
"Gua udah dengar."ucap Rio pada Laras yang sedang menikmati milkshake strawberry miliknya. Mereka kini berada di sebuah cafe. Rio tak sengaja bertemu dengan Laras saat dia mampir ke mini market untuk membeli minum sepulang dari kantor. Lalu mereka memutuskan untuk singgah sebentar ke cafe yang berada tak jauh dari sana untuk berbincang.
Laras tak mengerti dengan yang dibicarakan Rio. Dengar apa? Laras tak tau.
"Kalau ngomong jangan setengah-setengah! Gak ngerti gue."Laras kembali menyeruput minumannya.
Rio menatap ke jalanan sekilas lalu kembali menatap Laras,"lo datang ke acara itu."
Laras tersenyum tipis lalu mengangguk,"iya, Aisyah yang undang."
"Kok bisa?"
Laras hanya menggidikkan bahunya.
"Lo sendiri kenapa gak pergi? Gak mungkin kan lo gak di undang."
"Ada urusan."jawab Rio sekenanya dan terkesan dingin.
Laras mengernyitkan keningnya,"urusan apa?"
Rio terkekeh lalu meminum cappucino miliknya tanpa niatan menjawab pertanyaan Laras.
"Malah ketawa! Jawab dong! Lo kemana? Kenapa gak datang?"
"Kepo banget sih, lo! Yang penting lo tau kalau gua ada urusan. Udah itu aja."
Laras berdecak kesal. Apa salahnya Rio menjawab pertanyaannya? Ini juga salah dirinya. Seharusnya dia tak menanyakan itu kepada Rio yang menjadikannya penasaran berat sekarang. Sudah tau Rio orangnya menyebalkan, dirinya malah memancing.
"Ya_ ya udah kalau gak jawab. Gue juga gak kepo."ucapnya bohong dan mengalihkan pandangannya ke jalanan.
Sudut bibir Rio terangkat sebelah dengan mata terus mengamati wajah Laras. Dia tidak bodoh menyadari sifat kepo Laras yang sudah mendarah daging itu. Laras berdehem dan melirik Rio yang masih mengamatinya. Rio seakan bertanya dengan sebelah alisnya yang terangkat membuat Laras benar-benar menatapnya.
"Gue gak penasaran! Ngapain lo natap gue begitu? Ohhh atau jangan-jangan pesona seorang Laras sudah merasuki hati seorang Rio?"ucap Laras tengil membuat Rio menatapnya geli.
"Terserah lo, deh! Oh ya, gimana ceritanya Aisyah bisa ngundang lo?hm?"
Laras tersenyum miring,"kepo lo!"
Rio berdecak,"serius gua! Lo gak tau kan? Arshad di kantor hampir botak tau gak lo gara-gara mikirin Aisyah. Bisa aja kan Aisyah ngomong sesuatu ke lo. Kita bantu Arshad yang mungkin gak seberapa, tapi bisa bantu dikit bolehlah, kan..."
Laras menghela nafas,"yo!"
"Hm?"
"Lo sadar gak sih ngomong sama siapa? Gue Laras, yo! Mantan Arshad! Lo ngajak gue dalam urusan mantan gue, lo sehat?"
"Lo belum ikhlas?"tanya Rio hati-hati.
"Ya ikhlas. Tapi kan tetap aja itu namanya mantan, Rio..."
"Sekarang jangan pake posisi mantan. Lupain mantan-mantan dan ingat aja kalau lo itu juga sahabatnya Arshad. Lagian sahabat sendiri di pacarin! Ini sebenarnya balasan buat lo tau gak."
"Balasan apaan?"
"Karena udah dzolim sama gua lah."
"Dzolim gimana sih?"
"Karena selalu dijadikan nyamuk di antara lo sama Arshad waktu kalian masih pacaran dulu."
"Dendaman lo orangnya! Gak asik!"
"Lo pikir asik jadi nyamuk?!"mendengar bentakan Rio bukannya takut, tapi malah membuat Laras tertawa. Karena bagi Laras seriusnya Rio tetap lelucon baginya.
__ADS_1
"Ok, gue cerita nih sama lo. Jadi waktu itu gua mau pulang habis dari butik. Pas gue keluar, Aisyah datang tepat setelah gue keluar dari butik. Gue gak tau entah dia beneran baru datang atau memang nunggu gue. Yang jelas dia nyamperin gue dan akhirnya gua sama dia ngobrol di cafe. Terus dia kasih gue undangan. Waktu itu gue heran sama Aisyah, dia tuh kayak maksa gue buat datang gitu. Dia bilang pasti Arshad bakalan senang banget kalau misalnya gue datang. Ya gue bingung dong mau nanggepin kayak gimana. Aisyah sikapnya tuh malah kayak nyomblang-nyomblangin gue sama Arshad, tau gak lo."
"Aisyah kayak gitu? Gimana sih ini sebenarnya masalahnya?"
"Oh, iya gue ingat. Pas mau pulangnya dia sempat mimisan gitu. Terus gue tanya, dia bilang akhir-akhir ini dia kecapean karena tugas dan jadwal kuliahnya yang padat. Udah gitu aja, sih."
"Arshad juga pernah bilang kalau Aisyah sering lembur gitu ngerjain tugas kuliah."gumam Rio.
"Rio, Aisyah... gak sakit kan, yo?"
____________________
"Assalamu'alaikum."salam Arshad sesaat sebelum memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumussalam. Duduk dulu, biar bi Nah buatkan minum, mas."ucap bi Nah.
"Oh, gak usah bi. Saya mau langsung ke kamar aja. Mau bersih-bersih. Bentar lagi juga mau Maghrib, kan. Saya ke atas dulu ya, bi."
"Iya, mas."
Baru selangkah, Arshad pun kembali berbalik,"oh iya...."
"Aisyah mana, bi?"tanya Arshad. Sejak tadi dia tak melihat Aisyah.
"Mbak Aisyah katanya mau nginap di rumah temannya, mas. Mau ngerjain tugas."jawab bi Nah.
"Kenapa gak bilang sama saya? Dia ada bilang yang lain?"bi Nah menggeleng.
"Satu lagi, mas. Beberapa hari yang lalu mbak Aisyah juga sempat sakit. Badannya lemas hampir pingsan, terus belum lama istirahat, malah langsung buru-buru ke kampus. Mbak Aisyah terlalu banyak tugas kampus ya, mas?"
"Aisyah sakit? Kenapa bi Nah baru bilang?"
"Mbak Aisyah gak bolehin."
"Astaghfirullah, Aisyah."Arshad mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. Sebenarnya, akhir-akhir ini Aisyah memang terlihat sangat sibuk dengan tugas kampusnya. Arshad sering melewati malam lembur bersama Aisyah.
"Iya, mas."
Arshad pun langsung pergi ke kamar sambil berusaha menghubungi Aisyah. Kenapa Aisyah tidak izin padanya? Kenapa harus menginap? Dan kenapa Aisyah tidak bilang kalau dirinya sempat sakit? Aisyah sakit beberapa hari yang lalu. Apa karena Arshad mendiamkan Aisyah, jadi tidak mau mengatakannya?
Arshad merutuki dirinya sendiri. Suami macam apa dia bahkan istrinya sakit dia tak tau dan malah mendiamkan istrinya seperti anak kecil. Sungguh kekanak-kanakan sekali dirinya.
Sudah beberapa kali Arshad mencoba menghubungi Aisyah, namun tak aktif. Apakah Aisyah sengaja mematikan ponselnya karena hampir Maghrib? Mungkin saja begitu, pikirnya. Arshad pun memilih untuk bersih-bersih dan berwudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib yang hampir tiba. Setelah itu dia akan mencoba menghubungi Aisyah kembali.
____________________
Aisyah kini duduk di ranjang rumah sakit sambil memakai mukena untuk melaksanakan shalat Maghrib. Pagi hari tadi Aisyah memutuskan untuk ke rumah sakit karena Rizky terus memaksa untuk Aisyah dirawat. Aisyah menatap jam di dinding. Dia bertanya-tanya apakah Arshad sekarang sudah pulang?
Mengingat Arshad, Aisyah jadi teringat perbincangannya dengan Rizky siang tadi selesai pemeriksaan.
"Untuk yang ke sekian kalinya aku mohon sama kamu. Beritahu Arshad, Aisyah! Kamu bisa bayangkan bagaimana kecewanya dia suatu saat nanti melihat istrinya sakit selama ini dan dia gak tahu sama sekali?"
Saat itu Aisyah menunduk sambil memainkan jemarinya,"aku gak berani. Aku gak bisa, kak."
Rizky mengusap wajahnya,"kamu dulu pernah bilang saat gak mau di operasi. Kamu gak mau terjadi kemungkinan buruk karena takut gak berhasil dan malah membuat kamu lebih cepat meninggalkan Arshad. Aisyah, segala kemungkinan itu kuasa Allah dan kamu tau itu. Aku juga tau operasi itu beresiko tinggi karena itu aku juga gak bisa maksa kamu untuk melakukan operasi itu. Kamu bilang kamu ingin menghabiskan waktu kamu bersama Arshad, tapi kenyataannya? Kamu menghindar dari Arshad."
"Aku cuma gak ma_"
"Gak mau bikin dia khawatir? Omong kosong! Aku tau kamu memang gak mau bikin dia khawatir, tapi apa yang kamu lakukan ini gak benar Aisyah. Arshad suami kamu dan dia berhak tau masalah ini."
Aisyah hanya diam.
"Aku pergi dulu. Kamu istirahat, ya..."
__ADS_1
Mengingat kejadian tadi membuat Aisyah terus berpikir. Apakah memang sebaiknya dia memberitahu Arshad? Ya Allah, jujur dirinya bingung.
Aisyah pun memutuskan untuk melaksanakan shalat Maghrib yang mungkin hanya bisa dia lakukan dengan duduk di ranjang sekaligus mencurahkan segala keluh kesahnya kepada sang maha pencipta.
Setelah selesai melaksanakan shalat Maghrib dan melepas mukena, Aisyah teringat dengan ponselnya yang dulu sempat dia kira hilang dan ternyata di simpan oleh bi Nah. Aisyah pun mengambil tas miliknya dan mencari ponsel itu. Setelah menemukan yang dia cari, Aisyah menghidupkan ponsel tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, Aisyah pun mengernyitkan keningnya saat banyak sekali pesan suara yang masuk ke ponselnya dan semua itu pesan dari Arshad?
Aisyah turun dari ranjang sambil membawa infus menuju jendela kamar tumah sakit itu. Tak tunggu waktu lama, Aisyah langsung mendengarkan pesan suara itu satu persatu.
"Aisyah, aku telphonin dari tadi kok gak kamu angkat? Aku chat juga loh tadi. Syah, aku minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku yang terlalu emosian, aku kelepasan. Ummi dan abi juga udah bilang sama aku. Ternyata laki-laki itu kakak kamu."
"Aku ini kirimin pesan suara loh syah. Kamu gak punya kuota makanya WA aku gak dibalas, ya? Ya udah selanjutnya pake pesan suara kayak gini aja kalau gitu."
"Aisyah kamu kemana? Aku tanya ummi, ummi gak mau kasih tau. Aku udah cari tau ka kampus, bukannya dapat hasil malah digodain. Kamu beruntung loh punya suami ganteng gini. Malah dianggurin."
"Aisyah? Pulang, syah.... Pulang syah aku mohon sama kamu pulang...."
"Aku salah, aku tau itu tapi tolong jangan pergi...."
"Aku sama Laras udah gak ada hubungan apa pun lagi, eh mungkin masih sahabatan. Tapi cuma sahabatan doang kok gak lebih."
"Aisyah pulang.... hiks.... please pulang, syah..."
Aisyah tertegun mendengar Isak tangis Arshad. Seketika matanya berlinang. Dapat Aisyah dengar serak suara Arshad. Sudah berapa lama suaminya ini menangis? Aisyah tidak menyangka kalau kepergiannya ke Solo saat itu akan membuat Arshad terpukul seperti ini. Ingatan Aisyah melambung pada mimpi buruk waktu itu. Apakah mimpi itu akan menjadi nyata? Apakah Arshad akan sangat terluka? Ya Allah, apakah keputusannya untuk menutupi tentang penyakitnya ini adalah yang terbaik?
"Aisyah, kamar kita udah kayak kapal pecah loh. Untung gak tenggelam. Penasaran kan gimana bentukan kamar kita sekarang? Makanya pulang! Biar gak penasaran...."
"Aisyah, hari ini aku ke pantai... Aku ketemu sama sepasang suami istri yang sangat bahagia. Mereka punya anak, syah. Lucu. Aku juga sempat berbicara dengan pria itu. Namanya Fahri. Kamu ingat, gak? Dia cerita, katanya kamu pernah bertemu mereka. Kata dia juga kalau bukan karena kamu, mungkin apa yang aku lihat tentang keluarga bahagia itu gak akan ada. Mereka ingin bertemu dengan kamu, syah."
"Setelah berbincang dengan Fahri keyakinan aku kalau kamu pasti kembali semakin besar. Aku yakin kamu pasti kembali. Iya kan, syah? Kamu... akan pulang, kan?"suara Arshad yang tadinya bersemangat kembali terdengar bergetar karena tangisnya.
Aisyah menutup mulutnya untuk meredam suara isakannya. Sungguh berdosa dia saat itu. Meninggalkan suaminya. Seharusnya dia bicarakan baik-baik masalah itu dan meminta izin pada Arshad jika dia akan ke Solo. Dan lagi-lagi sekarang dia tidak meminta izin. Apakah Arshad akan linglung sama seperti saat itu? Ya Allah maafkan Aisyah yang berdosa ini.
"Syah, aku juga sempat dengar pengajian tau. Ustadznya kelihatan banget gak suka sama aku. Masa dia nyindir aku. Pembahasannya itu loh langsung kena banget ke jantung, tau gak. Dia kayak nyindir kalau aku tuh bukan suami yang baik. A_ aku suami yang baik kan, syah? Aku baik, kan? Hm?"
Aisyah mengangguk dan tangannya kini sudah meremas ujung bajunya dengan kuat. Tak bisa lagi dia menahan tangisnya. Tidak sanggup lagi. Aisyah benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkan mendengar semua pesan itu. Aisyah pun dengan buru-buru mengambil ponselnya yang satu lagi lalu menghidupkannya. Ponselnya tadi mati dan kini dayanya sudah ia isi, hanya saja belum Aisyah hidupkan.
Setelah ponselnya hidup, Aisyah meletakkan ponsel lamanya di nakas lalu kembali berdiri di dekat jendela sambil mencari-cari kontak Arshad. Sudah dia putuskan untuk memberitahukan kepada Arshad semuanya. Seharusnya memang tak ada yang perlu dia sembunyikan. Justru itu malah akan lebih memperumit keadaan.
Aisyah menghubungi nomor Arshad, namun tak ada jawaban. Arshad tak mengangkat teleponnya. Setelah beberapa kali menghubungi nomor Arshad dan hasilnya masih sama, Aisyah pun memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi.
"Mungkin mas Arshad masih di kantor, ya? Sibuk banget kayaknya."gumam Aisyah.
Aisyah pun melamun dan menatap ke luar jendela. Kamar rawat Aisyah berada beberapa tingkat di atas dan kini dapat dia lihat lampu-lampu jalan yang sangat indah jika dilihat dari tempat dia berdiri saat ini. Cukup lama Aisyah melamun dan tanpa sadar sudah sekitar hampir satu jam dia berdiri di sana. Entahlah, bahkan lelah pun tak terasa saat dia melamun.
Drrtt Drrtt
Lamunan Aisyah pun buyar karena getaran ponselnya. Aisyah melihat layar ponselnya dan dengan cepat mengangkat telephon dari seseorang yang dari tadi memang sangat ingin dia dengar suaranya.
"Assalamu'alaikum, mas?"ucap Aisyah langsung. Namun tak ada jawaban dari Arshad. Hening. Itu yang Aisyah dapat.
"M_ mas? Mas Ar_"
"Wa'alaikumussalam."
DEG!
Suara Arshad terdengar lirih dan sangat pelan. Namun, kenapa terdengar seperti suara itu bukan hanya dari ponselnya? Kenapa seakan-akan... Aisyah membulatkan matanya dan langsung berbalik menatap ke arah pintu.
Sekali lagi Aisyah...
DEG!
__ADS_1
Sekali lagi Aisyah dibuat terkejut...
"Ma_ mas Arshad?"