Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Aisyah Bukan Murahan


__ADS_3

"Bagusnya yang mana? Aku bingung mau pake yang mana..."keluh Arshad sambil menempelkan dua kemeja secara bergantian ke tubuhnya. Seseorang di dalam layar ponselnya tersenyum hangat seraya menimang apa yang cocok di pakai suaminya.


"Yang biru bagus, mas."jawab Aisyah.


"Ya udah kalau gitu yang putih aja."ucap Arshad lalu meletakkan kemeja warna biru ke lemari.


Aisyah mendengus pelan,"Kalau gitu ngapain tanya aku?"


"Pengen aja. Habisnya aku kangen sih."


"Wllekk."


"Serius, syah. Kangennya over dosis. Di timbang pun timbangan rusak."


Aisyah menyipitkan matanya. Mulai lagi. Arshad mulai lagi dengan gombalan alay plus noraknya.


"Gak mempan mas."


"Ih, kamu mah orang lagi usaha juga. Hargai kek gitu. Oh iya, nanti sore aku mau ajak kamu ke pantai. Aku udah ngomong sama Rizky, katanya boleh tapi tetap aja harus hati-hati dan gak boleh kecapean. Kamu senang, gak?"


Aisyah tersenyum bahagia,"pastilah aku senang. Tapi ini serius, kan?"


"Iya, kan dua minggu lagi jadwal operasi kamu di Singapura, jadi bisalah kalau refreshing dulu."


Aisyah hanya tersenyum,"ya udah sana siap-siap! Kamu harus ke kantor, kan?"


"Iya, kalau gitu aku tutup dulu. Jangan banyak gerak! dan gak usah bandel! Assalamu'alaikum..."


"Iya, wa'alaikumussalam."Aisyah menutup sambungan vidio itu dan meletakkan ponselnya di nakas.


"Arshad terlihat sangat mencintai kamu."ucap seseorang yang berada di samping Aisyah terlihat sedang menyuntikan sesuatu ke infus Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum.


Arya melihat Aisyah yang tersenyum membuatnya tersenyum kecut. Beberapa hari yang lalu dia mencari tau tentang Aisyah dan Arshad. Dia menemukan banyak hal. Tentang pernikahan mereka. Konflik di dalamnya dan bagaimana hubungan mereka sekarang.


Saat mengetahui bahwa hubungan Aisyah dan Arshad tidak baik, Arya merasa bahwa mungkin dia mungkin punya kesempatan. Tapi melihat bagaimana hubungan mereka saat ini. Arya bertanya-tanya apakah masih ada kesempatan untuknya?


"Dokter Arya, apakah operasi itu akan berhasil?"tanya Aisyah dengan hati-hati. Bagaimanapun dia berusaha meyakini hatinya, tetap saja rasa takut itu tetap tak bisa dihindarkan.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya saya?"tanya Arya.


Aisyah langsung gelagapan dan menggeleng keras,"bukan, bukan seperti itu. Saya hanya masih sedikit takut, dok. Bukan sedikit, tapi... saya benar-benar takut."


"Kamu do'akan saja semuanya lancar. Dan percaya sama saya. Kamu harus yakin semuanya akan baik-baik saja."


"Apakah kalau operasinya lancar, ada resiko tertentu?"


"Resiko tergantung pada keberhasilannya. Namun saya akan berusaha semampu mungkin agar tidak ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi."ucap Arya meyakinkan.


Berpikir tentang resiko. Apakah itu akan baik-baik saja?


_______________


Di tempat lain, Arshad sudah dalam perjalanan menuju kantor. Sejak dulu Arshad memang lebih nyaman mengendarai mobilnya sendiri. Dia juga tipe orang yang sulit mempercayai orang lain. Jadi, dia tidak mau mempekerjakan supir. Bicara soal supir, Arshad rasa bukanlah ide yang buruk jika mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk menjadi supir Aisyah. Tentu saja bukan seorang laki-laki. Harus seorang wanita dan juga dapat diandalkan.


Ini perlu dilakukan demi keselamatan Aisyah. Setelah Aisyah sembuh, Aisyah perlu penjagaan yang ketat. Mungkin memang sedikit mengekang, tapi ini demi Aisyah juga.


Setelah beberapa saat, mobil Arshad sudah berhenti di depan kantor. Arshad keluar lalu memberikan kunci mobilnya pada penjaga untuk dipindahkan. Arshad masuk ke perusahaan miliknya dengan penampilan yang terlihat sangat berwibawa. Aura kepemimpinannya begitu terpancar membuat para karyawan membungkuk hormat saat melihatnya. Benar-benar terlihat seperti pemimpin yang sempurna. Sedangkan ketampanannya, itu nilai plus.


"Meeting pagi ini dimulai jam delapan. Itu setengah jam lagi, pak. Apa anda butuh sesuatu sambil menunggu_"


"Kak Rio!"teriakan seseorang membuat ucapan Rio terhenti. Sekaligus membuat dia dan Arshad berbalik ke sumber suara.


"Siapa? Pacar?"tanya Arshad.


Rio melirik Arshad dan kembali ke sikap sopannya,"bukan pak, mari saya antar ke ruangan anda."mereka kembali melangkahkan kaki ke ruangan Arshad tanpa mempedulikan panggilan orang itu. Siapa lagi kalau bukan Selina. Rio sudah yakin bahwa gadis itu ke sini hanya untuk mencari masalah karena Rio tidak menghadiri undangan makan malam keluarga sekaligus pertemuan dengan rekan bisnis papanya.


Sudahlah, lebih baik cari aman dari pada harus menerima kecerewetan Selina.


"Dia siapa lo?"tanya Arshad saat mereka tiba diruangan.


"Anak istri kedua bokap."


Arshad membulatkan mulutnya hingga berpola 'O' sambil mengangguk paham.


"KAK! LO_ LEPAS! GAK USAH PEGANG-PEGANG! GUE GAMPAR JUGA YA LO! LEPAS!"Selina kini juga ikutan masuk ke ruangan Arshad. Bahkan salah satu karyawan dan para penjaga pun tidak dapat menghentikan gadis itu.


"Lepas gue bilang!"sarkas Selina lagi.

__ADS_1


"Sudah-sudah biarkan dia! kalian boleh pergi."ucap Arshad. Seketika Rio menatapnya dengan tatapan mengisyaratkan,'lo ngapain sih?!'


Sedangkan Arshad hanya tersenyum tengil dan menggerakkan alisnya naik turun mengisyaratkan,'mampus lo!'


"Baik pak, kami pergi sekarang. Permisi..."


Mereka pun melepaskan Selina lalu pergi. Selina menepuk-nepuk bagian yang disentuh orang-orang itu dengan jijik lalu berjalan angkuh ke arah Arshad dan Rio.


Arshad mengerutkan keningnya tak suka melihat penampilan Selina yang terbuka itu. Aisyah tetap yang terbaik.


"Kak, lo kenapa gak dat_"Selina terbelalak sebelum menyelesaikan ucapannya saat melihat Arshad,"kamu? kita ketemu lagi..."sambungnya.


Tentu saja itu membuat Arshad dan Rio terheran. Apalagi Arshad yang merasa tidak mengenal Selina sama sekali.


"Kamu siapa?"tanya Arshad, dingin.


"Ini aku. Di kampus, kamu ingat gak yang waktu kamu ke kampus dan nyari alamat seseorang?"tanya Selina.


Arshad berusaha mengingat. Oh iya, dia ingat. Selina adalah gadis yang dia tanyai informasi tentang Aisyah saat Aisyah pergi waktu itu. Ah, dia benar-benar tidak ingin mengingat saat-saat Aisyah meninggalkannya saat itu. Tapi gadis ini malah membahasnya. Ok, dia mulai menyesali karena memilih membiarkan Selina berada di sini.


"Oh, maaf saya lupa."ucap Arshad.


"Kok lupa sih. Waktu itu kamu nyari alamat si cewek... siapa namanya? si cewek murahan itu? Aisyah kan ya namanya?"


Mendengar itu membuat rahang Arshad mengeras tak terima mendengar penghinaan untuk istrinya. Rio juga bisa merasakan amarah Arshad yang tertahan. Ada rasa ingin meledek karena Arshad yang tadinya ingin mengerjainya sekarang malah seperti senjata makan tuan. Namun di sisi lain dia juga kesal mendengar penghinaan Selina terhadap Aisyah.


"Ingat kan?"tanya Selina lagi.


"Sekarang saya menyesal karena sudah membiarkan kamu berada di sini. Lebih baik kamu pergi sebelum saya berbuat kasar sama kamu."ucap Arshad dingin.


"Loh, kok gitu? memang benar, kan? cewek itu murahan. Tahun lalu dia dekat dengan Rizky sekarang dia juga dekat dengan juniornya di kampus. Bahkan banyak laki-laki yang dia goda. Kamu juga pasti udah digodain kan? Mendingan jauh-jauh deh dari dia. Emang dasarnya dia cewek murahan."


Rio terkejut dengan celotehan tak bermutu Selina. Entah bodoh atau bego, tapi Selina benar-benar tidak melihat situasi bahkan tidak menyadari suasana yang sudah menegang.


"Aisyah bukan murahan."


"Terus kalau bukan murahan apa? ******?"


PLAK!

__ADS_1


"Saya berusaha sabar karena kamu sudah mencaci istri saya. Sekali lagi saya dengar itu keluar dari mulut kamu, saat itu juga tangan saya tidak akan bersikap lembut. Pergi!"


Belum selesai keterkejutan Selina karena tamparan Arshad, kini dia malah mengetahui fakta bahwa Arshad ternyata suami Aisyah. Kenapa? kenapa Aisyah selalu lebih unggul darinya? dan kenapa mereka selalu berkaitan dengan satu pria yang sama? dulu Rizky dan sekarang pria ini. Ah, bahkan dia belum tau siapa nama pria ini.


__ADS_2