Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
I Love U Aisyah


__ADS_3

"Langit... bisakah kau turunkan uang dengan jodoh? Aku ingin kaya tanpa kerja, ingin uwuu uwuuan biar gak jomblo..."lirih Rio sambil menatap langit-langit cafe.


Laras yang duduk di depannya tertawa.


"Kenapa lagi lo?"tanya Laras.


Rio menghela nafas panjang,"di kantor tadi lumayan banyak kerjaan. Bisa bayangin gak, kalau seandainya gua nerusin perusahaan bokap gua gimana tuh sibuknya? Bisa meninggoy gua. Apa gua ngepet aja kali ya? Gua juga belum nikah. Mati sebelum nikah, rugi dong gua."


"Alay lo sumpah. Arshad aja bisa, kok."


"Iya, sih... Hufft, gua kapan nikah?..."


"Terima aja perjodohannya kalau mau nikah."


"Gua gak cinta."


"Terus lo cinta siapa?"


"Lo."


Laras terdiam. Menatap Rio yang terlihat serius. Tapi, Laras berpikir memangnya kapan Rio serius? Rio hanya tau bercanda.


"Minum tuh! Otak lo bermasalah."tunjuk Laras ke kopi milik Rio.


"Ck, lo_"


"Lo di sini, kak? Ketemu lagi kita, kebetulan banget..."Selina tiba-tiba datang dengan seorang gadis cantik yang terlihat anggun.


"Ngapain?"tanya Rio.


"Mau nongkrong berdua. Pdkt antara adik sama kakak ipar. Ya kan kak Alexa?"gadis cantik itu hanya tersenyum malu-malu. Sesekali dia melirik Rio yang tidak menatapnya sama sekali. Alexa tak menyangka kalau ternyata orang yang akan dijodohkan dengannya sangat tampan. Rio benar-benar tipe idealnya. Tapi siapa gadis yang bersama dengan Rio.


Rio dan Laras berdiri berdampingan. Laras sedikit mendekat ke telinga Rio.


"Cantik, yo..."ucap Laras.


Rio menatap Laras lalu bergantian untuk membisikan sesuatu,"masih cantikan lo."


BLUSH...


Seketika pipi Laras memerah karena mendengar pujian yang mungkin hanya sebuah candaan belaka dari Rio.


"Terima aja, cantik kok ceweknya."bisik Laras lagi.


"Males, soalnya gak secantik lo. Kayaknya oplas deh ceweknya."balas Rio pastinya dengan berbisik.


Laras menahan tawanya dan menepuk lengan Rio. Melihat Rio terkekeh membuat Alexa menatap tidak suka. Bagaimana cara Rio menatap Laras sangat berbeda dengan tatapan Rio padanya. Apalagi Melihat mereka yang berdiri begitu dekat sambil bisik-bisik. Hatinya memanas.


"Kenapa sih pada bisik-bisik?"tanya Selina.


"Bukan urusan lo."balas Rio ketus.


"Kak, lo_"tangan Selina dicekal Alexa. Alexa tersenyum manis dan maju selangkah mendekati Laras.


"Boleh gabung, gak?"tanya Alexa pada Laras.


"Nggak."jawab Rio mendahului Laras.


Laras pun menyikut lengan Rio.

__ADS_1


"Boleh kok, duduk aja."Laras mempersilahkan Alexa duduk. Tentu saja Alexa akan mengambil tempat di sebelah Rio. Rio menyipitkan matanya lalu mengambil kopinya dan berpindah ke samping tempat duduk Laras. Alexa mengumpat dalam hati, dia sengaja duduk di situ agar bisa bersebelahan dengan Rio. Tapi ternyata Rio malah mengambil tempat di sebelah Laras. Sebenarnya siapa Laras ini?


"Kok pindah?"tanya Laras sok polos.


"Menurut ngana?"tanya Rio balik membuat Laras terkekeh. Laras pun kembali duduk diikuti dengan Selina yang mengambil tempat di samping Alexa.


"Kak Laras ini sebenarnya siapa?"tanya Selina yang peka dengan situasi Alexa.


"Pacar gua."jawab Rio spontan membuat Selina dan Alexa kaget.


"Sejak kapan?"tanya Laras yang tentu saja ikut kaget.


Rio berdecak dalam hati lalu menatap Laras,"kamu masih marah sama aku? Sampai pura-pura amnesia lagi. Kan aku bilang gak bisa jemput ke butik karena tadi sibuk di kantor..."menaik-naikan sebelah alisnya di sisi yang tidak akan terlihat oleh Selina atau pun Alexa.


Laras yang mengerti kode Rio langsung memasang wajah jutek,"ya... Seenggaknya kasih kabar. Kamu tau dua jam aku nunggu di sini? Kalau ada cowok yang godain aku gimana? Jomblo aja kamu seumur hidup! Aku heran sama diri aku sendiri kenapa bisa suka sama kamu. Kita putus aja!"


Rio meneguk salivanya keras melihat akting Laras yang begitu mendalami karakter.


"Kalau kita putus, aku pastikan besok kamu gak akan bisa lihat aku."ucap Rio lirih.


"Emang mau kemana?"


"Aku sibuk."ucap Rio ngacok.


"Sibuk apa? Hubungannya apa sama putus?"


"Sibuk ngurus surat keterangan tidak mampu."hati Alexa memanas dan Selina hanya bisa melirik Alexa dengan tak enak hati.


Seketika tawa lebay Laras menggelegar dan langsung saja tangannya dengan ringan menggeplak kepala Rio.


"Lucu banget pacar aku."serunya.


_________________


Sore hari ini terlihat sangat cerah. Angin pantai juga terasa sangat sejuk. Aisyah dan Arshad berjalan di tepi pantai yang sedikit jauh dari orang-orang. Kata Arshad supaya lebih tenang. Padahal mau berduaan doang sama Aisyah. Air pantai mengenai kaki Aisyah membuat kakinya basah. Untungnya mereka sudah membuka alas kaki agak jauh dari tepi pantai.


Arshad menatap wajah Aisyah yang sejak tadi tidak melunturkan senyumnya. Senyum itu menular sehingga membuat Arshad ikut menyunggingkan senyumnya. Begitu sempurna gadis di sampingnya ini.


"Aku udah lama banget gak ke pantai. Terakhir kali aku pergi sama Ayah."ucap Aisyah.


"Sekarang senang, nggak?"


"Senanglah. Kan suasananya lebih beda. Waktu itu sama ayah, sekarang sama suami."ucap Aisyah dengan senyum manis.


Arshad ikut tersenyum lalu mengusap kepala Aisyah yang berbalut hijab.


Sambil memeluk Aisyah dari samping, Arshad pun berbisik,"sebentar lagi sunset."


Aisyah mendongak menatap Arshad lalu tersenyum,"waktu sunset nanti aku pengen bilang sesuatu."bisik Aisyah.


"Bilang apa?"


"Kan aku bilangnya nanti."


"Ya udah, deh."ucap Arshad pasrah.


"Kamu mau minum kelapa muda, gak?"tanya Arshad.


"Boleh..."

__ADS_1


"Ya udah kamu tunggu di sini dulu. Jangan kemana-mana. Hilang nanti!"Arshad melepas pelukannya.


"Dikira aku anak kecil apa?"


Arshad terkekeh lalu berlari menuju penjual air kelapa. Aisyah yang awalnya menatap punggung Arshad yang mulai menjauh, kini kembali berbalik menatap lautan tak berujung di hadapannya.


Suasana sore yang tenang, cerah dan menyenangkan. Salah satu impiannya untuk merasakan hal ini bersama dengan Arshad. Impian selanjutnya adalah bisa tetap merasakan suasana ini lagi nantinya, saat ada seorang malaikat kecil dipangkuannya dan Arshad yang merangkulnya dengan menyalurkan rasa aman baginya.


Bisakah dirinya merasakan itu nantinya?


Setelah beberapa saat, Arshad pun membayar kelapa tersebut dan berjalan menghampiri Aisyah yang berdiri membelakanginya. Senyumannya tak pernah luntur disetiap langkah kakinya namun saat jarak antara dia dan Aisyah hanya berjarak sekitar sepuluh langkah lagi, Arshad merasakan sesuatu yang De Javu.


Kilasan ingatan pun mampir di pikirannya.


'Acha! Ngapain?' panggil Arshad pada gadis kecil yang berdiri membelakanginya. Gadis kecil itu berbalik dan tersenyum dengan mengangkat tangannya ke atas sembari melambai-lambai.


Arshad kembali ke realita dan langsung saja memanggil Aisyah,"Aisyah!"


Aisyah berbalik dan tersenyum dengan mengangkat tangannya ke atas sembari melambai-lambai. Sama persis seperti yang dulu pernah Acha lakukan. Dulu Arshad sempat berpikir kalau senyum Aisyah itu mirip dengan senyuman seseorang. Dan kini dia tau siapa...


"Acha..."gumamnya.


"Mas, sini!"teriak Aisyah.


Arshad tersadar dan berjalan gugup ke arah Aisyah. Dia memberikan kelapa muda yang dia beli tadi kepada Aisyah. Tatapannya tak pernah berhenti atau teralihkan dari Aisyah. Aisyah tak sadar dengan tatapan itu dan malah melihat ke arah laut dengan semangat.


"Sunset, mas..."Aisyah maju dua langkah untuk melihat sunset lebih jelas lagi. Arshad mengikutinya lalu menarik Aisyah untuk duduk menikmati sunset.


Arshad merangkul Aisyah ke dalam pelukannya. Ada perasaan hangat yang menyelinap ke hatinya. Namun seketika dia teringat kalau Aisyah ingin mengatakan sesuatu.


"Oh iya, tadi katanya mau bilang sesuatu..."


Aisyah tersenyum lalu mengambil ponselnya yang dulu dari dalam tas.


"Tada! Aku udah nemuin hp aku lagi. Ternyata gak hilang, tapi ketinggalan di rumah dan disimpan bi Nah."ucap Aisyah.


"Cuma mau bilang itu?"


Aisyah berdecak,"aku mau bilang kalau aku udah dengar semua pesan kamu. Makasih ya, mas."


"Buat?"


"Semuanya. Makasih udah jadi suami yang baik dan menganggap aku sebagai istri kamu. Aku bahagia banget sekarang."


Arshad tersenyum,"kembali kasih, Aisyah. Terima kasih juga karena sudah sabar dengan sikap egois aku."


"Sekarang aku mau kamu bilang sesuatu."ucap Aisyah sambil mengotak-atik ponselnya.


"Bilang apa?"


"Tunggu dulu,"setelah Aisyah menemukan yang dia cari, Aisyah mengarahkan ponselnya ke telinga Arshad.


Seketika Arshad terkekeh dan mengusap kepala Aisyah,"kan udah..."


"Bilangnya langsung, dong. Masa virtual gitu."Aisyah memanyunkan bibirnya.


Sekali lagi Arshad terkekeh membuat Aisyah malu dan mendorong tubuh Arshad agar menjauh darinya. Arshad kini tertawa keras melihat pipi Aisyah yang sudah memerah karena malu. Dengan lembut Arshad pun membawa Aisyah ke dalam pelukannya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah.


"I Love U, Aisyah."

__ADS_1


__ADS_2