Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Orang Baru Lagi (?)


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."ucap Arshad dan Aisyah saat memasuki rumah. Ummi yang sedang berada di dapur langsung keluar dan terkejut melihat Aisyah sudah pulang.


"Wa'alaikumussalam eh Aisyah? Kamu sudah pulang,nak?"ummi langsung memeluk Aisyah sebentar.


"Sudah,ummi."jawab Aisyah.


"Bukannya rencananya kamu mau pulang minggu depan,ya?"


Arshad yang sebenarnya masih kesal tadi langsung menatap Aisyah. Apa? Seminggu lagi? Aisyah mau tunggu dirinya mati dulu baru pulang memangnya?


"Kenapa harus minggu depan?"tanya Arshad.


"Rencananya mas... Kan gak jadi."ucap Aisyah.


"Iya,sih. Tapi kan_"


"Udah lah kamu ini! Semuanya diributin. Aisyah gak di sini salah, Aisyah di sini juga salah."sela ummi.


"Bukan gitu ummi..."


"Cukup Arshad!"pinta ummi lalu beralih ke Aisyah,"Aisyah bantu ummi masak ya, sayang!"


Aisyah mengangguk lalu meletakkan tasnya di sofa,"Ayo,ummi!"


Mereka pun pergi ke dapur dan meninggalkan Arshad yang hanya bisa pasrah karena merasa tak dianggap.


Di dapur, Aisyah membantu ummi membuat sayur. Sebenarnya dia penasaran kenapa ummi berbohong padanya soal Arshad? Dan kenapa sekarang Arshad berubah?


"Ummi..."


"Iya Aisyah, kenapa?"


"Aisyah mau tanya kenapa ummi bohong soal mas Arshad ke Aisyah?"


Ummi menghela nafas lalu menatap Aisyah sambil tersenyum,"Ummi ingin memberi pelajaran kepada Arshad karena sudah menyakiti kamu."


"Pelajaran?"


"Kamu tau? Selama kamu pergi Arshad seperti orang gila dan tak terurus. Emosian dan tambah keras kepala. Dia berusaha mencari kamu."


Aisyah terbelalak,"Mas Arshad seperti itu,ummi? Gak mungkin."


"Memang seperti itulah kenyataannya. Arshad mencintai kamu Aisyah. Dia sudah bilang?"


Aisyah menggeleng,"Apa memungkinkan untuk dia mencintai Aisyah,ummi?"


"Sangat memungkinkan,nak. Kalau tidak, dia tidak akan menggila seperti itu."


Aisyah tersenyum.


"Ummi taruh masakan ini dulu ke meja makan,ya? Nanti kalau sayurnya sudah selesai, langsung kamu bawa aja. Ummi mau siap-siap dulu, soalnya abi sebentar lagi pulang."


"Iya,ummi."


.


.


.


Kini ummi, abi dan Arshad sudah duduk di meja makan. Namun Arshad tidak melihat Aisyah sama sekali.


"Ummi, Aisyah di mana?"tanya Arshad.


"Oh iya ya, Aisyah di mana? Oh, mungkin ke toilet sebentar."ucap ummi.


"Arshad lihat dulu."Arshad pun pergi ke kamarnya dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Arshad membuka pintu dan ternyata tak terkunci. Namun tak ada Aisyah di sana.

__ADS_1


Arshad pun mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Aisyah. Tetap tak ada jawaban. Saat ia ingin membuka pintu, ternyata pintunya terkunci. Itu menandakan bahwa Aisyah ada di dalam.


"Aisyah, kamu di dalam kan? Ummi sama abi udah nunggu untuk makan bareng. Yuk, ke depan! Aisyah, kamu dengar aku kan?" Masih sama, tak ada jawaban. Apa sebenarnya yang dilakukan Aisyah di dalam sana?


"Aisyah!"panggil Arshad yang sudah mulai khawatir, bahkan ketukan tadi sudah berubah menjadi gedoran kencang. Pasti terjadi sesuatu pada Aisyah.


"Aisyah, aku mohon jawab! Jangan buat aku panik! Aisyah! Aisyah, buka pintunya!" Kekhawatiran Arshad semakin menjadi. Dia berusaha membuka pintu dan terus menggedor. Namun saat kekhawatirannya memuncak dan dia hendak mendobrak pintu, pintu pun terbuka dan memperlihatkan Aisyah yang menatapnya.


"Kamu ngapain sih,mas? Aku ke toilet aja gak tenang loh."ucap Aisyah.


Arshad langsung menghela nafas lega karena ternyata Aisyah baik-baik saja. Dia memegang bahu Aisyah dan melihatnya dengan seksama, "Kamu gak apa-apa,kan?"


Aisyah mengangguk.


"Terus kenapa gak jawab tadi?"tanya Arshad.


"Aku jawab, kamunya aja yang gak dengar. Yuk, ke depan!"Aisyah pun berjalan duluan diikuti oleh Arshad di belakang.


.


.


.


Setelah selesai makan, Aisyah dan Arshad pulang. Mereka singgah ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan.


"Aku masuk dulu, mas tunggu di mobil aja,ya! Aku gak lama,kok."Arshad mengangguk.


Aisyah pun masuk ke supermarket dan memilih beberapa kebutuhan. Saat melihat susu kesukaannya, Aisyah tersenyum dan berusaha menggapainya. Sayangnya karena terlalu tinggi, membuat dirinya kesulitan. Seseorang mengambil susu tersebut membuat Aisyah sontak melihat ke arah orang itu.


"Kak Rizky?"


"Hai."sapa Rizky.


"Kakak di sini juga? Apa kabar?"


"Baik,kok. Everything ok. Oh iya, aku dengar kak Rizky udah jadi dokter muda ya sekarang? Keren banget."


Rizky tertawa,"Alhamdulillah,sih. Makasih atas pujiannya."


Mereka pun berbicara sambil berkeliling memilih belanjaan,"Tapi ada yang kurang,nih."


"Apanya? Aku gak ganteng?"


"Bukan itu. Kak Rizky ganteng kok, mapan, sholeh juga iya. Tapi tuh kurangnya di..."


Rizky mengerutkan keningnya,"Kurang di mana?"


"Kurang di istri,sih. Kak Rizky kapan nikahnya? Betah amat jomblo."


Mereka tertawa,"Mentang-mentang udah nikah, jadi ngejek nih ceritanya? Kurang asem banget."


"Ya makanya buruan nikah. Masa cowok kayak kakak gak ada yang mau."


"Belum ada calon yang cocok."


"Sebanyak itu perempuan kakak bilang gak ada yang cocok? Masa,sih?"


"Yang cocok sebenarnya sih ada, tapi dia udah duluan nikah. Gak mungkin kan kalau aku nikahin istri orang?"


"Siapa nih maksudnya?"


"Ih, gak peka banget."canda Rizky.


Aisyah tertawa,"Sumpah, bercanda gak lucu tau gak?"


"Gak lucu ngapain nangis?"

__ADS_1


"Ketawa ini, bukan nangis! Ngacok deh nih kak Rizky lama-lama. Udah, aku ini udah siap. Kakak gimana?"


"Udah juga. Oh iya, ini susunya gak jadi?"Rizky mengulurkan susu yang dia ambil tadi.


"Jadi, dong. Makasih sebelumnya."ucap Aisyah setelah menerima susu tersebut.


"Sama-sama."


"Kerja di rumah sakit mana,kak?"


"Di rumah sakit yang waktu itu aku pernah di rawat karena kecelakaan. Ingat,gak?


"Ohhh yang itu?"


"Pas banget,kan?"


"Jodoh kali."


"Sama rumah sakitnya?"


"Bukan, sama mayat-mayat di sana maksudnya."


"Jahat amat."


Setelah mereka selesai membayar, Aisyah dan Rizky pun keluar dari supermarket.


"Aku duluan ya, kak. Udah di tunggu soalnya."ucap Aisyah.


"Ok, kalau gitu selamat malam."


"Selamat malam. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aisyah pun pergi ke mobil yang mana Arshad sudah menunggu sejak tadi. Namun saat melihat wajah Arshad yang terlihat kesal, membuat Aisyah terheran.


"Kamu kenapa,mas?"tanya Aisyah.


"Cemburu."jawab Arshad spontan.


"Lancar amat ngomongnya. Cemburu kenapa,sih?"


"Itu tadi Rizky,kan?"tanya Arshad.


"Kamu kenal kak Rizky?"


"Setahun di bawah aku waktu kuliah. Dekat banget kamu kayaknya sama dia."


"Itu karena dulu aku satu organisasi kampus gitu,terus kak Rizky yang jadi ketuanya."


"Kok bisa ketemu?"


"Takdir, kali."


Arshad terkejut,"Enteng banget ya ngomongnya."


"Maksudku, aku gak tau kenapa bisa pas gitu ketemunya."


"Aisyah aku cemburu loh."


"I_ iya,mas..."Aisyah merasa aneh sendiri mendengar pengakuan seperti itu. Dulu Arshad selalu menghindar jika dibilang cemburu, sekarang bahkan terdengar begitu enteng diucapkannya.


"Jangan terlalu dekat sama cowok lain! Aku gak suka."


"Aku cuma ngobrol bentar kok, gak lama."


"Sebentar itu mampu membuatku cemburu, Aisyah."Aisyah terdiam dan tak tau harus bicara apa. Dia langsung menatap keluar jendela dengan detak jantungnya yang terus berdegup kencang.

__ADS_1


Sedangkan Arshad menghela nafas sejenak sebelum akhirnya dia menyalakan mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Baru saja tadi selesai satu masalah yaitu Raka, sekarang datang orang baru lagi. Sebenarnya ada berapa banyak lelaki di sekeliling Aisyah? Arshad benar-benar muak.


__ADS_2