Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Ketakutan Arshad


__ADS_3

Setelah singgah di salah satu masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib, kini Aisyah dan Arshad sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aisyah masih saja tersenyum mengingat ungkapan Arshad. Sesekali dia melirik Arshad lalu kembali memalingkan wajahnya saat Arshad juga meliriknya dengan heran.


Arshad tersenyum melihat pantulan wajah Aisyah yang tersenyum di kaca mobil. Menggemaskan sekali.


Namun ditengah-tengah suasana aneh itu, tiba-tiba Arshad merasa ada yang salah dengan mobil yang mereka kendarai. Arshad pun meminggirkan mobilnya terlebih dahulu dan membuka seatbelt- nya.


"Kenapa, mas?"tanya Aisyah sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya lalu berhenti diwajah Arshad.


"Kayaknya bannya kempes. Aku cek dulu ya, kamu tunggu di sini."


"Ada yang bisa aku bantu, gak?"


"Gak perlu, kamu diam di sini aja."Arshad pun langsung keluar setelah mengusap kepala Aisyah sejenak.


Arshad melihat ban mobil bagian belakang yang ternyata seperti dugaannya. Arshad membuka bagasi mobil untuk mengambil ban cadangan, dongkrak dan alat-alat lainnya. Dan Aisyah kini juga asik melihat Arshad dari pintu mobil yang kacanya sudah dia turunkan.


"Semangat, suami!"teriak Aisyah sambil mengepalkan tangannya memberi semangat pada Arshad. Arshad terkekeh lalu melanjutkan kerjaannya.


Aisyah menghela nafas lalu akhirnya keluar dari mobil. Aisyah berjongkok di samping Arshad sambil memperhatikan Arshad membuka ban mobil yang kempes.


"Ada yang bisa aku bantu?"tanya Aisyah lagi membuat Arshad tersentak kaget. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Aisyah. Entah sejak kapan Aisyah keluar.


"Aku kan bilangnya kamu diam aja di mobil. Gak ada yang harus kamu bantu. Udah, balik aja ke dalam sana! istirahat."paksa Arshad.


Aisyah mendengus lalu berdiri, tapi tetap tidak pergi. Dia tetap berdiri sana.


"Kenapa masih di sini? masuk, syah..."


"Sini aja..."


Arshad tersenyum,"sayang... masuk sana. Sayang istirahat aja di dalam mobil..."ucap Arshad lembut.


Aisyah menggigit bibir bawahnya dan berbalik untuk menyembunyikan senyumnya. Arshad memanggilnya 'sayang'. Aisyah jadi salah tingkah dan terus tersenyum membuat Arshad geleng-geleng kepala dan ikut tersenyum.

__ADS_1


Aisyah pun mulai berjalan ke arah belakang mobil dan duduk di bagasi dengan kaki terjulur keluar. Senyumnya masih saja mengembang bahkan sesekali dia menampar pelan pipinya untuk menyadarkan diri.


Tak lama Arshad pun membawa ban yang kempes tadi untuk diletakkan di bagasi, namun lagi-lagi dia dibuat geleng-geleng kepala oleh Aisyah karena masih tidak mendengarkan perkataannya.


"Di suruh masuk malah nangkring di sini. Sayang, masuk! sayang..."


Aisyah langsung terkesiap dan berjalan pelan ke pintu mobil depan sesekali Aisyah menatap Arshad.


"Sayang masuk..."


"I_iyaa.."


"Sayang..."


"Iya mas, iya..."wajah Aisyah sudah memerah karena malu lalu saat akan membuka pintu mobil Arshad kembali menggodanya.


"Sayang..."Aisyah diam.


"Sayang!"


"MAS?!"seketika tawa puas Arshad terdengar begitu menjengkelkan ditelinga Aisyah. Dia tau Arshad hanya menggodanya, tapi tetap saja dia malu.


_________________


Sekitar hampir satu jam akhirnya Arshad dan Aisyah sampai di rumah sakit. Arshad memanggil Aisyah namun tak ada sahutan, kemudian saat dia melihat ke samping, ternyata Aisyah sudah terlelap. Arshad turun dari mobil lalu membuka pintu mobil samping Aisyah dan dengan hati-hati dia menggendong Aisyah yang kini mencari kenyamanan di dada bidangnya.


Arshad pun membawa Aisyah masuk setelah memastikan mobilnya aman. Banyak yang memperhatikan Arshad dengan kagum. Terlihat betapa sayangnya Arshad pada istrinya. Bahkan saat menaiki lift banyak orang di dalam lift yang curi-curi pandang padanya dan Aisyah yang berada dalam gendongannya.


Setelah lift terbuka, Arshad langsung membawa Aisyah menuju ruang rawat Aisyah. Tepat saat itu Rizky dan Arya juga sedang berjalan di sana.


"Loh, Aisyah kenapa? pingsan?"tanya Rizky khawatir.


"Shut, Aisyah tidur. Ini tolong bukain pintunya."dengan cepat Rizky membukakan pintu. Mereka masuk ke dalam ruangan lalu Arshad membaringkan Aisyah.

__ADS_1


"Gimana tadi? seru?"tanya Rizky.


"Ya gitu deh, Aisyah tadi juga senang banget. Thanks ya udah ngizinin."ucap Arshad.


Rizky terkekeh lalu menepuk bahu Arshad,"santai aja. Aisyah emang butuh refreshing sekali-kali. Oh iya, sebenarnya tadi gua sama dokter Arya ke sini mau sampaikan sesuatu sama lo. Kebetulan banget lo udah balik."


"Mau ngomong soal apa?"


"Dua hari lagi jadwal kemo Aisyah. Sebenarnya tadi gua juga udah jelasin ke Aisyah, eh gua malah lupa bilang sama lo."jelas Rizky.


"Ohhh, terus gimana kalau soal operasi?"


"Aisyah sudah harus kita bawa ke Singapura untuk menjadwalkan operasi dan juga untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi di sana. Dalam dua minggu ini itu lebih baik."jelas Arya.


"Saya akan mulai mengurus semua persiapan ke Singapura, dok."ucap Arshad pada Arya.


Arya hanya mengangguk lalu pergi begitu saja dari sana meninggalkan tanda tanya besar bagi Arshad. Setelah Arya benar-benar pergi, Rizky pun mendekat ke Arshad. Mereka sama-sama menatap pintu yang tadi dilalui Arya.


"Gua rasa dokter Arya rada aneh. Dari tadi sore gua lihat dia gelisah, suntuk dan gak tenang. Lagi ada masalah kayaknya. Maklumi aja..."ucap Rizky.


"Gua pikir dia gak suka lihat gua."


"Nggak gitulah. Ya udah gua ke ruangan dulu. Nanti gua minta suster pasang infus Aisyah lagi."


Arshad mengangguk setelah itu Rizky meninggalkan ruangan itu menyusul Arya. Arshad pun duduk di kursi samping brangkar sembari memperhatikan wajah tenang Aisyah saat tidur. Dia tak bodoh. Arshad dapat melihat dengan jelas tatapan tidak suka Arya padanya. Memang dia tidak tau apa kesalahan yang dia lakukan hingga mendapat kesan buruk dari Arya.


Tapi satu hal yang juga dia sadari selama Arya merawat Aisyah. Dapat Arshad lihat perhatian Arya yang sedikit berlebihan terhadap Aisyah dan juga cara Arya menatap Aisyah. Tatapan itu benar-benar mengganggunya. Arshad yakin kalau Arya mungkin memiliki rasa lain terhadap Aisyah. Tapi tidak peduli benar atau tidak. Selama Arshad mencintai Aisyah dan Aisyah juga mencintainya, bahkan tidak akan Arshad biarkan orang lain mengganggu rumah tangganya.


"Aku terlalu takut jauh dari kamu. Rasanya cuma sebentar aja aku lengah, kamu bisa diambil kapan aja dari aku. Konsekuensi memiliki istri sempurna memang begini mungkin. Rasa takutnya jauh lebih besar."Arshad menggenggam tangan Aisyah lalu menciumnya.


"Kamu nggak akan pernah ninggalin aku kan, sayang?"tanya Arshad walau dia tau Aisyah tidak akan menjawabnya jika melihat begitu pulasnya Aisyah tidur saat ini.


Arshad tertunduk lalu membaringkan kepalanya di samping Aisyah dengan tangan tetap menggenggam tangan Aisyah dengan lembut. Ya tuhan, betapa takutnya Arshad. Tapi tetap saja ketakutan terbesarnya adalah jika tuhan lah yang ternyata malah mengambil Aisyah darinya. Tuhan tidak sekejam itu, kan? ketenangan yang dia perlihatkan selama ini tentu saja hanyalah usaha keras hatinya untuk tidak memperburuk perasaan Aisyah. Jujur, bahkan mungkin ketakutannya lebih besar dari Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2