Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
RIO


__ADS_3

Abi dan ummi kini sedang berada di taman sebuah masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit. Setelah melaksanakan shalat Zuhur, akhirnya ummi sudah sedikit tenang setelah lelah menangis dari tadi. Sekarang dirinya sadar. Seharusnya saat-saat seperti ini dirinya ada untuk Aisyah,menyemangati Aisyah. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? malah bertingkah seperti anak kecil. Kemana hilangnya peran ibu pada dirinya? Ummi mengusap wajahnya.


"Sudah tenang sekarang?"ummi menatap abi yang dari tadi senantiasa mengusap punggungnya guna untuk menenangkannya. Dia tersenyum lalu mengangguk.


"Kita lihat Aisyah sekarang, ya?"ajak abi.


Ummi mengangguk pelan.


Akhirnya mereka kembali ke rumah sakit menuju ruang rawat Aisyah. Sesampainya di sana, mereka hanya melihat Khadijah yang sedang duduk di sajadahnya sambil mengaji. Tak ada Aisyah atau pun Arshad di sana. Sedangkan Khadijah yang melihat kedatangan abi dan ummi, langsung membuatnya menghentikan aktivitasnya dan berlanjut menghampiri keduanya seraya mencium punggung tangan keduanya.


"Aisyah kemana, nak?"tanya ummi lembut.


"Aisyah di toilet, ummi. Berwudhu mungkin."jawab Khadijah.


"Kalau Arshad?"tanya abi.


"Pergi menemui dokter yang merawat Aisyah. Tadi perginya sama mas Anam, gak tau kenapa belum kembali juga."


"Assalamu'alaikum. Eh, ummi, abi?"ucap seseorang yang tak lain adalah Anam.


"Wa'alaikumussalam. Loh kok sendiri kamu, nam? Arshad di mana?"tanya abi yang tidak melihat Arshad bersama Anam.


"Pergi keluar sebentar. Mau nenangin diri dulu mungkin."jawab Anam seadanya.


Terlihat raut wajah heran di wajah ketiga orang itu. Tentu Anam mengerti maksud dari tatapan tersebut.


"Jadi begini, ada yang ingin Anam sampaikan kepada ummi dan juga abi. Ini tentang Aisyah."


"Ada apa, nak?"desak ummi memegang lengan Anam.


"Kita jangan bahas di sini, ya. Kita cari tempat yang sekiranya nyaman dulu. Biarkan Aisyah istirahat. Karena yang akan Anam sampaikan ini mungkin akan membuat Aisyah sedih."saran Anam.


Mereka mengangguk mengerti dan akhirnya pergi dari sana.


__________________


Di sebuah ruangan, terlihat Rio yang dari tadi menatap layar ponselnya. Sejak pagi Arshad tidak datang ke kantor dan membuat Rio bertanya-tanya. Apakah benar-benar terjadi sesuatu pada Aisyah? Rio melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah waktu zuhur. Rio pun keluar dari kantor dan tak butuh waktu lama dia kini sudah berada di mobilnya hendak menuju masjid terdekat. Sesekali dia mencoba menghubungi Arshad yang dari tadi tidak merespon panggilannya.


"Ini si bos kemana, sih? Gak kasih kabar sama sekali. Gua udah kayak istri nunggu kabar suami, tau gak. Apa jangan-jangan memang terjadi sesuatu sama Aisyah?"saat akan kembali mencoba menghubungi Arshad, ponselnya malah berdering karena panggilan dari seseorang.


Raut wajahnya berubah datar dan akhirnya dengan sedikit malas Rio mengangkat panggilan tersebut,"assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Mama sama papa mau bicara sama kamu Rio. Kamu bisa kan malam ini pulang ke rumah? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan."ucap wanita paruh baya itu dengan lembut. Yang tak lain adalah Amira, ibunda Rio.


Rio yang mendengar itu langsung mendengus. Dia tau apa yang ingin dibicarakan oleh kedua orang tuanya itu. Dan jujur dia malas membahas hal itu. Apa lagi jika harus pulang ke rumah itu.


"Lagi sibuk. Nggak bisa."ucap Rio dingin.


"Rio, mama mohon sama kamu, nak. Ini penting."


"Yang akan dibahas gak akan ada bedanya sama yang kita bahas waktu itu kan? Saya capek. Saya malas bahas hal menjijikkan seperti itu. Bilang sama lelaki itu, saya bukan anaknya, jadi tidak perlu mengurus urusan saya dan jangan ganggu kehidupan saya."


"Rio mama mohon sekali ini aja. Kamu pulang, nak! Mama kangen sama kamu."mohon Amira lirih.


Rio memejamkan matanya berusaha menahan emosi yang sudah memenuhi dirinya, dia yakin kini mamanya sudah menangis. Baiklah itu adalah kelemahannya. Lebih baik mengalah.


"Iya, assalamu'alaikum."akhirnya Rio menutup penggilan lalu memukul stir mobil. Rio menggeram kesal. Dia benci jika harus ke rumah orangtuanya itu.


Rio menatap ponselnya kembali karena ada panggilan dari Arshad dan dengan cepat dia mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum, pak bos! Lo kemana aja sih? Kenapa gak ke kantor? Kalau lagi ada urusan atau memang gak bisa ke kantor tuh kasih kabar kek. Gua kan khawatir. Kesepian kayak menjanda gua tanpa lo."Rio alay mode on. Seakan-akan masalah tadi hilang begitu saja dari otaknya.


"Ekhem! Wa'alaikumussalam. Ini Aisyah, mas."jawab Aisyah yang terdengar canggung karena mendengar Rio yang tiba-tiba nyerocos. Tadi saat Aisyah keluar dari toilet, dia mendengar suara dering ponsel Arshad. Namun saat akan mengangkatnya, panggilan malah berhenti. Melihat nama Rio tertera di sana, Aisyah merasa mungkin ada sesuatu yang penting. Jadi Aisyah kembali menghubungi Rio dan tidak tersambung. Saat mencoba sekali lagi, akhirnya tersambung dan malah mendapat serbuan dari Rio.


Rio yang mendengar suara Aisyah, jadi kaget. Malu karena sudah nyerocos.


"Image gua, tuhan..." rengeknya dalam hati.


Rio pun berdehem,"oh Aisyah?"sapanya sok kalem. "Arshadnya ada, syah?"

__ADS_1


"Mas Arshad tadi pergi ketemu dokter, mas. Udah dari tadi, tapi belum kembali."


"Hah?! Dokter, syah? Kamu beneran sakit?"tanya Rio yang terdengar kaget.


"Iya, mas."


"Sakit apa?"


"Glioblastoma. Sejenis tumor ganas."


Rio membelalakkan matanya. Jadi benar tebakannya kalau Aisyah memang sakit. Rio sangat prihatin dengan kondisi Aisyah dan terlebih lagi rumah tangga Aisyah dan Arshad. Yang tak ada hentinya bermasalah.


"Di rumah sakit mana kamu dirawat?"Aisyah pun menyebutkan nama rumah sakit tempat dirinya di rawat dan tak menunggu waktu lama panggilan pun terputus dengan Rio yang melaju menuju rumah sakit tersebut.


Aisyah meletakkan ponsel Arshad kembali di nakas. Aisyah baru sadar sekarang. Tidak ada Khadijah. Kemana perginya Khadijah? Anam dan Arshad juga dari tadi belum kembali.


Aisyah pun melihat mukena yang terlipat di atas sajadah. Tanpa berpikir panjang, Aisyah pun memakai mukena tersebut dan lanjut menunaikan shalat Zuhur.


Selesai melaksanakan shalat Zuhur, Aisyah keluar dari ruang rawatnya. Berniat mencari Arshad ke ruangan Rizky. Tepat saat sampai di depan pintu, Rizky keluar.


"Ngapain kamu?"tanya Rizky dengan tak bersahabat.


"Santai aja, dong! mas Arshad mana?"balas Aisyah tak kalah sinis.


Rizky terkekeh,"canda elah... baperan kamu tuh."


"Terserah. Aku nanya, mas Arshad mana?"


"Yang istrinya itu kamu kenapa tanya aku? sorry ya neng, abang masih lurus."Rizky mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Jangan bercanda, kak. Tadi mas Arshad ke sini dan belum balik-balik dari tadi."


"Udah pergi dari tadi kok. Mungkin keluar sebentar. Tunggu aja..."


"Kakak ngomong apa aja tadi sama mas Arshad dan kak Anam?"


"Semuanya."


"Udah sekarang mending kamu istirahat! nanti juga Arshad pasti balik kok. Mau di antar?"


"Nggak, gak usah. Kalau gitu aku pergi dulu."


Rizky pun mengangguk.


Sepanjang jalan menuju ruang rawatnya, Aisyah melamun memikirkan Arshad. Dia tahu, pasti Arshad kini sedang sangat sedih menerima takdir buruk yang menimpa. Aisyah ingat bagaimana sedihnya Arshad saat mengetahui fakta tentang penyakitnya. Sekarang malah ditambah dengan penjelasan Rizky. Oh Ya Allah, ingin sekali dia memeluk dan menenangkan suaminya saat ini.


BRUK


"Astaghfirullah! Awwws ishhh."Aisyah memegang bahunya yang tak sengaja menubruk seorang pria. Untung dirinya bisa menyeimbangkan dirinya agar tak terjatuh. Jadi tidak akan ada adegan jatuh-jatuh segala.


"Maaf maaf saya gak sengaja karena buru-buru. Kamu gak apa-apa?"tanya pria itu yang terlihat merasa bersalah bahkan hampir memegang bahu Aisyah, untung saja Aisyah langsung mundur cepat untuk menghindar sehingga tak dapat di sentuh pria itu.


Pria itu mengerti dengan tingkah refleks Aisyah,"oh maaf sekali lagi. Saya gak bermaksud."


Aisyah mengangguk,"gak apa-apa, saya juga salah tadi karena melamun. Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."Aisyah pun kembali melanjutkan jalannya meninggalkan pria tersebut.


Sesampainya di ruang rawatnya, Aisyah melihat Arshad yang hendak keluar dengan kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah Arshad.


"Mas..."


Arsyad bernafas lega menghampiri Aisyah lalu mencium kening Aisyah dengan sayang.


"Kamu kemana aja, sih? aku khawatir, tau gak. Jangan pergi-pergi lagi, syah!..."


"Aku cari kamu, mas. Kamu yang kemana aja? aku cari ke ruangan kak Rizky, dia bilang kamu udah pergi dari tadi."


Arshad berdehem. Sungguh dia tak mau membahas itu sekarang,"aku keluar sebentar."

__ADS_1


"Kak Anam sama kak Khadijah mana?"


"Udah pulang. Tadi waktu aku sampai di sini, hp kamu bunyi. Ternyata telphon dari kak Anam, jadi aku angkat. Dia pulang dulu katanya, besok ke sini lagi."


"Yah, padahal belum ngobrol apa-apa."ucap Aisyah cemberut.


"Udah, yang penting besok ketemu lagi. Lebih baik kamu istirahat."Arshad pun menuntun Aisyah ke ranjang lalu menggendong Aisyah dan membaringkannya. Aisyah pun tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Arshad.


"Kamu nggak usah banyak gerak, ya. Kalau butuh apa pun, bilang sama aku."ucap Arshad yang sudah duduk di tepi ranjang.


Aisyah mengangguk patuh,"mas, kapan-kapan kita ke pantai, yuk! aku udah lama gak ke pantai."


"Boleh, tapi gak sekarang."


"Tapi janji, ya!"


"Insya Allah kalau aku ingat."ucap Arshad lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Aisyah, namun sebelum dia berhasil...


"EKHEM!! Gua bukan nyamuk, woi!"teriakan seseorang membuat Aisyah dan Arshad melihat ke orang itu. Arshad lupa bahwa ada Rio yang tadi datang dan berpapasan dengannya di lobi. Arshad benar-benar lupa dengan si pengganggu ini.


"Mas Rio? sejak kapan di situ?"tanya Aisyah saat melihat Rio yang duduk di sofa dengan tangan terlipat di dada.


"Dari tadi, sayang..."seru Rio santai tanpa peduli bahwa mungkin akan ada singa jantan yang akan menerkam dam mencabik-cabiknya.


"Ya, kan beb!"lanjut Rio sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Arshad membuat Arshad memutar bola mata jengah dan Aisyah yang terkekeh.


Rio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Aisyah dan Arshad. Niat jahilnya pun muncul. Rio menggerakkan tangannya menuju kepala Aisyah untuk mengusap kepala itu.


PLAK


Arshad memukul tangan Rio membuat si empunya meringis sambil mengusap tangannya.


"Tangan!"tegur Arshad kasar.


"Kasar amat sih, lo!"sentak Rio.


"Gua kasar cuma sama orang yang kegatelan kayak lo!"balas Arshad.


"Mungkin karena kelamaan menjomblo, mas. Jadi gitu."ucap Aisyah membuat Arshad tersenyum bangga dan menatap Rio yang cengo dengan tatapan mengejek.


"Mampus lo dikatain bini gua!"ledek Arshad.


"Gak apa-apa jomblo yang penting bahagia."balas Rio tak terima.


"Atau jangan-jangan..."sontak Aisyah menyilangkan tangannya di depan dada Arshad. Arshad yang awalnya heran pun mengerti dan ikut menyilangkan tangan di dadanya dengan tatapan waspada kepada Rio.


Rio mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna situasi.


"Apaan sih lo berdua! Masih lurus, woi!"teriak Rio sembari menyilangkan tangannya di dada.


Rio bergetar kegelian. Bulu kuduknya meremang. Oh, tidak. Dia benar-benar masih lurus. Percayalah! memikirkan dirinya dengan seorang pria membuatnya ingin muntah. Ihhh!


"Uwwek!"Rio menutup mulutnya karena mual dan segera berlari ke toilet. Sedangkan Aisyah dan juga Arshad tertawa melihat bagaimana ekspresi Rio yang lari terbirit-birit.


"Mas Rio lucu ya, mas."ucap Aisyah.


"Orang begitu kamu bilang lucu? jijik yang ada."


"Kata-katanya tolong dikondisikan!"sela Aisyah.


Arshad mendengus,"Iya iya... tapi sebenarnya walau pun lucu dan kelihatan bahagia kayak nggak ada beban, dia juga punya masalah berat tau."


"Oh ya? apa?"


"Ya pokoknya intinya dia punya masalah sama keluarga sampai di usir dari rumah. Padahal waktu itu dia SMA kelas 3."


Aisyah hanya mengangguk mengerti dan tak mau bertanya lebih lanjut karena itu adalah masalah pribadi orang lain. Hanya saja Aisyah tak menyangka dibalik seseorang yang penuh dengan senyuman dan tawa, ternyata juga punya luka yang menyiksa.


"Satu rahasia lagi. Sebenarnya..."Arshad pun membisikkan sesuatu kepada Aisyah yang berhasil membuat Aisyah terkejut tak percaya.

__ADS_1


"Hah?! jadi mas Rio..."Arshad mengangguk cepat.


__ADS_2