Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
TAKDIR


__ADS_3

Arshad dan Rio duduk di taman yang berada di depan rumah sakit. Suasananya lumayan tenang dan tidak terlalu banyak orang. Jadi lebih nyaman untuk Rio menceritakan apa masalahnya. Arshad sebagai sahabat pun dengan senang hati menjadi pendengar yang baik untuk masalah Rio. Selama Rio bercerita pun, Arshad dapat melihat kekacauan di wajah Rio.


Bagi Arshad, Rio itu bisa sangat pandai menyimpan masalah hidupnya dengan segala kelakuannya yang humoris dan juga aneh. Setiap orang yang mengenal Rio pasti akan menganggap bahwa Rio adalah pria tanpa masalah. Mereka tak tahu bahwa di dalam diri Rio tersimpan rasa sakit yang sulit mereka lihat.


"Lo dijodohin? sumpah lo?"tanya Arshad antusias.


"Iya."


"Gimana ceritanya?"


"Perusahaan bokap gua ada masalah. Gua taunya karena waktu itu gua diminta pulang ke rumah. Dengan berat hati gua pulang ke rumah itu tepat di hari pernikahan Anam, kakaknya Aisyah."


Arshad pun memilih diam mendengarkan kelanjutan cerita Rio.


"Bokap gua maksa untuk menjodohkan gua sama anak rekan kerjanya yang akan bantu perusahaannya. Yang mana perusahaan itu cepat atau lambat bakal beralih ke tangan gua."


"Ya bagus, kan? Lo kan jomblo..."ucap Arshad tengil.


Rio berdecak,"gua serius. Lagi gak mau bercanda gua. Waktu diajakin bercanda, lo malah serius. Sekarang giliran serius, lo malah bercanda."


"Yang bilang bercanda siapa? emang bagus kan kalau lo dijodohin? mungkin bisa kayak gua sama Aisyah?"


"Ar, perjodohan yang gua alami ini gak sama dengan perjodohan lo sama Aisyah. Perjodohan lo sama Aisyah itu adalah perjodohan yang niatnya dari awal memang sebagaimana pernikahan itu semestinya. Gua? Perjodohan yang gua alami ini murni cuma karena bisnis. Pakai perjanjian jangka waktu pernikahan. Setelah setahun, pernikahan itu berakhir. Ini tuh hidup. Pernikahan gak bisa dibawa enteng. Gua juga pengen nikah sekali seumur hidup. Tanpa ada drama-drama perceraian atau apalah itu."


Benar juga yang dikatakan Rio. Yang mereka alami memang berbeda. Arshad benar-benar prihatin dengan kondisi Rio. Selama hampir tujuh tahun dia bertahan tanpa keluarga yang mendukung. Kini keluarga yang mengusirnya memintanya kembali hanya untuk ini. Harus berapa lama lagi Rio harus mendapat ketidakadilan seperti ini?


Arshad menghela nafas,"terus lo udah tolak?"


Rio mengangguk,"udah, bahkan kemaren gua diminta pulang lagi karena ada yang mau mereka bahas. Gua rasa sih masih hal yang sama."


"Lo rasa?"


"Iya gua rasa, karena sebelum bahas masalah itu, gua berantem lagi sama bokap. Jadi gua pergi sebelum masalah itu dibahas."


"Drama banget ya hidup lo..."ucap Arshad prihatin.


"Gak ada bedanya sama lo."balas Rio.


Arshad terkekeh,"iya sih. Eh, tapi sebenarnya kalau soal perusahaan sih mungkin gua bisa bantu lo. Tapi memang harus gua bahas dulu sama abi. Eh, bang Anam juga bisa deh kayaknya. Biar coba gua omongin sama dia nanti."


Raut wajah Rio berubah sumringah,"serius lo?"


"Sama sahabat sendiri santai aja."


"Thanks, bro!"

__ADS_1


___________________


Di sebuah butik dengan konsep desain minimalis bertema monokrom, ditambahkan sedikit sentuhan bergaya industrial, adventure, travelling, atau bahkan desain yang bergaya urban modern itu membuat butik tersebut dibanjiri banyak pengunjung. Perabotan, furnitur, aksesoris dan lainnya selaras dengan tema yang digunakan. Tata letaknya pun membuat pengunjung mudah untuk memilih.


Laras sang pemilik butik pun kini sibuk dengan rancangan design barunya. Tinggal sebentar lagi dan akhirnya selesai. Laras mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruangannya. Hari ini dia akan mengunjungi Aisyah di rumah sakit. Entah bagaimana keadaan Aisyah sekarang, pikirnya. Laras cukup terkejut mendengar kabar dari Rio tadi pagi. Dia tak menyangka Aisyah benar-benar sakit.


Laras melirik jam di tangannya. Masih siang. Sebenarnya Laras berencana mengunjungi Aisyah malam, namun karena pekerjaannya selesai dengan cepat, jadi tak ada salahnya kan jika datang lebih cepat.


Akhirnya Laras melaju meninggalkan butiknya yang dia serahkan urusannya pada asisten dan juga karyawannya. Tak butuh waktu lama akhirnya Laras tiba di rumah sakit sesuai dengan alamat yang Rio berikan padanya. Memang tak lama sebab jarak antara butik dengan rumah sakit tak begitu jauh.


"Sus, kamar pesien bernama Aisyah Shaqilla Az-Zahra di mana ya, sus?"tanya Laras pada suster di meja resepsionis.


"Ada di kamar nomor 214, mbak."


"Terima kasih."Laras pun berjalan menuju ruangan Aisyah. Beberapa langkah sebelum ruang rawat Aisyah, Laras melihat pintu terbuka. Dapat Laras lihat dua orang gadis keluar dari sana. Mungkin teman-teman Aisyah yang datang.


Agak sedikit gugup dia bertemu Aisyah, namun dengan cukup berani akhirnya Laras masuk.


"Assalamu'alaikum..."ucap Laras. Aisyah yang tadinya hendak berbaring, kembali duduk bersandar dengan mata tak teralihkan dari Laras.


"Eh, mbak Laras? Wa'alaikumussalam. Ayo duduk mbak."Laras dengan senyum canggung mengambil tempat di sofa.


"Jangan di situ! di sini aja, mbak. Di kursi dekat Aisyah supaya lebih enak ngobrolnya."suara Aisyah yang ramah dan lembut membuat Laras menjadi nyaman dan sedikit menghilangkan kecanggungan dirinya. Laras pun mendekati Aisyah dan duduk di kursi di samping ranjang.


"Rio yang kasih kabar tentang kamu. Terus aku ke sini mau jenguk. Oh iya, Arshad mana, syah?"seketika Laras tersadar,"a_ aku gak ada maksud apa-apa kok syah nanyain itu. Aku cuma sekedar nanya kerena kamu sendirian di sini."jelas Laras buru-buru agar Aisyah tak salah paham.


Justru Aisyah malah tertawa kecil dan tidak berpikir aneh-aneh tentang itu. Aisyah tau apa yang Laras maksud. Tapi tak menyangka reaksi Laras akan seperti itu.


"Gak apa-apa, mbak. Aku tau kok maksud mbak apa. Tadi itu mas Arshad keluar, gak tau deh ke mana."


"Ohhh sekarang keadaan kamu gimana?"


"Baik, tapi memang kadang agak pusing. Tapi alhamdulilah gak sepusing yang sebelum-sebelumnya."


"Kamu gak mau Arshad khawatir ya, makanya gak cerita?"Aisyah hanya tersenyum menanggapi itu.


"Aku ngerti sih. Oh iya, aku minta maaf ya syah. Karena sempat hampir merusak hubungan pernikahan kamu dengan Arshad. Serius aku nyesel banget soal itu."


"Ya ampun, mbak. Justru aku yang harusnya minta maaf, karena kehadiran aku, hubungan mbak sama mas Arshad jadi berakhir seperti itu."ucap Aisyah.


"Kalau saja dari awal aku tau ternyata mbak Laras dengan mas Arshad punya hubungan, aku akan dengan sangat keras menolak perjodohan ini. Aku gak akan ganggu hubungan mbak Laras dengan mas Arshad. Seharusnya aku cari tau semuanya dulu sebelum ambil keputusan saat itu."jelas Aisyah lagi.


"Kamu gak salah, syah. Ini sudah takdir. Mungkin memang kalian berjodoh. Asal kamu tau, sebenarnya Arshad gak pernah benar-benar mencintai aku. Semua kata-kata cinta yang dulu pernah Arshad ungkapkan, aku tau itu gak pernah murni dari hatinya."


Aisyah heran tak mengerti dengan maksud Laras, jelas-jelas Aisyah dapat melihat Arshad benar-benar mencintai Laras. Apa lagi melihat kesungguhan Arshad meminta Laras mempertahankan hubungan mereka saat pertama kali melihat mereka di cafe waktu itu. Bahkan sempat mengatakan akan menceraikan dirinya.

__ADS_1


"Nggak mungkin mas Arshad gak benar-benar mencintai mbak Laras. Bahkan aku saat itu melihat mas Arshad sangat serius untuk bertahan."


"Kapan?"


"Di cafe waktu itu. Sehari setelah pernikahan aku dan mas Arshad, aku melihat mbak Laras dan mas Arshad saat itu."Laras mengangguk mengerti. Dia ingat kejadian itu.


"Itu karena Arshad gak siap untuk memulai hubungan baru, syah. Aku yakin itu. Arshad pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi bukan dengan aku. Dia adalah cinta pertama Arshad. Arshad benar-benar sangat mencintainya hingga Arshad dibuat gila mencarinya kemana-mana. Saat itu kami bersahabat selama dua tahun, memang tak selama persahabatan aku dengan Rio karena kami memang sudah bersahabat sejak SMP, tapi cukup untuk aku mengenal Arshad."


"Dapat aku lihat betapa Arshad mencintai gadis itu. Bolak balik Solo - Jakarta hanya untuk mencarinya. Sampai akhirnya dia putus asa dan mencoba membuka hati untuk yang lain. Setelah bersahabat selama dua tahun, aku menyukainya. Kami memutuskan untuk bersama. Walau aku tau di hati Arshad tak pernah ada aku."


Aisyah mati-matian menahan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat. Gadis Solo. Apakah itu dirinya? Tapi apakah benar?


"Jadi selama ini mbak Laras tetap bertahan walau pun mas Arshad mencintai gadis lain? Kok bisa tahan sih mbak? Mbak cinta banget pasti ya sama mas Arshad? Atau mungkin cinta pertama?"


Laras tersenyum lembut,"sebenarnya aku mencintai orang lain saat di SMA. Tapi aku sadar gak akan pernah bisa memiliki dia. Jadi saat masuk ke perguruan tinggi, aku memutuskan untuk membuka hati dan akhirnya bertemu dengan Arshad, bersahabat selama dua tahun dan akhirnya menjalin hubungan. Menurut aku, gak susah untuk mencintai seorang Arshad, Aisyah. Sakit memang mendengar kabar pernikahan kalian. Juga sakit saat harus melepaskan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku ikhlas dan sangat mendukung pernikahan kalian. Aku juga gak nyangka Arshad bisa sangat mencintai kamu yang padahal hanya seseorang yang baru di kenalnya."


Aisyah tersenyum,"aku sama mas Arshad udah kenal lama, mbak."


"Tapi kata Arshad dia baru tau kamu dalam perjodohan ini."


"Aku juga awalnya begitu, tapi akhirnya aku tau kalau ternyata mas Arshad adalah teman aku waktu kecil."


"Kamu waktu kecil di Solo?"


"Iya..."


"Kamu Acha?"


"Loh, kok mbak Laras tau?"


Laras membekap mulutnya terkejut,"aku baru lihat ada yang namanya kebetulan yang seperti ini."


"Maksudnya?"


"Kalau kamu Acha, berarti kamu adalah perempuan yang selama ini dicari Arshad."


"Tapi dia nggak ngenalin aku, mbak."


"Kasih tau aja..."


"Lebih baik dia sadar sendiri aja, deh."


"Susah sih bikin dia sadar. Orangnya kurang peka soalnya."


"Butuh sekolah kepekaan dulu kayak nya."keduanya pun tertawa. Akhirnya mereka bisa bicara santai selayaknya seorang teman. Tak sulit untuk akrab dengan Aisyah. Sikap Aisyah yang ramah dan baik, membuat setiap orang merasa nyaman dengannya. Pantas jika Arshad mencintai Aisyah, pikir Laras. Bahkan tanpa Arshad ketahui siapa Aisyah sebenarnya, lagi-lagi Aisyah tetaplah menjadi satu-satunya bagi Arshad.

__ADS_1


__ADS_2