Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Bingung


__ADS_3

Aisyah duduk diam di hadapan Rizky yang juga terdiam sambil menunduk. Keduanya kalut dengan pikiran masing-masing. Seakan-akan di sekeliling mereka tak ada apa pun.


Rizky pun memberanikan diri menatap Aisyah,"Kamu yakin?"


Aisyah hanya mengangguk.


"Tapi aku_"


"Please, kak. Itu keputusan yang aku rasa benar-benar tepat."


Rizky mengangguk paham,"habis ini mau ke mana?"


"Mau antar makan siang untuk mas Arshad."


"Mau aku antar?"


Aisyah menggeleng cepat,"aku bisa sendiri. Kalau gitu aku duluan,kak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aisyah pun akhirnya pergi dan mampir membeli makan siang untuk Arshad. Sikapnya kemarin hingga pagi ini sangat aneh pastinya bagi Arshad.


.


.


.


Di sisi lain Arshad baru keluar dari kantor untuk makan siang, namun di lobi dia malah melihat Laras yang terlihat sedang menunggu seseorang.


"Laras?"


Laras sontak menatap Arshad,"Eh, Ar?"


"Kamu ngapain di sini?"tanya Arshad.


"Jadi kalau udah mantan gak boleh ke sini lagi? Jahat banget."ujar Laras.


Arshad pun tertawa,"bukan gitu maksud aku. Cuma aneh aja kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Gak mungkin kan kalau kamu nyari aku?"


"Kenapa gak mungkin? Aku kan emang nyari kamu."


"Kenapa nyari aku? Oh masih soal yang waktu itu? Laras aku minta maaf banget. Aku tau udah nyakitin kamu. Tapi itu semua di luar_"


"Apaan sih? Drama banget. Aku ke sini mau ketemu Rio, ngajak makan. Kebetulan udah janjian dari kemaren."


"Rio? Serius kamu?"


"Iya, kenapa memangnya?"


Arshad terkekeh,"Enggak, cuma heran aja sejak kapan kalian berdua akur?"


"Sejak kamu ninggalin aku."


"Hei, udah di sini?"sapa Rio pada Laras lalu beralih pada Arshad, "Eh, lo juga di sini, bro? Mau ikut makan bareng kita?"

__ADS_1


"Boleh, sih. Tapi serius gak apa-apa?"


"Ya gak apa-apa lah."ucap Laras.


"Oke."


"Mas Arshad."semuanya sontak menatap ke sumber suara dan menemukan Aisyah yang sedang menggenggam paper bag di tangannya. Arshad pun tersenyum melihat Aisyah ada di sana. Bagaimana pun juga dia juga sangat merindukan Aisyah.


"Aisyah?"ucap Arshad. Aisyah pun berjalan mendekat ke arah mereka. Tatapannya sesekali melihat ke Laras yang terlihat menunduk, mungkin masih karena rasa bersalah, pikir Aisyah.


"Kebetulan banget Aisyah juga di sini, gimana kalau kita makan siang bareng?"usul Rio.


"Boleh, kamu mau kan?"tanya Arshad pada Aisyah. Aisyah menggenggam erat paper bag yang dia bawa tadi lalu berusaha tersenyum dan mengangguk setuju. Tidak apa-apa lah, dia bisa makan bersama dengan Arshad lain kali saja.


"Ya udah kalau gitu kita pergi sekarang. Yuk!"ajak Rio.


Mereka pun pergi ke restoran yang berada di depan kantor. Dari awal sampai Aisyah hanya diam dan mendengarkan tiga orang itu bercerita masa lalu.


"Udah lama loh kita gak bareng bertiga gini. Ya, gak sih?"ucap Laras.


Aisyah meremas gamisnya. Bertiga. Benar, hanya bertiga sebelumnya. Dan dia hanyalah orang yang datang di antara mereka dan mengganggu. Bukankah begitu? Tatapan Aisyah pun jatuh pada paper bag yang masih digenggamnya. Makan siang yang dia beli tadi harus dia apakan?


"Iya bener. Udah lama banget. Apa lagi semenjak kalian berdua pacaran. Kita gak pernah lagi kayak gini. Kemana-mana gua sendiri dan lo berduaan mulu. Lengket amat kayak perangko."ujar Rio.


"Gak gitu, yo. Gak mungkin juga kan gue bawa lo cuma buat jadi obat nyamuk. Please, gak usah lebay!"sela Laras.


"Lagian kan lo sibuk juga sama pacar lo."tambah Arshad.


Aisyah tersenyum miring. Dia benar-benar tidak diperlukan di sini.


Tak lama setelah itu makanan pesanan mereka datang. Aisyah hanya melihat berbagai seafood. Aisyah lupa bahwa mereka berada di restoran khusus makanan seafood, sedangkan dia alergi makanan yang berasal dari laut.


Arshad mengambil salah satu seafood kesukaan Laras dan memberikannya kepada Laras,"Kesukaan kamu."Aisyah hanya menatap datar kelakuan Arshad. Sedangkan Rio menatap Aisyah yang dapat dia lihat tatapan Aisyah kosong. Tatapan Aisyah pun jatuh pada Rio, hanya sebentar setelah itu ia langsung membuang tatapannya.


"Aisyah gak makan?"tanya Rio.


"Gak perlu. Udah kenyang juga."ucap Aisyah yang terdengar seperti sindiran. Arshad menatap Aisyah. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia masih melakukan hal-hal yang mungkin akan membuat Aisyah sakit hati? Kebiasaan ini membuatnya kesulitan.


"Kamu makan dikit lagi, ya? Aku suapin mau?"tawar Arshad dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Aisyah tersenyum miring sambil menggeleng,"Lanjut aja! Gak usah pedulikan aku."Arshad terdiam dan Laras merasa canggung dengan situasi tersebut.


"Aku ganggu, ya? Kok pada diam gitu? Aku pergi aja kalau gitu."ucap Aisyah.


"Aisyah, please! Jangan buat situasi lebih rumit lagi."pinta Arshad.


"Gak rumit, kok. Cuma butuh aku pergi, terus kalian bisa lanjut nostalgianya. Gak rumit, kan?"Aisyah pergi dari sana tanpa mempedulikan panggilan Arshad. Tanpa pikir panjang, Arshad langsung mengejar Aisyah keluar.


Sebelum memanggil taksi, Aisyah menatap paper bag tadi dan menatap ke sekeliling. Ada seorang anak kecil yang sedang duduk di dekat tiang depan restoran.


Aisyah menghampiri anak itu dan berjongkok di depannya.


"Buat kamu."Aisyah mengulurkan paper bag itu.


Anak itu menerimanya,"terimakasih kakak cantik."

__ADS_1


"Sama-sama..."balas Aisyah.


Anak itu pun pergi dari sana sambil berlari. Aisyah berdiri dan berbalik. Dia terdiam melihat Arshad sudah berada di depannya.


"Makanan itu buat aku, kan? Kamu datang ke kantor bawain aku makan siang? Kenapa gak bilang?"tanya Arshad.


"Udah gak penting lagi untuk dijelasin."Aisyah hendak pergi tapi Arshad memegang pergelangan tangannya.


"Maaf soal tadi."


"Gak masalah."


"Gak masalah itu malah bikin aku gak tenang. Kita ngobrol di rumah. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan."Arshad menarik lembut tangan Aisyah dan mereka kembali ke kantor untuk menjemput mobil.


Sesampainya di rumah, Aisyah malah langsung masuk ke kamar diikuti Arshad di belakang.


"Dari kemaren sikap kamu beda banget. Sebenarnya kamu kenapa? aku ada salah lagi?"tanya Arshad.


"Gak ada yang salah."jawab Aisyah.


"Sikap kamu terkesan menghindar."


"Siapa yang menghindar sih, mas? kamu yang berlebihan. Aku sedang kejar target kuliah, aku kecapean. Aku gak ngomong sedikit sama kamu aja, kamu ngerasa aku aneh? kalau gitu apa bedanya sama yang tadi? aku juga diam, tapi kenapa kamu gak tanya? yang kamu lakukan adalah selalu membenarkan prasangka kamu sendiri. Apa yang aku lakukan selalu salah di mata kamu. Terus aku harus gimana? aku harus jadi mbak Laras dulu supaya kamu bisa mengerti aku? aku harus jadi mbak Laras dulu? tapi aku gak akan pernah bisa, mas. Aku adalah aku. Aku gak bisa jadi orang lain. Kalau kamu gak terima bilang aja, gak apa-apa buat aku. Toh, selama ini kamu juga gak pernah terima sama pernikahan ini, kan?"


"Kenapa sampai bawa-bawa hal itu, sih?"


"Kenapa emangnya? bukannya memang gitu, kan? kamu gak pernah benar-benar menerima pernikahan ini."


"Aisyah, aku gak ngerti apa sebenarnya yang kamu pikirkan, tapi aku udah gak pernah mempermasalahkan tentang pernikahan ini."


"Ok, kamu memang gak pernah mempermasalahkan pernikahan. Yang jadi permasalahannya adalah kamu menikah dengan aku, orang yang paling kamu gak cinta. Kamu mau mbak Laras kan yang jadi istri kamu? kalau gitu silahkan! kamu pikir aku peduli? enggak!"


"Aisyah! masalah ini udah terlalu jauh. Baru kemarin kita baikan dan sekarang kita berantem lagi. Aku capek..."


"Bagus, kan? di situ letak ketidakcocokan kita. Jadi kamu punya alasan untuk menceraikan aku. Iya, kan?"


"Kamu ngomong apa, sih? maksud kamu apa?"


"Di bagian mana diantara kata-kata aku yang kamu gak ngerti?"


Rahang Arshad mengeras menahan emosi, "Disemua bagiannya."


Aisyah tersenyum miring,"Bullshit, tau gak!"


"Apa kamu bilang?"


"Bullshit."


"Kamu sebenarnya kayak gini cuma mau nutupin kesalahan kamu sendiri, kan? kamu putar balikan keadaan seakan-akan aku yang salah hanya untuk menutupi kedok kamu iya, kan?"


Aisyah heran tak mengerti,"maksud kamu?"


"Ngapain kamu sama Rizky berduaan kemarin? pacaran kamu sama dia?"


"Aku gak ngerti kamu ngomong apa."Aisyah hendak keluar dari kamar tapi tangannya dicekal oleh Arshad dan kini cekalan Arshad terasa lebih kuat.

__ADS_1


"Mau kabur dari masalah kamu? kenapa? gak bisa ngomong lagi karena ketahuan?"


Aisyah menghempaskan tangan Arshad,"gak peduli kamu ngomong apa dan beranggapan apa tentang aku. Aku gak akan pernah mau peduli lagi."Aisyah pun benar-benar keluar dari kamar meninggalkan Arshad yang mengacak rambutnya dengan kasar. Tak tau lagi harus bagaimana menanggapi masalah ini. Ini semua lebih membingungkan dari apa pun yang pernah dirinya hadapi.


__ADS_2