
Arshad masuk ke rumahnya dan berteriak memanggil-manggil nama Aisyah, namun sama sekali tak ada jawaban. Apakah ia sudah terlambat?
"Bi Nah? Aisyah dimana?"tanya Arshad saat mendapati pembantunya berada di dapur.
"Mbak Aisyah sudah pergi sekitar setengah jam yang lalu, mas."jawab bi Nah.
"Dia bilang gak, mau pergi kemana?"tanya penuh harap.
"Enggak, mas. Mbak Aisyah cuma bilang kalau dia mau pergi, terus saya di minta urus semua kebutuhan mas Arshad. udah itu aja."jelasnya.
Pupus sudah harapannya. Ummi tidak mau memberitahunya, sekarang bahkan pembantunya tidak tau kemana Aisyah pergi. Apakah ia benar-benar sudah terlambat?
"Tadi juga kelihatannya mbak Aisyah perginya buru-buru gitu, mas."sambung bi Nah.
Arshad mengangguk lemah,"makasih bi, kalau gitu saya ke kamar dulu."
"Iya, mas."
*****
"Bi, Aisyah serius pulang ke Solo? karena masalahnya sama Arshad? aduh bi, gimana ini kalau seandainya mereka cerai?"tanya ummi dengan panik.
"Ya enggaklah. Aisyah pulang ke Solo karena ada urusan penting katanya. Anam mau lamaran."
"Tiba-tiba?"
"Iya, katanya calonnya Anam tadi telphone. Dia bilang ada yang ingin melamarnya, tapi untungnya belum menemui orang tua perempuan itu. Jadi Anam buru-buru ke sana sebelum ke duluan orang. Nah, Aisyah sendiri ke sana karena mau nemenin Anam."
Ummi bernafas lega. Untung saja tak terjadi apa-apa. Dia benar-benar tidak rela jika harus melihat Arshad dan Aisyah bercerai. Tidak akan pernah rela.
"Syukurlah. Semoga lamarannya lancar."
"Aamiin."
*****
Di sisi lain, Aisyah sedang berada di pesawat. Ia duduk di dekat jendela dan menatap keluar jendela.
"Kamu udah kabarin Arshad?"tanya Anam.
Aisyah beralih menatap Anam lalu menggeleng.
"Nanti aja pas udah sampai. Aku masih ngerasa gak enak karena udah marah-marah tadi. Mungkin akan lebih baik kalau mas Arshad udah tenang, baru aku telphone."
Anam mengangguk paham dan Aisyah kembali melihat ke jendela sembari menghembuskan nafas pelan. Menurutnya memang lebih baik mereka saling tenang dulu sekarang. Takutnya nanti Arshad tambah kesal jika ia menghubungi.
__ADS_1
Padahal di sisi lain Arshad dengan wajah yang kusut dan langkah yang cepat membuka lemari, namun ia tak melihat sehelai pun baju Aisyah.
"Aisyah benar-benar pergi."ucapnya lirih. Ia pun menjatuhkan diri ke lantai dan bersandar di pinggiran kasur.
"Kamu kemana, Syah?"lirih Arshad sembari mengusap kasar rambut dan wajahnya. Arshad pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aisyah. Sekali, dua kali bahkan setelah kesekian kalinya ia mencoba menghubungi Aisyah, tetap tak ada jawaban. Bahkan setelah ia kirim pesan pun, tak satu pun pesan yang dibalas apa lagi dibaca.
Akhirnya Arshad menyerah dan langsung mematikan ponselnya. Ia harus menemukan Aisyah. Kampus? sepertinya ia harus pergi ke sana besok. Tidak masalah jika ummi tak mau memberi tahunya. Ia bisa mencari sendiri.
*****
Keesokan harinya Aisyah terlihat sedang menyapu halaman rumahnya. Sudah lama ia tak ke sini. Semenjak SMA ia sudah ikut orang tuanya ke Jakarta dan baru kali ini ia kembali.
"Cha, pinjam hp dong! Kakak mau telphone Khadijah mau bilang kalau hari ini kita ke rumahnya."
Aisyah mengangguk dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya. Ia mencari ponselnya di dalam tas namun tak ada, lalu Aisyah mencarinya di koper dan dalam laci tetap tidak ketemu.
"Loh, kok gak ada? Dimana?"
"Kenapa?"tanya Anam.
"Hp aku gak ketemu, kak."
"Hilang maksudnya?"
"Ini karena kualat gak izin dulu sama suami. Makanya, kalau kakak bilang kabarin ya kabarin. Nih malah bilang entar mulu."
"Kok jadi marah-marah gini, sih? bantuin, dong! gimana, sih?"sergah Aisyah sembari terus mondar mandir mencari ponselnya.
"Gak ah. Sorry, lagi sibuk."Anam pun pergi meninggalkan Aisyah.
"Hah?! Ih, kok nyebelin sih?! kak Anam! bantuin! Kak Anam!"teriak Aisyah namun tak di pedulikan Anam.
Aisyah pun duduk di ranjang dan berusaha mengingat-ingat dimana dia tinggal ponselnya.
"Dimana, ya? duh, lupa..."
Di sisi lain Arshad kini sudah berada di depan kampus Aisyah. Dia harus bisa mendapatkan alamat Aisyah.
Arshad pun pergi ke ruang informasi. Sepanjang jalan, tak sedikit mahasiswa yang mengagumi pesonanya. Khususnya para gadis. Namun bukan Arshad namanya jika ia menanggapi para gadis itu. Menurutnya mereka semua hanya debu yang sama sekali tak penting.
"Permisi."sapa Arshad saat sampai di ruang informasi.
Seorang gadis yang sepertinya adalah mahasiswi di universitas ini langsung menatap ke sumber suara. Dia terkejut melihat pria tampan di hadapannya itu. Mungkin keberuntungan berpihak padanya hari ini, pikirnya.
Merasa tak di tanggapi, Arshad pun kembali menyapa.
__ADS_1
"Permisi."
Gadis itu akhirnya tersadar dan langsung tersenyum semanis mungkin.
"Oh iya, silahkan duduk. Ada yang bisa di bantu?"tanyanya dengan tatapan yang terus memuja.
"Saya butuh alamat seseorang."jawab Arshad sesaat setelah ia duduk.
Gadis itu tersenyum,"baru kenal udah langsung nanya alamat. Mau ngelamar kali ya."gumamnya.
"Maaf? kamu bilang apa?"tanya Arshad.
Gadis tersebut menggeleng cepat,"bukan apa-apa,kok. Tunggu sebentar, ya!"ia pun mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan alamat rumahnya. Itu membuat Arshad terheran dengan kelakuan gadis dihadapannya itu. Tunggu, gadis ini sedang tidak salah paham padanya,kan?
"Maaf, kamu ngapain?"tanya Arshad.
Gadis itu menatap Arshad dengan bangga, lalu dengan pedenya mengatakan,"ya nulis alamatlah."
"Memangnya kamu sudah tau alamat siapa yang saya minta?"tanya Arshad.
Gadis itu yang masih menuliskan alamatnya seketika langsung berhenti dan menatap Arshad dengan tatapan bertanya.
"Memangnya... alamat siapa?"tanyanya.
"Aisyah Shaqila az-zahra."jawab Arshad.
DUAR!
Rasanya petir saling bersahutan di telinganya saat ini. Malu? tentu saja. Tunggu, apakah pria dihadapannya ini menyadari kebodohannya? lebih tepatnya, apakah pria ini menyadari kepedeannya?
Setelah beberapa saat terdiam, dengan berusaha bersikap biasa saja, ia langsung mengatakan,"maaf, tapi universitas gak bisa sembarang memberikan informasi pribadi mahasiswanya."
"Tapi saya benar-benar butuh. Ini sangat penting."mohon Arshad.
"Tapi tetap tidak bisa. Maaf sekali lagi, silahkan keluar!"
Arshad pun langsung berdiri dan hendak pergi dari sana, namun baru selangkah ia berbalik lagi.
"Lalu alamat siapa yang kamu tulis tadi?"tanya Arshad datar membuat gadis itu gelagapan.
"I...ini bukan alamat. Ini resep obat."
"Saya baru tau ada resep obat Kompleks Mawar blok B."ucap Arshad lalu pergi dari sana meninggalkan gadis itu yang mukanya sudah memerah padam karena malu.
"Kenapa gue bisa kepedean gitu, sih? Ya ampun. Tapi kenapa dia nyariin alamat Aisyah,ya? Tuh cowok siapanya Aisyah,sih? gue heran lama-lama, kenapa setiap cowok suka banget sama dia? cantikan juga gue kemana-mana."
__ADS_1