Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Sama-sama Jauh


__ADS_3

Hari-hari setelah malam pernikahan, lebih tepatnya setelah kejadian itu, hubungan antara Aisyah dan Arshad semakin renggang. Arshad yang sudah tak pernah lagi bicara dengan Aisyah, begitu pun Aisyah.


Mereka masih makan dan tidur seperti biasa, hanya saja tak ada lagi perbincangan atau pun perdebatan kecil di antara mereka seperti yang biasa mereka lakukan. Yang ada hanya keheningan.


Sesekali Aisyah melirik ke arah Arshad yang kini sibuk menyantap sarapannya dengan sesekali melirik ponsel. Sebenarnya Arshad sudah terlambat ke kantor, tapi walau begitu dia masih menyempatkan diri sarapan di rumah. Hal itu pun sudah cukup membuat Aisyah senang.


Setelah sarapan, Arshad bangkit dari kursi dan mengambil tas miliknya.


"Bi, saya ke kantor dulu! Assalamualaikum!" pamit Arshad sedikit berteriak karena bi Nah yang berada di taman belakang.


Dengan sedikit tergesa bi Nah berjalan ke depan,"wa'alaikumussalam,mas. Hati-hati."


Dan tentu saja Arshad pergi tanpa pamit pada Aisyah. Bi Nah menatap Aisyah dengan prihatin. Entah apa yang terjadi kepada kedua majikannya ini. Semenjak malam pernikahan, tak ada yang saling bicara. Dan ini sudah berhari-hari seperti ini. Untung saja kedua orang tua Khadijah sudah tidak menginap di sini lagi dan sudah tinggal bersama Anam dan Khadijah untuk beberapa hari ke depan sebelum akhirnya mereka kembali ke Solo. Kalau masih ada ke dua orang tua Khadijah, pasti akan lebih tak nyaman karena dihadapkan dengan keadaan seperti ini.


Aisyah menunduk dengan air mata yang sudah tak bisa lagi dia tahan. Isakan pilu terdengar membuat bi Nah semakin prihatin.


"Mbak, mbak gak apa-apa?"tanya bi Nah. Aisyah segara menyeka air matanya dan bangkit dari duduknya,"gak apa-apa, bi."


Aisyah memutuskan untuk pergi ke kamar, namun sesampainya di depan tangga, tiba-tiba Aisyah berpegangan pada pembatas tangga sambil memegang kepalanya dengan sebelah tangannya. Telinganya terasa berdengung dan kepalanya sangat sakit. Semakin sakit yang dia rasa, semakin keras dia memegang pembatas.


"Mbak! Astaghfirullah, mbak kenapa?!"bi Nah membantu Aisyah berdiri dengan benar dan mengantarkan Aisyah ke kamar. Bi Nah pun membaringkan Aisyah di kasur dan mengambilkan air minum untuk Aisyah.


"Silahkan mbak, di minum dulu!"Aisyah duduk bersandar di kepala ranjang dan meminum air yang diberikan bi Nah.


"Bi Nah ambilkan obat sebentar ya, mbak."


"Gak usah bi. Tolong ambilkan vitamin yang ada di laci nakas aja."sela Aisyah.


"Ohhh baik, mbak,"bi Nah membuka laci nakas dan benar, ada vitamin yang Aisyah maksud di sana.


Bi Nah memberikan vitamin itu pada Aisyah dan di minum oleh Aisyah.


"Bi Nah perhatiin mbak Aisyah sering kecapean dan sakit akhir-akhir ini. Mbak banyak pikiran, ya?"tanya bi Nah.


"Gak terlalu kok bi, tapi ya emang sekarang lagi banyak banget tugas di kampus. Jadi agak sedikit capek. Tapi gak apa-apa kok, habis minum vitamin juga langsung baikan kok, bi. Bi Nah gak usah khawatir!"


"Ya sudah, kalau gitu bi Nah telepon mas Arshad dulu ya mbak, untuk kasih kabar tentang mbak."


"Nggak!"Aisyah sedikit berteriak,"m_maksud saya, gak perlu kasih tau mas Arshad tentang ini, bi. Mas Arshad juga pasti sibuk banget sama kerajaannya dikantor. Apalagi tadi dia juga udah telat banget, kan. Kan kasihan mas Arshad nya kalau harus pulang lagi. Lebih baik bi Nah sambung aja kerjanya."


"Memangnya gak apa-apa kalau bi Nah tinggal ke bawah, mbak?"tanya bi Nah ragu-ragu. Karena bagaimana pun juga dia masih khawatir meninggalkan Aisyah sendirian.


Aisyah mengangguk,"gak apa-apa kok. Bibi gak usah khawatir."


"Ya sudah kalau gitu, bibi pamit undur diri dulu ya, mbak. Kalau perlu apa-apa panggil aja bibi."


"Iya, bi. Makasih ya."

__ADS_1


"Iya mbak."


_________________


Siang harinya Aisyah terbangun dari tidurnya. Rasa sakit di kepalanya tak kunjung hilang. Aisyah pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia mencari kontak seseorang.


Aisyah pun menghubungi kontak orang yang ditujunya,"Halo..."ucap Aisyah lirih membuat orang diseberang sana panik.


"Aisyah, kamu kenapa? Aisyah?!"teriak orang itu.


Aisyah dengan nafas yang sudah terdengar lemah berusaha untuk bicara. Entah kenapa rasanya berat untuk itu.


"Kak_ kak Rizky_ s_sakit, kak."


Rizky semakin panik dan langsung mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja ruangannya.


"Kakak ke rumah kamu sekarang. Kamu tunggu sebentar lagi. Bertahan Aisyah!"Aisyah mengangguk walau tak dapat di lihat Rizky.


"Jangan matikan teleponnya, ok!"Rizky kini sudah melaju menuju rumah Aisyah. Dengan kecepatan yang cukup tinggi dia berusaha datang secepat mungkin. Sesekali dia mengajak Aisyah bicara sepanjang jalan.


"Aisyah?"


"Hmm."


Hanya mendengar gumaman kecil itu malah membuat Rizky semakin cemas dengan keadaan Aisyah di sana. Setelah beberapa saat, akhirnya Rizky tiba di rumah Aisyah.


Aisyah menggeleng,"nggak kak, biar aku yang ke depan. Kakak tunggu di mobil aja."


"Yakin?"


"Iyaa."


Aisyah mematikan sambungan telepon dan berusaha bangkit dari kasur. Setelah itu dia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang pucat terlihat seperti mayat hidup. Bibir kering dengan lingkaran mata hitam. Mengerikan. Satu kata untuk dirinya saat ini. Untung saja Arshad tak melihat dirinya yang seperti ini.


Aisyah merapikan hujab yang dia kenakan. Setelah itu, tak membuang waktu lama, Aisyah langsung manyambar tas dan ponselnya. Aisyah berjalan menuruni tangga dengan hati-hati.


"Loh mbak? Mau kemana? Istirahat aja di kamar."bi Nah yang sedang bersih-bersih langsung menghampiri Aisyah yang terlihat hendak pergi dengan keadaan lemas begitu.


"Saya harus ke kampus, bi. Mungkin agak lama."


"Gak cuti aja hari ini, mbak? Mbak pucat banget ini."


"Gak apa-apa kok, bi. Udah mendingan kok dari yang tadi. Saya pergi dulu."


"Eh, tunggu mbak! Saya udah lama lupa mau kasih ini."bi Nah memberikan ponsel milik Aisyah yang Aisyah kira hilang itu.


"Ini..."

__ADS_1


"Hp ini ketinggalan waktu mbak Aisyah pergi beberapa waktu yang lalu. Jadi, bi Nah simpan."


Aisyah tersenyum,"makasih ya, bi. Saya pikir hilang."


"Sama-sama,mbak."


"Kalau begitu saya pergi dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aisyah keluar dari rumah dan menghampiri Rizky yang terlihat mondar mandir menunggunya di samping mobil. Saat melihat Aisyah, Rizky pun buru-buru membukakan pintu mobil untuk Aisyah dan mempersilahkan Aisyah masuk.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan, ya!"ucap Rizky sebelum pergi menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah sudah dibawa dengan brangkar karena sempat tak sadarkan diri. Rizky memeriksa keadaan Aisyah. Kondisi Aisyah benar-benar lemah saat ini.


Sedangkan di sisi lain arshad sedang duduk di ruang rapat dengan tidak tenang. Ada perasaan khawatir, tapi apa? Dia juga tak tau perasaan apa yang dia rasakan ini. Ada keresahan yang tak dapat dijelaskan.


"Rapat sampai di sini dulu. Kalian boleh bubar."titah Arshad membuat semua yang hadir sempat saling pandang karena keheranan. Namun mau tak mau mereka tetap harus bubar.


Setelah mereka semua bubar, Arshad buru-buru keluar dari ruang rapat. Namun baru selangkah, tangannya dicekal oleh Rio.


"Mau kemana?"tanya Rio.


"Ke ruangan."


"Ada masalah?"tanya Rio lagi.


Arshad berpikir sejenak lalu menggeleng. Benar, tak ada masalah. Tapi apakah benar tidak ada? Arshad berbalik dan menumpu tubuhnya di meja.


Rio semakin heran. Keresahan apa ini? Ada apa dengan sahabatnya ini?


"Aisyah lagi?"


Arshad menatap Rio sejenak lalu pergi begitu saja. Rio pun hanya bisa menghela nafas. Terkadang dia bosan melihat hidup sahabatnya yang tak kunjung beres ini. Terkadang melihat masalah rumah tangga Arshad yang begini, membuatnya takut untuk menikah. Siapkah dirinya melewati ujian-ujian seperti itu?


Arshad duduk di kursi kebesarannya sambil memandang foto pernikahannya dengan Aisyah. Selama beberapa hari ini dia mengabaikan Aisyah terasa begitu melelahkan baginya. Apakah benar yang dia lakukan ini?


'Tapi bagaimana pun masalah, hadapilah! Jangan Aisyah menjauh, kamu juga malah ikut menjauh! Hampiri dia, selesaikan masalahnya.'


'Menyelesaikan masalah yang bahkan tak Arshad pahami? Apakah Arshad bisa, abi?'


'Terkadang ada hal yang tak harus di dengar baru dapat kita mengerti, Arshad. Wanita adalah ladangnya teka teki. Terkadang mereka bilang tidak apa-apa, padahal ada apa-apanya. Kita tidak akan mengerti hanya dengan kata 'tidak apa-apa' itu. Butuh kepekaan bagi seorang pria untuk mengerti makna itu.'


Arshad mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana dia bisa lupa dengan kata-kata abi? kenapa dia malah ikutan menjauh sekarang? kalau begini terus, dia malah hanya memperburuk masalah.


"Ya Allah, aku menjadi lengah karena rasa cemburu ini. Bagaimana aku bisa lupa bahwa yang aku lakukan hanya akan memperburuk semuanya? astaghfirullah hal'adzim. Maafkan aku, Aisyah."

__ADS_1


__ADS_2