerah, lalu melirik Arshad yang menahan senyumnya melihat Aisyah yang gelagapan akibat ulahnya. Laras mengerti apa yang terjadi sekarang. Baik, akan Laras bantu Aisyah.
"Kepo amat sih lo! suka-suka Arshad mau ngipas kek, jongkok atau jungkir balik juga bukan urusan lo, kan?"sewot Laras.
__ADS_1
"Ras, lo kenapa sih? ada salah apa gua sama lo?"balas Rio.
"Lo itu gak peka jadi orang. Banyak tanya, cerewet, plus banyak ngomong kayak cewek tau gak!"
"Tolong pertengkaran rumah tangga jangan di bawa-bawa ke sini! gak malu ngumbar aib rumah tangga sendiri?"celetuk Arshad membuat Aisyah terkekeh. Berbeda dengan dua orang yang bersiteru itu. Mereka malah menatap nyalang pada Arshad.
"Rumah tangga? gue sama dia?"tanya Laras yang langsung berdiri sambil menunjuk tepat di depan mata Rio, membuat Rio menggeplak tangan Laras dengan pelan.
PLAK
"Tangannya santai aja!"sarkas Rio.
"Bodo! sampai kapan pun gua gak akan pernah mau sama lo. Mau besok kiamat, gue juga gak akan mau sama lo!"ucap Laras.
Rio mengerucutkan keningnya berpikir,"berarti kalau besok gak kiamat, lo mau dong sama gua?"
Laras terdiam kaku. Ada benarnya yang dikatakan Rio.
"Ah, bodo! susah ngomong sama lo. Mending gua keluar cari makan."Laras pun beralih menatap Aisyah dan Arshad secara bergantian.
"Aku keluar dulu, ya. Belum sempat makan siang tadi."ucap Laras yang langsung berubah lembut.
"Pilih kasih amat. Sama Aisyah dan Arshad aja lembutnya minta ampun, lah sama gua? boro-boro lembut, natap aja kayak mau di makan, dicabik-cabik."ucap Rio dalam hati.
"Iya, emangnya sama siapa lagi?"tanya Laras.
Aisyah melirik Rio,"mas Rio gak mau temenin mbak Laras, gitu?"
"Tau lo! kasihan Laras sendiri."tambah Arshad.
"Ih, udah gede juga masa masih ditemenin. Gak akan hilang juga."bantah Rio sambil melirik Laras yang juga meliriknya sinis.
"Kan cewek, mas. Masa dibiarin sendiri. Kan bahaya..."bujuk Aisyah.
"Masih terang, syah. Belum gelap."bantah Rio lagi.
"Kejahatan gak kenal terang maupun gelap, yo."sambar Arshad yang sudah greget dengan tingkah Rio yang ada saja jawabnya.
"Kalau gak mau gak apa-apa, kok. Gue juga gak butuh."Laras langsung keluar dari sana dengan harapan Rio akan menyusulnya.
"Gak butuh, tapi ngambek..."sindir Rio yang akhirnya menyusul Laras dan meninggalkan Arshad bersama dengan Aisyah. Melihat dua orang itu pergi, Arshad pun mengambil tempat di dekat Aisyah dengan tersenyum manis sambil mengusap kepala Aisyah.
__ADS_1
"Sebenarnya yang kamu bilang itu benar gak sih, mas?"tanya Aisyah dengan wajah heran.
"Emang aku bilang apa?"tanya Arshad lebih heran.
"Kemaren kamu kan bisikin ke aku kalau sebenarnya mas Rio itu suka sama mbak Laras. Tapi lihat mas Rio kayak tadi, aku jadi ngerasa ragu deh."jawab Aisyah. Memang benar, kemarin sesaat setelah Rio pulang sehabis menjenguk Aisyah, Arshad mengatakan kalau Rio itu sebenarnya menyukai Laras. Saat itu Aisyah cukup terkejut karena berarti selama ini Rio menahan perasaannya ketika melihat Arshad dengan Laras.
"Gak ngerti juga aku. Soalnya, waktu itu..."Arshad mengingat kejadian saat mereka kuliah.
"*Bro, gua mau ngomong."ucap Rio yang tiba-tiba duduk di samping Arshad saat Arshad ada di kantin.
"Ngomong ya ngomong aja."
"Lo tau kan kalau Laras suka sama lo?"tanya Rio.
Arshad hanya mengangguk ragu.
"Jaga dia, bro! Coba buka hati lo buat dia."
Arshad bingung,"kenapa gak lo aja yang jaga dia?"
"Gua akan jaga dia, kok. Kan gua sahabatnya."
"Ya sama, gua juga sahabatnya."
"Tapi dia suka sama lo. Lo taulah apa yang gua maksud. Kalau suatu hari nanti lo tetap gak bisa buka hati buat dia dan menemukan seseorang yang bisa bikin lo jatuh cinta, saat itu gua bakal jagain dia."
"Kenapa lo ngelakuin ini?"
"Jagain dia, gua cukup jadi sahabatnya aja menurut gua. Gua gak mau melibatkan Laras sama kehidupan gua yang kacau."
"Lo cinta sama Laras?"Arshad semakin heran.
"Pokoknya intinya, jagain dia, Ar*!"
Aisyah heran mendengar cerita Arshad. Kalau memang Rio mencintai Laras, lalu kenapa malah meminta Arshad untuk menjaga dan menjalin hubungan dengan Laras? ada ya ternyata orang yang mencintai dengan cara seperti itu, pikir Aisyah.
"Alasan mas Rio sebenarnya apa?"
"Kalau yang aku lihat saat itu, Rio masih kacau banget sama masalah keluarganya. Dia mungkin takut Laras malah menjadi sasaran kekesalannya. Bukannya menjaga, malah takutnya jadi menyakiti. Rio gak mau mungkin Laras malah berubah dan menjauh. Itu cara Rio menjaga."
"Berarti mas Arshad di manfaatin, dong?"Arshad mengangguk dengan mulut sedikit maju karena cemberut, lebih tepatnya pura-pura sedih.
__ADS_1
"So sweet..." ujar Aisyah sambil menangkup kedua pipinya dan tersenyum manis. Imut sih, tapi tanggapan seperti itu malah membuat Arshad kesal. Bukannya kesal karena suaminya dimanfaatkan, malah bahagia. Cewek memang susah dimengerti, pikir Arshad sambil geleng-geleng kepala.