Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Bingung 2


__ADS_3

Aisyah dan Arshad sedang berada di bandara menunggu kedatangan Anam dan Khadijah beserta keluarga. Arshad sesekali melirik Aisyah yang wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Jujur dia masih bingung dengan perubahan Aisyah. Apa iya, Aisyah adalah tipe wanita yang gampang marah karena hal yang terjadi saat makan siang kemarin? Dia rasa tidak. Sepertinya memang ada yang mengganggu pikiran Aisyah.


Selama dia menikah dan mengenal Aisyah, Arshad belum pernah merasakan keanehan dari sikap Aisyah sampai seperti ini. Ini benar-benar mendadak baginya.


Keanehan itu dimulai sejak mereka kembali dari rumah ummi dan abi. Atau jangan-jangan sejak pertemuan Aisyah dengan Rizky malam itu? Tidak mungkin kan, jika Aisyah selingkuh? Membayangkan hal itu saja sudah tak sanggup untuk Arshad. Tapi jika diingat-ingat lagi, dia masih belum membahas tentang pertemuan Aisyah dengan Rizky waktu itu di restoran. Kenapa Arshad bisa lupa tentang hal itu? bodoh sekali rasanya dirinya ini, pikirnya.


Arshad pun menghela nafasnya yang terdengar jelas oleh Aisyah. Jengah dia dengan pikirannya sendiri.


Aisyah menatap Arshad, "Aku gak mau kita terlihat seperti sedang bertengkar di depan kakakku. Jadi tolong atur ekspresi kamu,mas."ucap Aisyah tiba-tiba sehingga membuat Arshad tersenyum remeh.


"Justru kamu harus perhatikan ekspresi wajah kamu sendiri. Kayak tembok tau, gak?" canda Arshad berusaha kembali mencairkan suasana antara dirinya dengan Aisyah.


Aisyah berdecak dan menatap Arshad dengan kesal. Apakah dia terlihat sedang ingin bercanda? tentu saja tidak. Kenapa Arshad malah membuatnya kesal?


"Assalamualaikum!"suara serentak salam pun terdengar. Aisyah dan Arshad menoleh sembari tersenyum manis, "Wa'alaikumussalam." Kemudian Aisyah dan Arshad pun saling bersalaman dengan Anam dan yang lainnya.


"Akhirnya sampai juga. Aku pikir bakalan diundur. Kak Khadijah, gimana perjalanannya? Seru?"tanya Aisyah.


"Biasa aja. Kayak gak pernah naik pesawat aja."sela Anam membuat Aisyah menatapnya tajam.


Namun sedetik kemudian Aisyah beralih menatap kedua orang tua Khadijah dan tersenyum.


"Aku kasihan sama bunda dan ayah."ucapnya seketika mereka saling pandang tak mengerti.


"Maksud kamu apa Aisyah?"tanya bunda dengan lembut.


"Kasihan karena mau punya menantu aneh kayak kak Anam nih."seru Aisyah sambil melihat Anam dengan tatapan tajam.


Anam hanya menggelengkan kepalanya tak abis pikir dengan Aisyah, setelah itu dia beralih menatap Arshad yang sedari tadi hanya diam menatap semuanya.


"Kamu pasti lelah kan Arshad ngurus Aisyah yang kekanakan kayak gini."ucap Anam.

__ADS_1


"Emangnya aku anak kecil pakek bilang ngurus segala."protes Aisyah dengan tatapan tajamnya.


"Lelah sih nggak, capek iya."sahut Arshad.


Aisyah sontak menatap Arshad dengan geram,"sama aja itu."


Mereka tertawa melihat wajah Aisyah yang sudah memerah karena kesal. Ternyata menyenangkan menjahili Aisyah. Setiap ia kesal dan melotot, malah terlihat menggemaskan.


"Sudah-sudah, yuk pulang!"ajak Anam yang sudah bersiap-siap menarik koper miliknya dan Khadijah.


"Biar aku aja yang bawa, mas."ucap Khadijah sambil menahan koper miliknya.


"Aku aja, aku gak mau kamu capek."balas Anam dengan lembut hingga membuat yang lainnya tersenyum. Kecuali Arshad. Kenapa? Karena dia melihat tatapan lembut Aisyah saat melihat hal itu. Apakah perhatian seperti itu manis? Sampai-sampai semuanya tersenyum seperti itu.


"Cuma bawa koper begini aja gak akan bikin aku capek, mas."ucap Khadijah kekeh.


"Kalau gitu anggap karena aku cinta sama kamu."balas Anam lagi, aneh.


"Cinta tentang tanggung jawab. Anggap aja ancang-ancang belajar tanggung jawab sebelum menikah."jawab Anam sambil terkekeh membuat Khadijah tersipu. Entah mengapa, rasanya dalam sesaat dunua sudah terasa milik berdua.


"Iya, lanjut aja terus gombalnya! Sampai habis stok gombalnya kalau bisa. Hadehhhh, dunia tiba-tiba terasa milik berdua, yang lain mah ngontrak."celetuk Aisyah membuat semuanya tertawa.


"Ya udah, yuk pergi!"ajak Anam lagi dan masih membawa kopernya dan koper Khadijah.


"Bunda, biar Aisyah yang bawain kopernya bunda sama ayah, ya."tawar Aisyah sambil menggenggam pegangan koper tersebut.


"Tapi_"


"Biar saya saja, buk."potong Arshad sebelum bunda menanggapi.


"Biar aku aja, mas."sela Aisyah.

__ADS_1


"Aku aja, syah."balas Arshad dengan lembut membuat Aisyah pasrah,"yuk pak, buk!"ajak Arshad dengan ramah dan membiarkan kedua orang tua Khadijah berjalan lebih dulu.


Arshad menahan tangan Aisyah membuat Aisyah berhenti dan menatap Arshad.


"Kenapa?"


"Sini tas kamu!..."pinta Arshad membuat Aisyah bingung.


"Hah?"


"Tas kamu, Aisyah..."ulang Arshad mengambil alih tas milik Aisyah dan melampirkannya di bahunya.


"Kenapa? Aku bisa bawa sendiri, kok."


"Biar aku aja. Aku gak mau kamu capek."balas Arshad meniru Anam tadi.


"Itu gak berat. Aku bisa sendiri."


"Tetap aja aku gak mau kamu repot. Anggap aja ini karena aku cinta sama kamu."


"Hah? Kamu_ ohhh aku ngerti. Kamu pengen bikin aku tersipu karena gombalan receh kamu dengan niru gombalannya kak Anam tadi, kan? Iya, kan?"tanya Aisyah setelah menyadarinya.


Arshad pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal," Ya, pengen aja gitu bikin kamu senang."


"Gak perlu capek-capek bikin aku senang. Apa lagi sampai gombal kayak tadi."Aisyah pun berjalan mendahului Arshad dan menyusul yang lain.


""Ish, kok makin nyebelin sih? Namanya juga usaha."gerutu Arshad lalu ikut menyusul dengan langkah lebarnya yang malah kini mendahului Aisyah.


"Hm." Arshad berdehem sebal saat hendak mendahului Aisyah. Namun tanggapan Aisyah hanya datar.


Aisyah tau bahwa Arshad mungkin sebal padanya. Kebingungan demi kebingungan melanda Arshad. Melihat masalah yang terus berdatangan karena kesengajaan atau pun tidak disengaja. Sikap Aisyah yang berubah-ubah. Sikap Aisyah yang kini terkesan menghindar. Tentu saja membuat bingung. Aneh memang. Tapi segala sesuatu yang terjadi punya alasannya, kan? Begitu pun Aisyah. Dia punya alasannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2