Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Overprotektif


__ADS_3

Aisyah mendesah kecewa sambil memakan sarapan dengan ogah-ogahan. Sesekali dia melirik Arshad yang sedang sibuk dengan laptop dan berkas-berkas yang bertebaran di meja dekat sofa. Aisyah benar-benar bosan, tuhan...


Tadi Aisyah meminta izin Arshad untuk tetap boleh menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang tertinggal. Namun Arshad menolak keras hal tersebut. Aisyah benar-benar sangat ingin cepat-cepat lulus kuliah. Padahal sebentar lagi dia akan magang. Tentu banyak yang harus diurus.


Aisyah berdecak sebal lalu meletakkan mangkuk sarapannya dengan asal ke atas nakas sehingga terdengar suara hantaman keras.


"Eh! Baik-baik dong... Jangan dibanting-banting gitu."tegur Arshad membuat Aisyah tertawa dengan sangat-sangat terpaksa.


"Hehehehe iya, ini baik-baik kok."ucap Aisyah dengan tangannya yang kembali mengambil mangkuk lalu meletakkannya dengan sangat pelan.


"Udah, kan?"tanya Aisyah dengan senyum dipaksa.


Arshad mengangguk dan kembali menyibukkan diri dengan laptopnya. Aisyah memanyunkan bibirnya cemberut dan menggerutu kecil.


"Beik-beik, ding! jingin dibinting-binting, giti... haishhh."desis Aisyah meledek ucapan Arshad dengan gumaman kecil. Tentunya hal tersebut masih bisa didengar Arshad. Sudut bibir Arshad terangkat menjadi sebuah senyum tipis.


Bukannya tidak sadar dengan kekesalan Aisyah, tapi Arshad benar-benar tidak setuju jika waktu istirahat Aisyah terkuras oleh banyaknya tugas kuliah. Arshad ingin Aisyah fokus dengan pengobatannya. Bahkan sekarang Arshad masih belum memutuskan apakah Aisyah harus di operasi atau tidak. Memang kondisi Aisyah kini stabil, tapi tetap saja tidak menjamin Aisyah akan baik-baik saja jika kelelahan. Tindakannya yang seperti ini demi kebaikan istri sendiri tidak apa-apa kan, ya?


"Kerja tuh di kantor sana! Merusak pemandangan aja."sindir Aisyah.


"Mendingan mbaknya diam aja. Gak usah nyindir-nyindir!"balas Arshad tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Aisyah kembali berdecak,"mas... aku serius loh ini."


"Aku juga serius. Kamu diam aja di sana. Lihatin aku kerja. Kapan lagi bisa menikmati wajah cogan."pede Arshad membuat Aisyah mencibir.


"Narsis!"desis Aisyah. Cukup lama berdiam diri, Aisyah mendapat ide tengil dan tersenyum miring.


"Seandainya aja dia ada di sini. Dia pasti bisa ngerti perasaan aku. Sayangnya gak bisa kasih kabar ke dia."seketika otak Arshad berfikir keras. Dia siapa yang dimaksud Aisyah? Bukan, bukan itu yang penting. Dia tau pasti Aisyah sedang memprovokasi dirinya. Oh, tidak semudah itu ferguso! Tidak mempan lagi baginya.


"Kalau mau ngomong soal cinta pertama kamu, ya silahkan. Mau cinta pertama kamu itu di sini juga, gak bakalan bisa bawa kamu pergi dari aku. Sebelum dia nyentuh kamu, aku patahin duluan tangannya. Kurang baik apa coba aku, masih untung nyawanya gak aku bikin melayang."ucap Arshad dengan songong.


Aisyah mendengus. Oke, dia tau dirinya gagal. Akhirnya Aisyah turun dari ranjang berniat mencari udara segar dengan berdiri di dekat jendela namun itu reflek membuat Arshad berlari ke arahnya. Aisyah juga dibuat terkejut dengan tingkah Arshad. Namun sesaat kemudian Aisyah merasakan tubuhnya terangkat dan kembali berbaring di ranjang. Arshad lah pelaku utamanya. Arshad menggendongnya kembali ke ranjang. Tidak bisa lagi sekarang. Aisyah sudah tak dapat menahan emosi akibat sikap berlebihan Arshad.


"Bandel banget dibilangin. Kamu istirahat aja di sini. Diam!"tegas Arshad.


Aisyah mendengus kesal,"baku hantam aja yuk kita mas! Gedeg aku sama kamu dari kemaren! Ini gak boleh itu gak boleh. Ayok sini!"Aisyah kembali turun dari ranjang lalu memasang kuda-kuda dan memasang tinju di depan dadanya. Tak lupa dengan wajah memerah yang malah terlihat menggemaskan di mata Arshad.


"Ayo!"ajak Aisyah.

__ADS_1


Arshad tertawa ngakak dan langsung memeluk Aisyah sambil mengusap punggung dan kepala sang istri.


"Lepas!"Aisyah berusaha memberontak dan malah membuat Arshad semakin tertawa.


"Lucu banget, sih... Istri siapa sih ini?"Arshad menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan membuat Aisyah yang berada dalam pelukannya ikut bergerak.


"Lepas, gak!"


"Nggak, nanti bandel lagi dibilangin."


"Lepas!"


"Enggak..."ucap Arshad kekeh.


"Dasar overprotektif!"


"Bodo! aku gini juga demi kebaikan kamu, kok."


"Ini berlebihan, mas..."


"Enggak, syah..."


"Okee, aku lepasin nih..."Arshad akhirnya melepas pelukannya lalu menangkup wajah Aisyah dengan gemas dan menghujami wajah Aisyah dengan ciuman.


DEG


Ciumannya berhenti kala Arshad hampir saja mencium bibir Aisyah yang membuat keduanya langsung terdiam membatu.


Pipi Aisyah memanas. Tiba-tiba udara sekitar terasa panas membuat keduanya jadi sesak. Segera Aisyah mundur untuk menghindari Arshad. Tapi bukannya mundur, pinggangnya malah ditarik Arshad membuat keduanya lebih dekat. Bahkan Aisyah bisa merasakan nafas hangat Arshad di wajahnya. Sungguh ini tak baik untuk jantungnya.


Arshad meneguk salivanya,"syah?... boleh?"bisik Arshad di depan wajah Aisyah. Aisyah yang tadinya tak berani menatap Arshad, kini mulai membalas tatapan Arshad.


"Syah..."bisik Arshad lagi.


Aisyah hanya diam dan tentu saja itu dianggap lampu hijau tanda setuju oleh Arshad. Perlahan Arshad mendekatkan wajahnya pada Aisyah. Aisyah pun dengan ragu menutup matanya pasrah. Lagi pula suaminya berhak. Aisyah sadar semenjak menikah, jangankan hak suaminya, bahkan Aisyah belum berani membuka hijabnya di depan Arshad. Sungguh berdosa dirinya.


Sedangkan Arshad yang melihat wajah cantik Aisyah dengan mata Aisyah yang tertutup membuatnya tersenyum dan ikut menutup matanya. Degup jantung yang saling bersahutan kala wajah mereka semakin mendekat, membuat nafas keduanya tercekat. Dan akhirnya....


BRAK

__ADS_1


Hantaman kuat pada pintu membuat Aisyah dan Arshad sontak memisahkan diri. Aisyah merutuki dirinya yang malu karena kepergok dalam keadaan seperti itu. Sedangkan Arshad malah menyumpah serapahi orang yang masuk tanpa permisi itu di dalam hati."


"Sial!"gumam Arshad.


Arshad dan Aisyah melihat ke arah pintu. Terlihat dua orang gadis yang sudah membatu ditempat. Terkejut dengan apa yang hampir saja mereka lihat. Mereka adalah Alika dan Kesha.


"M_ maaf kalau kita ganggu. Silahkan dilanjut aja! Biar kita yang keluar ya, kan?"Kesha menyikut bahu Alika untuk memberi kode.


"Hahaha, iya kita keluar."ucap Alika dengan tawa canggungnya.


Namun sebelum mereka keluar, suara Arshad membuat keduanya berbalik.


"Saya yang keluar, kalian di sini aja."ucap Arshad.


Arshad beralih melirik Aisyah,"a_ aku keluar dulu."pamit Arshad pada Aisyah dengan canggung.


Aisyah mengangguk cepat,"iya, hati-hati."


Arshad pun akhirnya keluar dan menutup pintu dengan cukup kuat membuat mereka terkejut.


Alika dan Kesha merasa bersalah karena sudah mengganggu aktivitas sepasang suami istri itu. Namun juga merasa lega karena selamat dari situasi canggung tadi. Keduanya pun akhirnya menatap Aisyah dengan senyum menggoda Aisyah.


"Hahaha..."tawa Aisyah berusaha mencairkan suasana canggung itu.


Sedangkan Arshad yang sudah di luar pun, mondar mandir sambil mengipasi leher dan wajahnya. Situasinya benar-benar tidak pas. Jarang-jarang kan dia bisa seperti tadi. Kenapa harus ada yang mengganggu?


"Ngapain lo di luar kipas-kipas kayak orang kepanasan begitu?"tanya Rio yang baru saja datang.


"Mau ngapain lo ke sini?"alih-alih menjawab, Arshad malah balik bertanya. Dapat Arshad lihat wajah kacau sahabatnya. Dia yakin sahabatnya ini sedang ada masalah.


"Mau jenguk Aisyah lah."


"Pasti ada hal lain."


Rio hanya tersenyum. Arshad memang sahabat yang peka,"gua ada masalah."


Arshad pun mengangguk paham. Pasti yang akan Rio bicarakan adalah hal yang sama. Masalah Rio tidak akan jauh-jauh dari masalah keluarganya. Dan Arshad mengerti itu.


"Kita cari tempat lain."ajak Arshad sambil merangkul sahabatnya. Dia berusaha biasa saja, walau sebenarnya kekesalannya belum reda karena dua sahabat Aisyah yang datang pada waktu yang tidak tepat. Padahal hampir saja.

__ADS_1


__ADS_2