Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Hari-hari Tanpamu 2


__ADS_3

"Hidup seperti ini bukan sepenuhnya keinginan Arshad,ummi. Ini bentuk keputusasaan. Hidup Arshad gak akan kayak gini kalau ada Aisyah. Arshad akan baik-baik aja jika ada Aisyah."ucap Arshad penuh dengan penegasan.


"Sebelum ada Aisyah kamu biasa aja."


"Ada perbedaan antara sebelum dan sesudah. Ada perbedaan antara dulu dan sekarang,ummi. Hidup Arshad memang dulu biasa aja tanpa ada Aisyah. Tapi sekarang, hidup Arshad bukan apa-apa tanpa Aisyah,ummi. Arshad mohon, tolong beri tau dimana Aisyah,ummi!"air mata pun perlahan keluar dari matanya dan meluncur bebas ke bawah. Ummi langsung menatap Arshad tepat di matanya.


"Kamu tau dimana Aisyah, hanya saja kamu tidak menyadarinya,Arshad."ucap ummi membuat Arshad mengerutkan keningnya.


"Maksud ummi?"tanya Arshad tak mengerti.


"Ini cara ummi untuk membuat kamu menyadari satu hal. Ummi ingin kamu menyadari hal yang selama ini sangat berarti bagi kamu tanpa harus ummi beri tau. Kenali Aisyah,Arshad!"


Arshad semakin tak mengerti dibuatnya. Kenali? Apa yang harus ia kenali dari Aisyah? Mungkinkah selama ini dia tidak begitu mengenali Aisyah? Bukankah memang mereka belum terlalu mengenal? Itu dapat di lihat dari lama pernikahan mereka. Mereka memang belum mengenal terlalu jauh.


"Arshad akan mengenal Aisyah lebih jauh jika Aisyah ada di sini,ummi. Bagaimana Arshad bisa kenal Aisyah kalau gak ada Aisyah-nya?"


"Bukan itu maksud ummi. Kamu memang tidak mengerti apa pun."


"Kalau gitu buat Arshad mengerti,ummi!"


"Sadari sendiri!"


Arshad kembali memikirkan perkataan umminya. Apa sebenarnya maksud ummi? Kenali apa? Apa yang harus ia kenali?


Ummi menatap jengah ke arah Arshad yang terlihat masih kebingungan.


"Ada satu hal yang mungkin bisa bikin kamu sedikit senang."


"Apa,ummi?"


"Aisyah tadi telphone, dia nanyain keadaan kamu. Ummi bilang kamu baik-baik aja supaya Aisyah gak khawatir. Walaupun sebenarnya Aisyah gak akan khawatir juga."jawab ummi yang membuat Arshad tersenyum senang. Tapi, apa maksud dari akhir perkataan ummi.


"Jangan bohong! Arshad tau kok kalau Aisyah nanyanya tulus. Tapi, makasih ya ummi, ini cukup meringankan beban Arshad."


Ummi berdecak kecil. Tapi setidaknya ini bisa membuat Arshad lebih baik. Jujur saja, melihat keadaan Arshad sekarang ini membuat hati kecilnya sangat prihatin dan sedih. Jika saja Arshad sudah menyadari semuanya, itu akan lebih baik lagi. Entah anaknya ini yang pikun atau memang bodoh dalam mengingat.


"Boleh Arshad minta tolong satu hal? Telphonin Aisyah ya, ummi. Arshad cuma mau denger suara Aisyah."


"Enggak."


"Please!.."


"Enggak."

__ADS_1


Arshad pun langsung berdiri dan berbalik menuju pintu.


"Mau kemana kamu?"tanya ummi.


"Pulang. Nunggu Aisyah. Assalamualaikum."ucap Arshad yang berubah dingin.


"Wa_wa'alaikumussalam."ucap ummi yang kini mulai merasa bersalah. Apakah putranya itu memang begitu mencintai Aisyah? Sebegitu sulitkah?


*****


Arshad langsung putar balik meninggalkan rumah ummi. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan perkataan ummi. Sepertinya memang tak ada lagi harapan dari ummi. Menunggu memang adalah hal yang tepat saat ini.


"Gak peduli harus nunggu berapa lama. Aku akan tetap nunggu kamu, Aisyah. Aku ahli dalam hal itu."ucapnya membatin.


Namun setelah beberapa saat, ia berhenti. Arshad berjalan hingga tiba di sebuah pantai. Mungkin ini akan lebih membantunya untuk menenangkan diri.


Arshad duduk di pinggiran pantai sembari menatap ke arah lautan. Cuaca hari ini cerah dan sangat bagus. Seandainya ia bisa pergi ke sini bersama dengan Aisyah, itu akan lebih baik lagi. Sepertinya jika Aisyah kembali nanti, dia akan mengajak Aisyah bersamanya ke sini. Atau haruskah dirinya merencanakan bulan madu?


Arshad tersenyum lalu matanya melihat sepasang suami istri dan seorang anak yang kira-kira berumur 2 tahun. Mereka terlihat bahagia. Iri? Tentu saja dirinya iri. Sangat malah. Bolehkah dirinya berharap untuk bisa memiliki keluarga yang bahagia seperti itu bersama Aisyah? Berhakkah dirinya? Itu adalah harapan yang sangat besar.


Arshad menunduk menatap pasir. Air matanya kembali menetes.


"Berhakkah hamba ya Allah?"tanya Arshad seraya menghapus air matanya.


"Wa'alaikumussalam."balas Arshad.


"Boleh saya duduk?"tanya pria itu dan diangguki Arshad.


"Iya, silahkan."


Keduanya terdiam beberapa saat lalu pria itu pun langsung membuka percakapan.


"Sendiri aja?"tanya pria itu.


"Iya, istri saya sedang pergi, jadi saya melepas rasa rindu dengan menenangkan diri di pantai. Oh iya, tadi maaf karena saya lancang memperhatikan kamu dan keluarga."


"Gak masalah. Oh iya, saya Fahri."Fahri mengulurkan tangannya dan disambut ramah oleh Arshad.


"Saya Arshad."


"Kamu ada masalah dengan istri kamu?"tanya Fahri tanpa ragu.


Arshad langsung melihat ke arah Fahri.

__ADS_1


"Apa terlihat jelas?"tanya Arshad.


Fahri tersenyum lalu mengangguk.


"Kamu sangat mencintainya?"


Arshad mengangguk pelan sambil memandang laut di depannya.


Fahri kembali tersenyum lalu ia juga ikut menatap ke arah laut.


"Boleh saya bercerita?"tanya Fahri.


"Tentu saja."


"Saat awal pernikahan kami dulu, kami berfikir mungkin tidak akan ada hal yang buruk yang akan terjadi. Semuanya berjalan begitu lancar dan bahagia. Gak ada cela untuk saling menyakiti. Tapi di tengah kebahagiaan itu, saya menemukan sebuah kenyataan bahwa istri saya memiliki masa lalu yang kelam yang tidak saya ketahui. Semuanya pun mulai hancur. Tak ada cela kebahagiaan untuk masuk ke dalam keluarga kami. Saya merasa begitu hancur hingga yang bisa saya pikirkan hanyalah menyakiti istri saya. Tidak peduli berapa banyak air mata istri saya yang keluar, tak peduli berapa kata maaf yang terlontar darinya, yang jelas saya sangat membencinya saat itu. Saya bahkan mempermalukannya di depan umum. Bahkan saya tak peduli dengan kondisi istri saya yang saat itu sedang hamil tua."


Arshad heran. Lalu bagaimana mereka bisa baik-baik saja sekarang? Bukankah masalahnya sangat berat?


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"tanya Arshad yang tak bisa membasmi rasa penasarannya.


"Saat itu saya berniat untuk menceraikannya tepat setelah lahirnya anak kami."


"Tapi sekarang kenapa..."


"Ada penyelamat pernikahan kami saat itu. Yang membuat saya sadar tentang semuanya. Dia datang tanpa di duga sebelumnya. Bahkan sampai sekarang saya merasa dia memang di utus untuk menyelamatkan pernikahan kami. Saya sangat-sangat bersyukur karena memilih untuk mendengarkan nasehatnya. Dia meminta saya untuk memilih antara kebodohan karena amarah sesaat atau kebahagiaan karena mampu melalui segala macam rintangan dalam rumah tangga. Bebagai macam ia katakan hingga membuat saya menyadari bahwa masalah yang saya lalui saat itu belum tentu cobaan yang paling berat. Hidup penuh dengan ketidaktahuan. Siapa yang tau masalah apa lagi yang akan kita hadapi nantinya. Jika dalam setiap masalah kita hanya mengambil jalan menghindar, apakah kita pantas disebut dewasa? Itu kata-kata yang sangat saya ingat darinya."


"Dia begitu dewasa."


"Pemikirannya yang dewasa Arshad,tapi..."Fahri terkekeh membuat Arshad bingung.


"Tapi apa?"tanya Arshad penasaran.


"Dia masih SMA, Arshad. Saya benar-benar malu karena di nasehati oleh seorang siswi SMA. Sekaligus bingung karena dia sangat memahami urusan pernikahan."


"Boleh saya tau namanya?"tanya Arshad yang tertarik dan penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh Fahri. Dia berpikir, mungkin dirinya butuh nasehat dari orang itu tentang masalahnya saat ini.


"Aisyah..."jawab Fahri.


DEG!


Arshad langsung menatap Fahri dengan tatapan penuh keterkejutan. Aisyah mana yang Fahri maksud? Apakah Aisyah istrinya atau yang lain? Apakah yang namanya kebetulan itu benar-benar ada?


"Kamu bilang apa? A_Aisyah?"

__ADS_1


Fahri mengangguk pelan karena merasa aneh dengan raut wajah terkejut Arshad. Ada apa? Apakah ada yang salah? pikirnya. Sedangkan Arshad kini menunduk dan berpikir keras. Takdirkah ini? tanyanya dalam hati.


__ADS_2