
"Mas,"tegur Aisyah. Namun tak ada pergerakan dari Arshad yang kini masih memeluknya dengan erat.
"Mas Arshad."tegur Aisyah sekali lagi. Tetap tak ada pergerakan. Aisyah pun perlahan melepaskan pelukan Arshad darinya. Saat melihat wajah tenang Arshad yang sudah kembali tertidur, membuatnya tersenyum.
"Mas, shalat subuh dulu,yuk!"ajak Aisyah pelan. Namun bukannya bangun, Arshad malah memeluk tubuh Aisyah dan menelusupkan kepalanya di sela-sela leher Aisyah.
Aisyah pun dengan pelan dan hati-hati kembali menidurkan Arshad dan menyelimuti tubuh Arshad. Dia memeriksa kembali suhu tubuh Arshad. Sudah tak terlalu panas.
Aisyah pun berdiri hendak melaksanakan shalat subuh, namun tangan Arshad menggenggam erat tangannya. Aisyah menarik pelan tangannya hingga terlepas. Lalu ia menatap wajah Arshad sebentar sebelum benar-benar pergi untuk melaksanakan shalat.
.
.
.
Aisyah sibuk di dapur membuat bubur untuk Arshad. Sekarang sudah pukul 8 pagi, tapi Arshad masih belum bangun.
Setelah bubur siap, Aisyah pun langsung ke kamar berniat untuk membangunkan Arshad. Namun belum sampai dia membuka pintu, pintu sudah terbuka menampakan Arshad dengan nafas tersenggal-senggal dan menatap Aisyah dengan lega.
Arshad menggigit bibir bawahnya yang gemetar lalu memeluk Aisyah begitu erat. Untung bubur yang Aisyah bawa tidak tumpah.
"Aku pikir tadi itu masih mimpi. Ternyata ini benar kamu. Terima kasih Ya Allah."gumam Arshad dengan mata berlinang. Kata-kata Arshad kembali membuat hati Aisyah tersentuh.
"Kamu udah gak apa-apa? Masih pusing?"
"Sekarang udah gak apa-apa. Ada kamu."Arshad melepaskan pelukannya dan menatap Aisyah dengan seksama.
__ADS_1
"Kamu kurusan."ucap Arshad.
"Yang ada kamu yang kurusan. Nih, aku bikinin kamu bubur. Di makan dulu!"Arshad mengangguk, mereka pun masuk kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Nih, buburnya! Aku mau ke dapur dulu."ucap Aisyah dengan tangan terulur memberikan bubur tersebut. Arshad menerima dengan berat hati. Padahal dia ingin disuapi.
Melihat Arshad yang terlihat berat hati, membuat Aisyah terheran,"kamu gak suka?mau aku buatin yang lain?"
"Suka, kok. Cuma..."Arshad berusaha memikirkan alasan yang tepat agar Aisyah menyuapinya,"tangan aku. Iya, tangan aku lemas banget."
"Mau aku suapi?"tawar Aisyah.
"Mau..."seru Arshad langsung.
Aisyah tersenyum dan mengambil alih bubur tersebut dan menyuapi Arshad yang kini sulit menahan senyumnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Arshad menghabiskan buburnya,"habis loh, mas. Kamu lagi sakit, tapi makan gak susah. Bagus sih, jadi kamu gak kurusan gini terus. Makan yang banyak."Aisyah berdiri hendak pergi ke dapur, namun lagi-lagi Arshad menahannya.
"Butuh kamu."Arshad menarik Aisyah hingga tertidur di kasur. Mangkuk tadi sudah jatuh ke lantai dan pecah. Sedangkan Aisyah tak dapat menyembunyikan keterkejutannya karena tingkah Arshad ini. Dengan heran dan pipinya yang sudah memerah, Aisyah menatap Arshad dengan bingung. Berbeda dengan Arshad yang malah tersenyum memperhatikan wajah Aisyah dengan seksama. Benar-benar sempurna istrinya ini, pikirnya. Tiba-tiba tangan Arshad menyentuh pipi Aisyah membuat sang pemilik wajah tersentak lebih kaget. Jantung Aisyah sudah tak terkontrol lagi. Ini berbahaya.
"M_ mas?"tegur Aisyah, ragu.
Arshad hanya bergumam kecil untuk menanggapi Aisyah.
"Mas?"tegur Aisyah lagi.
"Kenapa,hm?"tanya Arshad dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa?"tanya Aisyah.
"Gak kenapa-napa, cuma gak nyangka aja bisa lihat kamu lagi. Aku bersyukur banget ini bukan mimpi."
"Mimpi lagi? Kenapa sih dari tadi kamu bilang mimpi-mimpi terus? Hm?"
"Aku sering memimpikan kamu, sering halusinasi kalau kamu ada di sini. Gak cuma sekali, tapi berkali-kali. Mungkin karena aku sering kepikiran kamu."
"Kenapa mikirin aku?"
"Mikirin kamu adalah hal yang sangat-sangat menyenangkan buat aku."
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa senang mikirin aku?"
"Karena... gak ada yang lebih layak buat aku pikirin selain kamu."
"Kenapa gak ada_"jari telunjuk Arshad sudah berada tepat di depan bibir Aisyah.
"Shut ! jangan banyak nanya! nanti aku tambah suka, loh."ucap Arshad membuat Aisyah semakin bingung sekaligus prihatin. Sepertinya ada yang salah dengan suaminya ini.
"Mas, kamu kenapa,sih?"cicit Aisyah dengan tatapan iba.
"Mbak, tadi bibi dengar suara_"bi Nah berhenti bicara kala melihat posisi Aisyah dan Arshad,"maaf mbak,mas."bi Nah langsung pergi. Aisyah yang syok hanya bisa pasrah di lihat dalam posisi yang sangat-sangat memalukan baginya. Berbeda dengan Arshad yang tersenyum melihat Aisyah yang sudah menutup wajahnya karena malu.
__ADS_1
Perlahan Aisyah menurunkan tangannya dari wajahnya dan menatap Arshad yang masih tersenyum dengan alis naik turun, berusaha menggoda Aisyah. Dengan sekali dorongan kuat, Aisyah berhasil lolos dari Arshad dan langsung keluar dari kamar secepatnya.
Kejadian ini gila, menurutnya. Arshad sudah gila. Benar-benar gila.